Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Kaisar
Suasana di dalam aula rapat agung Kekaisaran Naga Langit yang semula dipenuhi aura penekanan sang Kaisar mendadak senyap. Keheningan itu pecah ketika pintu kayu besar berukir naga emas terbuka lebar, memperlihatkan seorang kasim yang berlari terengah-engah.
Ia segera menundukkan diri, sebagai tanda hormat.
"Lapor, Yang Mulia Kaisar... Di luar aula, Putri Mahkota Lin Jia dan Pangeran Lin Tian memohon izin untuk menghadap segera," ucap kasim itu terbata-bata, menahan napasnya yang memburu.
Hening seketika mencengkeram seluruh ruangan. Para menteri, jenderal, dan penasihat istana yang hadir saling pandang satu sama lain dengan kening berkerut dalam.
Bisik-bisik lirih mulai menjalar bagai api di tengah padang rumput kering. Tak terkecuali sang penguasa tertinggi, Kaisar Lin Dong. Sungguh sebuah kejutan besar; tidak biasanya Putri Mahkota Lin Jia dan Pangeran Lin Tian datang ke aula saat ada pertemuan.
"Suruh mereka masuk," titah Kaisar Lin Dong dengan suara berat yang mutlak.
Kasim itu menunduk khidmat, lalu segera berlari kembali menuju pintu gerbang aula. Dengan sisa-sisa napasnya, ia menyerukan kedatangan keduanya. "PUTRI MAHKOTA LIN JIA DAN PANGERAN LIN TIAN MEMASUKI AULA RAPAT AGUNG!" teriaknya lantang.
Sepasang pintu raksasa kembali terbuka lebar. Lin Jia berjalan dengan keanggunan seorang penguasa masa depan, sementara Pangeran Lin Tian mendampinginya di sisi kanan dengan langkah tegap dan tatapan mata yang tajam.
Di sisi lain, Putra Mahkota Lin Dui yang sedari tadi berdiri di tengah aula langsung menoleh ke belakang.
Matanya menyipit tajam, menatap kedatangan dua saudaranya itu dengan rahang yang mengeras. Firasatnya terlalu buruk; kedatangan mereka berdua di waktu yang sangat krusial ini pasti bukanlah sebuah kebetulan belaka.
Langkah kaki Lin Jia dan Pangeran Lin Tian berhenti tepat di samping Putra Mahkota Lin Dui, menciptakan ketegangan kasat mata yang membuat udara di sekitar mereka terasa mencekik.
Keduanya membungkuk hormat, memberi salam formal kekaisaran kepada sang ayah yang kembali duduk di atas takhta.
"Maaf atas gangguan yang kami timbulkan di tengah rapat penting ini, Ayah," kata Lin Jia, suaranya terdengar jernih namun penuh penekanan di setiap kata.
Kaisar Lin Dong menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. "Katakan, apa yang sebenarnya membawa kalian datang kesini?" tanya Kaisar Lin Dong dengan nada menginterogasi yang halus.
Lin Jia menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah takhta tanpa ada rasa gentar sedikit pun. "Aku mendengar sesuatu yang sangat mengusik ketenangan istana, Ayah. Gudang senjata utama kekaisaran baru saja kerampokan," ujar Lin Jia dengan nada tenang, namun dampaknya bagai petir di siang bolong.
Ia menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan efek kata-katanya meresap ke dalam benak semua orang sebelum melanjutkan rencana yang telah ia susun rapi. "Jika sampai kabar memalukan ini terdengar hingga ke luar perbatasan Kekaisaran Naga Langit, maka harga diri kekaisaran kita akan diinjak-injak. Kekaisaran yang selama ini terkenal dengan keamanannya yang tidak bisa ditembus, kini justru bisa terkecoh oleh segerombolan pencuri yang entah datang dari mana."
Mendengar kalimat menohok yang keluar dari bibir Lin Jia, semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas. Udara di dalam aula mendadak terasa begitu berat. Beberapa jenderal bahkan mulai berkeringat dingin karena tahu kelalaian ini adalah tamparan keras bagi militer istana.
"Karena itu," kali ini Pangeran Lin Tian yang mengambil alih pembicaraan, suaranya berat dan terdengar penuh percaya diri. "Kegagalan yang telah diperbuat oleh Putra Mahkota dalam menjaga kekaisaran... biarkan kami berdua yang memperbaikinya," lanjut Lin Tian tanpa ragu.
Ucapan frontal tersebut seketika membuat para menteri kembali saling pandang dalam kebingungan dan kecemasan yang mendalam. Sementara yang mereka tau, Pangeran Lin Tian dan Putri Mahkota Lin Jia tidak memiliki kemampuan apapun.
Sementara itu, Putra Mahkota Lin Dui menatap kedua saudaranya dengan pandangan yang dipenuhi kobaran api permusuhan yang pekat. Tangannya mengepal kuat di balik jubah sutranya, menahan amarah yang hampir meledak karena merasa kehormatan nya dilecehkan di depan umum.
"Jelaskan," tuntut Kaisar Lin Dong, matanya kini menatap tajam, menuntut kejelasan dari rencana kedua anaknya.
"Kami telah menyusun sebuah rencana yang matang, Ayah... sebuah strategi khusus untuk melacak, menjebak, dan menangkap pencuri-pencuri itu beserta dalang nya," jawab Pangeran Lin Tian dengan keyakinan penuh.
Lin Jia melangkah satu kali ke depan, menutup argumen mereka dengan tuntutan yang sulit ditolak. "Karena itu... dalam masalah kali ini, biarkan kami yang bertindak dan memimpin secara penuh. Sama seperti Ayah yang selalu memberikan kepercayaan penuh kepada Putra Mahkota, kali ini, aku ingin Ayah memberikan kepercayaan yang sama besar kepada kami berdua untuk menyelesaikan kekacauan ini."
Kaisar Lin Dong terdiam seribu bahasa. Matanya menatap bergantian antara Lin Jia, Lin Tian, dan Putra Mahkota Lin Dui yang kini wajahnya memerah menahan geram.
Sang Kaisar jelas terlihat ragu; yang dia tau kedua anaknya dari Selir Kedua sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun, namun di sisi lain, ia juga membutuhkan solusi cepat demi menyelamatkan muka Kekaisaran Naga Langit.
Putri Lin Jia kembali melangkah, berdiri tegap. Hanfu panjangnya berdesir halus di atas lantai. "Aku ingin Ayah mempercayai kami, sekali saja," tambah Lin Jia, menatap lurus ke netra sang Kaisar.
Kaisar Lin Dong tampak berpikir sejenak, jelas ini bukanlah keputusan yang muda.
"Apa rencana kalian?" tanya Kaisar Lin Dong akhirnya, mencoba mencari celah dari keyakinan mereka.
Sebelum Lin Tian sempat menjawab, seorang menteri tua berkumis jarang langsung menyela dengan suara gemetar namun sarat akan kepanikan. "Y--Yang Mulia Kaisar! Ini tidak bisa—"
Kaisar Lin Dong tidak menoleh, dia hanya mengangkat sebelah tangannya di udara. Gerakan sederhana itu sudah cukup untuk membuat menteri tersebut bungkam seketika dan menunduk dalam.
Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Seorang jenderal tingkat tiga memberanikan diri untuk bersuara, melangkah keluar dari barisan.
"Maaf atas kelancangan hamba, Yang Mulia..." ucapnya dengan nada dibuat-buat sedemikian rupa agar terdengar seperti sebuah kekhawatiran. "Namun kita semua di ruangan ini tahu benar, Pangeran Lin Tian dan Putri Lin Jia tidak memiliki kemampuan elemen apa pun dalam tubuh mereka. Jelas, misi berbahaya ini bisa mengancam keselamatan nyawa mereka." Di balik topeng kekhawatiran itu, senyum sinis nya terlihat jelas; dia sedang meremehkan dan menghina kapasitas kedua anak Kaisar tersebut di depan publik.
Mendengar cemoohan yang terselubung itu, Lin Jia dan Pangeran Lin Tian tetap berdiri tenang. Wajah mereka datar, tak terusik sedikit pun oleh hawa dingin yang dilemparkan seisi ruangan.
Lin Tian melirik sekilas ke arah jenderal tersebut, lalu mengalihkan pandangannya pada Lin Dui. "Bahkan... Putra Mahkota yang di katakan sebagai si jenius elemen dan kultivator terbaik kekaisaran saja bisa terkecoh dengan mudah oleh pencuri itu," sindir Pangeran Lin Tian dengan nada suara yang sangat pelan, namun mampu membungkam seluruh mulut di dalam ruangan.
Kata-kata itu telak menghantam harga diri Putra Mahkota. Wajah Putra Mahkota Lin Dui seketika berubah menjadi merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Rahangnya mengatup rapat, napasnya memburu karena merasa terhina.
Melihat momentum yang berbalik, Lin Jia mengambil satu langkah lebih maju ke depan altar takhta. Tatapannya mengunci pandangan sang ayah. "Ayah hanya perlu melihat hasilnya nanti," tegas Lin Jia.
Kaisar Lin Dong memejamkan matanya perlahan. Suasana aula rapat menjadi begitu hening namun aura yang menekan di dalamnya semakin kuat. Sang Kaisar tahu, keputusan yang akan dia ambil mungkin bisa mengubah sesuatu. Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, dia membuka matanya kembali.
"Baiklah.. Aku beri kalian kesempatan itu," putus Kaisar Lin Dong dengan suara final yang tidak bisa diganggu gugat.
Mendengar keputusan Kaisar, sebuah senyuman tipis yang penuh arti terukir di sudut bibir Lin Jia. Sesuatu yang misterius berkilat di matanya.
"Kalau begitu..." Lin Jia menjeda kalimatnya sejenak, menatap para petinggi militer yang berdiri di sisi kanan aula. "Berikan aku beberapa prajurit elite tingkat tinggi istana untuk berada di bawah rencana ku."