“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Diagnosis Sementara dan Keangkuhan yang Kembali
Bau antiseptik yang menyengat langsung menyambut Narendra begitu ia menjejakkan kaki di lorong Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Medika Utama. Ia berdiri bersandar pada dinding, sementara tangannya bergerak kasar melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Kemeja putihnya tampak sedikit kusut—sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang CEO Artha Group yang biasanya selalu tampil sempurna tanpa cela.
Di dalam ruang rawat sementara, Alika masih terbaring belum sadarkan diri. Wajah istrinya yang biasa dipoles riasan natural nan elegan itu kini tampak pucat pasi, seperti pualam yang kehilangan nyawa. Bayangan saat tubuh ramping itu ambruk di ruang kerjanya satu jam yang lalu masih terekam jelas di ingatan Narendra. Sempat ada kepanikan yang nyaris meruntuhkan akal sehatnya, sebuah ketakutan irasional bahwa ia mungkin akan kehilangan wanita itu.
Suara pintu geser yang terbuka tiba-tiba membuyarkan lamunan Narendra. Seorang dokter muda dengan jas putih—dengan nametag bertuliskan dr. Raditya—melangkah keluar sambil membawa papan rekam medis.
Narendra segera menegakkan tubuhnya, kembali memasang rahang kaku dan ekspresi dominan yang menjadi ciri khasnya. "Bagaimana keadaan istri saya, Dokter? Kenapa dia bisa pingsan tiba-tiba seperti itu?"
Dokter Raditya menatap Narendra dengan tenang sembari menelusuri catatan di tangannya. "Bapak Narendra Pradipta? Istri Anda sudah melewati masa krisis awalnya. Tekanan darahnya memang sempat drop cukup drastis."
"Lalu? Apa penyebab pastinya?" kejar Narendra dengan nada suara yang menuntut.
"Berdasarkan pemeriksaan fisik dan tes darah screening awal, Ibu Alika mengalami kelelahan kronis dan anemia ringan. Selain itu, beliau sempat mengeluhkan rasa kaku dan nyeri di persendian sebelum pingsan, yang kemungkinan besar dipicu oleh stres tingkat tinggi," jelas Dokter Raditya dengan artikulasi yang hati-hati.
Mendengar penjelasan itu, bahu Narendra yang sedari tadi menegang perlahan mulai mengendur. Desir kepanikan di dadanya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa lega yang dengan cepat berubah menjadi kekesalan.
Kelelahan kronis? Anemia? Stres?
Narendra mengembuskan napas kasar. Ia mengusap wajahnya, merasa bodoh karena sempat merasa ketakutan setengah mati. Di kepalanya, diagnosis itu terdengar seperti alasan klise seorang wanita karier yang tidak pandai mengatur waktu.
"Hanya kelelahan dan stres?" ulang Narendra, kini dengan nada suara yang diwarnai kelegaan sekaligus nada meremehkan. "Tidak ada penyakit serius yang mengancam nyawa, kan?"
Raditya sedikit mengernyit mendengar intonasi pria di hadapannya. Sebagai dokter, instingnya mengatakan ada sesuatu yang lebih kompleks di balik hasil laboratorium Alika. "Untuk saat ini, memang tidak ada kondisi gawat darurat. Namun, laju endap darah Ibu Alika sedikit di atas batas normal. Saya sangat menyarankan agar beliau dijadwalkan untuk pemeriksaan autoimun dan tes darah lanjutan minggu depan untuk memastikan tidak ada—"
"Lakukan saja tes apa pun yang menurut Anda perlu nanti," potong Narendra tidak sabar sembari merapikan kembali jas yang sempat ia sampirkan di lengan. "Yang penting sekarang dia sudah sadar dan bisa pulang, kan? Istri saya itu manajer humas, wajar kalau dia stres. Dia hanya terlalu melebih-lebihkan kapasitas kerjanya."
Raditya menelan kembali teguran yang sudah berada di ujung lidahnya. "Beliau memang sudah sadar, tapi saya sarankan untuk dirawat inap setidaknya satu malam guna observasi—"
"Tidak perlu. Kalau hanya kelelahan, dia bisa istirahat di rumah," sahut Narendra mutlak, memotong ucapan sang dokter tanpa rasa bersalah. Pria itu kemudian melangkah melewati Dokter Raditya dan masuk ke dalam ruang rawat.
Di atas ranjang pesakitan, kelopak mata Alika perlahan terbuka. Pandangannya masih agak berkunang-kunang, namun rasa ngilu yang menusuk tulang-tulang di pergelangan tangannya terasa begitu nyata.
"Mas... Narendra..." bisik Alika lirih.
Narendra berdiri di samping ranjang sembari bersedekap. Bukannya membelai rambut atau menggenggam tangan Alika, ia justru menatap istrinya dengan pandangan dingin yang menghakimi.
"Kamu membuat kekacauan di kantor, Alika," tegur Narendra dengan suara pelan namun menusuk. "Dokter bilang kamu cuma kelelahan dan anemia. Kalau memang tidak sanggup mengurus beban kerja humas, berikan saja proyeknya pada bawahanmu. Jangan bersikap dramatis sampai harus pingsan di ruang kerja saya. Kamu tahu kan kalau sore ini ada meeting direksi yang harus saya batalkan karena kamu?"
Hati Alika mencelos. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seketika terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perih akibat ucapan suaminya. Ia baru saja pingsan dan tubuhnya terasa seolah diremukkan dari dalam, namun yang dikhawatirkan pria ini hanyalah reputasi dan jadwal pertemuannya.
"Ini bukan... sekadar lelah biasa, Mas. Seluruh sendiku sakit sekali..." Alika mencoba membela diri, matanya mulai berkaca-kaca.
Bzzzt.
Ponsel di saku jas Narendra bergetar. Pria itu menariknya keluar dan melirik layar. Ada notifikasi pesan dari salah satu partner kencannya malam ini—wanita yang seharusnya ia temui di sebuah bar eksklusif di daerah Senopati. Mengingat bahwa istrinya hanya kelelahan biasa, ego Narendra sebagai penguasa kembali mengambil alih. Aturan open marriage mereka memberinya tiket bebas, dan ia tidak merasa perlu membatalkan rencananya malam ini hanya untuk menunggui orang yang kurang tidur.
Narendra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu membenarkan letak jam tangan Rolex-nya dengan acuh tak acuh.
"Kamu hanya butuh istirahat, Alika. Berhentilah mencari-cari penyakit," ucap Narendra final. Ia kemudian menoleh ke arah pintu. "Saya akan menyuruh Murni datang ke sini untuk mengurus administrasimu. Saya ada urusan di luar malam ini. Murni yang akan mengantarmu pulang ke Menteng."
Alika menatap suaminya dengan pandangan kosong. "Kamu... mau pergi meninggalkanku di rumah sakit, Mas?"
Narendra tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat, berbalik, dan melangkah keluar dari ruangan tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Gema langkah sepatunya yang mahal terdengar semakin menjauh, meninggalkan Alika dalam keheningan yang menyiksa. Di bawah selimut rumah sakit yang tipis itu, Alika meremas seprai kuat-kuat untuk menahan air matanya. Ia tidak menyadari bahwa rasa ngilu di sendinya adalah belati pertama dari sebuah penyakit mematikan yang sedang bersiap menggerogoti hidupnya secara perlahan.