Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Sekte Langit Abadi
Matahari pagi menyinari alun-alun perak Sekte Langit Abadi dengan begitu cerah. Ratusan calon murid baru sedang berbaris rapi, bersaing menunjukkan bakat terbaik mereka di depan panggung penguji. Di sekeliling alun-alun, murid-murid luar senior berpakaian putih tampak berdiri dengan dagu terangkat, memamerkan kultivasi Pendirian Fondasi mereka sembari melempar pandangan meremehkan pada manusia fana yang sedang bersusah payah.
Di sudut area logistik, Lu Han sedang sibuk memindahkan beberapa kotak batu spiritual rendahan. Keringat bercucuran di pelipisnya, namun matanya sesekali masih mencuri pandang ke arah kerumunan, berharap ada keajaiban yang muncul.
"Hei, pelayan! Cepat sedikit jalannya! Jangan malas seperti si cacat Ling Yun yang mati di Hutan Kabut itu!" teriak seorang murid luar senior berkulit gelap bernama Wang Feng. Dia tertawa mengejek bersama beberapa temannya, sengaja mengeraskan suara agar didengar oleh para calon murid baru demi menaikkan wibawanya.
Lu Han hanya bisa menunduk dan mempercepat langkahnya. Di sekte ini, menentang murid luar sama saja dengan mencari penyakit.
Namun, tepat ketika Wang Feng sedang sibuk memarahi beberapa peserta ujian yang dinilainya terlalu lambat, barisan antrean di pos nomor tiga mendadak terhenti. Keheningan yang janggal menyebar dari arah belakang, membuat bisik-bisik ketakutan para peserta perlahan menghilang.
Sesosok pemuda berjalan dengan santai, memotong lurus kerumunan dan langsung menuju ke depan meja pendaftaran pos nomor tiga.
Dia mengenakan jubah brokat hitam polos yang elegan. Rambut hitam panjangnya terurai rapi, bergerak pelan ditiup angin sepoi-sepoi. Penampilannya begitu tenang dan santai, seolah-olah hiruk-pikuk ribuan orang di alun-alun ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Wang Feng yang merasa otoritasnya diganggu segera melangkah maju dengan dahi berkerut. "Siapa kau? Ini adalah area pendaftaran murid baru fana! Murid dalam tidak seharusnya berada di pos luar—"
Kata-kata Wang Feng mendadak terhenti di tenggorokan. Setelah mengamati wajah pemuda tersebut dari jarak dekat, pupil matanya mengecil karena terkejut. Struktur wajah itu, meskipun kini tampak jauh lebih tegas dan rupawan, sangat mirip dengan seseorang yang dia kenal.
"Kau... si cacat Ling Yun?!" Wang Feng berteriak kaget, membuat beberapa murid luar di sekitarnya menoleh secara bersamaan.
Di sudut logistik, Lu Han yang mendengar nama itu langsung menjatuhkan gulungan perkamen di tangannya. Sepasang matanya membelalak lebar, menatap tidak percaya pada sosok jangkung berjubah hitam yang berdiri tegak di sana. "Ling Yun... dia benar-benar kembali?"
Ling Yun tidak memedulikan tatapan syok Lu Han. Dia hanya menatap Wang Feng dengan pandangan malas, lalu mengetukkan jarinya secara santai di atas meja batu pendaftaran.
"Aku di sini untuk mendaftar ujian murid baru. Berikan aku satu perkamen," ucap Ling Yun datar. Suaranya tidak keras, namun entah bagaimana bisa terdengar jelas oleh semua orang di pos tersebut.
Mendengar hal itu, Wang Feng yang sempat tegang seketika tertawa terbahak-bahak. Rasa takutnya lenyap, digantikan oleh kesombongan yang membubung tinggi.
"Mendaftar? Seorang pelayan sampah yang meridiannya busuk ingin ikut ujian kultivasi? Ling Yun, apakah otakmu ikut rusak setelah hilang selama tiga bulan di dalam hutan?!"
Murid-murid luar senior lainnya ikut terkekeh meremehkan. Di mata mereka, pelayan tetaplah pelayan.
Ling Yun tidak marah, dia bahkan tidak membalas ucapan tersebut. Seulas senyuman malas justru terukir di sudut bibirnya. Dia hanya menghela napas pendek, lalu melirik Wang Feng dengan tatapan matanya.
BZZZZT!
Tanpa ada gerakan fisik, tanpa ada ledakan energi yang menghancurkan tempat, Ling Yun melepaskan sepercik kecil dari tekanan spiritual ranah setengah langkah pembentukan inti miliknya, mengarahkannya secara spesifik hanya kepada Wang Feng dan murid-murid senior di pos tersebut.
Detik itu juga, atmosfer di sekitar meja pendaftaran mendadak terasa seberat gunung. Udara di sekitar Wang Feng seolah tersedot habis, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang rawan jasmaninya. Di dalam penglihatan spiritual Wang Feng, sosok Ling Yun tiba-tiba tampak membesar raksasa, laksana dewa perang kuno yang sedang menatap seekor semut.
Brukkkk!
Lutut Wang Feng mendadak lemas. Dia terhempas berlutut di atas lantai alun-alun dengan tubuh gemetar hebat. Peluh dingin berukuran besar bercucuran dari pelipisnya dalam sekejap, sementara napasnya memburu kasar seolah ada batu ribuan ton yang sedang menekan dadanya.
Murid-murid senior di belakangnya juga tidak lebih baik; wajah mereka memucat pasi, tangan mereka bergetar di atas meja batu, dan mereka tidak mampu mengangkat kepala sedikit pun untuk menatap mata Ling Yun. Tekanan mental ini terlalu mutlak, melompati batas pemahaman mereka tentang kekuatan seorang murid.
"J-Jiwa... ranah apa ini...?! " batin Wang Feng menjerit ketakutan di dalam hatinya yang ciut. Jangankan untuk memukul, untuk menggerakkan satu jarinya saja di bawah tekanan aura ini dia tidak sanggup.
Ling Yun menarik kembali tekanan auranya dalam satu kedipan mata, membuat atmosfer di pos tersebut kembali normal dalam sekejap. Wajahnya tetap santai, seolah-olah dia tidak baru saja membuat seorang kultivator Pendirian Fondasi berlutut ketakutan.
Ia mengulurkan tangan seputih gioknya, mengambil sendiri selembar perkamen pendaftaran dari atas meja yang dijaga oleh murid senior yang sudah mati kutu itu.
"Terima kasih atas perkamennya," ucap Ling Yun santai sembari menuliskan namanya dengan gerakan anggun.
Setelah selesai, dia berbalik dan berjalan santai menuju barisan peserta yang bersiap memasuki gerbang arena pengujian bakat, meninggalkan Wang Feng yang masih terduduk lemas di tanah dengan tatapan mata yang dipenuhi trauma mendalam.
Dari atas panggung pengawas yang tinggi, Penatua Mo yang berada di ranah Kelahiran Jiwa sempat merasakan distorsi udara kecil di pos nomor tiga. Sepasang mata tuanya menyipit tajam, menatap ke arah punggung pemuda berjubah hitam yang berjalan menjauh. "Riak energi yang aneh... Siapa bocah itu sebenarnya?" gumam Penatua Mo menatap ke arah Ling Yun seraya mengelus-elus janggutnya miliknya.
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.