Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Negosiasi
"Tunggu!"
Suara itu datang dari belakang kerumunan.
Orang-orang yang tadi ribut membicarakan Beruang Langkah segera menyingkir memberi jalan. Huang ikut menoleh perlahan. Dua sosok berjalan mendekat melewati gerbang kota dengan langkah tenang.
Yang pertama adalah seorang pria tinggi bertubuh kekar. Bahunya lebar seperti dinding batu. Pedang besar tergantung di punggungnya. Bekas luka panjang melintang di rahang kirinya, membuat wajahnya tampak garang.
Di sampingnya berjalan seorang wanita muda berjubah putih kebiruan. Rambut hitamnya diikat sederhana menggunakan pita perak. Wajahnya cantik, tetapi matanya dingin dan tajam seperti air danau saat musim dingin.
Begitu mereka muncul, bisik-bisik langsung terdengar.
"Itu murid Sekte Yunwu..."
"Kenapa mereka datang ke kota?"
"Pria itu Lei Shan, kan?"
"Dan wanita itu Luo Mei..."
Tatapan banyak orang langsung berubah hormat. Bahkan penjaga gerbang tadi buru-buru menundukkan kepala.
"Hormat kepada murid Sekte Yunwu."
Pria kekar bernama Lei Shan hanya mengangguk tipis. Namun wanita bernama Luo Mei justru menatap Huang cukup lama.
"Kau yang melihat Beruang Langkah?"
Huang menangkupkan kedua tangan dengan sopan.
"Benar, Nona."
Luo Mei sedikit mengernyit mendengar cara bicara Huang yang tenang. Kebanyakan anak seusianya akan gugup ketika berhadapan dengan murid sekte.
"Kau tidak terlihat seperti pembohong."
Lei Shan menyilangkan tangan di dada.
"Namun banyak orang desa suka melebih-lebihkan cerita demi mendapatkan batu roh."
Huang tersenyum tipis. "Saya memang orang desa, Tuan. Tetapi saya tidak sebodoh itu untuk berbohong tentang sesuatu yang bisa membuat saya dibunuh."
Beberapa orang di sekitar langsung melirik Huang lagi. Jawaban itu tenang. Dan masuk akal.
Luo Mei memperhatikan Huang beberapa saat sebelum akhirnya berkata kepada penjaga gerbang.
"Biaya masuknya kami bayar."
Penjaga itu langsung mengangguk cepat.
"Tentu... tentu saja."
Huang menangkupkan tangan lebih dalam.
"Terima kasih banyak, Nona, Tuan."
Lei Shan mengibaskan tangan dengan malas.
"Belum perlu berterima kasih. Kalau informasi itu palsu, kau akan menyesal."
Huang mengangguk pelan.
"Saya mengerti."
Setelah itu Luo Mei memberi isyarat kecil agar Huang mengikuti mereka masuk.
Begitu melewati gerbang Kota Bifan, langkah Huang tanpa sadar melambat. Matanya bergerak ke segala arah.
Jalan batu besar membentang panjang di tengah kota. Kedai-kedai kayu berdiri rapat di kanan kiri jalan. Bendera kain berbagai warna berkibar di depan bangunan besar. Pedagang meneriakkan dagangan mereka tanpa henti.
Aroma daging panggang, obat-obatan, keringat manusia, dan dupa bercampur menjadi satu. Beberapa orang berjalan membawa pedang di pinggang. Ada pula yang menunggang binatang buas aneh dengan taring panjang. Di kejauhan bahkan terlihat bangunan tinggi bertingkat yang jauh lebih megah dibanding rumah mana pun yang pernah Huang lihat.
Huang benar-benar terpukau. Namun hanya sesaat.Dia segera mengingat ajaran pria tua misterius itu. Semakin asing tempatnya, semakin tinggi kewaspadaan yang dibutuhkan.
Tatapan Huang perlahan berubah tenang kembali. Dia mulai memperhatikan wajah-wajah orang di jalan. Beberapa tampak ramah. Beberapa tampak licik. Beberapa menatap orang lain seperti sedang memilih mangsa.
Kota ini jauh lebih hidup dibanding desanya. Dan jauh lebih berbahaya.
Lei Shan melirik Huang sambil mendengus kecil. "Kau cukup tenang untuk anak desa."
Huang tersenyum tipis. "Ayah saya pernah berkata, terlalu banyak melihat sekitar tanpa berpikir bisa membuat seseorang jatuh ke jurang."
Lei Shan tertawa kecil. "Hah. Ayahmu tidak salah."
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah rumah makan besar dua lantai. Bau sup daging dan arak langsung keluar begitu pintu dibuka. Luo Mei memilih meja di sudut ruangan.
"Duduk."
Huang menurut dengan sopan.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa teh hangat dan beberapa hidangan sederhana. Huang memperhatikan semua makanan itu diam-diam. Bahkan makanan di pasar desa dahulu tidak semewah ini. Namun dia tidak langsung menyentuh apa pun.
Luo Mei memperhatikan sikap Huang lalu berkata pelan. "Makan saja."
"Terima kasih, Nona."
Baru setelah itu Huang mulai makan perlahan. Lei Shan langsung berbicara tanpa basa-basi.
"Sekarang jelaskan tentang Beruang Langkah itu."
Huang mengangguk pelan. "Saya melihatnya sekitar tiga puluh kilometer dari Kota Bifan. Di wilayah hutan batu sebelah utara."
Tatapan Luo Mei langsung berubah serius.
"Sedalam itu?"
Huang kembali mengangguk. "Saya hanya lewat dan singgah sebentar. Ada sebuah goa besar di sana. Ketika saya mendekat, saya merasakan tekanan yang sangat mengerikan dari dalam goa. Lalu saya melihat beruang biru itu."
Huang berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Tubuhnya sangat besar. Bahkan napasnya membuat batu di sekitar goa membeku tipis."
Lei Shan dan Luo Mei saling berpandangan. Tatapan mereka berubah jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
"Memang Beruang Langkah..." gumam Lei Shan.
Huang melanjutkan dengan nada tenang.
"Saya tidak berani mendekat. Saya langsung pergi setelah melihatnya. Itu bukan sesuatu yang mampu saya hadapi."
Jawaban itu justru membuat Luo Mei semakin percaya. Kalau Huang mengaku mampu melawan atau mendekati beruang itu, mereka justru akan curiga.
Lei Shan mengambil napas panjang.
"Kalau informasi ini benar, nilainya besar."
Huang diam sambil meminum teh hangat perlahan. Dia tahu sekarang waktunya berhati-hati. Orang bisa berubah tamak hanya dalam satu tarikan napas.
Luo Mei menyandarkan tubuhnya sedikit.
"Kau ingin apa sebagai bayaran?"
Huang tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir cukup lama hingga Lei Shan mulai tidak sabar.
"Cepat bicara."
Huang akhirnya mengangkat kepala. "Saya tidak punya tempat tinggal. Saya juga tidak punya batu roh. Saya hanya ingin tempat aman untuk tinggal sementara."
Lei Shan mengernyit. "Hanya itu?"
Huang menggeleng pelan. "Saya juga ingin tempat untuk meningkatkan kekuatan saya."
Kalimat itu membuat Luo Mei sedikit tertarik.
"Untuk meningkatkan kekuatan?"
Huang mengangguk. "Saya ingin menjadi lebih kuat."
Tatapannya tenang saat mengatakan itu. Namun di dasar matanya tersimpan sesuatu yang dingin dan suram. Luo Mei dapat melihatnya samar-samar. Seperti seseorang yang hidup hanya untuk satu tujuan.
Lei Shan tertawa pendek. "Bocah desa sepertimu ingin menjadi kuat?"
Huang tidak tersinggung. "Ayah saya pernah berkata, orang miskin tetap boleh punya keinginan dan impian."
Lei Shan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mendengus pelan.
Luo Mei mengetuk meja perlahan dengan jari putihnya.
"Kalau hanya tempat tinggal dan sedikit sumber daya, Sekte Yunwu mampu memberikannya. Tetapi kenapa kami harus membantumu lebih jauh?"
Huang menatap Luo Mei dengan tenang.
"Karena saya tahu lokasi tepatnya. Dan saya bisa memandu."
Lei Shan langsung menyipitkan mata. "Kau sedang bernegosiasi dengan kami?"
Huang buru-buru menangkupkan tangan.
"Saya tidak berani. Saya hanya ingin hidup lebih baik."
Jawabannya sopan, namun cukup jelas. Dia memang sedang memanfaatkan kesempatan ini.
Luo Mei justru tersenyum tipis untuk pertama kalinya. "Anak ini cukup cerdas."
Lei Shan tertawa kasar. "Hah! Setidaknya dia tidak sebodoh wajahnya."
Huang hanya tersenyum kecil mendengar itu.
Di dalam hati, dia tahu dirinya tidak punya pilihan lain. Dunia luar membutuhkan batu roh. Membutuhkan kekuatan. Membutuhkan tempat berlindung. Kalau dia hanya berjalan sendirian tanpa tujuan, mungkin sebelum menemukan pembunuh ayah ibunya, dia sudah lebih dulu mati di pinggir jalan.
Luo Mei kembali berbicara. "Kau bisa tinggal sementara di penginapan milik Sekte Yunwu. Kami juga bisa memberimu sedikit batu roh. Tetapi setelah itu, kau harus memandu kami menuju goa Beruang Langkah."
Huang mengangguk perlahan.
"Saya mengerti."
Lei Shan menatap Huang tajam. "Dan jangan coba-coba membawa kami ke jebakan."
Huang langsung menjawab dengan sopan.
"Saya tidak punya alasan mencari kematian sendiri, Tuan."
Suasana meja menjadi hening sesaat.
Di luar rumah makan, suara keramaian kota masih terdengar samar. Pedagang terus berteriak menawarkan barang. Langkah kaki manusia bercampur suara roda kereta di jalan batu.