NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Sandiwara Setengah Abad

Malam perayaan ulang tahun ke-50 Alfarezel Group digelar di Grand Ballroom Hotel Mulia dengan kemegahan yang sulit ditandingi. Lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan yang didominasi dekorasi putih dan emas royal.

Alunan musik orkestra simfoni bergema lembut di latar belakang, mengiringi obrolan para taipan bisnis, pejabat pemerintahan, dan sosialita kelas atas Jakarta yang hadir malam itu dengan pakaian terbaik mereka.

Bagi kalangan elite, malam ini bukan sekadar perayaan bisnis setengah abad. Ini adalah arena politik tingkat tinggi. Semua orang di ruangan itu tahu tentang suksesi kepemimpinan yang sedang memanas antara Devan Alfarezel dan faksi yang dipimpin oleh bibinya, Karina. Desas-desus mengenai diusirnya Dion dari dewan direksi minggu lalu telah menjadi konsumsi rahasia yang paling dicari kebenarannya.

Di dalam ruang rias eksklusif di lantai atas ballroom, Anya berdiri terpaku di depan cermin besar setinggi langit-langit.

Jantungnya bertalu begitu keras hingga ia merasa dadanya sesak. Malam ini, ia mengenakan gaun mahakarya rancangan desainer ternama yang dipilihkan langsung oleh Devan. Gaun haute couture berpotongan A-line berwarna biru dongker tua dengan aksen bordir perak halus yang menyerupai taburan bintang di langit malam. Rambut hitamnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang dipulas riasan glamor namun tetap natural.

Di pergelangan tangannya, gelang berlian dari Kakek Bramanta melingkar dengan kokoh. Namun, yang membuat jemarinya bergetar bukanlah kemewahan pakaiannya, melainkan berkas pidato yang dipegangnya. Malam ini, sebagai asisten pribadi sekaligus tunangan resmi sang CEO, ia dijadwalkan naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan penghormatan.

Pintu ruang rias terbuka tanpa suara. Melalui pantulan cermin, Anya melihat Devan melangkah masuk. Pria itu tampak luar biasa tampan dan berwibawa dengan setelan tuksedo hitam pekat memeluk tubuh tegapnya, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu. Aura kepemimpinannya begitu pekat, mendominasi ruangan seketika.

Devan berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di belakang Anya. Mata elangnya menatap pantulan wajah Anya di cermin dengan intensitas yang membuat napas Anya tertahan.

"Kau sangat cantik, Anya," bisik Devan, suaranya bariton rendah, mengirimkan getaran hangat yang akrab ke sekujur tubuh Anya.

Anya membalikkan tubuhnya perlahan, mendongak untuk menatap mata pria itu. "Terima kasih, Devan. Tapi jujur... aku sangat takut.

Kakiku terasa lemas. Bagaimana jika aku melakukan kesalahan di atas panggung nanti? Tante Karina... aku tahu dia sudah menyebarkan umpan ke beberapa wartawan di luar."

Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Kedua tangannya yang besar dan hangat naik, menggenggam pundak Anya, meremasnya lembut untuk menyalurkan kekuatan yang tak tergoyahkan.

"Tatap mataku, Anya," perintah Devan lembut namun penuh otoritas. Anya menurut, mengunci pandangannya pada manik mata hitam milik Devan.

"Di ruangan bawah sana, ada ratusan orang yang ingin melihat kita jatuh. Karina telah menyiapkan proyektor, wartawan, dan dokumen palsu untuk menghancurkanmu saat kau naik ke panggung. Dia pikir dia memegang kendali atas malam ini."

Devan mendekatkan wajahnya, embusan napasnya terasa hangat di kening Anya. "Tapi mereka tidak tahu bahwa kita sudah mengganti semua umpan yang mereka pasang. Malam ini, panggung itu bukan milik Alfarezel Group.

Panggung itu adalah tempat di mana kita akan mengubur ambisi Karina untuk selamanya. Kau hanya perlu naik, membaca pidatomu dengan kepala tegak, dan biarkan aku yang menarik pelatuknya. Kau percaya padaku?"

Mendengar kata-kata Devan, rasa takut yang membeku di dalam dada Anya perlahan mencair, digantikan oleh gelombang keberanian yang membara. Ikatan di antara mereka malam ini terasa jauh lebih dalam daripada sekadar lembaran kertas kontrak. Ada rasa saling percaya yang murni, sebuah komitmen nyata untuk saling melindungi di tengah badai.

Anya mengangguk mantap. "Aku percaya padamu, Devan."

Devan menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. Ia menurunkan tangannya, lalu menyodorkan lengannya yang kokoh agar Anya bisa melingkarkan tangannya di sana. "Kalau begitu, mari kita temui para serigala itu."

Ketika Devan dan Anya melangkah masuk ke dalam Grand Ballroom, seluruh atensi ruangan seketika tersedot ke arah mereka. Ratusan pasang mata menatap kagum sekaligus penasaran. Pasangan itu berjalan dengan keanggunan mutlak, memancarkan aura kekuasaan yang selaras. Di barisan depan, Kakek Bramanta duduk di kursi kehormatan dengan senyum bangga yang menghiasi wajah tuanya.

Namun, di sudut lain, Karina Alfarezel berdiri bersama beberapa kolega bisnis dari luar negeri.

Malam ini, Karina mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan kalung zamrud mewah. Saat matanya bertemu dengan mata Anya, Karina mengangkat gelas sampanyenya, memberikan senyuman kemenangan yang dingin.

Di sampingnya, Dion berdiri dengan pergelangan tangan yang masih dibalut perban tipis akibat cengkeraman Devan minggu lalu, matanya berkilat penuh dendam yang membara.

"Nikmati menit-menit terakhirmu, gadis miskin," gumam Dion pelan dari kejauhan, yang tentu saja tidak terdengar oleh Anya.

Acara formal dimulai. Pidato pembukaan dari dewan komisaris dan Kakek Bramanta berlangsung meriah, mendapat tepuk tangan riuh dari para undangan. Hingga akhirnya, pembawa acara naik ke podium utama dengan senyum semringah.

"Hadirin yang terhormat, malam ini kita tidak hanya merayakan pencapaian setengah abad Alfarezel Group dalam dunia bisnis internasional. Kita juga merayakan masa depan.

Selanjutnya, mari kita sambut sambutan hangat dari perwakilan generasi baru Alfarezel, asisten pribadi sekaligus tunangan dari CEO kita, Nona Anya Anandita. Kepada Nona Anya, waktu dan tempat kami persilakan."

Lampu sorot utama (spotlight) seketika berpindah, mengunci tubuh Anya. Seluruh ruangan bertepuk tangan, meskipun beberapa di antaranya adalah tepukan formalitas yang disertai bisik-bisik sinis dari faksi Karina mengenai latar belakang Anya.

Anya melepaskan pegangannya dari lengan Devan. Sebelum melangkah, Devan membisikkan dua kata di telinganya "Semoga berhasil, Sayang."

Kata "Sayang" yang diucapkan Devan terdengar begitu natural hingga membuat jantung Anya berdesir hebat, memberikan pasokan energi instan ke dalam nadinya.

Anya melangkah naik ke atas panggung dengan anggun. Setiap langkahnya mantap, gaun biru dongkernya berkilau indah di bawah paparan lampu panggung. Ia berdiri di balik podium, menatap ratusan orang elit di hadapannya. Di barisan depan, Karina melirik ke arah operator ruang kendali multimedia di lantai mezanin, memberikan isyarat rahasia dengan ketukan jarinya pada gelas.

Itu adalah aba-aba untuk memulai serangan sabotase.

Anya mulai membaca pidatonya. "Selamat malam, para hadirin yang terhormat, Kakek Bramanta yang saya hormati, dan seluruh keluarga besar Alfarezel Group..." Suara Anya terdengar jernih, merdu, dan penuh percaya diri melalui pengeras suara ruangan. Ia berbicara tentang visi, tentang kerja keras, dan tentang bagaimana Alfarezel Group dibangun di atas fondasi integritas yang kokoh.

Namun, baru berjalan tiga menit, layar proyektor raksasa berukuran 10 times 15 meter di belakang Anya yang seharusnya menampilkan video kilas balik sejarah perusahaan tiba-tiba berkedip kasar.

Bzzzt... Bzzzt...

Suasana di dalam ballroom mendadak riuh dengan bisikan panik ketika layar itu berubah menampilkan dokumen-dokumen kepolisian berwarna merah gelap, lengkap dengan foto masa muda ayah Anya dan cap bertuliskan

"TERDAKWA PENGGELAPAN DANA - 2016". Di bawah dokumen tersebut, tertera narasi besar yang ditulis dengan huruf tebal.

"APAKAH ALFAREZEL GROUP AKAN DIPIMPIN OLEH WANITA DARI KELUARGA KRIMINAL?"

Ratusan tamu undangan terengah-engah.

Beberapa sosialita menutup mulut mereka karena terkejut. Wartawan di bagian belakang ruangan langsung mengangkat kamera mereka, lampu kilat (flash) menyala bertubi-tubi ke arah panggung, mengincar ekspresi hancur Anya.

Karina di bawah panggung tersenyum lebar. Rencananya berhasil dengan sempurna. Ia telah mempermalukan Anya di depan seluruh relasi bisnis Alfarezel, sebuah skandal yang tidak akan pernah bisa dibersihkan oleh Devan.

Di atas panggung, Anya menghentikan pidatonya. Ia berbalik, melihat layar besar di belakangnya. Namun, alih-alih menangis, panik, atau berlari turun dari panggung seperti yang diharapkan Karina, Anya justru menarik napas dalam-dalam. Wajahnya tetap tenang, sedingin es, persis seperti ekspresi Devan saat menghadapi krisis. Anya menoleh ke arah Devan yang duduk di barisan depan.

Devan tidak bergerak. Pria itu hanya memberikan anggukan kecil dengan senyum misterius di sudut bibirnya.

Tiba-tiba, sebelum kepanikan di ruangan itu meluas, layar proyektor raksasa tersebut kembali berkedip. Kali ini, dokumen palsu tentang ayah Anya menghilang, digantikan oleh sebuah video rekaman beresolusi tinggi dengan suara yang sangat jernih.

Itu adalah video rekaman rahasia di sebuah ruang kerja mewah. Di dalam video itu, terlihat Karina Alfarezel sedang duduk bersama seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam mantan pejabat kepolisian daerah.

"Ini dua miliar rupiah," suara Karina di dalam video terdengar sangat jelas di seluruh penjuru ballroom. Di video itu, Karina mendorong seoper koper berisi tumpukan uang tunai ke arah pria tersebut.

"Aku butuh kau membuka kembali kasus kebangkrutan keluarga Anandita dari tahun 2016. Ubah laporannya. Buat seolah-olah ayah gadis itu yang melakukan korupsi, bukan mitranya. Dan pastikan dokumen palsu ini dikirimkan ke media tepat pada malam perayaan ulang tahun perusahaan."

Pria berseragam itu menerima koper tersebut sambil tersenyum licik. "Mudah sekali, Nona Karina. Uang ini cukup untuk membuat cerita apa pun menjadi kenyataan di atas kertas hukum lama."

Deg!

Seluruh isi Grand Ballroom seketika senyap, bahkan suara detak jarum jam pun rasanya bisa terdengar. Senyuman di wajah Karina runtuh seketika, berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Gelas sampanye di tangannya terlepas, jatuh ke lantai marmer dan pecah berkeping-keping dengan suara denting yang memekakkan keheningan.

"T-tidak... itu tidak mungkin! Matikan! Matikan videonya sekarang!" teriak Karina histeris, suaranya melengking tinggi di antara keheningan para tamu VIP.

Namun, tidak ada satu pun operator yang mendengarkan perintahnya. Ruang kendali multimedia malam itu telah diambil alih sepenuhnya oleh Randi dan tim keamanan siber bentukan Devan sejak dua jam sebelum acara dimulai.

Anya kembali menghadap ke depan mikrofon podium, suaranya terdengar tenang namun bergaung penuh kemenangan. "Seperti yang baru saja Anda sekalian saksikan, integritas adalah sesuatu yang mahal. Keluarga saya memang pernah hancur karena fitnah sepuluh tahun lalu oleh orang-orang yang rakus akan kekuasaan. Dan malam ini, kita semua melihat bahwa pola yang sama, kelicikan yang sama, dicoba untuk diulang kembali oleh orang yang berada di dalam lingkaran keluarga ini sendiri."

Anya menatap langsung ke arah Karina yang tubuhnya kini bergetar hebat karena malu dan murka. "Namun kebenaran, sekecil apa pun ia dikubur dengan uang miliaran rupiah, akan selalu menemukan jalannya untuk bangkit ke permukaan."

Tepat setelah Anya menyelesaikan kalimatnya, Devan bangkit dari kursinya. Ia melangkah naik ke atas panggung dengan wibawa penuh, berdiri di samping Anya. Ia mengambil alih mikrofon sekunder di podium.

"Malam ini, di perayaan ulang tahun ke-50 Alfarezel Group, saya sebagai CEO mengumumkan bahwa mulai detik ini, posisi Tante Karina Alfarezel sebagai kepala komite audit dan seluruh hak suaranya di dalam perusahaan dinonaktifkan secara permanen atas tindakan sabotase, pencemaran nama baik, dan penyalahgunaan wewenang yang merugikan nama baik perusahaan," ucap Devan, suaranya menggelegar penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Di pintu masuk ballroom, empat orang petugas kepolisian dari Polda Metro Jaya yang mengenakan pakaian dinas lengkap melangkah masuk, berjalan membelah kerumunan tamu undangan menuju tempat Karina dan Dion berdiri.

"Nyonya Karina Alfarezel, Anda ditangkap atas dugaan kasus penyuapan, pemalsuan dokumen publik, dan konspirasi kriminal," ucap salah satu perwira polisi seraya menunjukkan surat perintah penangkapan resmi.

Dion mencoba menghalangi, "Kalian tidak tahu siapa kami?! Kami adalah Alfarezel!"

"Justru karena Anda adalah Alfarezel, hukum harus ditegakkan dengan lebih adil," balas petugas itu tegas. Di depan ratusan kamera wartawan yang kini berbalik arah dengan liar, Karina dan Dion digiring keluar dari *Grand Ballroom* dengan tangan yang kini harus menyembunyikan rasa malu terbesar dalam sejarah hidup mereka.

Setelah badai konfrontasi di dalam *ballroom* mereda dan para tamu dialihkan ke sesi jamuan makan malam sekunder di taman luar, Devan menuntun Anya keluar dari keramaian menuju balkon luar lantai atas yang sepi dan berangin malam. Udara malam yang dingin menyapu wajah mereka, membawa kelegaan yang luar biasa setelah ketegangan yang menguras emosi.

Anya bersandar pada pagar pembatas balkon, menatap kerlip lampu kota Jakarta yang membentang luas di bawah mereka. Napasnya masih terasa agak memburu, namun beban besar yang selama sepuluh tahun ini menghimpit nama baik keluarganya kini telah terangkat sepenuhnya.

"Kau melakukannya dengan sangat baik, Anya," ucap Devan, berjalan mendekat hingga tubuhnya berdiri tepat di samping Anya. Ia melepas jas tuksedo hitamnya, lalu menyampirkannya ke atas pundak Anya yang terbuka untuk menghalau dinginnya angin malam.

Anya merapatkan jas Devan ke tubuhnya, menghirup aroma maskulin khas pria itu yang kini terasa seperti rumah baginya. "Aku tidak akan bisa melakukannya tanpa video rekaman itu, Devan. Bagaimana bisa kau mendapatkan rekaman sedetail itu? Menyuap polisi lama itu pasti bukan hal yang mudah."

Devan menyunggingkan senyum tipis, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang melembut.

"Aku tidak perlu menyuapnya. Pria di video itu adalah mantan polisi korup yang kebetulan memiliki banyak utang di salah satu bank anak perusahaan Alfarezel. Aku hanya perlu menawarkan penghapusan utang dan jaminan keselamatan keluarganya, dan dia dengan senang hati menyerahkan seluruh rekaman kamera tersembunyi yang selalu ia gunakan untuk memeras klien-klien elitnya, termasuk Karina."

Devan berbalik, menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah Anya. Ia meraih kedua tangan Anya, menggenggamnya dengan kehangatan yang menjalar langsung ke pusat hati wanita itu.

"Mulai malam ini, tidak akan ada lagi yang bisa mengancammu dengan masa lalumu, Anya.

Nama ayahmu akan segera dibersihkan secara resmi oleh pengadilan bulan depan. Aku sudah mengatur semuanya," ucap Devan, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Anya dengan binar emosi yang tidak lagi bisa disembunyikan di balik topeng kontrak bisnis.

Anya merasakan matanya memanas, air mata kebahagiaan perlahan mengalir di pipinya. "Kenapa... kenapa kau melakukan semua ini untukku, Devan? Ini sudah jauh melampaui batasan kesepakatan kontrak kita.

Kau menghancurkan bibimu sendiri, mengambil risiko besar bagi saham perusahaan, hanya untuk membersihkan nama keluargaku.",

Devan melangkah maju satu kali lagi, memotong jarak yang tersisa di antara mereka hingga tak ada lagi celah. Tangannya yang hangat naik ke pipi Anya, dengan lembut menghapus air mata yang jatuh menggunakan ibu jarinya.

"Karena sejak malam di mana kau menentang Dion di ruangan ini, sejak kau berdiri membelaku di depan Kakek dengan segala kejujuranmu... aku sadar akan satu hal," bisik Devan, suaranya bergetar dengan ketulusan yang murni, membuat detak jantung Anya berhenti seketika.

"Aku tidak lagi peduli dengan kontrak itu, Anya. Aku tidak menyelamatkanmu karena kesepakatan bisnis. Aku melakukannya karena aku... aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyakiti wanita yang aku cintai."

Kata-kata itu meluncur dengan begitu indah di bawah langit malam Jakarta. Anya terpaku, napasnya tercekat oleh pengakuan tak terduga dari pria sedingin es di hadapannya. Sebelum ia sempat membalas, Devan perlahan menundukkan wajahnya.

Kali ini, tidak ada dering ponsel yang mengganggu. Tidak ada sabotase, tidak ada musuh yang mengintai. Di bawah saksi bisu bintang-bintang malam itu, Devan menempelkan bibirnya di atas bibir Anya dengan kelembutan yang teramat sangat sebuah ciuman yang mengunci janji nyata mereka, meruntuhkan batasan sandiwara, dan membuka lembaran baru di mana Anya bukan lagi sekadar asisten kontrak, melainkan ratu sejati di hati sang pewaris Alfarezel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!