"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gulungan takdir
Keheningan di Aula Pertemuan Kastil Obsidian terasa begitu mencekam, lebih mirip keheningan di dalam liang lahat daripada ruang sidang para penguasa. Di tengah ruangan, Lord Vane dari Klan Sayap Perak berdiri dengan angkuh, dikelilingi oleh jenderal-jenderal dari tiga klan sekutu lainnya. Suara mereka yang tadinya lantang menghina sang Panglima kini mereda menjadi bisik-bisik penuh konspirasi yang tajam. Cahaya dari obor Aether yang menempel di pilar-pilar batu granit tampak bergetar, seolah ikut merasakan ketegangan yang nyaris meledak.
"Kekuasaan Sylus sudah berakhir," desis Lord Vane, jemarinya yang mengenakan cincin zamrud besar mengetuk-ngetuk meja batu dengan irama yang tidak sabar. "Seorang pria yang menghabiskan empat hari memeluk tubuh tak bernyawa seorang pelayan dari dimensi rendah tidak layak memimpin Orde Bayangan. Kita telah mengorbankan ribuan nyawa di garis depan, sementara dia membuang-buang energi Aether pribadinya demi sebuah sentimen yang tidak berguna. Kita akan mengambil alih komando militer malam ini, atau kita akan menarik seluruh pasukan sekutu dan membiarkan kastil ini runtuh diserbu Klan Gagak Merah."
Tepat saat kata-kata terakhir itu keluar dari mulutnya, pintu aula yang setinggi lima meter meledak terbuka. Bukan oleh ledakan sihir konvensional, melainkan oleh tekanan aura yang begitu berat hingga engsel baja yang tebal itu melengkung dan lantai batu di bawahnya retak.
Sylus Qinche melangkah masuk.
Penampilannya adalah gambaran dari kematian yang berjalan namun tetap agung. Sebagai pria kelahiran 1996, ia memiliki kematangan dan ketajaman seorang pemimpin yang telah melewati ribuan badai. Ia tidak mengenakan jirah perang lengkap yang berat; hanya kemeja hitam sutra yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan perban yang masih merembeskan darah segar di dadanya akibat transfer energi selama berhari-hari. Namun, matanya—sepasang manik merah darah itu—menyala dengan intensitas yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang berani menatapnya.
Di bahu kirinya, bertengger seekor gagak hitam raksasa dengan bulu sehitam obsidian yang memantulkan cahaya ungu gelap. Burung itu memiliki mata merah yang identik dengan tuannya, berkilat penuh kecerdasan yang mengerikan. Mephisto, peliharaan pribadi sang Panglima, mengembangkan sayapnya yang lebar dan mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti tawa iblis yang menggema di langit-langit aula yang tinggi.
"Lanjutkan, Lord Vane," suara Sylus rendah, namun bergema di setiap sudut aula layaknya guntur yang tertahan di balik awan mendung. "Aku sangat tertarik mendengar detail rencana Anda tentang bagaimana klan kecil Anda akan bertahan hidup lebih dari satu jam tanpa perlindungan Bayanganku."
Lord Vane tersentak, wajahnya memucat seketika hingga sewarna salju, namun keserakahan dan ambisi telah membutakan akal sehatnya. Ia mencoba menegakkan punggungnya, meskipun lututnya bergetar di bawah tekanan aura Sylus.
"Panglima, Anda telah mengabaikan tugas strategis Anda!" seru Lord Vane dengan suara yang dipaksakan lantang. "Anda membiarkan gerbang Perpustakaan Pusat terbuka tanpa penjagaan elit selama empat hari penuh demi seorang gadis pelayan! Kami menuntut pertanggungjawaban dan pengalihan kekuasaan sementara hingga Anda dinyatakan pulih secara mental!"
Sring!
Dalam gerakan yang hampir tidak tertangkap oleh mata manusia tercepat sekalipun, Sylus sudah berada tepat di hadapan Lord Vane. Mephisto terbang ke udara, berputar-putar di atas meja pertemuan sambil mengeluarkan suara peringatan yang menusuk telinga. Tangan Sylus yang dingin dan kuat mencengkeram leher Lord Vane, mengangkat pria bertubuh besar itu hingga ujung kakinya hanya menendang-nendang udara dengan sia-sia.
"Pertanggungjawaban?" Sylus bertanya dengan nada yang sangat tenang, yang justru jauh lebih menakutkan daripada kemarahan yang meluap-luap. "Setiap tetes darah yang mengalir dari tubuhku, setiap malam yang kuhabiskan di medan perang Solis, adalah alasan kenapa lehermu masih cukup utuh untuk mengeluarkan suara sampah seperti itu hari ini. Dan kau... kau berani mempertanyakan pilihanku di rumahku sendiri?"
Jenderal-jenderal sekutu lainnya mencoba mencabut pedang mereka dari sarungnya, namun suara denting baja segera dihentikan oleh kehadiran Luke dan Kieran di pintu-pintu samping. Luke menghunuskan pedang panjangnya dengan kecepatan kilat, sementara Kieran telah membentuk lingkaran sihir pemutus berwarna biru elektrik di bawah kaki para pemimpin klan tersebut, siap melenyapkan siapa pun yang mencoba menyerang.
"Siapa pun yang menggerakkan jarinya satu inci saja," ancam Luke dengan suara bariton yang dingin, "akan mengetahui seberapa cepat baja Obsidian ini bisa memisahkan kepala dari bahu kalian."
Sylus melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba, membiarkan Lord Vane jatuh tersungkur dan terbatuk-batuk di lantai batu yang dingin. Sylus tidak langsung membunuhnya; itu terlalu mudah. Ia ingin menghancurkan mental pria itu terlebih dahulu.
"Aku tidak akan membunuhmu hari ini, Vane. Bukan karena aku kasihan, tapi karena aku ingin kau menyaksikan betapa dangkalnya penglihatanmu tentang dunia ini," Sylus berkata sambil mengibaskan tangannya, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Sylus berbalik ke arah pintu utama dan mengulurkan tangannya yang tertutup sarung tangan kulit hitam. "Masuklah, Evelyne."
Pintu terbuka sekali lagi, membiarkan cahaya pagi yang pucat masuk ke dalam aula. Kali ini, bukan ketakutan yang merayap, melainkan sebuah kehadiran yang asing namun sangat kuat.
Evelyne Rochie melangkah masuk dengan langkah yang anggun namun tegas. Ia didampingi oleh Kieran di satu sisi. Evelyne tidak lagi mengenakan seragam pelayan yang lusuh; ia mengenakan jubah perang ringan berwarna perak gelap dengan aksen emas yang melambangkan status tingginya dalam hirarki Orde. Wajahnya yang sebelumnya layu kini memancarkan kekuatan yang baru, matanya berkilat dengan energi Aether yang telah bermutasi.
"Para pemimpin klan yang terhormat," suara Evelyne jernih dan stabil, bergema dengan otoritas yang mengejutkan mereka yang menganggapnya lemah. "Kalian mencari alasan kenapa Panglima kalian memilih menyelamatkanku di atas tumpukan buku tua di perpustakaan itu. Biarkan aku memberikan satu bukti kecil."
Evelyne mengangkat tangan kanannya ke udara. Di telapak tangannya, Soul-Bind Amulet yang kini telah menyatu sempurna dengan jalur sihirnya mulai berpendar dengan cahaya ungu yang intens. Energi Aether yang ia serap dari Sylus selama masa komanya kini telah bermutasi menjadi energi "Catalyst"—energi yang mampu memanipulasi struktur magis di sekitarnya.
Tiba-tiba, udara di aula pertemuan itu membeku. Kristal-kristal Aether yang menjadi sumber cahaya utama di ruangan itu mulai bergetar hebat, energinya ditarik secara paksa menuju pusat telapak tangan Evelyne. Dalam sekejap, ia membentuk sebuah bola energi murni yang memancarkan tekanan magis begitu besar hingga Lord Vane dan jenderal-jenderalnya terpaksa berlutut kembali karena tekanan atmosfer yang meningkat drastis.
"Dia bukan lagi sekadar manusia yang tersesat dari dimensi lain," Sylus mengumumkan, suaranya penuh dengan kebanggaan yang tak tersembunyi. "Dia adalah The Grand Catalyst of the Shadow Order. Tanpanya, kalian tidak akan pernah bisa menembus lapisan pelindung terdalam di Perpustakaan Pusat. Tanpanya, seluruh pasukan kalian hanya akan menjadi abu di hadapan Aeon Warden. Dia adalah kunci kemenangan kita, dan siapa pun yang menghinanya, berarti menghina masa depan Aetheria."
Para prajurit Orde Bayangan yang berdiri di sepanjang koridor, yang sebelumnya sempat terpengaruh oleh rumor negatif, kini menundukkan kepala mereka dengan rasa hormat yang mutlak. Penampilan Evelyne dan demonstrasi kekuatannya yang berevolusi telah menghancurkan benih-benih pemberontakan dalam hitungan menit.
"Kita berangkat ke Perpustakaan Pusat sekarang," perintah Sylus, matanya kembali menajam saat ia melihat Mephisto memberikan sinyal gelisah. "Mephisto telah melihat sesuatu yang busuk melalui mata batinnya. Musuh kita tidak membuang waktu saat kita sibuk berdebat dengan tikus-tikus di dalam rumah sendiri."
Perjalanan kembali menuju Perpustakaan Pusat dilakukan dengan kecepatan yang menghancurkan stamina kuda-kuda perang biasa. Namun, pasukan elit Orde Bayangan menggunakan kuda Aether yang mampu berlari tanpa lelah. Sylus Qinche memimpin di depan, dengan Evelyne di sampingnya. Mephisto terbang jauh di depan sebagai pengintai, sesekali mengeluarkan pekikan tajam untuk memperingatkan adanya sisa-sisa jebakan dari Klan Gagak Merah.
"Apa yang Mephisto lihat, Sylus?" tanya Evelyne di tengah deru angin perjalanan.
"Kegelapan yang tidak seharusnya ada di tempat suci," jawab Sylus, rahangnya mengeras. "Kaelen, pemimpin Klan Gagak Merah yang sesungguhnya, telah berada di dalam. Dia memanfaatkan kekosongan penjagaan selama empat hari terakhir untuk menyusup ke jantung perpustakaan. Dia tidak mencari buku sejarah; dia mencari Gulungan Takdir Hitam."
Evelyne merasakan firasat buruk. Selama komanya, ia sempat melihat visi tentang gulungan itu—sebuah objek yang mampu menulis ulang garis waktu jika jatuh ke tangan yang salah.
Saat mereka tiba di gerbang Perpustakaan Pusat, pemandangan yang menyambut mereka sangat mengerikan. Gerbang kristal raksasa yang sebelumnya dibuka dengan pengorbanan Evelyne kini tampak retak di beberapa bagian, dan di sekelilingnya, mayat-mayat penjaga perpustakaan berserakan. Jiwa mereka tampak telah dihisap secara paksa, meninggalkan jasad yang kering dan hitam.
"Sihir dari Void," Kieran berbisik setelah memeriksa salah satu jenazah dengan tongkat sihirnya. "Ini bukan lagi perang antar klan. Kaelen telah melakukan kesepakatan dengan entitas di luar dimensi kita.”
Sylus memimpin pasukannya masuk ke dalam labirin rak buku raksasa yang menjulang setinggi ratusan meter, di mana aroma kertas tua bercampur dengan bau anyir darah. Di tengah-tengah aula utama perpustakaan, di bawah kubah kaca raksasa yang memperlihatkan langit Aetheria yang kini berubah menjadi merah darah, berdirilah seorang pria berjubah hitam pekat dengan topeng gagak perak. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan perkamen yang memancarkan aura busuk dan energi hitam yang berdenyut layaknya jantung yang sakit.
"Kau terlambat, Sylus Qinche," Kaelen tertawa, suaranya parau dan penuh kemenangan. "Kau terlalu sibuk bermain dengan perasaan sentimentalmu pada gadis bumi ini hingga kau lupa bahwa takdir tidak menunggu cintamu untuk bergerak. Aku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan."
"Letakkan gulungan itu, Kaelen," Sylus menghunuskan pedang besarnya, energi kegelapan meledak dari tubuhnya dengan dahsyat hingga menghancurkan beberapa rak buku di sekelilingnya menjadi serpihan kayu. "Atau aku akan memastikan jiwamu tidak akan pernah menemukan jalan kembali ke siklus kehidupan, bahkan melalui gerbang Void sekalipun."
"Kau pikir kau masih memiliki kekuatan untuk mengancamku?" Kaelen menunjuk ke arah Evelyne dengan jarinya yang kurus dan pucat. "Gadis itu adalah kunci bagi kalian, tapi bagiku, dia hanyalah wadah energi yang belum habis. Saat aku membacakan mantra dari Gulungan Takdir Hitam ini, seluruh energi Aether yang kau berikan padanya akan tersedot untuk membuka gerbang kehancuran sepenuhnya!"
Tanpa peringatan, Kaelen merobek segel merah pada gulungan tersebut. Kegelapan pekat menyembur keluar, membentuk pusaran hitam di tengah ruangan yang mulai menghisap cahaya di sekitarnya. Evelyne menjerit kesakitan saat ia merasakan tarikan yang sangat kuat pada jantung dan jiwanya. Energi ungu murni yang baru saja ia pelajari untuk dikendalikan mulai tertarik keluar secara paksa menuju pusaran tersebut.
"Evelyne!" Sylus menerjang maju, namun dinding api hitam yang berasal dari energi Void menghalangi langkahnya, membakar lantai marmer.
"Jangan mendekat, Sylus!" teriak Evelyne, mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia merasakan koneksi energinya dengan Sylus justru menjadi jalur bagi Kaelen untuk menarik lebih banyak energi. "Dia ingin menggunakan koneksi kita... jika kau memberikan energimu padaku sekarang, kau justru akan memberinya kekuatan untuk membuka gerbang itu!"
Dalam situasi kritis tersebut, Mephisto menukik tajam dari langit-langit kubah. Burung gagak itu menyerang wajah Kaelen dengan cakar dan paruhnya yang tajam, mengincar mata di balik topeng perak tersebut. Kaelen mengumpat dan mengibaskan tangannya, konsentrasinya terpecah selama beberapa detik yang sangat berharga.
Satu detik itu sudah cukup bagi Sylus. Dengan kekuatan ledakan Aether, ia melemparkan pedangnya dengan akurasi mematikan, menembus bahu kanan Kaelen dan memakukannya ke pilar batu di belakangnya. Namun, sang pemimpin Gagak Merah itu tertawa gila. Sambil menahan sakit yang luar biasa, ia terus merapalkan bait terakhir dari mantra tersebut.
"Evelyne, dengarkan aku!" Kieran berteriak, mencoba mengalihkan perhatian Evelyne dari rasa sakitnya. "Jangan mencoba menahan tarikannya! Jadilah saluran! Biarkan energi Void itu mengalir melewatinya dan kembalikan ke dalam fondasi magis perpustakaan ini! Kau adalah katalis, bukan bendungan!"
Evelyne menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya di tengah badai energi. Ia membuka gerbang batinnya lebar-lebar. Alih-alih melawan tarikan Kaelen, ia justru mendorong seluruh energinya ke arah pusaran tersebut dengan satu tujuan: membebankan sistem serap Kaelen dengan energi yang terlalu besar untuk dikendalikan.
Tanah di bawah perpustakaan bergetar hebat. Rak-rak buku mulai runtuh saat Evelyne membelokkan aliran energi gelap itu ke dalam tanah, menetralisirnya menggunakan gravitasi magis tempat suci tersebut.
Sebuah ledakan cahaya putih dan kegelapan terjadi di pusat aula, melemparkan semua orang, termasuk Sylus dan pasukannya, ke belakang hingga menghantam dinding-dinding rak buku.
Saat debu dan sisa-sisa kertas yang terbakar mereda, Kaelen telah menghilang, menyisakan hanya jejak darah hitam dan potongan kecil gulungan yang telah rusak di lantai. Namun, aura di tempat itu terasa berbeda. Sebagian besar isi gulungan itu tampaknya telah berhasil diserap atau diaktifkan oleh Kaelen sebelum ia melarikan diri.
Sylus segera berlari menuju Evelyne yang terkulai lemas di atas tumpukan manuskrip kuno. Ia mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, wajahnya dipenuhi kecemasan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
"Aku tidak apa-apa..." bisik Evelyne dengan suara yang sangat lemah, meskipun darah mengalir dari hidungnya. "Tapi dia... dia sudah mendapatkan kepingan terakhirnya. Dia tahu cara membangkitkan The Devourer yang terkunci di dasar laut Aetheria."
Sylus Qinche mengeraskan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia menoleh ke arah Luke dan Kieran yang sedang membantu prajurit yang terluka parah. Di bahunya, Mephisto kembali bertengger dengan bulu yang sedikit hangus, namun mata merahnya masih menyala tajam menatap kegelapan.
"Perlombaan yang sesungguhnya baru saja dimulai," ucap Sylus dengan suara yang terdengar seperti janji kematian bagi musuh-musuhnya. "Dia ingin membangkitkan kehancuran kuno? Maka kita akan memberikan dia perang yang akan tertulis dalam sejarah sebagai akhir dari pengkhianatannya."
Sylus mengangkat Evelyne dalam gendongannya dan melangkah keluar dari perpustakaan yang hancur itu. Di luar, ribuan pasukannya telah menunggu dalam barisan yang rapi. Mereka tidak lagi melihat seorang panglima yang terganggu oleh cinta; mereka melihat seorang penguasa yang memiliki pendamping paling kuat dan setia di seluruh dimensi. Di bawah langit Aetheria yang kian memerah, mereka bersiap untuk pertempuran terakhir yang akan menentukan nasib seluruh alam semesta.
Bersambung