Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Di rooftop sekolah pada jam istirahat, aku dan Maya kembali melakukan pertemuan darurat setelah aku memaksakan diri berbicara sama Luna si ketua kelas sebelumnya. Aku akui performaku buruk, itu sebabnya pertemuan darurat ini dilakukan dan di inisiasi oleh Maya. Pembicaraan kami sedikit bergeser dari topik awal setelah aku keceplosan memberitahu Maya tentang hobiku yang memalukan, dia tiba – tiba tersenyum aneh dengan rona merah di pipi. Tatapan mata itu... itu juga sangat aneh, dia seperti menyimpan sesuatu hal... seolah dia sudah tahu aku ini penulis novel namun mana mungkin, kan?
“Hei, jangan tertawa karena aku punya hobi menulis” aku pun menegur agar dia tidak mengejekku lebih dari ini, lalu seketika itu Maya menggelengkan kepalanya sambil kedua tangannya memberi gestur yang memintaku untuk tidak tersinggung dengan sikapnya.
“Tidak, aku gak tertawa kok. Aku cuma berpikir novel apa yang sudah Raka tulis di SMA kelas satu, bahkan aku aja gak tahu fakta ini” ucap Maya, dia menatapku masih dengan senyum manis dan rona merah di pipi.
“Hah? Ya pasti kamu gak bakal tahu, kan? Aku gak pernah bilang sama siapa pun kalau aku menulis sebuah novel” ucapku dengan bingung dan heran, apa dia benar – benar seorang penguntit yang selama ini menguntitku ya? Sampai tahu rahasia terbesar dalam hidupku.
Apa – apaan reaksinya itu? Senyum dan rona merah di pipinya... apa yang sebenarnya ada di dalam kepalanya? Atau jangan – jangan dia sedang merencanakan pemerasan terhadapku agar mau tutup mulut dan tidak membocorkan rahasia memalukan ini? Aku pasti akan hancur kalau sampai satu kelas tahu aku punya hobi menulis sebuah novel, terlebih seorang cowok tulen sepertiku menulis sebuah cerita romantis meskipun ada bumbu - bumbu komedinya. Tentu saja itu akan sangat memalukan, ya kan?
“Aah lupakan soal itu sekarang, lalu gimana sama obrolannya tadi?” tanya Maya seolah dia tersadar dari seluruh usahaku untuk mengalihkan pembicaraan, raut wajahnya pun langsung berubah seperti dia tersentak sadar dari sebuah hipnotis.
“Kamu kan bisa ngobrol normal sama aku, kenapa sama Luna gak bisa?” tanya Maya lagi dengan heran ketika aku hanya diam dengan penuh rasa kesal karena dia lagi – lagi membahas sesuatu yang tidak ingin aku bahas.
“Ya pikir aja, aku ini emang bisa ngobrol normal kalau punya maksud dan tujuan yang jelas. Sedangkan untuk dirimu, itu karena kita sama – sama dari masa depan yang bertemu di kehidupan yang kedua. Sudah aku bilang kamu spesial bagiku, topik pembicaraanku sama kamu pasti seputar kehidupan kedua ini” jawabku dengan tegas dan rasa kesal supaya dia paham perbedaannya, aku semakin mengkhawatirkan kemampuan Maya untuk mengerti ucapan manusia.
“Haah~ ya udah hari ini sampai di sini dulu aja” ucapnya dengan helaan nafas, lega... akhirnya aku bisa bebas.
“Tapi aku belum menyerah loh! Kamu juga harus tetap berjuang buat mencari teman!!” ucapnya lagi penuh semangat sambil menunjukku, sepertinya rasa legaku terlalu cepat untuk aku ucapkan.
“Kenapa kamu jadi semangat gitu?! Aku sama sekali gak mau berjuang untuk hal seperti itu!!” bentakku merespons semangatnya, namun Maya tidak peduli dan dia melambaikan tangan sambil berjalan meninggalkan rooftop.
Setelah beberapa saat berlalu, giliranku yang beranjak meninggalkan rooftop sekolah. Semua aku lakukan agar tidak ada teman sekelas yang melihat aku dan Maya saling bertemu di tempat aneh seperti rooftop sekolah. Aku akan semakin kerepotan menghadapi kehidupan sekolah di kehidupan kedua ini kalau sampai ada yang melihat aku dan Maya saling bertemu di tempat aneh seperti rooftop, aku rasa aku akan semakin tertekan karenanya.
Dua minggu telah berlalu sejak aku dan Maya terakhir bertemu di rooftop sekolah... dan juga setelah kegagalan besarku untuk berteman sama Luna...
Aku melewati masa sekolah dengan baik, tenang dan seperti yang aku inginkan, tidak ada drama, ketegangan, dan hal lain yang akan membuat kehidupan sekolahku menjadi merepotkan. Paling yang merepotkan adalah PR, ulangan pra-semester, dan tugas – tugas dari guru yang terasa begitu menumpuk. Tapi semua itu bisa aku selesaikan dengan baik, nilaiku juga mendapat yang tertinggi di kelas.
Sisanya, hari – hariku aku habiskan untuk malas – malasan di rumah bersama Vanya. Menonton TV seharian bersamanya ternyata tidak terlalu buruk dan ini menjadi kali pertama aku melakukannya di dua kehidupanku, kami berdua juga sering diejek ayah dan ibu sebagai dua paus yang terdampar di pantai. Tapi ini menyenangkan, aku bisa berkumpul lagi bersama Vanya di mana pada kehidupan pertamaku ketika itu aku tidak terlalu akrab dengannya.
Di hari Senin.... Pagi itu aku berangkat sekolah dengan perasaan yang baik – baik saja setelah dua minggu penuh Maya tidak menggangguku selain pertemuan hari Senin sepulang sekolah di kafe yang ditunjuk Maya, aku mengikuti pelajaran dengan baik sampai bel istirahat berdering. Seperti biasa, aku menghabiskan jam istirahatku dengan membaca manga sambil ditemani roti isi dan juga jus kalengan. Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama ketika...
“Raka, sibuk gak?” terdengar suara cewek yang berdiri di depan mejaku, aku mendongak menatapnya dan cukup membuatku terkejut melihat siapa pemilik suara itu.
Sosok siswi paling menonjol di kelas tiba – tiba mendatangiku dan mengajakku berbicara, Ya.. dia adalah Luna si ketua kelas. Dia menatapku dengan tatapan mata yang sedikit keheranan, entah kenapa dia menatapku seperti itu. Apa mungkin dia akan mengadiliku karena dua minggu lalu aku berani mengajaknya bicara? Atau dia akan meminta pertanggungjawaban atas tindakanku yang berani mengajaknya bicara? Ini cukup menegangkan bagiku karena aku tidak tahu motif Luna mendatangi mejaku secara tiba - tiba seperti ini
“Ooh hee iya ada apa ya?” tanyaku sedikit terbata, aku menutup manga-ku lalu meletakkannya di atas meja. Aku mencoba untuk bersikap lebih ramah padanya, siapa tahu Luna akan menunjukkan belas kasih ketika dia benar – benar akan menuntutku.
“Kamu belum ngumpulin PR bahasa Inggris” jawabnya datar
“Ooh iya ya!! Ada PR buat cerita pakai bahasa Inggris” timpalku sedikit bergumam, aku baru ingat kalau ada PR bahasa Inggris karena minggu kemarin aku bermalas – malasan sama Vanya seharian penuh.
“Aku gak mau kumpulkan ke guru kalau ada anak yang belum mengerjakan” ucap Luna, yah.. seperti yang dikatakan Maya kalau Luna adalah anak yang baik.
“Begitu ya... jadi ketua kelas emang sulit ya, tapi terima kasih. Bisa tunggu sebentar?” pintaku, Luna pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
Aku mengeluarkan buku tulisku lalu mulai menulis apa yang aku lakukan selama liburan sekolah menggunakan bahasa Inggris, ini sangat mudah bagiku karena aku masih ingat apa yang pernah aku tulis di kehidupan pertamaku. Hanya butuh beberapa penyesuaian kata karena tingkat kemampuan bahasa inggrisku sebenarnya sudah ditahap siswa kelas tiga SMA, ini seperti pakai kode curang dalam sebuah gim.
Aku menulis semuanya dengan cepat agar Luna tidak menunggu terlalu lama, kasihan dia harus berdiri di depan mejaku sambil bengong begitu di jam istirahat. Namun ketika aku lagi asyik menulis, tiba – tiba Luna mengatakan...
“Hei, kamu pintar pakai bahasa Inggris ya? Cepat banget” tanya Luna terdengar seperti kagum padaku, dia sampai memajukan badannya, menjadi kan kedua tangan menjadi sandaran yang dia letakkan di atas mejaku dan sepertinya semakin dekat dengan posisi dudukku.
“Ya... biasa aja...” jawabku merendah sambil terus menulis
“Nilai ulangan bahasa Inggris kemarin dapat berapa?” tanya Luna dan saat itu aku sedikit terkejut.
Dalam hati aku berkata ‘Orang asing ini benar – benar ahli dalam membuka obrolan’ yah... sesuai yang diharapkan dari seorang ekstrovert. Menurutku ini langkah bagus yang mungkin bisa aku laporkan ke Maya nanti sore ketika kami bertemu di kafe keluarga, setidaknya aku punya bahan obrolan setelah dua minggu aku bertemu dengannya tanpa ada bahan obrolan penting satu pun. Aku pun mendongak sedikit namun yang aku lihat ketika itu adalah pemandangan yang luar biasa...
Luna terlalu dekat dengan posisiku duduk, jadi ketika aku mendongak yang saat itu tepat di depan mataku malah dadanya. Dalam hati aku langsung berkata “Gede bangeeet!!! Kita masih kelas satu SMA kan?!! Apa dia memiliki ukuran sebesar ini saat kelas tiga?!! Itu pasti ukuran 34D!!” aku sedikit berkeringat dingin dan agar tidak dianggap mesum aku langsung menatap wajahnya meski membuatku jadi menyender pada kursi.
“Ooh apa pertanyaanku aneh?!! Aku cuma penasaran aja, Maaf ya~” ucap Luna terdengar panik sambil melambaikan kedua tangannya ke arahku, apa aku tadi menatapnya dengan raut wajah aneh sampai dia merasa seperti itu? Tapi beruntung dia tidak sadar apa yang aku pikirkan tadi... Haah...
Aku tidak langsung menjawabnya dan lebih memilih untuk menetralkan ekspresi wajah mesumku agar tidak membuat kesan buruk, aku tidak bisa berbohong tadi itu adalah sebuah pemandangan yang bagus tapi aku juga tidak bisa setega itu pada Luna karena dia cewek yang sangat baik. Jangan salahkan aku karena biarpun begini juga aku sebenarnya sudah remaja yang cukup matang, hal seperti itu selalu membuatku terlalu bersemangat dan kadang menjadi berlebihan, kan?
Tapi kembali ke topik pembicaraan sama Luna, dalam hati aku pun bertanya ‘Kenapa dia bertanya tentang nilai bahasa Inggrisku?’ tapi setelah aku pikir – pikir... rasanya aku tahu alasan dibalik pertanyaan itu...
“Luna, kamu dapat nilai rata – rata tertinggi kedua di kelas ya?” tanyaku mengacu pada kelas yang selalu memberikan peringkat di setiap satu bulan sekali setelah ulangan tengah semester, Luna pun terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku yang terlihat dari raut wajahnya.
“Eeh i... iya, kok kamu tau?” tanyanya penasaran, aku menghela nafas namun masih memberikan tatapan datar agar tidak terkesan aku menyombongkan diriku.
“Cuma nebak aja. Soalnya cuma itu alasan yang aku pikirkan saat kamu tanya nilai bahasa Inggrisku, orang yang gak kamu kenal dengan baik. Jadi kamu sedang mencari peringkat satu di kelas saat ini, kan? Itu aku orangnya” jawabku datar mencoba untuk tetap rendah hati sambil menunjukkan lembaran yang berisi nilai - nilai ujian tengah semesterku kepadanya, Luna menerima lembaran kertas itu dengan mata berbinar dan ekspresi wajah tidak percaya.
“Gak aku sangka, kamu orangnya!! Raka, kamu ternyata cukup pintar ya! Agak mengejutkan!” Luna mengucapkannya dengan antusias sambil menatap lembaran kertas nilai – nilai ulanganku yang memang banyak angka sembilannya
“Cuma kebetulan aja, soalnya cakupan materi di awal semester ini kan kecil” timpalku masih dengan nada datar supaya kesannya aku adalah orang yang sangat rendah hati
Sedikit rahasia, sebenarnya bukan aku yang pintar tapi semua ini karena aku adalah orang yang kembali ke masa lalu. Isi kepalaku setingkat anak SMA kelas tiga yang telah lulus sekolah dan aku diberi pelajaran anak kelas satu SMA, bukankah itu memang sudah seharusnya menjadi mudah? Tapi aku cukup terkejut karena secara peringkat pararel, aku hanya menduduki peringkat empat. Sepertinya pepatah di atas langit masih ada langit itu benar – benar ada, tapi aku tahu siapa peringkat satu di peringkat pararel sekolah ini... pasti Maya, ya kan?
Setelah obrolan singkat itu, aku kembali fokus untuk menyelesaikan PR yang belum aku selesaikan. Tidak butuh waktu lama kok, aku juga tahu diri untuk tidak terlalu merepotkan Luna yang sudah mau menungguku menyelesaikan PR. Aku pun menyerahkan bukuku ke Luna, dia menerimanya tanpa melihat isi sambil mengembalikan lembar yang berisi nilai - nilai ujian tengah semesterku.
“Oke, aku kumpulin ya... Dan, terima kasih sudah mau memperlihatkan lembar nilai tengah semestermu. Ini tantangan yang bagus buatku, Bye~” celetuknya setelah menerima bukuku, tapi aku heran kenapa juga dia sampai mengucapkan terima kasih untuk hal seperti itu.
“Oh aah Yah... senang bisa membantu, aku rasa...” timpalku, dia pun melambai tangan sambil berjalan meninggalkan kelas untuk mengumpulkan semua buku PR ke ruang guru, aku membalas lambaiannya beberapa kali lalu kembali membaca manga di atas meja.
Sambil membaca aku mencoba memahami apa yang membuat Luna mengucapkan kata 'Terima kasih' padaku, meski tampangnya kalem namun jiwa kompetitif Luna itu tinggi ternyata. Kalau diingat – ingat memang aku tidak pernah ngobrol sama Luna sebanyak dan selama ini di kehidupan sebelumnya, hal itu membuatku menarik kesimpulan kalau koneksi di antara orang – orang memang kadang bisa terhubung dengan obrolan sederhana seperti bertukar nilai. Meskipun kamu sendiri tidak ingin berhubungan dengan orang itu, kadang itu terjadi secara natural.
Ngomong – ngomong, waktu itu aku merasa kaku saat mencoba mengajak Luna mengobrol karena paksaan dari Maya, tapi kali ini obrolan kami bisa terbilang sukses dan lancar. Aku jadi memahami sesuatu yaitu berbicara pada orang lain untuk mengenal mereka itu adalah ketidaksesuaian yang fatal, aku harus berbicara dengan seseorang karena aku ingin dan bukan karena alasan lain.