Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam semakin pekat, hanya diterangi cahaya bulan separuh yang redup dan cahaya silau dari ribuan lampu listrik di kompleks benteng di bawah sana. Dari ketinggian bukit, terlihat jelas pola pertahanan musuh: pagar kawat berduri bertegangan tinggi, parit dalam, menara pengawas dengan senapan mesin, dan patroli berputar yang tak pernah istirahat. Ini bukan sekadar markas kriminal. Ini penjara keamanan maksimum, atau mungkin benteng perang.
Raga berbaring tengkurap di balik tumpukan batu besar, teropong malam menempel erat di matanya, memindai setiap sudut, setiap celah, setiap pola pergerakan penjaga. Napasnya tenang, terukur, detak jantungnya melambat—teknik yang ia pelajari di penjara, teknik bertahan hidup. Di sebelahnya, Arya juga mengamati dengan saksama, otak arsitekturnya bekerja cepat, memetakan struktur bangunan, mencari titik lemah, jalan masuk, dan jalan keluar darurat.
Naya dan Sari Dewi bersembunyi di belakang mereka, di dalam ceruk batu yang terlindung, bersandar dingin pada dinding granit kasar. Angin malam bertiup kencang di ketinggian ini, membawa serta bau asap, minyak tanah, dan sesuatu yang lain—bau logam berkarat dan... darah tua. Baunya tajam, amis, dan membuat perut mual.
"Terlalu ketat," bisik Raga parau, meletakkan teropongnya. Wajahnya kaku, matanya gelap penuh kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan. "Aku salah kira. Aku pikir ini cuma pos penjagaan sekunder. Ternyata ini markas utama. Ada sekitar 200 sampai 300 orang bersenjata berat di bawah sana. Pasukan elit. Bukan preman jalanan."
"Artinya?" tanya Arya, suaranya rendah dan tegas, meski hatinya mencelos.
"Artinya, peluang kita masuk tanpa terdeteksi: Nol. Peluang kita keluar hidup-hidup setelah masuk: Kurang dari 10%," jawab Raga jujur, tanpa gula-gula. Ia menatap Arya tajam. "Kita masih bisa mundur, Arya. Kita bisa kabur ke hutan, hilang, mulai hidup baru di ujung dunia. Tapi kalau kita turun lewat celah tebing itu... kita bakar semua jembatan. Tidak ada jalan balik."
Keheningan mencekam menyelimuti mereka. Suara jangkrik pun seolah takut berbunyi.
Arya menoleh ke belakang, menatap istri dan putrinya. Naya menatapnya dengan mata basah, penuh cinta dan keputusasaan. Sementara Sari Dewi... gadis itu justru tenang. Ia maju selangkah, merangkak mendekati kedua pria itu, matanya bersinar tajam di bawah remang cahaya bintang.
"Paman Raga," bisik Sari Dewi lembut namun tegas. "Kamu bilang tadi peluang masuk tanpa ketahuan itu nol. Tapi siapa bilang kita harus masuk diam-diam?"
Dua pasang mata pria dewasa itu menatap bingung ke arah remaja 13 tahun itu.
"Maksudmu?" tanya Arya mengerutkan kening.
"Lihat pola patroli mereka. Lihat posisi lampu sorot. Lihat bagaimana mereka berjaga," Sari Dewi menunjuk dengan jari rampingnya ke arah benteng di bawah. "Mereka tidak berjaga seperti orang yang takut musuh datang. Mereka berjaga seperti orang yang menunggu tamu datang. Lihat, Paman? Pintu gerbang utamanya besar sekali, terbuka sedikit, tidak terkunci rapat. Jalur utamanya bersih, tidak ada ranjau. Semua senjata diarahkan keluar, untuk menembak orang yang mau masuk dari hutan. Tapi tidak ada senjata yang diarahkan ke dalam, untuk mengawasi orang di dalam."
Otak Arya dan Raga seolah tersengat listrik. Analisis sederhana namun brilian itu menghancurkan seluruh asumsi mereka.
"Mereka tahu kita datang," lanjut Sari Dewi, suaranya tak bergeming. "Sejak kita keluar dari rumah. Sejak kita masuk hutan. Mereka melacak kita setiap detik. Mereka biarkan kita lewat, biarkan kita selamat dari jebakan, biarkan kita sampai di sini. Karena mereka ingin kita masuk. Ini bukan pertahanan. Ini perangkap tikus. Pintu terbuka lebar supaya tikusnya mau masuk sendiri."
Raga memukul batu di sampingnya dengan kepalan tangan, wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa bodoh.
"Sialan! Aku terlalu fokus pada taktik militer, aku lupa psikologi dasar Ayah. Dan Si Bayangan pasti lebih buruk lagi. Mereka tidak takut sama kita. Mereka ingin kita ada di sana."
"Karena aku," potong Sari Dewi, matanya menunduk sejenak menatap kalung kunci emas di lehernya. "Mereka butuh aku di dalam. Mereka butuh aku di tempat tertentu, di waktu tertentu, untuk membuka sesuatu. Selama aku di luar, aku tidak berguna buat mereka. Aku cuma anak gadis biasa. Tapi begitu aku melangkahkan kaki masuk ke wilayah mereka, aku jadi aset, jadi kunci, jadi boneka yang bisa mereka mainkan."
Naya langsung menarik tubuh putrinya masuk ke pelukannya, tangannya gemetar mengusap rambut panjang anaknya.
"Kalau begitu kita tidak turun! Kita pergi sekarang! Kita lari sejauh mungkin!" desis Naya panik.
Sari Dewi menggeleng pelan, melepaskan pelukan ibunya dengan lembut. Ia menatap ibunya dengan tatapan sedih namun tak tergoyahkan.
"Bunda, kalau kita lari sekarang, mereka akan kejar. Dan kali ini, mereka tidak akan main-main. Mereka akan kirim pasukan pembunuh, pembunuh bayaran, orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Kita akan terus lari sampai kita capek, sampai kita mati. Tapi kalau kita masuk... kita bawa pertempuran ke halaman mereka. Kita tahu aturan mainnya sekarang. Kita tahu mereka butuh aku hidup. Artinya... selama aku hidup, kalian aman. Mereka tidak akan berani bunuh Ayah atau Paman atau Bunda selama aku belum melakukan apa yang mereka inginkan. Itu satu-satunya keunggulan kita. Itu satu-satunya kartu As kita."
Arya menatap putrinya dengan campuran rasa bangga yang menyakitkan dan rasa takut yang mencekik. Anak ini bukan anak biasa. Dia jenius, dia pemberani, dia memiliki ketenangan seorang jenderal perang. Tapi di usia 13 tahun, dia dipaksa menjadi umpan.
"Jadi rencananya..." suara Arya berat, ia menelan ludah, "Kita masuk ke mulut naga, kita biarkan mereka menangkap kita, kita biarkan mereka bawa Sari ke ruang utama... dan di saat itulah, saat mereka merasa paling aman, saat mereka lengah... kita serang balik?"
Sari Dewi mengangguk mantap.
"Betul sekali, Ayah. Serangan balik saat musuh berpikir mereka sudah menang adalah serangan yang paling mematikan."
Raga menghela napas panjang, lalu tertawa kecil, tawa yang pahit dan tak percaya. Ia menatap keponakannya dengan pandangan baru, pandangan kagum campur takjub.
"Ayah benar. Kamu memang bukan anak biasa, Sari. Kamu bukan cuma pewaris darah Wijaya. Kamu adalah puncak evolusi kejahatan dan kecerdasan keluarga itu. Kamu punya otak Ayah, keberanian Nenek Sari, dan ketenangan ibumu. Sialan..." Raga menggelengkan kepala. "Oke. Kita main permainan kotor mereka. Tapi ingat satu hal: Begitu situasi berubah, begitu aku kasih sinyal, kalian lari. Jangan pikirkan aku. Jangan pikirkan misi. Lari."
"Jangan harap," potong Arya dingin. "Kita masuk bareng, kita keluar bareng. Mati sama-sama."
Raga hanya mendengus, tapi ada kilatan hangat di matanya.
Mereka bergerak.
Alih-alih menyusup diam-diam lewat celah tebing berbahaya seperti rencana awal, mereka berjalan terbuka. Mereka berjalan menyusuri jalan tanah lebar yang mengarah langsung ke gerbang utama, lampu-lampu sorot besar dari menara pengawas langsung berputar, mengunci sasaran pada tubuh mereka, menyilaukan mata, menerangi mereka siang bolong di tengah malam.
Suara sirene pendek berbunyi Tiiit! Tiiit!
Gerbang besi besar, setebal satu meter, tinggi lima meter, bergerak perlahan terbuka dengan suara deritan besi yang mengerikan. Dari balik gerbang, keluar belasan pria berseragam hitam, bersenjata lengkap dengan senapan serbu, wajah tertutup masker, hanya mata yang terlihat. Mereka mengelilingi keempat orang itu, mengarahkan moncong senjata dingin tepat ke kepala dan dada mereka.
"Tangan di atas kepala! Jangan bergerak!" teriak komandan pasukan itu, suaranya kaku dan mekanis.
Raga, Arya, Naya, dan Sari Dewi mengangkat tangan mereka perlahan. Senjata mereka diambil paksa, dikumpulkan. Mereka digiring masuk ke dalam kompleks itu, di bawah pengawasan ketat puluhan laras senjata.
Begitu melewati gerbang, bau udara berubah drastis. Udara di sini terasa berat, panas, lembap, dan berbau asep belerang samar—tanda aktivitas vulkanik aktif di bawah tanah. Mereka digiring melewati barak-barak prajurit, gudang amunisi, lapangan latihan, dan laboratorium. Semuanya modern, canggih, dan sangat terorganisir. Organisasi ini punya uang tak terbatas dan koneksi politik yang luar biasa.
Akhirnya, mereka sampai di depan pintu besar berwarna hitam pekat, terbuat dari baja padat, di dasar gedung utama di tengah kompleks. Di atas pintu itu, terukir lambang kuno: Mata Segitiga yang Melihat Segalanya.
Pintu itu terbuka otomatis.
Mereka didorong masuk ke dalam.
Ruangan itu luas, berbentuk bulat seperti amfiteater kuno, langit-langitnya tinggi menjulur sampai puluhan meter ke atas, menyatu dengan gua alami gunung. Dindingnya terbuat dari batu vulkanik kasar, gelap, berurat emas dan tembaga. Di tengah ruangan, ada meja batu besar berbentuk bulat, dan di belakangnya, di atas kursi singa besar yang diukir dari kayu hitam dan gading, duduklah sesosok bayangan.
Sosok itu tertutup kegelapan total, hanya siluetnya yang terlihat: Tua, bungkuk, kurus kering, mengenakan jubah hitam panjang yang menjuntai ke lantai. Wajahnya tertutup topeng perak tua, topeng wajah manusia tanpa ekspresi, berlubang di bagian mata dan mulut.
Suara langkah kaki para penjaga menghilang. Pintu baja di belakang mereka tertutup kembali dengan bunyi GEDUBUK berat, mengunci mereka di dalam. Hening. Sunyi. Hanya terdengar suara napas mereka sendiri dan suara tetesan air dari langit-langit gua.
"Selamat datang..."
Suara itu.
Suara yang keluar dari balik topeng itu rendah, serak, gemetar, tapi memiliki kekuatan hipnotis yang luar biasa. Suara itu bukan suara asli. Itu suara yang diubah, didistorsi, seperti suara hantu dari radio rusak.
"Selamat datang di rumah leluhurmu, anak-anakku..."
Sosok itu perlahan bangkit berdiri. Tinggi, kurus, mengerikan. Ia berjalan perlahan mengelilingi meja batu, mendekati mereka. Setiap langkahnya berbunyi Krak... Krak... suara tulang tua yang berderak.
Ia berhenti tepat di depan Sari Dewi.
Semua orang tegang. Arya dan Raga bersiap melompat meski tak bersenjata. Naya mencengkeram tangan putrinya.
Tangan panjang, kurus, keriput, dengan jari-jari panjang seperti laba-laba, terulur keluar dari balik jubah. Jari-jari itu perlahan menyentuh rambut panjang Sari Dewi, menyisirnya pelan, turun ke pipi halus gadis itu, lalu berhenti di dada kiri, tepat di atas kalung kunci emas yang berkilau.
"Darah Wijaya murni..." bisik sosok itu, suaranya penuh kekaguman, serakah, dan gembira yang mengerikan. "Cantik. Murni. Kuat. Sempurna. Hendrawan bodoh, dia merusak segalanya, tapi dia setidaknya melakukan satu hal benar: Dia menghasilkan kamu."
Sosok itu lalu berbalik perlahan, menatap Raga lewat lubang mata topeng peraknya.
"Dan kamu... Raga. Anak yang setia. Anak yang patuh. Kamu melakukan persis seperti yang aku ajarkan. Kamu membenci, kamu membunuh, kamu bertahan, dan kamu datang membawa kunci itu ke sini. Kamu adalah murid terbaikku."
Darah Raga membeku. Matanya melotot tak percaya, napasnya tercekat di tenggorokan.
"Ajarkan...?" desis Raga parau, suaranya pecah. "Apa maksudmu?"
"Ah, jangan pura-pura bodoh, Nak," suara itu tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk meremang. "Siapa yang membiayai sekolahmu di luar negeri? Siapa yang menyewa guru bela diri, instruktur militer, dan psikolog untuk melatihmu menjadi mesin pembunuh? Siapa yang mengirim surat, pesan, dan perintah kepada Hendrawan selama 30 tahun? Siapa yang menulis buku pedoman yang kau hafal di luar kepala?"
Sosok itu melangkah mundur satu langkah, lalu perlahan, perlahan sekali, tangannya naik ke sisi samping kepala. Ia memegang tepi topeng perak dingin itu.
"Sudah waktunya. Sudah waktunya kamu tahu siapa 'Dewa'-mu. Siapa tuanmu. Siapa orang yang sebenarnya memegang tali kendali seluruh hidupmu, seluruh hidup Hendrawan, dan seluruh nasib keluarga ini."
Perlahan... perlahan...
Topeng itu terangkat.
Terlepas.
Dan jatuh ke lantai batu dengan bunyi KLANG yang panjang dan nyaring, bergema di seluruh ruangan gua.
Wajah itu.
Wajah tua, keriput, kulitnya seperti kertas kering yang terbakar matahari, pucat kekuningan, penuh bekas luka bakar parut yang kasar, menutupi separuh wajah. Mata kanannya buta, putih keruh. Mata kirinya hidup, tajam, cerdas, dan jahat, berwarna abu-abu besi dingin.
Di ruangan itu, tidak ada satu suara pun. Tidak ada satu napas pun.
Karena wajah itu... wajah itu adalah wajah yang seharusnya sudah mati 28 tahun lalu. Wajah yang mereka lihat terbakar, mati, dan dikuburkan.
Wajah ANDRI ANDALAN.
Ayah kandung Naya. Sahabat terbaik Arya. Pria yang dianggap orang paling jujur, paling baik, paling suci di muka bumi. Pria yang mati menjadi korban kejahatan Hendrawan Wijaya.
Tapi dia berdiri di sini. Hidup. Bernapas. Sebagai SI BAYANGAN.
"APA?!!" teriak Arya histeris, lututnya lemas, ia hampir jatuh tersungkur. Dunianya terbalik. Segala kebenaran yang ia pegang selama hidupnya hancur berkeping-keping dalam satu detik. "KAU MATI! AKU LIHAT JENAZAHMU! AKU LIHAT RUMAHMU TERBAKAR!"
Pria tua itu—Andri Andalan—tersenyum. Senyum yang mengerikan, penuh gigi kuning dan busuk, senyum kemenangan murni.
"Ah, Arya... anakku yang bodoh, polos, dan setia," bisik Andri, suaranya lembut dan penuh ejekan. "Api itu cuma sandiwara. Jenazah itu? Gelandangan tak dikenal yang wajahnya sudah hancur tak dikenali. Aku membuat semua orang percaya aku mati, supaya aku bisa bekerja di belakang layar dengan tenang. Supaya aku bisa mengendalikan segalanya dari kegelapan, tanpa ada yang curiga. Siapa yang akan mencurigai orang mati? Siapa yang akan mencurigai orang suci seperti Andri Andalan?"
Ia berjalan mendekati Arya, menatap mata pemuda itu—yang dulu ia anggap seperti anak sendiri—dengan pandangan jijik dan merendahkan.
"Hendrawan cuma boneka. Dia ambisius, dia bodoh, dia gila karena cinta sama Sari. Aku pakai dia. Aku yang dorong dia ambil uang, aku yang kasih ide korupsi, aku yang atur semuanya. Aku buat dia kaya, aku buat dia berkuasa, dan di saat yang tepat, aku jatuhkan dia. Dan kamu, Arya... aku besarkan kamu, aku didik kamu, aku buat kamu jadi pahlawan, supaya kamu jadi pisau tajam yang akan aku gunakan untuk membunuh Hendrawan dan menghancurkan kekuasaannya, supaya aku bisa ambil alih semuanya. Kamu pikir keberuntunganmu, kepintaranmu, kesuksesanmu itu murni? Itu semua aku atur. Kamu cuma pion terbaikku."
Naya berdiri kaku seperti patung. Darah wajahnya habis, matanya melotot sampai mau copot, mulutnya terbuka tapi tak ada suara keluar. Pria yang ia sebut Ayah. Pria yang ia cintai, yang ia puja, yang ia anggap korban paling malang di dunia... adalah iblis aslinya.
"Kenapa..." bisik Naya parau, suaranya nyaris tak terdengar, air mata deras mengalir membasahi pipinya. "Kenapa, Ayah? Kenapa kamu lakukan semua ini? Kamu punya segalanya. Kamu punya istri cantik, anak cantik, sahabat, nama baik..."
Andri Andalan tertawa, tertawa panjang, keras, dan gila, bergema mengerikan di dinding gua.
"Segalanya?!" seru Andri tiba-tiba, suaranya meledak penuh amarah yang terkumpul puluhan tahun. "AKU TIDAK PUNYA APA-APA! Aku selalu jadi nomor dua! Selalu! Hendrawan selalu lebih kaya, lebih tampan, lebih berkuasa! Dan yang paling menyakitkan... Dia punya Sari. Sari wanita yang paling sempurna di dunia ini. Wanita yang aku cintai lebih dari nyawaku, lebih dari Tuhan, lebih dari apapun! Tapi dia memilih Hendrawan! Dia menikah sama dia! Dia melahirkan anak buat dia!"
Wajah Andri memerah padam, mata baiknya melotot liar, urat lehernya menonjol.
"Aku gila, Naya. Aku gila karena cemburu. Aku gila karena sakit hati. Aku ingin Sari. Aku harus punya dia. Tapi dia tidak mau. Dia lebih memilih monster daripada aku. Jadi aku putuskan: Kalau aku tidak bisa punya dia, tidak ada orang yang boleh punya dia. Aku hancurkan hidup Hendrawan. Aku hancurkan reputasinya. Dan saat itu, saat aku pikir aku akan bisa akhirnya punya Sari... dia malah berani-berani melawan aku! Dia berani membela Hendrawan! Dia berani bilang aku jahat!"
Air mata menetes dari mata Andri. Air mata kemarahan, bukan kesedihan.
"Jadi aku bunuh dia. Aku yang bunuh Sari, Naya. Bukan Hendrawan. AKU. Aku racun dia. Aku tusuk dia. Aku lihat matanya kosong, dan aku bilang padanya: 'Sekarang kamu milikku selamanya.' Dan aku berpura-pura jadi korban. Aku berpura-pura sedih. Aku berpura-pura benci Hendrawan sama seperti kalian semua."
Naya gemetar hebat, kakinya tak kuat lagi menopang tubuhnya. Ia bersandar pada dinding batu, muntah isi perutnya keluar karena rasa jijik dan sakit hati yang tak terbayangkan. Pria yang ia puja, adalah pembunuh ibunya sendiri. Dalang di balik semua penderitaan mereka, selama 30 tahun, ada di depan mata mereka, tersenyum puas.
"Dan sekarang..." Andri berbalik kembali menatap Sari Dewi. Tatapannya berubah dari gila menjadi penuh nafsu, obsesi, dan kegembiraan yang mengerikan. Ia berlutut perlahan di depan gadis 13 tahun itu, mengangkat wajahnya yang penuh parut itu.
"Sari Dewi... cucu kesayanganku. Lihat kamu. Kamu bukan cuma cucuku. Kamu adalah reinkarnasi Sari. Kamu punya wajahnya, matanya, rambutnya, kulitnya, bahkan sifatnya. Kamu adalah Sari yang kembali muda, kembali hidup, murni dan sempurna. Hendrawan tidak tahu. Dia pikir kamu cucunya. Dia pikir kamu anak Naya dan Arya. Tapi dia bodoh. Dia tidak tahu rahasia terbesarku."
Andri mendongak, menatap Arya dengan senyum licik dan setan.
"Kamu pikir kamu ayahnya, Arya? Kamu pikir kamu yang menghamili Naya malam itu? Maaf mengecewakanmu, pahlawan... Tapi malam itu, sebelum kamu datang ke kamar Naya... Aku sudah ada di sana. Aku, kakeknya sendiri. Aku beri obat. Aku ambil apa yang aku mau. Sari Dewi bukan anakmu. Sari Dewi adalah ANAKKU. CUCU DAN ANAK. DARAHKU MURNI. Dia milikku. Dia hasil cinta abadi aku sama Sari. Dia adalah warisan sempurnaku."
DUARRR!!!
Seolah ada petir menyambar di dalam kepala Arya. Dunia runtuh total. Identitasnya, kebanggaannya, cintanya, segalanya dicabut paksa. Anak yang ia cintai lebih dari nyawanya, anak yang ia lindungi mati-matian, anak yang ia anggap bagian dari jiwanya sendiri... ternyata bukan darah dagingnya. Ternyata hasil dari kekejaman, pemerkosaan, dan kegilaan monster ini.
Arya berteriak, teriakkan kesakitan jiwa yang paling dalam, lalu ia menyerbu maju, tangan kosong hendak mencengkeram leher Andri, hendak meremukkan tenggorokan tua itu sampai hancur.
"AKU BUNUH KAUUUU!!!!"
Tapi sebelum Arya bisa menyentuhnya, Raga melompat cepat. Bukan untuk membantu Andri. Bukan untuk melindungi tuannya. Tapi untuk menahan Arya.
PLAK!
Raga menangkis serangan Arya, memeluk tubuh suaminya Naya, menekannya ke lantai batu.
"ARYA! BERHENTI!!!" teriak Raga, matanya merah padam, air mata kemarahan dan rasa jijik akhirnya jatuh dari mata dinginnya. "Lihat Sari! Lihat Sari, Arya!!"
Arya mengangkat kepalanya, napasnya memburu liar, matanya penuh darah merah.
Di depan sana, Andri Andalan sudah menarik Sari Dewi ke dalam pelukannya yang bau dan kotor. Pisau kecil tajam sudah menempel di leher gadis itu. Kulit putih halus Sari Dewi tergores sedikit, darah merah segar menetes turun.
"Gerak lagi, dan dia mati sekarang juga," ancam Andri dingin, senyumnya makin lebar. "Ingat? Dia milikku. Tubuhnya, darahnya, jiwanya, semuanya milikku. Dan malam ini, kita akan selesaikan ritual kuno di dalam perut gunung ini. Kita akan buka Pintu Gerbang Neraka, kita akan ambil kekuatan purba, dan kita akan hidup abadi, kamu dan aku, Sari. Bersama selamanya, seperti yang aku janjikan pada Nenekmu dulu."
Sari Dewi diam saja. Sepanjang pengakuan mengerikan itu, sepanjang wahyu yang menghancurkan segalanya, gadis itu tidak menangis. Dia tidak menjerit. Dia tidak terlihat kaget. Matanya cokelat madu itu, yang dulunya hangat seperti matahari, kini berubah menjadi hitam pekat, dingin, kosong, dan tajam seperti belati es.
Ia melihat kehancuran ayahnya. Ia melihat keputusasaan ibunya. Ia melihat patah hati pamannya. Dan ia melihat wajah asli pencipta neraka ini.
Sari Dewi perlahan mengangkat dagunya, meski pisau menusuk lehernya sedikit lebih dalam. Ia menatap mata satu-satunya Andri Andalan tepat di bola matanya.
"Kamu salah satu hal yang paling menyedihkan yang pernah aku lihat, Kakek," bisik Sari Dewi pelan, suaranya tenang, datar, tanpa rasa takut, tanpa rasa hormat, dan tanpa rasa kasihan. "Kamu tidak mencintai Nenek. Kamu tidak mencintai aku. Kamu cuma mencintai dirimu sendiri. Kamu bukan pecinta. Kamu pemuja berhala. Dan kamu bukan raja. Kamu cuma sampah yang membusuk di kegelapan selama 30 tahun karena kamu terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan bahwa tidak ada orang yang pernah mencintaimu."
Wajah Andri Andalan berubah menjadi ungu karena amarah yang meledak. Ia terhina. Hinaan terbesar bukan datang dari musuh, bukan dari saingan, tapi dari gadis kecil yang ia anggap boneka, anak, dan dewi-nya sendiri.
"MULUTMU SIALAN!!!" raung Andri, hendak menusuk pisau itu lebih dalam, hendak membunuh gadis yang ia puja hanya karena dia berani bicara jujur.
Tapi sebelum pisau itu menusuk, tangan kanan Sari Dewi bergerak. Cepat. Sangat cepat. Gerakan refleks, gerakan yang ia pelajari diam-diam dari buku-buku bela diri, gerakan yang ia latihkan sendirian di kamar setiap malam.
Jari-jari kecilnya menangkap pergelangan tangan Andri, memutarnya dengan teknik kuncian sendi yang presisi dan menyakitkan.
KRUKK!!
Suara tulang pergelangan tangan patah terdengar nyaring.
"AAAAARRRGGHHH!!!" Andri meraung kesakitan luar biasa, pisau terlempar jatuh.
Sari Dewi langsung melompat mundur, menjauh dari cengkeraman monster itu, berlari cepat ke arah keluarganya.
"SEKARANG!!!" teriak Sari Dewi.
Itu sinyal.
Sinyal yang mereka tunggu.
Raga langsung melepaskan Arya, lalu melompat bangkit, menarik dua granat asap dari balik jaketnya—yang ia sembunyikan dan tidak ditemukan saat digeledah penjaga tadi. Ia menarik pinnya.
Cessss!!!
Asap tebal berwarna hijau pekat menyembur keluar, memenuhi seluruh ruangan gua dalam sekejap, mengaburkan pandangan, membakar mata, dan membuat napas sesak.
"LARI!!!" teriak Raga.
Kekacauan terjadi. Penjaga di luar pintu mendengar teriakan dan meledakan pintu baja itu, menyerbu masuk menembak sembarangan ke dalam kabut asap. Peluru bersuitan ke kiri kanan, menghantam dinding batu, memecahkan kaca, dan menembus udara.
Di tengah kekacauan itu, Arya, Raga, Naya, dan Sari Dewi saling mencari, bergandengan tangan, berlari membelah kabut dan peluru.
"Ke terowongan samping kiri! Aku ingat peta lama ayah! Ada jalan keluar darurat tambang tua di sana!" teriak Raga memimpin jalan, suaranya parau karena asap.
Mereka berlari sekuat tenaga, jantung berdegup mau copot, kaki terasa berat, paru-paru terbakar. Di belakang mereka, terdengar suara teriakan Andri Andalan yang penuh kemarahan, rasa sakit, dan janji pembalasan yang mengerikan.
"KALIAN TIDAK AKAN LARI DARI AKU! KAU MILIKKU, SARI! AKU AKAN CARI KAU SAMPAI KE UJUNG DUNIA! AKU AKAN ROBEK DUNIA INI HANCUR LEBUR JIKA HARUS!"
Mereka berlari masuk ke mulut terowongan gelap, sempit, berbau lembap dan gas metana. Di belakang mereka, di ruangan tengah, Andri Andalan, dengan tangan patah berdarah dan wajah penuh dendam tak terkira, duduk di tengah kekacauan, matanya yang satu bersinar merah darah, bukan lagi cahaya manusia, tapi cahaya iblis murni.
"Siapkan pasukan pemburu terbaik," bisik Andri pada kapten pasukannya yang berlutut gemetar ketakutan di depannya. "Gunakan semua sumber daya. Habiskan semua uang. Kirim orang ke setiap negara, setiap kota, setiap gua, setiap hutan. Temukan mereka. Dan bawakan aku kepala Arya Pratama, tangan kanan Raga Wijaya, mulut Naya Andalan... dan bawakan aku Sari Dewi hidup-hidup. Jangan lukai satu inci pun kulitnya. Dia harus utuh."
"Siap, Tuan," jawab kapten itu gemetar.
Di dalam terowongan gelap yang berliku, keempat pelarian itu terus berlari sampai napas habis, sampai kaki mereka penuh luka, sampai mereka keluar di sisi lain gunung, jatuh tersungkur di tanah becek, di tengah hutan malam yang dingin dan basah.
Mereka selamat untuk malam ini. Tapi mereka tahu.
Mereka tidak lagi sekadar diburu oleh organisasi kriminal.
Mereka sekarang diburu oleh Iblis yang sebenarnya. Iblis yang punya kekayaan tak terbatas, kekuasaan tak terhingga, koneksi di mana-mana, dan obsesi gila yang melampaui kematian.
Dan yang paling menyakitkan...
Musuh terbesar mereka, pencipta semua penderitaan, monster yang paling kejam... adalah Darah Daging Mereka Sendiri.?