NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: MEMORI DALAM GENANGAN MERAH

​Malam di mansion pegunungan itu selalu sunyi, namun bagi Adrian Diningrat Adhirdja, kesunyian adalah ruang gema bagi masa lalu yang paling berdarah. Di luar, angin menderu menyapu dahan-dahan pohon pinus, sementara di dalam kamar utama yang luas, Ian bergelut dalam tidurnya. Keringat dingin membasahi keningnya, dan napasnya memburu, terperangkap dalam labirin ingatan yang selalu ia kunci rapat di siang hari.

​Dalam mimpinya, semuanya berwarna putih pucat—seperti lorong apartemen Cansu bertahun-tahun yang lalu.

​Ian berlari, jantungnya berdegup seirama dengan ketakutan yang mencekik. Ia mendobrak pintu kamar mandi yang tak terkunci. Bau anyir besi seketika menyerang indra penciumannya. Di sana, di dalam bak mandi porselen yang elegan, air yang seharusnya bening telah berubah menjadi merah pekat—warna yang sama dengan gaun yang sering dipakai Cansu.

​Tubuh Cansu tenggelam hingga ke leher. Wajahnya yang rupawan tampak seputih salju, kontras dengan pergelangan tangan kanannya yang tersayat, membiarkan kehidupan mengalir keluar melalui luka yang menganga.

​"Cansu!" raungan Ian bergema dalam mimpi itu.

​Ia menarik tubuh dingin itu keluar dari air, memeluknya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menangis, memohon, dan berteriak agar mata indah itu terbuka kembali. Saat itu, Cansu perlahan membuka matanya, namun tatapannya kosong—hampa, seolah jiwanya sudah tertinggal di dasar air merah itu.

​“Kita sudahi saja, Adrian... Aku membencimu karena membawa aku kembali ke dunia ini.”

​"TIDAK!"

​Ian tersentak bangun. Ia terduduk di atas ranjang dengan napas yang terputus-putus. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Ia memegangi kepalanya, berusaha menghalau sisa-sisa penglihatan merah yang masih membekas di pelupuk matanya.

​Ia menatap tangannya di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden. Bersih. Tidak ada darah. Namun, rasa dingin dari air bak mandi itu seolah masih menempel di kulitnya.

​Ian turun dari tempat tidur, berjalan menuju jendela besar. Ia menyulut sebatang rokok, membiarkan asapnya memenuhi paru-paru untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Pikirannya kembali berputar pada pertanyaan yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun: Kenapa?

​Sejak hari itu, sejak ia menyelamatkan Cansu dari kematian yang ia pilih sendiri, Cansu berubah menjadi orang asing. Wanita itu meminta putus dengan kata-kata yang paling tajam, mencaci maki cinta mereka seolah itu adalah beban yang memuakkan. Dan hanya dalam hitungan bulan, ia kembali sebagai permaisuri ayahnya—Ibu Negara yang dingin dan penuh duri.

​“Kenapa kamu melakukan itu, Cansu? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan di balik wajah es itu?” gumam Ian pada kegelapan malam.

​Ian tidak pernah tahu bahwa di kediaman utama, Cansu sering kali menatap pergelangan tangan kanannya yang kini tertutup oleh gelang berlian lebar atau lengan kebaya yang panjang. Ian tidak tahu bahwa setiap sayatan itu adalah bentuk keputusasaan Cansu untuk melindunginya. Cansu tahu, jika ia tetap bersama Ian, ayahnya—Pradikta—akan menghancurkan Ian tanpa ampun. Baginya, menjadi mawar berduri yang dibenci Ian jauh lebih baik daripada melihat Ian hancur karenanya.

​Kebohongan adalah satu-satunya perisai yang bisa ia berikan untuk pria yang ia cintai.

​Ian mematikan rokoknya. Ia merasa butuh udara segar. Ia berjalan keluar kamar dengan langkah pelan agar tidak membangunkan seisi rumah. Namun, saat melewati lorong menuju dapur, ia melihat cahaya redup berasal dari ruang tengah.

​Rhea sedang duduk di sana, menyeduh segelas susu hangat di tengah kegelapan. Gadis itu menoleh saat mendengar langkah kaki Ian.

​"Ian? Kamu belum tidur?" tanya Rhea pelan. Ia menyadari wajah Ian yang tampak lebih pucat dari biasanya. "Kamu... habis mimpi buruk?"

​Ian berhenti sejenak, menatap Rhea yang terlihat sangat manusiawi dan hangat di tengah malam yang dingin ini. Kontras yang nyata dengan bayangan wanita di dalam bak mandi merah tadi.

​"Hanya insomnia biasa," jawab Ian singkat, berusaha mengembalikan topeng dinginnya.

​Rhea meletakkan gelasnya, lalu berjalan mendekati Ian. Dengan keberanian yang tidak terduga, ia menyentuh lengan Ian. "Tanganmu sangat dingin, Ian. Dan kamu gemetar."

​Ian menatap tangan Rhea yang mungil di lengannya. Ia ingin menarik diri, namun kehangatan dari sentuhan itu seolah menjadi jangkar yang menahannya agar tidak hanyut kembali ke memori masa lalu.

​"Rhea," suara Ian rendah, hampir seperti bisikan. "Menurutmu, apakah seseorang bisa menjadi jahat dalam sekejap berubah drastis seperti orang lain? ",

​Rhea terdiam sejenak, menatap mata Ian yang dipenuhi kabut misteri. "Sebagai calon dokter, aku diajarkan bahwa terkadang kita harus melakukan pembedahan yang menyakitkan untuk membuang tumor. Rasanya seperti kejahatan bagi pasien, tapi tujuannya adalah agar mereka bisa hidup. Tapi, Ian... luka yang tidak dibicarakan hanya akan membusuk dari dalam."

​Ian tersenyum pahit. Jawaban Rhea terlalu jujur untuk dunia politiknya yang penuh tipu daya. Ia melepaskan tangan Rhea dengan lembut.

​"Masuklah ke kamar. Besok kamu harus kuliah," ucap Ian, kembali menjadi sosok bos yang otoriter.

​Rhea mengangguk, namun sebelum pergi, ia berbalik. "Ian, jika suatu saat kamu merasa tenggelam dalam mimpimu... jangan lupa bahwa ada orang di rumah ini yang bisa membantumu bernapas."

​Ian terpaku di tempatnya saat Rhea menghilang di balik pintu kamarnya. Kata-kata Rhea seolah menyentuh bagian dari dirinya yang sudah lama mati.

​Sementara itu, di kamar pribadinya di istana negara, Cansu sedang duduk di balkon, menatap arah pegunungan tempat mansion Ian berada. Ia memegang sebuah botol obat tidur di tangannya. Matanya yang mengintimidasi di siang hari, kini hanya menyisakan sorot mata seorang wanita yang kelelahan.

​Ia teringat malam saat ia menyayat tangannya. Ia ingat wajah Ian yang hancur saat memeluknya. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia melakukan itu semua demi Ian, demi ibunya yang disandera ayahnya, demi keberlangsungan hidup mereka. Tapi ia tahu, kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli.

​"Maafkan aku, Adrian," bisik Cansu pada angin malam. "Biarkan aku menjadi mawar berduri dalam hidupmu, agar kamu punya alasan untuk terus membenciku dan tetap hidup kuat."

​Cansu menelan pil tidurnya, berharap malam ini ia tidak bermimpi tentang bak mandi itu. Namun, baik Ian maupun Cansu tidak tahu bahwa benang takdir mulai menarik Rhea masuk lebih dalam.

​Rhea, dengan rasa ingin tahu kedokterannya, mulai mencium adanya aroma luka yang disembunyikan di balik sikap dingin Cansu. Dan di istana ini, ketika seorang dokter mulai mencari tahu penyebab luka, sering kali ia justru menemukan bahwa racunnya berasal dari orang yang paling tidak disangka.

​Esok pagi, sebuah berita baru akan mengguncang istana. Pradikta Kusuma mulai bergerak untuk menjerat keluarga Diningrat lebih dalam, dan Ian harus memutuskan apakah ia akan terus mengejar bayang-bayang masa lalu bersama Cansu, atau mulai membangun benteng baru bersama gadis yang baru saja memberikan susu hangat di tengah malam.

​Permainan kekuasaan ini baru saja memasuki fase paling emosional, di mana hati yang paling keras pun mulai menunjukkan retakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!