Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Terciptanya Loophole Suplai
Bayangan cakar baja itu sudah menutupi pandangannya. Angin tajam dari ayunan maut sang monster menyapu poninya ke belakang.
Jaraknya tak masuk akal. Kurang dari sepuluh sentimeter.
Wan Chen sama sekali tidak memundurkan kakinya. Tangan kirinya masih melayang di udara, menembus panel biru transparan dari Sistem.
'Mati saja kau.'
Perintah mental itu terkirim secepat kilat.
Bukan senjata yang keluar dari ruang penyimpanannya. Antarmuka dimensi itu memuntahkan puluhan ton material rongsokan sekaligus. Bongkahan baja berkarat dan pilar batu tebing yang sengaja ia kumpulkan sejak dua hari lalu jatuh bebas dari atas ruang hampa.
Semuanya meluncur vertikal. Menghantam tepat ke dalam lubang menganga di dada Beruang Besi yang sudah hancur setengahnya.
Brak!
Suara tulang rusuk raksasa yang remuk terdengar seperti kayu kering diinjak sepatu lars.
Monster itu bahkan tidak sempat menyelesaikan ayunannya. Beban masif di titik paling fatal memutus seketika semua impuls saraf ke otaknya. Cakar mematikan itu terhenti satu sentimeter dari batang leher Wan Chen, lalu jatuh membentur lantai batu bersimbah genangan kental.
Bangkai raksasa itu ambruk sepenuhnya. Mati seketika.
Debu dan karat mengepul memenuhi udara gua yang lembap.
Wan Chen mengusap noda percikan merah di pipinya. Ia membuang napas panjang dari sela giginya.
"Beres," gumamnya pelan. Suaranya serak, kering.
Tidak ada perayaan kemenangan. Ia melangkahi cakar baja yang nyaris memenggal kepalanya itu begitu saja. Sepatu botnya menginjak lantai licin, berjalan menuju sudut tergelap gua tempat tumpukan fosil berserakan.
Di sana, di atas gunungan tulang belulang, sebuah tanaman kecil menyala.
Bunga Darah.
Kelopaknya merah pekat, berdenyut pelan seolah punya detak jantung sendiri. Pendaran energinya menepis hawa busuk di sekitarnya, menggantinya dengan aroma manis yang aneh.
Wan Chen berjongkok. Ia menatap benda itu dengan tatapan datar.
'Ini mainan yang bikin orang-orang elit tadi rela mengumpankan nyawa,' batinnya lelah. 'Barang bagus.'
Tanaman ini bukan sekadar obat. Benda ini mampu menyambung jaringan sel yang rusak total dan mendongkrak kapasitas fisik dasar secara permanen. Barang langka yang harganya bisa membiayai makan seluruh distrik pinggiran selama setahun penuh.
Tangan kanannya menjulur lambat. Jari-jarinya mencabut pangkal akar tanaman itu dari sela tengkorak hewan.
Hangat. Sentuhannya terasa seperti memegang nadi kehidupan yang murni.
Kini bagian tersulitnya.
Wan Chen menyandarkan punggungnya ke dinding batu yang dingin. Ia memejamkan mata sesaat. Otaknya bersiap menghadapi konsekuensi paling logis dari kemampuannya.
Menduplikasi benda organik dengan muatan energi masif akan menyedot habis parameter staminanya. Nol mutlak. Risiko terburuknya adalah henti jantung akibat syok sistem saraf.
'Jangan sampai aku mati konyol gara-gara kehabisan napas.'
Kemampuan bawaannya aktif secara pasif. Hard-Resilient.
Wan Chen mengunci paksa toleransi rasa sakit pada otaknya. Ia membekukan refleks penolakan tubuhnya sendiri. Memerintahkan jantungnya untuk tetap memompa meski tanpa bahan bakar yang cukup.
Perintah di layar retinanya dieksekusi.
"Duplikasi."
Panel biru terdistorsi hebat. Bunyi dengung statis menusuk gendang telinganya.
Sensasi paku tak kasatmata langsung menembus ubun-ubunnya. Paru-parunya terasa menyusut seukuran bola tenis. Pembuluh darah di leher dan lengannya menonjol, menghitam karena aliran oksigen diputus paksa oleh Sistem.
Darah segar merembes pelan dari sebelah lubang hidungnya.
Staminanya anjlok dalam satu tarikan napas. Ia kini berada di ambang batas kematian fisik.
Namun layar dimensi itu berhasil membelah cahaya. Satu kelopak Bunga Darah identik jatuh menimpa telapak tangannya.
Tubuh Wan Chen melorot ke lantai. Pandangannya menggelap, dipenuhi bercak putih yang menandakan otaknya mulai mati rasa.
Tangan kirinya yang gemetar parah meraup bunga salinan itu. Tanpa mengunyah, ia langsung menjejalkan benda merah bercahaya itu ke dalam mulutnya dan menelan paksa.
Sesuatu pecah di dasar perutnya.
Ledakan energi murni merambat secepat kilat melewati sumsum tulang punggungnya. Panas luar biasa membersihkan rasa sakit di kepalanya. Oksigen kembali membanjiri sel-sel darahnya secara brutal.
Parameter staminanya yang kosong melompong langsung terisi penuh hingga meluber.
Sensasi terbakar di dadanya lenyap seketika. Digantikan oleh tenaga mentah yang membuat otot-ototnya menegang kuat.
Wan Chen membuka matanya lebar-lebar. Ia menarik napas panjang. Sangat panjang.
Siklus duplikasi yang menyedot habis nyawa ditambal langsung oleh konsumsi produk yang sama. Parameter kelelahannya di-reset total tanpa jejak.
Loophole sistem itu bekerja sempurna.
Pria itu menatap tangannya sendiri. Mengepalkan jari-jarinya yang kini dipenuhi tenaga berlebih.
Tawanya keluar perlahan. Hanya senyum miring yang diiringi derik pelan di tenggorokan. Sangat sinis.
"Sistem rakus," ucapnya santai.
Ia kembali menatap Bunga Darah asli yang masih utuh di tangannya yang lain.
"Kalau begitu, mari kita peras pabrik ini sampai kering."
Panel antarmuka kembali terbuka lebar.
Tanpa ragu, Wan Chen mengaktifkan fungsi duplikasi berulang kali. Layar biru berkedip gila-gilaan.
Rasa sakit yang mencoba masuk langsung dihancurkan oleh sisa efek penyembuhan di tubuhnya. Satu bunga menjadi dua. Dua menjadi empat. Puluhan bunga merah bercahaya mulai menumpuk di atas lantai batu. Semuanya identik. Semuanya memancarkan energi yang sama berdenyutnya.
Ia memasukkan puluhan salinan itu ke dalam kotak inventaris dengan lambaian tangan malas. 'Bisa pensiun dini kalau kujual semua,' pikirnya acuh tak acuh.
Langkah kakinya kembali menghampiri bangkai Beruang Besi.
Pisaunya ditarik keluar. Bilah logam itu membelah pangkal leher monster dengan sangat mudah, dibantu oleh tenaga fisiknya yang sedang berada pada puncaknya. Ia merogoh masuk ke dalam daging hangat.
Sebuah kristal inti sebesar kepalan tangan ditarik keluar. Core tingkat tinggi.
Ia melempar batu berkilau itu ke udara dan menangkapnya langsung ke dalam penyimpanan dimensi.
Tidak berhenti di situ. Wan Chen merentangkan tangannya di atas bangkai gunung daging tersebut.
Satu lambaian ringan, dan seluruh tubuh monster itu tersedot masuk ke dalam ruang hampa Sistemnya.
Gua itu kini bersih. Hanya menyisakan genangan lumpur merah dan bau besi yang perlahan memudar.
Jika kelompok pion tadi berani kembali untuk memeriksa, mereka hanya akan menemukan ruang kosong. Kerja keras mereka menguras nyawa tidak meninggalkan ampas sedikit pun untuk dipungut.
'Sudah waktunya pulang. Tidur di kasur sungguhan sepertinya ide bagus hari ini.'
Wan Chen berbalik badan. Ia berjalan menelusuri lorong batu yang gelap, melangkah keluar menuju celah tebing tempat angin kering berhembus.
Hutan Besi menyambutnya dengan pemandangan monoton. Ranting tanpa daun. Langit abu-abu mati.
Namun ada yang berubah pada dirinya.
Efek pasif dari ekstrak Bunga Darah mulai mengoptimalkan panca indranya. Suara angin yang bergesekan dengan batu terdengar jauh lebih tajam. Bahkan suara retakan tanah di kejauhan tertangkap oleh saraf telinganya tanpa sengaja.
Langkahnya terhenti tepat di mulut tebing.
Kepalanya sedikit menoleh ke arah sisi kiri hutan mati tersebut.
Terdengar suara seretan kaki. Bukan hewan. Ritmenya kacau dan tergesa-gesa. Diikuti oleh embusan napas berat yang terdengar seperti peluit rusak akibat cairan kental di tenggorokan.
Seseorang berlari ke arahnya. Seseorang yang jelas-jelas sedang meregang nyawa dan kehabisan tempat untuk bersembunyi.
Wan Chen memiringkan kepalanya. Pandangan matanya tetap datar, namun rahangnya sedikit mengeras.
'Orang gila mana lagi yang bikin repot malam-malam begini?' keluhnya dalam hati.