Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Darah dan Air Mata
Hari yang paling dikutuk dalam hidup Kinan akhirnya tiba. Hari di mana kebebasannya digadaikan di atas meja akad nikah yang beralaskan kain beludru bersulam benang emas, disaksikan oleh ribuan pasang mata dari kalangan elit penguasa negeri.
Pernikahan antara keluarga besar kusuma dan keluarga Mahendra digadang-gadamg sebagai pernikahan termegah abad ini. Kemegahannya luar biasa gila. Bertempat di ballroom hotel bintang lima milik keluarga Kinan, seluruh ruangan disulap menjadi istana kaca dengan untaian ribuan bunga lili putih segar yang diimpor langsung dari Belanda. Tiang-tiang marmer dibalut kain sutra perak, sementara lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya yang berkilau mewah, menyilaukan siapa saja yang memandang.
Kekayaan kedua belah pihak terpampang nyata tanpa tahu batas. Mulai dari deretan mobil sport mewah para tamu yang memadati lobi, hidangan makanan kelas dunia dari koki bersertifikat Michelin, hingga gaun pengantin Sherly yang bertabur ratusan berlian swarovski asli.
Namun, di balik semua kemegahan yang memualkan itu, ada satu agenda rahasia yang sengaja disisipkan oleh Mama Kinan. Sebuah undangan fisik beludru mewah berukir emas sengaja dikirimkan ke alamat rumah abu-abu tempat Neya tinggal bersama Aris. Ini adalah gerakan catur yang sengaja dilakukan keluarga Kinan untuk memastikan bahwa hubungan masa lalu antara Kinan dan Neya benar-benar telah mati, sekaligus sebagai bentuk intimidasi halus agar Neya tidak pernah berani menampakkan diri lagi.
Kinan berdiri di atas panggung pelaminan yang megah dengan setelan tuksedo hitam yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Wajahnya tampan, namun sedingin patung es. Di sampingnya, Sherly berdiri dengan sangat anggun. Harus diakui, Sherly adalah pengantin wanita yang luar biasa cantik dan seksi. Balutan gaun putih berpotongan rendah itu mengekspos lekuk tubuhnya yang sempurna.
Berbeda dengan keluarga Kinan yang penuh intrik dan sedingin mayat, keluarga Mahendra sebenarnya adalah potret keluarga konglomerat yang sangat hangat. Sherly adalah putri semata wayang dari keluarga Mahendra—permata paling berharga yang sangat dijaga dan dicintai oleh kedua orang tuanya. Saat prosesi sungkeman setelah akad, ayah Sherly memeluk Kinan dengan mata berkaca-kaca, menitipkan putri tercintanya dengan ketulusan yang murni tanpa embel-embel saham. Sherly pun menatap Kinan dengan binar mata yang penuh cinta dan harapan akan masa depan pernikahan mereka.
Namun, Kinan hanya bisa membalasnya dengan senyum palsu. Hatinya sudah mati rasa. Menatap kehangatan keluarga Sherly justru membuat rasa bersalah sekaligus dendam di dada Kinan semakin bergejolak.
Malam pun tiba, membawa pesta megah itu pada puncaknya, hingga menyisakan keheningan saat kedua pengantin baru itu diantar menuju presidential suite di lantai teratas hotel untuk menjalani malam pertama.
Di sinilah tradisi gila dan kolot dari keluarga besar Kinan dimulai. Sebuah tradisi patriarki kuno yang menjijikkan di mana para tetua keluarga—termasuk Mama dan kakak perempuan Kinan—akan sengaja duduk minum teh di ruang tunggu luar yang terhubung langsung dengan kamar utama, hanya demi mendengarkan jeritan atau rintihan pengantin wanita sebagai bukti otentik bahwa penyatuan darah dua keluarga besar telah sah dilakukan malam itu juga. Mereka ingin memastikan kendali mereka atas malam pertama Kinan mutlak terjadi.
Pintu kamar dikunci dari dalam. Sherly berdiri di dekat ranjang bertabur kelopak mawar merah, menatap Kinan dengan tatapan malu-malu sekaligus penuh gairah yang tersirat dari balik gaun malam tidurnya yang tipis.
Kinan melangkah mendekat. Perlahan, ia mengulurkan tangan, mengusap pipi halus Sherly. Laki-laki itu tahu, para serigala di luar pintu sedang menajamkan telinga mereka. Kinan menunduk, berbisik tepat di telinga Sherly dengan suara yang teramat rendah namun tegas.
"Sherly... dengarkan aku baik-baik. bersuaralah keraslah ketika aku sedang menyentuhmu dengan liar. Buat orang-orang di luar sana puas."
Sherly terkesiap, menatap Kinan dengan bingung, namun sebelum ia sempat bertanya, Kinan sudah meraih tubuh seksi Sherly ke dalam dekapan kasarnya. Kinan memulai aksinya. Ia mencium Sherly, meraba kulit halusnya, dan membiarkan insting lelakinya mengambil alih di bawah desakan keputusasaan. Kamar itu seketika dipenuhi oleh simfoni gairah yang panas. Sentuhan Kinan begitu intens dan membakar, membuat Sherly terbawa suasana, melenguh dan menjeritkan nama Kinan dengan penuh gairah yang bergaung hingga keluar celah pintu kamar. Orang-orang di luar tersenyum puas, mengira sang singa muda telah menjinakkan mangsanya.
Namun, di tengah pergulatan gairah yang memanas di atas ranjang sutra itu, Sherly tidak menyadari satu hal.
Jauh sebelum pernikahan ini digelar, Kinan telah menggunakan seluruh koneksi rahasianya untuk menyabotase minuman dan menyiapkan kontrasepsi medis paling mutakhir yang tidak akan bisa dideteksi oleh siapa pun. Kinan telah menyiasatinya dengan sangat rapi agar malam pertama ini—dan malam-malam selanjutnya—tidak akan pernah menghasilkan kehamilan.
Di tengah desah napas dan peluh yang bercucuran, mata Kinan menatap lurus ke kegelapan kamar dengan tatapan yang sangat dingin dan tajam. Sungguh, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Kinan hanya berharap keturunannya kelak lahir murni dari rahim Neya, wanita satu-satunya yang ia cintai.
Atau setidaknya, ini adalah cara paling kejam bagi Kinan untuk menghancurkan harapan besar kedua orang tuanya yang mendambakan lahirnya ahli waris baru demi kelangsungan dinasti bisnis mereka. Kinan ingin memutus garis keturunan itu di tangannya sendiri sebagai bentuk balas dendam tertinggi.
Dan di sudut hatinya yang lain, terselip sebuah rasa iba yang tulus untuk wanita di bawah dekapannya saat ini. Kinan tahu Sherly gadis yang baik. Sambil bergerak dalam keintiman tanpa cinta itu, Kinan membatin pilu: ia berharap suatu saat nanti, setelah sangkar emas ini berhasil ia hancurkan, Sherly bisa terlepas darinya, menemukan laki-laki lain yang benar-benar mencintainya dengan tulus, dan melahirkan anak atas dasar cinta yang sejati—bukan atas dasar transaksi saham yang menjijikkan seperti ini.
Malam kian melarut ketika gemerlap pesta di hotel bintang lima itu akhirnya usai. Sebuah iring-iringan mobil mewah mengawal Kinan dan Sherly kembali ke kediaman pribadi Kinan—sebuah penthouse dua lantai bergaya minimalis modern yang terletak di kawasan paling elit di pusat kota. Di sinilah, jauh dari hiruk-pikuk dekorasi pernikahan yang megah namun palsu, atmosfer intim yang sesungguhnya mulai merayap naik, mengurung kedua pengantin baru itu dalam ruang yang sunyi.
Di dalam kamar utama yang temaram di lantai atas, pintu telah dikunci rapat dari dalam. Sherly berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota. Ia perlahan melepaskan jubah tidurnya, menyisakan selembar gaun malam satin tipis berenda hitam yang melekat ketat di tubuhnya. Harus diakui, dalam balutan kain seminimal itu, Sherly terlihat luar biasa seksi. Lekuk tubuhnya yang sintal, kulitnya yang putih bersih berbaur dengan aroma wangi mawar yang sensual, memancarkan daya pikat yang sanggup meruntuhkan pertahanan pria mana pun.
Kinan melangkah mendekat dengan tatapan mata yang gelap. Rasa frustrasi, amarah, dan kehancuran yang bergulung di dalam dadanya selama berhari-hari mendadak menjelma menjadi desakan jantan yang tak terbendung. Sebagai laki-laki normal, Kinan tidak bisa membohongi insting biologisnya sendiri. Ketika ia menarik pinggang Sherly dan merapatkan tubuh seksi itu ke dalam dadanya, gelombang gairah yang murni langsung menyengat seluruh sarafnya
Kinan menunduk, menatap bibir Sherly yang sedikit terbuka menanti sentuhannya
Ciuman itu menjadi sumbu yang membakar seluruh isi kamar. Kinan tidak lagi menahan diri. Ia mengangkat tubuh Sherly dengan mudah, membawanya ke atas ranjang king size berselimut sutra hitam, lalu mengungkungnya di bawah dominasi fisiknya yang gagah. Sentuhan tangan Kinan yang kokoh mulai menjelajahi setiap jengkal kulit hangat Sherly, memberikan remasan dan belai-belai intens yang membuat pertahanan Sherly runtuh seketika.
Gadis itu terhanyut sepenuhnya. Sherly mulai mengeluarkan suara desahan yang teramat sensual—sebuah perpaduan antara rasa nikmat, kejutan, dan gairah murni yang begitu merdu dan intens. Suara rintihan yang lolos dari bibir ranum Sherly malam itu begitu pekat, jenis desahan yang siapapun mendengarkannya pasti akan langsung terhanyut dan ikut terbakar dalam fantasi yang sama.
Kinan menikmati pergulatan fisik itu dengan liar. Di bawah kungkungan gairah yang membakar, ia bergerak memimpin ritme penyatuan mereka dengan tenaga jantannya yang penuh, membuat Sherly berkali-kali mendesah pasrah, mencengkeram bahu kokoh Kinan seolah pria itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya. Keringat mereka bercampur, membasahi sprei sutra seiring dengan detak keintiman yang kian memuncak. Kinan membiarkan tubuhnya terbuai dan menikmati pelepasan hasrat alami itu bersama Sherly, melampiaskan seluruh rasa sakitnya ke dalam kehangatan yang intim di atas ranjang pengantin mereka.
Namun, tepat ketika puncak gairah itu tercapai dan kelelahan mulai menyergap, Kinan membiarkan tubuhnya ambruk di samping Sherly yang napasnya masih terengah-engah dengan wajah merona merah penuh kepuasan.
Kinan menoleh, menatap Sherly yang perlahan mulai memejamkan mata karena kelelahan, tertidur pulas dengan senyum tipis di bibirnya. Laki-laki itu bangkit, memakai kembali jubah mandinya, lalu melangkah menuju meja nakas di sudut kamar. Ia meraih ponsel pribadinya yang sejak siang sengaja ia matikan.
Begitu layar ponsel menyala dalam kegelapan, serangkaian notifikasi pesan masuk beruntun membanjiri layarnya.
Kinan menggeser layar tersebut dengan malas, sampai jarinya terpaku pada sebuah pesan dari nomor tidak dikenal yang masuk tepat satu jam yang lalu di tengah-tengah malam pertamanya bersama Sherly. Pesan itu hanya berisi sebuah foto digital yang dikirimkan secara anonim.
Kinan membuka foto tersebut, dan dalam sekejap, seluruh darah di dalam tubuhnya seolah membeku seketika.
Foto itu menampilkan gambar teras sebuah rumah yang sangat ia kenali dari kejauhan. Di bawah temaram lampu teras, terlihat sosok Neya sedang berdiri dengan gaun tidur marun yang tampak sedikit berantakan, sementara seorang pria dari arah belakang sedang memeluk pinggangnya dengan sangat posesif. Namun, bukan itu yang membuat jantung Kinan seolah berhenti berdetak.
Di bagian bawah foto tersebut, si pengirim anonim menuliskan sebuah kalimat singkat yang memicu tanda tanya besar
"Pernikahanmu sangat megah, Kinan. Tapi apakah kamu tahu, di jam yang sama saat kamu melampiaskan kehancuranmu pada wanita lain, gadis yang hampir kamu nikahi dulu sedang berusaha menjemput kembali memorinya tentangmu"
lalu Kinan ?