NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Sisi Manja Sang Profesor

BAB 19: Sisi Manja Sang Profesor

​Malam telah melarut di apartemen mewah itu, namun hawa dingin di antara keduanya belum juga surut. Sejak kepulangan mereka dari kampus siang tadi, Kiara langsung mengunci diri di kamar tamu. Ia mengabaikan semua bujukan Adrian di dalam mobil. Baginya, kata-kata manis Adrian di parkiran tadi hanyalah pemanis sesaat untuk menenangkan barang sewaannya yang sedang mengamuk.

​Pukul delapan malam, perut Kiara mulai berbunyi. Rasa lapar yang tak bisa diajak kompromi memaksanya untuk keluar kamar. Dengan langkah pelan, Kiara berjalan menuju dapur, berniat untuk membuat mi instan atau sekadar mengambil sepotong roti.

​Namun, begitu kakinya menginjak area pantry, langkah Kiara langsung terhenti seketika. Matanya membelak sempurna menatap pemandangan luar biasa aneh di hadapannya.

​Dapur apartemen yang biasanya bersih berkilat bak lantai pameran kini tampak seperti medan perang. Tepung berserakan di atas meja konter marmer, kulit bawang putih bertebaran di lantai, dan beberapa wajan serta panci bertumpuk berantakan di dekat wastafel.

​Dan di pusat kekacauan itu, berdiri Profesor Adrian Alkatiri.

​Pria berumur dua puluh sembilan tahun itu telah menanggalkan jas mahalnya. Ia hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sembarangan hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengan kekarnya yang seksi. Sebuah celemek memasak berwarna abu-abu gelap bertengger canggung di tubuh tegapnya. Wajah tampannya coreng-moreng oleh sedikit noda tepung, dan ia sedang menatap sebuah wajan dengan dahi berkerut dalam, memegang sodet kayu seolah sedang memegang dokumen riset internasional.

​"Sial, kenapa sausnya malah menggumpal," umpat Adrian rendah, mematikan kompor dengan gusar.

​Kiara mematung di ambang pintu dapur. Rasa sedih dan marahnya mendadak tertutupi oleh rasa heran yang luar biasa. "Kamu... sedang apa?" tanya Kiara, suaranya memecah keheningan dapur.

​Adrian tersentak, menoleh cepat ke arah Kiara. Sesaat, gurat kepanikan melintas di wajah tegas sang profesor karena ketahuan melakukan hal yang sama sekali bukan keahliannya. Namun dengan cepat, ia merapikan letak celemeknya, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawa tengilnya yang sudah runtuh sebagian.

​"Kamu sudah keluar, Mahasiswaku?" Adrian berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah meja makan. Di sana, sudah tersaji sepiring pasta bolognese yang bentuknya agak berantakan dengan potongan daging yang terlalu besar. "Aku sedang menyiapkan makan malam untukmu. Karena kamu memblokir nomor dan mengabaikan ajakanku, aku terpaksa turun tangan sendiri."

​Kiara menatap piring pasta itu, lalu beralih menatap dapur yang berantakan. "Aku tidak minta dibuatkan makan malam, Adrian. Aku bisa memasak sendiri," ucap Kiara dingin, berjalan melewati Adrian menuju wastafel untuk mengambil gelas air minum. "Dan sekarang dapur ini jadi berantakan karena ulahmu."

​Melihat respons Kiara yang masih sedingin es dan terkesan enggan menganggap usahanya, dada Adrian berdenyut aneh. Rasa frustrasi dan takut kehilangan yang ia rasakan sejak semalam mendadak memuncak. Gengsinya sebagai pria dominan melumer sepenuhnya malam ini.

​Saat Kiara sedang meletakkan gelasnya dan berniat mengambil kain lap untuk membersihkan noda tepung di meja konter, Adrian bergerak cepat dari belakang.

​Sret.

​Tangan kekar Adrian menyambar kedua pergelangan tangan Kiara, menghentikan gerakannya. Sebelum Kiara sempat memprotes, Adrian menarik tubuh mungil itu mundur, merapatkannya ke dalam dada bidangnya yang hangat. Adrian melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling pinggang ramping Kiara, mengunci gadis itu dalam dekapan posesif yang teramat erat dari belakang.

​"Adrian! Lepas, aku mau membersihkan ini—"

​"Biarkan saja begitu, nanti ada pelayan yang membersihkannya besok pagi," potong Adrian dengan suara baritonnya yang mendadak berubah menjadi sangat rendah, serak, dan memendam kelelahan batin yang teramat sangat.

​Adrian tidak melepaskan pelukannya. Sebaliknya, pria tegap itu menundukkan kepalanya perlahan, menyandarkan dagu dan pelipisnya dengan manja di atas bahu mungil Kiara. Ia menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher jenjang Kiara, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang selalu menjadi candu baginya.

​Tubuh Kiara seketika membeku. Posisi ini teramat sangat intim, berbeda dengan pelukan posesif Adrian yang biasanya mendominasi dan menuntut. Malam ini, gerakan Adrian terasa begitu rapuh, seolah pria itu sedang memohon perlindungan dari rasa bersalahnya sendiri.

​Hembusan napas hangat Adrian yang teratur menggelitik kulit leher Kiara, mengirimkan gelombang sengatan listrik panas yang perlahan mengikis benteng es di hatinya.

​"Aku minta maaf, Kiara..." bisik Adrian, suaranya terdengar begitu tulus dan dalam, bergetar tepat di sisi telinga Kiara. Jari-jari panjangnya merayap naik, menangkup lembut tangan Kiara yang memegang pinggiran konter. "Aku minta maaf soal Clarissa di restoran kemarin. Aku terpaksa berbohong demi melindungimu dari jangkauan ibuku. Jika ibuku tahu tentang kontrak ini, dia tidak akan segan-segan menghancurkan beasiswamu dan keluargamu."

​Kiara memejamkan matanya rapat-rapat, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya mendengar kejujuran pria itu.

​"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai wanita sewaan atau penjual diri, Kiara. Demi Tuhan, tidak pernah," lanjut Adrian lagi, suaranya kian merendah, menunjukkan sisi manjanya yang nakal namun posesif. Adrian menggeser wajahnya, memberikan kecupan-kecupan pendek yang lembut dan basah di sepanjang garis rahang Kiara hingga ke bawah telinganya, membuat napas Kiara mendadak memburu.

​"Aku tidak akan membiarkan Clarissa, ibuku, atau pria mana pun termasuk bajingan BEM itu menyentuh atau mengganggu hidupmu lagi. Tapi tolong... jangan tatap aku seperti orang asing lagi, Sayang. Aku tidak tahan dicuekin olehmu sepanjang hari di kampus. Makanlah pastanya, ya? Aku membuatnya khusus untuk istri kontrakku yang keras kepala ini," bisik Adrian nakal, menutup kalimatnya dengan gigitan kecil yang sensual di cuping telinga Kiara, membuat pertahanan batin gadis itu malam ini benar-benar goyah akibat serangan manja tersembunyi sang profesor.

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!