NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Keputusan yang Mengubah Segalanya

Luna masih berdiri mematung di tengah ruang tamu.

Kepalanya terasa penuh.

Semua yang terjadi sejak pagi begitu cepat hingga ia bahkan belum sempat mencerna kenyataan bahwa kakaknya telah kabur dan meninggalkan kekacauan besar untuk seluruh keluarga.

"Luna..."

Suara ibunya terdengar lirih.

Wanita itu menggenggam kedua tangannya erat-erat.

"Tolong Ayah dan Ibu."

Kalimat itu membuat dada Luna terasa sesak.

Seumur hidup, kedua orang tuanya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk dirinya dan Liana. Mereka bekerja keras agar kedua putri mereka bisa mengenyam pendidikan terbaik.

Dan sekarang...

Mereka sedang memohon kepadanya.

Permohonan yang tidak pernah dibayangkan Luna sebelumnya.

"Aku tidak bisa, Bu," ucap Luna dengan suara bergetar.

"Kalian meminta aku menikah dengan orang yang bahkan baru aku lihat hari ini."

Sang ibu menangis.

Ayahnya memejamkan mata.

Tak ada yang bisa menyalahkan Luna.

Namun tak ada pula yang tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini.

"Keluarga Dimitri sudah menyiapkan semuanya," kata ayahnya pelan.

"Kontrak kerja sama, investasi, dan berbagai urusan bisnis sudah berjalan. Jika pernikahan ini batal, perusahaan kita akan kehilangan banyak hal."

Luna menunduk.

Ia memang tidak terlalu memahami bisnis keluarga.

Namun dari raut wajah ayahnya, ia tahu situasinya jauh lebih buruk daripada yang dibayangkan.

Di sisi lain ruangan, Alex berdiri dengan kedua tangan di saku celana.

Tatapannya kosong.

Seolah pembicaraan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Padahal ia adalah orang yang paling terdampak.

Calon istrinya kabur tepat di hari pernikahan.

Namun pria itu tidak terlihat marah.

Tidak terlihat sedih.

Tidak terlihat kecewa.

Ia hanya terlihat dingin.

Sangat dingin.

"Kakek."

Alex akhirnya bersuara.

"Saya ingin bicara berdua."

Sang kakek mengangguk.

Mereka berjalan menuju ruang kerja keluarga Wulandari.

Pintu tertutup.

Meninggalkan Luna dengan kecemasan yang semakin besar.

---

Di dalam ruang kerja.

Alex berdiri menghadap jendela.

"Kakek tidak bisa memaksakan ini."

Pria tua itu duduk tenang.

"Saya bisa."

"Saya tidak akan menikah."

"Kau akan menikah."

Alex mengembuskan napas panjang.

Sejak kecil hidupnya selalu diatur.

Sekolah terbaik.

Universitas terbaik.

Karier terbaik.

Bahkan calon istrinya pun dipilihkan.

Awalnya ia menerima Liana karena menganggap pernikahan hanyalah formalitas.

Ia tidak mencintai wanita itu.

Dan wanita itu pun tidak mencintainya.

Namun sekarang situasinya berbeda.

Ia bahkan tidak mengenal Luna.

"Kakek tidak mengenalnya."

"Saya tidak perlu mengenalnya."

"Saya yang akan hidup dengannya."

Sang kakek tersenyum tipis.

"Itulah alasan saya memilihnya."

Alex mengernyit.

"Apa maksud Kakek?"

"Saya melihat matanya."

"Lalu?"

"Dia berbeda dengan kakaknya."

Alex tidak menjawab.

"Kau mungkin tidak menyadarinya sekarang. Tapi gadis itu jauh lebih baik daripada Liana."

"Kakek bahkan baru bertemu dengannya."

"Terkadang seseorang bisa diketahui hanya dari caranya memandang orang lain."

Alex menggeleng.

Ia tidak percaya hal seperti itu.

Namun satu hal yang tidak bisa ia bantah adalah tatapan Luna tadi.

Tidak ada keserakahan.

Tidak ada ambisi.

Tidak ada kepura-puraan.

Hanya keterkejutan dan ketakutan.

Sama seperti dirinya.

---

Sementara itu.

Luna duduk di taman belakang rumah.

Ia memandangi kolam kecil yang biasa menjadi tempat favoritnya sejak kecil.

Air matanya akhirnya jatuh.

"Kenapa, Kak?"

gumamnya.

Ia tidak mengerti bagaimana Liana bisa melakukan hal seperti ini.

Jika memang tidak ingin menikah, mengapa tidak menolak sejak awal?

Mengapa harus menunggu sampai hari pernikahan?

Dan yang paling menyakitkan...

Mengapa harus meninggalkan dirinya untuk menanggung semua akibatnya?

"Luna."

Suara seseorang membuatnya menoleh.

Ternyata ayahnya.

Pria itu duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka hanya diam.

"Ayah minta maaf."

Luna langsung menoleh.

"Ayah jangan bilang begitu."

"Tapi memang Ayah yang salah."

"Maksudnya?"

"Ayah terlalu memikirkan bisnis hingga lupa menanyakan apa yang sebenarnya Liana inginkan."

Luna terdiam.

Wajah ayahnya terlihat jauh lebih tua hari ini.

"Ayah tidak akan memaksa jika kamu menolak."

Luna menatapnya.

"Sungguh?"

Ayahnya mengangguk.

"Tapi Ayah tidak bisa membohongimu. Jika pernikahan ini batal, keluarga kita akan menghadapi masalah besar."

Kalimat itu membuat Luna kembali terdiam.

Pilihan yang diberikan ayahnya terasa seperti pilihan tanpa jalan keluar.

Menolak berarti menyelamatkan dirinya.

Menerima berarti menyelamatkan keluarganya.

---

Sore hari.

Seluruh keluarga kembali berkumpul.

Alex dan kakeknya keluar dari ruang kerja.

Wajah Alex masih sama dinginnya.

Tak ada yang bisa membaca isi pikirannya.

"Luna."

Kakek Dimitri memanggil.

Luna berdiri perlahan.

"Saya ingin mendengar keputusanmu."

Semua orang langsung menatapnya.

Jantung Luna berdetak sangat cepat.

Ia menatap kedua orang tuanya.

Lalu menatap Alex.

Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Mata pria itu gelap dan sulit ditebak.

Namun Luna bisa melihat satu hal.

Alex juga tidak menginginkan semua ini.

Mereka sama-sama korban dari keadaan.

Dan entah kenapa, kesadaran itu membuat Luna sedikit lebih tenang.

Jika ia harus menghadapi semuanya sendirian, mungkin ia tidak akan sanggup.

Namun pria di depannya juga sedang menghadapi hal yang sama.

Luna menarik napas panjang.

Lalu mengembuskannya perlahan.

"Aku..."

Suaranya bergetar.

Sang ibu menahan tangis.

Ayahnya menunduk.

Dan Alex menatapnya tanpa berkedip.

"Aku akan melakukannya."

Ruangan langsung sunyi.

Luna merasa dadanya sakit saat mengucapkan kalimat itu.

Namun keputusan sudah dibuat.

Ia tidak bisa menariknya kembali.

Tangis sang ibu langsung pecah.

Ayahnya memejamkan mata dengan lega.

Sedangkan Alex...

Tetap diam.

Sampai akhirnya pria itu berkata pelan.

"Kalau begitu."

Semua orang menatapnya.

"Saya juga setuju."

Untuk pertama kalinya hari itu, Luna merasa hidupnya benar-benar berubah.

Bukan minggu depan.

Bukan bulan depan.

Bukan tahun depan.

Tapi hari ini.

Beberapa jam lagi ia akan menjadi istri seorang pria bernama Alex Lucas Dimitri.

Pria yang bahkan belum pernah mengucapkan lebih dari lima kalimat kepadanya.

Pria yang tidak mencintainya.

Dan pria yang mungkin tidak akan pernah mencintainya.

Namun takdir sudah memilih jalannya.

Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!