NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku

Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Dosen
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Rosy_Lea

Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.

“Farin…”

Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.

Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.

Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.

Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.

Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Yang Patah

Farin memilih mengikhlaskan.

Baginya, melepaskan jauh lebih baik daripada terus berharap lalu tenggelam dalam kekecewaan yang lebih dalam.

Lagipula, hubungan yang mereka jalani baru sebatas ta’aruf. Belum ada ikatan serius yang melibatkan keluarga besar.

“Aku rasa… aku akan mundur dari proses ta’aruf ini. Aku nggak akan sanggup kalau harus terluka lebih dalam nanti,” ucap Farin lirih pada Aisha.

Aisha menatap sahabatnya penuh iba. “Farin… nanti kita bicarakan lagi setelah Fathan sadar dan kondisinya membaik. Sekarang tenangkan diri kamu dulu.”

Farin tersenyum tipis, getir. “Mungkin memang kita bukan jodoh. Tapi aku mundur bukan karena musibah yang menimpa dia, bukan karena aku nggak bisa menerima keadaannya sekarang.”

Air matanya kembali jatuh. “Demi Allah, Aisha… kalau saja aku nggak melihat ada perempuan baik yang sudah dipilih ibunya untuk Fathan, aku ikhlas lahir batin menerima dia sebagai imamku. Dalam kondisi apa pun.”

Suara Farin bergetar menahan sesak. “Kita ini perempuan, Aisha… nggak semua wanita sanggup dihadapkan pada perasaan yang terbagi. Kecuali mereka yang benar-benar diberi hati seluas lautan.”

Hari-hari berikutnya, Farin mulai mencoba menata kembali hatinya, meski terkadang masih ada kilasan kenangan tentang sosok lelaki yang diam-diam sempat mengetuk pintu hatinya.

Minggu demi minggu berlalu, keadaan Fathan perlahan membaik. Setelah satu bulan menjalani perawatan intensif, ia akhirnya diizinkan pulang.

Kaki kanannya dipasangi pen untuk menyambungkan tulang yang patah. Untuk berjalan, Fathan masih membutuhkan alat bantu penyangga tubuhnya.

Meski belum sepenuhnya pulih, kesadarannya telah kembali. Ia sudah bisa berbicara dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Tak jarang Zafran dan Aisha datang menjenguknya di rumah, hingga suatu hari, saat mereka hanya bertiga di kamar Fathan, Zafran kembali membuka pembicaraan yang sempat tertunda.

“Oh iya… gimana kelanjutan rencana kalian dulu?” tanyanya hati-hati. “Kayaknya memang harus ada keputusan. Mau lanjut, ditunda, atau bagaimana. Jangan sampai menggantung begini.”

Fathan terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Jujur… aku bingung harus ambil keputusan apa.”

Ia menunduk menatap kakinya yang masih dibalut penyangga. “Tolong tanyakan pada temanmu, Aisha… apakah dia sudah tahu kondisiku sekarang? Kalau hubungan ini diteruskan, aku justru merasa bersalah.”

Fathan tersenyum pahit. “Kebahagiaannya nggak akan sempurna sebagai seorang istri. Aku belum bisa memberi nafkah lahir & batin secara sempurna. Hari-harinya pasti berat, apalagi di awal pernikahan. Aku nggak mau zalim sama dia. Jadi… biarkan dia memilih jalannya sendiri.”

Aisha dan Zafran saling berpandangan. “Apa orang tuamu sudah tahu kalau kamu sedang menjalani ta’aruf?” tanya Aisha pelan.

Fathan menggeleng. “Belum. Aku belum bicara apa-apa pada Ayah dan Ibu.”

Aisha menggigit bibir bawahnya ragu. “Kalau begitu… sebaiknya kamu bicara dulu sama mereka.”

Fathan mengernyit bingung. “Memangnya kenapa?”

“Waktu di rumah sakit… aku lihat ibumu bersama seorang perempuan. Beliau bilang perempuan itu anak sahabatnya dan ingin dijodohkan denganmu.”

Fathan terlihat terkejut. “Ibu? Menjodohkan ku? Tapi Ibu nggak pernah bicara apa-apa sama aku…” Ia mengusap wajahnya pelan. “Oke. Nanti aku tanyakan. Kalau soal ta’arufku… sampaikan saja pesan tadi. Aku akan menerima apa pun keputusannya.”

Namun sebelum obrolan mereka berlanjut, suara ketukan pintu terdengar. "Fathan, teman-teman SMA kamu datang. Mereka nunggu di ruang tamu,” ujar Ibu Fathan setelah masuk ke kamar.

“Iya, Bu. Fathan ke depan.”

“Yaudah, sekalian aja. Kita juga mau pulang,” sahut Zafran sambil berdiri.

“Lho, kok buru-buru? Gabung dulu di depan, ngeteh bareng,” tahan Ibu Fathan ramah.

Aisha tersenyum lembut. “Terima kasih, Bu. Tapi kami masih ada urusan lain.”

Ia lalu menyalami tangan wanita itu. “Assalamu’alaikum, Bu.”

“Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya, Nak Zafran, Aisha. Fii amanillah.”

Mereka berjalan bersama menuju ruang depan sebelum akhirnya berpisah di halaman rumah.

Fathan melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu. “Assalamu’alaikum,” sapanya hangat.

“Wa’alaikumussalam!” jawab para tamu serempak.

Mereka adalah teman-teman SMA Fathan, termasuk Farin yang duduk di antara mereka.

“Kak Fathan, syafakallah… syifā’an ‘ājilan, syifā’an lā yughadiru saqaman.”

(Semoga Allah memberimu kesembuhan yang cepat dan sempurna tanpa meninggalkan rasa sakit.)

“Āmīn… Allahumma āmīn,” jawab Fathan tersenyum.

“Maaf ya, Kak. Baru sempat jenguk. Nyari waktu kosong susah banget,” ujar salah satu dari mereka.

“Khoir, insyaAllah. Nggak apa-apa. Doa kalian saja sudah lebih dari cukup. Jazakumullahu khairan.”

Obrolan mereka pun mengalir hangat. Tentang kesibukan, pekerjaan, hingga kehidupan masing-masing.

Sampai akhirnya pembicaraan mengarah pada pernikahan.

Sebagian dari mereka bahkan sudah memiliki anak.

“Kak Fathan semangat sembuh dong… biar bisa OTW pelaminan. Calonnya udah setia nunggu tuh!” goda salah satu teman mereka.

Fathan terkekeh pelan. “Hah? Kabar dari mana itu? Kasihan nanti istriku… bukannya jadi pengantin baru malah jadi babysitter.”

Tawa pun pecah memenuhi ruangan.

“Lha kemarin ibunya ngenalin Alea, katanya mau dijodohin sama Kak Fathan.”

Nama itu kembali muncul, Alea.

Perempuan anggun berhijab yang menemani Ibu Fathan di rumah sakit.

Fathan spontan menoleh ke arah ibunya dengan tatapan penuh tanya, Ibu Fathan hanya tersenyum santai.b“Itu kan cuma keinginan Ibu. Cocok atau nggaknya tetap Fathan yang menentukan.”

Tak ada yang sadar… Di antara tawa dan candaan mereka, ada hati yang perlahan retak menahan luka.

“Ya cocok lah, Bu! Gaskeun aja, Kak!”

“Udah buru-buru diresmikan aja!”

“Kalau ada bidadari di dekatnya mah nggak perlu obat dokter lagi!”

“Wah, itu mah obat paling mujarrab!”

Candaan demi candaan terus terlontar.

“Hush… jangan bercanda begitu,” tegur Fathan malu.

Di sudut ruangan, Farin hanya mampu tersenyum kecil, padahal di dalam dadanya, rasa sakit perlahan menyesakkan.

Diam-diam ia memanjatkan doa, “Ya Allah… jagalah hatiku agar tidak mencintai siapa pun, kecuali dia yang benar-benar Engkau takdirkan untukku.”

Untuk pertama kalinya Farin merasakan cinta tumbuh begitu dalam. Namun bersamaan dengan itu, ia juga belajar bagaimana rasanya mengikhlaskan.

Semakin ia mencoba menghindar dari rasa itu, semakin kuat bayang Fathan memenuhi pikirannya.

Meski begitu, cintanya masih bersih, belum ternodai ego untuk memiliki, ia masih mampu tersenyum tulus meski lelaki yang ia kagumi sedang dijodoh-jodohkan dengan perempuan lain di depan matanya sendiri.

Sore itu hujan turun deras, setelah makan siang bersama di restoran, teman-teman Farin beranjak pulang masing-masing. Tinggallah kini ia sendiri di teras restoran, menunggu hujan reda.

Matanya menatap jalanan basah sambil membiarkan hatinya berbicara sendiri, air mata Farin jatuh perlahan.

“Rabbi… mungkin ini ujian untuk melihat seberapa besar cintaku kepada-Mu.”

“Karena dari rasa sakit ini… aku justru semakin yakin bahwa kasih sayang-Mu jauh lebih besar daripada cinta siapa pun di dunia.”

Farin sadar, setelah menikah pun seorang lelaki tetaplah milik ibunya.

Ia tidak ingin kehadirannya justru menjadi sumber ketidaknyamanan dalam keluarga Fathan.

Karena itu, tekadnya semakin bulat, ia akan mundur dari proses ta’aruf ini, walaupun hatinya harus terluka sendirian.

Di rumahnya sendiri, Fathan tengah meminta penjelasan kepada sang ibu. “Ibu… kenapa Ibu nggak bicara dulu sama Fathan? Kenapa orang lain justru lebih dulu tahu?”

Nada kecewa terdengar jelas dari suaranya. “Yang menjalani pernikahan ini Fathan, Bu…”

Ibu Fathan terlihat serba salah. “Ibu cuma mau kasih kejutan buat kamu. Tadinya nunggu kamu pulang kampung. Tapi Qadarullah malah terjadi musibah, jadi keburu tersebar.”

Fathan mengusap wajahnya kasar. “Ibu berhasil kasih kejutan yang bikin Fathan malu…”

“Ibu juga sudah bicara sama Alea. Dia mau kok sama kamu,” ujar sang ibu pelan.

“Allahu Akbar, Bu…” Fathan mengacak rambutnya frustrasi. “Tapi Fathan sudah punya pilihan lain.”

Seketika wajah ibunya berubah. “Apa?”

“Fathan sedang ta’aruf dengan perempuan lain.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Terus Alea mau kamu apakan? Ibu sudah bicara sama keluarganya.”

“Itu keputusan Ibu tanpa bicara dulu sama Fathan.”

“Ibu malu kalau dibatalkan…”

Fathan tersenyum pahit.

“Fathan juga malu, Bu.”

“Kalau begitu batalkan saja perempuan pilihanmu itu. Toh keluarga kita belum ada yang tahu.”

“Tapi perasaan orang bukan buat dipermainkan, Bu.”

Suasana kembali hening.

Fathan memutar kursi rodanya perlahan. “Fathan mau istirahat dulu.”

“Ayo, Ibu antar.”

Namun sepanjang perjalanan menuju kamar, tak ada lagi percakapan di antara mereka, keduanya tenggelam dalam kebingungan masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!