Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dasinya sudah terpasang rapi, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya sementara tangannya sibuk merapikan kerah kemeja. Mendengar suara pintu terbuka, Arven menoleh sekilas.
"Udah selesai?"
Tanyanya santai yang membuat Selena langsung berjalan menghampiri kemudian tanpa ragu memeluk lengan pria itu. Tubuhnya bersandar manja sementara wajahnya langsung berubah kesal.
"Aku capek mas." Keluhnya yang membuat Arven menatap pantulan mereka di cermin.
"Kok capek?"
"Naira." Arven langsung mengerti sementara Selena mendengus. "Dia nggak berhenti nangis dari semalam." Wanita itu memutar bola matanya. "Setiap lima menit pasti nyebut nama Kanisha." Raut wajahnya semakin kesal. "Aku sampai pusing dengernya." Arven hanya diam. "Dia juga nggak mau dideketin. Bahkan waktu aku kasih mainan baru." Tangannya menyilang. "Yang dicari tetap Kanisha."
Arven tetap terlihat tenang. Tidak ada perubahan ekspresi, tidak ada tanda-tanda bahwa ia ikut khawatir dan hal itu membuat Selena semakin kesal.
"Kamu kok santai banget sih, mas?" Keluhnya.
"Aku udah stres dari pagi."
Alih-alih menenangkan atau menyuruh Selena lebih sabar menghadapi anak itu, Arven justru tersenyum tipis lalu meraih pinggang Selena.
"Mukanya jangan ditekuk begitu dong."
Selena mengerucutkan bibir.
"Habisnya aku kesel banget mas."
Arven terkekeh pelan.
"Nggak usah dipikirin."
"Tapi—"
"Aku punya sesuatu buat kamu."
Kalimat itu langsung membuat Selena berhenti berbicara.
"Hm?"
Arven mengambil ponselnya lalu menunjukkan layar ponsel tersebut kepada Selena.
"Aku baru transfer tadi pagi."
Selena mengernyit.
"Transfer apa?"
Arven tersenyum tipis.
"Tas yang kemarin kamu bilang pengen."
Deg, Mata Selena langsung membesar.
"Tas itu?"
"Iya."
Arven mengangguk santai.
"Aku udah bayar."
Wajah Selena langsung berubah. Kesal yang tadi memenuhi wajahnya perlahan menghilang dan digantikan antusiasme.
"Serius?"
Arven tersenyum.
"Serius."
Wanita itu langsung mendekat.
"Beneran mas?"
"Kamu lihat, pembayarannya udah lunas." Arven memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Tinggal nunggu kurir nganter."
Selena hampir melompat kegirangan.
"Itu tas limited edition kan?"
"Hm."
Arven mengangguk.
"Yang kamu tunjuk waktu kita ke butik kemarin."
Selena menutup mulutnya. Matanya berbinar seolah seluruh masalah yang tadi membuatnya kesal langsung menghilang begitu saja. Ia bahkan lupa pada tangisan Naira, lupa pada rengekan yang sejak pagi membuat kepalanya pusing. Yang ada sekarang hanya bayangan tas mewah yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Aku nggak nyangka kamu beneran beliin tas itu untuk aku, mas."
Arven tertawa kecil.
"Aku kan udah janji."
Selena langsung memeluk leher pria itu. Senyumnya semakin lebar. Sementara Arven hanya tersenyum santai. Tidak ada yang menyadari bahwa pembayaran tas itu dilakukan menggunakan kartu kredit yang selama ini diberikan Kanisha kepadanya. Kartu yang selama bertahun-tahun digunakan tanpa pernah dipertanyakan. Dan kini bahkan setelah Kanisha pergi dari hidupnya, jejak wanita itu masih diam-diam membiayai sebagian kenyamanan yang mereka nikmati.
Namun tentu saja, baik Arven maupun Selena tidak memikirkan hal itu karena pagi itu perhatian mereka hanya tertuju pada satu hal.
Hadiah mewah yang sedang dalam perjalanan menuju kediaman Mahendra dan senyum Selena yang semula hilang karena tangisan Naira kini kembali merekah lebar, penuh kepuasan dan kebahagiaan.
Pagi itu, langit terlihat cerah membentang di atas kota. Matahari baru saja naik dengan sempurna dan memancarkan cahaya keemasan yang menyinari deretan gedung pencakar langit yang berdiri megah di pusat bisnis kota. Di antara gedung-gedung itu, berdiri sebuah bangunan tinggi berlapis kaca yang begitu dikenal banyak orang, Winata Group.
Salah satu perusahaan terbesar yang bergerak di berbagai sektor bisnis dan sudah puluhan tahun menjadi simbol kejayaan keluarga Winata. Sejak pagi, aktivitas di dalam gedung itu sudah berjalan seperti biasa. Para karyawan hilir mudik membawa berkas, suara ketukan keyboard terdengar dari berbagai ruangan. Beberapa sekretaris terlihat sibuk menyiapkan agenda rapat sementara para staf lainnya mulai menjalankan tugas mereka masing-masing.
Semuanya tampak normal sampai akhirnya sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan memasuki area lobby utama perusahaan. Mobil itu langsung menarik perhatian petugas keamanan yang berjaga. Mereka segera berdiri tegak dan begitu mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama, seorang petugas keamanan dengan cepat berjalan mendekat lalu membuka pintu belakang mobil. Yang pertama turun adalah Rendra Winata, Pria berusia lima puluh tahunan itu tampil seperti biasa dengan setelan jas mahal, tatapan tegas dan aura pemimpinnya yang membuat siapa pun langsung segan.
Para karyawan yang kebetulan berada di sekitar lobby langsung menundukkan kepala memberi salam begitu melihat sang pemilik perusahaan tiba.
"Selamat pagi, Pak Rendra."
"Selamat pagi, Pak."
Rendra hanya mengangguk singkat namun detik berikutnya suasana mendadak berubah karena sosok kedua yang turun dari mobil yang membuat hampir semua orang membeku. Sepasang high heels menyentuh lantai marmer lobby lalu seorang wanita muncul dari balik mobil dengan cantik,elegan, berkelas dan sangat dikenal oleh orang-orang lama di perusahaan itu. Orang itu adalah Kanisha Rayya Shanika Winata.
Deg, Beberapa karyawan bahkan sampai refleks saling menoleh. Ada yang mengucek matanya karena tak percaya, ada yang sampai melongo, dan ada yang langsung berbisik kepada rekannya.
"Tunggu..."
"Itu... Itu Mbak Kanisha kan?"
"Iya, astaga..."
"Ya ampun... Mbak Kanisha."
Suara bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai sudut lobby. Kanisha berjalan dengan tenang di samping ayahnya. Gaun A-Line Midi Dress yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat anggun tanpa berlebihan. Rambut panjangnya terurai rapi di belakang punggung. Wajahnya memang masih menyisakan sedikit kelelahan jika diperhatikan dengan seksama namun tidak ada lagi jejak wanita hancur yang datang ke rumah orang tuanya semalam. Yang berjalan di sana sekarang adalah Kanisha yang berbeda, Kanisha yang perlahan mulai kembali menjadi dirinya sendiri. Dan orang-orang yang pernah mengenalnya langsung bisa merasakan perbedaannya.
"Ya Tuhan... Saya kira Mbak Kanisha nggak akan balik lagi ke perusahaan."
"Saya juga."
"Lima tahun loh."
"Lima tahun."
"Saya masih ingat waktu dia sering keliling divisi. Dia dulu yang bikin proyek ekspansi cabang timur berhasil besar-besaran."
"Iya."
"Bahkan waktu itu usianya masih muda."
Bisik-bisik semakin ramai. Banyak karyawan baru terlihat bingung. Mereka tidak memahami kenapa kedatangan seorang wanita bisa membuat suasana perusahaan berubah seperti ini. Salah seorang staf baru akhirnya bertanya pelan kepada seniornya.
"Memangnya dia siapa ya?" Tanya staf baru itu yang membuat seniornya langsung menoleh. Tatapannya penuh rasa tak percaya.
"Kamu nggak kenal?"
Staf baru itu menggeleng dan membuat seniornya langsung berbisik.
"Itu mbak Kanisha."
Kedua mata staf baru itu membesar.
"Putrinya Pak Rendra?"
"Iya."
"Yang calon penerus perusahaan?"
"Iya."
"Yang dulu katanya jenius di dunia bisnis?"
"Iya."
"Astaga..."
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️