Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 9
Sebelum baca, ini masih ada hubungannya dengan part 2. Happy Reading guys 。◕‿◕。
---
Damian kembali ke kamarnya setelah lewat pukul dua dini hari.
Rumah besar itu sudah sepenuhnya sunyi. Lampu-lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya remang di sepanjang lorong yang membuat suasana terasa dingin dan sepi.
Langkah Damian terdengar pelan saat memasuki kamar.
Masih dengan pakaian formal yang sama.
Dasi hitam di lehernya sedikit longgar. Jas mahalnya bahkan belum sempat dilepas. Namun lelaki itu terlihat terlalu lelah untuk peduli.
Bruk.
Tubuh tinggi itu langsung jatuh ke atas ranjang besar miliknya.
Tatapannya lurus ke langit-langit kamar.
Kosong.
Namun di balik wajah dinginnya, pikirannya justru penuh sesak. Terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya.
Damian mengembuskan napas pelan lalu memejamkan mata.
Ia berniat memaksa dirinya tidur seperti biasa.
Namun beberapa detik kemudian, alisnya sedikit bergerak.
Ada aroma samar yang tertinggal di ranjangnya.
Aroma itu lembut.
Bukan parfum mahal yang tajam dan menusuk seperti kebanyakan wanita yang ia kenal. Wanginya justru ringan, bersih, dan manis samar.
Seperti aroma susu stroberi hangat yang bercampur vanila lembut.
Aroma yang anehnya terasa nyaman.
Damian perlahan membuka mata.
Tatapannya turun pada selimut di atas tubuhnya, sebelum tanpa sadar ia menarik kain itu mendekat lalu menghirup aromanya lebih dalam. Aroma itu langsung memenuhi indra penciumannya.
Sophia.
Untuk beberapa saat Damian hanya diam.
Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Ingatan lelaki itu langsung kembali pada kecelakaan itu.
Saat Sophia membantunya keluar dari mobil. Tubuh kecil wanita itu menopangnya dengan panik. Tangannya menggenggam lengannya erat, seolah takut Damian benar-benar terluka parah.
Sentuhannya lembut.
Hangat.
Dan aroma yang sama juga memenuhi indra penciumannya sore itu.
Damian masih mengingat semuanya dengan jelas.
Bahkan saat berada di ambulans, di atas ranjang sempit dan keras yang seharusnya membuat tubuh tidak nyaman...
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Damian justru bisa tertidur nyenyak.
Tanpa bantuan obat tidur.
Damian memejamkan mata lagi sambil tetap menggenggam selimut di tangannya.
"Sebenarnya..." gumamnya pelan dengan suara rendah dan serak, "aroma apa yang dipakai wanita itu?"
Tidak ada jawaban.
Namun perlahan napas Damian mulai teratur. Tubuhnya yang sejak tadi tegang mulai melemas sedikit demi sedikit, dan tanpa sadar, lelaki itu benar-benar tertidur.
Di atas meja samping ranjang, botol obat tidur masih terletak rapi seperti biasa.
Namun malam ini...
Untuk pertama kalinya, Damian mengabaikannya.
---
Jack berdiri di depan kamar Damian dengan wajah tegang. Ia beberapa kali melirik pintu kamar itu sambil memastikan sesuatu, biasanya jam segini Damian masih belum tidur.
Kadang membaca dokumen.
Kadang bekerja.
Kadang hanya duduk diam tanpa suara sampai pagi.
Dan kalau insomnia atasannya sedang kambuh, maka seluruh rumah otomatis ikut menderita.
Namun malam ini berbeda.
Tidak ada suara.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada panggilan dingin yang biasanya membuat para pelayan panik.
Jack akhirnya mengetuk pintu pelan.
Tok.
Tok.
Ia menunggu beberapa detik.
Tetap tidak ada jawaban.
Mata Jack langsung sedikit membesar, lalu perlahan ia mengembuskan napas lega.
"Tidur..." gumamnya lirih. Damian benar-benar tidur. "Setidaknya malam ini aku tidak akan menderita."
Itu berarti malam ini ia akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jack tersenyum tulus.
Tidak sia-sia ia membawa Sophia ke kamar Damian.
Salah satu pelayan yang berdiri tak jauh darinya terlihat bingung.
"Tuan Damian sudah tidur. Tuan Jack, bagaimana dengan piyama Nona Sophia? Apa perlu saya membuangnya?" tanyanya hati-hati.
Jack langsung menoleh cepat.
"Simpan dulu. Nanti akan berguna," jawabnya pelan.
Namun meski berkata begitu, pikirannya justru langsung melayang pada kejadian minggu lalu.
Dan hanya mengingatnya saja sudah cukup membuat kepalanya kembali pening.
#Flashback
"Apa maksud Tuan?"
Jack benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingungnya saat itu.
"Kenapa Anda tiba-tiba ingin tidur di kasur rumah sakit?"
Permintaan Damian benar-benar di luar akal sehat.
Lelaki itu memiliki ranjang super besar dengan kasur mahal yang bahkan terasa selembut awan. Selimutnya hangat, kamarnya tenang, dan seluruh ruangan itu dirancang senyaman mungkin.
Namun tiba-tiba saja Damian menyuruh mereka menyiapkan ranjang rumah sakit di ruang kerjanya.
Dan seperti biasa...
Atasannya itu tidak memberi penjelasan apa pun.
Jadi seperti biasa pula, Jack hanya bisa menurut.
Sore harinya, ia bersama beberapa pelayan benar-benar memindahkan satu ranjang rumah sakit ke ruang kerja Damian. Semua orang bekerja setengah mati hanya demi memenuhi permintaan aneh itu.
Namun baru beberapa menit mencobanya, Damian langsung mengernyit tidak puas.
"Terlalu empuk."
Jack hampir membenturkan kepalanya ke tembok. Kasur rumah sakit saja masih dibilang empuk? Tetapi ia tetap menyuruh pelayan mengganti alasnya dengan yang lebih keras.
Beberapa menit kemudian mereka datang lagi dengan alas baru.
Damian mencobanya sebentar.
Lalu kembali berkata dingin.
"Masih berbeda."
Pelayan mulai panik.
Jack juga mulai frustrasi.
Setelah hampir satu jam mengganti berbagai alas tidur tanpa hasil, Jack akhirnya menyerah dan mengusap wajah lelahnya.
"Tuan, semenjak Anda mengambil alih perusahaan. Anda tidak pernah tidur nyenyak. Sebaiknya besok saya mengantar Tuan diperiksa. Mungkin ada jalan keluarnya."
Damian yang duduk di sofa langsung mengangkat pandangan.
"Aku bisa tidur."
"..."
Jack langsung diam.
Kalau bisa tidur, lalu kenapa seluruh rumah dibuat seperti mau perang begini? Namun tentu saja ia tidak cukup berani mengatakannya.
Damian kemudian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Saat di ambulans..." katanya pelan. "Aku bisa tidur."
Jack mengernyit bingung.
Ambulans?
Apa bagusnya tidur di tempat sempit seperti itu?
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Damian kembali berkata,
"Bawa parfum."
Jack berkedip pelan.
"Parfum apa, Tuan?"
Damian terlihat berpikir beberapa saat.
"Wanginya lembut," katanya pelan. "Seperti vanila... ada aroma susu... dan sedikit stroberi."
Jack langsung terdiam.
Itu jelas parfum wanita.
Meski bingung, ia tetap menyuruh pelayan membeli beberapa parfum dengan aroma serupa.
Namun hasilnya .....
"Terlalu menyengat."
"Bukan ini."
"Buang."
"Yang ini membuat pusing."
Satu per satu parfum ditolak mentah-mentah oleh Damian. Padahal menurut Jack, wanginya sudah sangat mirip dengan deskripsi yang diberikan. Namun atasannya tetap tidak puas.
Akhirnya Jack benar-benar menyerah.
Ia menatap Damian lelah sebelum akhirnya bertanya, "Tuan terakhir bertemu siapa?"
Damian terlihat berpikir.
"Arkan."
"Selain itu?"
"Banyak orang."
Damian mengusap pelipisnya malas.
"Mana mungkin aku mengenal semuanya."
Jack mengangguk kecil. Benar juga. Mana mungkin Damian memperhatikan orang sembarangan. Namun beberapa detik kemudian, lelaki itu kembali membuka suara.
"Ada seorang wanita."
Jack langsung menoleh cepat.
"Dia kenal Arkan."
Jack seperti mendapat pencerahan.
Ia tidak bertanya lebih jauh lagi.
Malam itu juga, Jack langsung mencari Arkan demi mengetahui siapa wanita yang dimaksud Damian. Dari sanalah ia akhirnya mengetahui nama itu. Sophia.
---
Setelah dua hari tidak masuk kerja dan menambah satu hari cuti karena kejadian sialan itu, akhirnya Sophia kembali bekerja.
Pagi itu ia berdiri di belakang meja kasir seperti biasa. Mengenakan seragam toko lengkap dengan senyum ramah yang selalu terpasang rapi di wajahnya.
Seolah hidupnya baik-baik saja.
Beep.
Beep.
Tangannya bergerak otomatis. Senyumnya muncul di waktu yang tepat. Bahkan nada suaranya tetap terdengar sopan saat melayani pelanggan satu per satu.
Ia memang seperti itu.
Profesional.
Setidaknya di tempat kerja.
Namun di balik semua itu, Sophia sebenarnya bukan tipe orang yang mudah dekat dengan siapa pun.
Ia ramah, iya.
Mudah mengobrol juga iya.
Tapi setelah jam kerja selesai, semua hubungan itu otomatis berhenti sampai di sana.
Baginya, rekan kerja tetaplah rekan kerja.
Motonya sederhana.
Kerja, pulang.
Sudah itu saja.
Saat Sophia sedang sibuk menghitung kembalian pelanggan, seorang pramuniaga tiba-tiba berjalan mendekat ke area kasir.
Wanita itu berpura-pura merapikan rak kecil di dekat meja pembayaran. Namun tatapannya sesekali melirik Sophia dengan jelas.
Tatapan tidak suka.
Sophia sebenarnya sudah terbiasa.
Di tempat kerja seperti ini, orang yang terlalu rajin biasanya memang tidak terlalu disukai. Apalagi supervisor beberapa kali memuji kinerjanya secara terang-terangan, dan itu cukup untuk membuat sebagian orang merasa iri.
Sambil tetap membereskan rak, wanita itu akhirnya membuka suara.
"Lucu juga ya," katanya pelan, tapi cukup keras untuk didengar. "Sekarang banyak orang izin sakit padahal badannya sehat-sehat saja."
Sophia langsung tahu ucapan itu ditujukan padanya.
Namun alih-alih tersinggung, ia justru tetap fokus merapikan struk di meja kasir sebelum akhirnya menjawab santai.
"Orang sakit bukan cuma badannya saja."
Ia mengangkat kepala pelan lalu tersenyum tipis.
"Pikirannya juga bisa sakit."
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (. ❛ ᴗ ❛.)