NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : BALIK TIDUR

Garis-garis putih dan hitam di sepanjang pembatas jalan kompleks RT 04 akhirnya tuntas dengan sempurna ketika jarum jam tangannya tepat menunjuk ke angka satu malam. Angin dini hari bertiup semakin dingin, menusuk pori-pori kulit para pemuda yang masih basah oleh keringat. Di sepanjang gang, bendera merah putih dan umbul-umbul kain tampak berkibar pelan, diterpa lampu merkuri yang temaram.

"Oke, bapak-bapak dan teman-teman semua! Berhubung jalanan sudah rapi, hiasan lampion dari rumah Bu RT juga sudah kepasang semua, kerja bakti malam ini kita cukupkan!" seru Aldi sambil meletakkan kaleng cat terakhir yang sudah kosong melompong ke dekat pos ronda.

Sorakan lega nan serak langsung terdengar dari sisa-sisa pasukan yang bertahan. Pak Dadang dan Pak Joko yang sudah mengantuk berat langsung pamit setelah menenggak sisa teh manis yang sudah dingin. Satu per satu warga mulai membubarkan diri, menyisakan Aldi, Kenan, dan Sendy yang masih sibuk mengumpulkan sisa-sisa bambu dan kuas ke sudut pos ronda.

"Sumpah, pinggang gue rasanya kayak mau copot, Al," keluh Sendy sambil meregangkan badannya hingga terdengar bunyi gemertak yang cukup nyaring. "Tapi untung makanan dari Kanjeng Ratu tadi mantap, jadi ada tenagalah buat nyelesaiin gang terakhir."

Kenan terkekeh sambil menepuk pundak Sendy. "Halah, lu mah semangatnya pas liat si Bedul dianterin Bu RT doang tadi. Cuci muka sana, muka lu udah penuh cipratan cat item gitu kayak macan tutul."

Setelah memastikan area pos ronda bersih dan aman, mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari area utama gang. Langkah kaki mereka terdengar malas di atas aspal yang baru saja mereka hias. Di persimpangan jalan menuju rumah masing-masing, Kenan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menepuk jidatnya sendiri, teringat sesuatu yang cukup krusial untuk esok hari.

"Eh, bentar, bentar. Oy, besok kita ada kelas jam 2 kan besok pagi?" tanya Kenan memastikan, matanya menatap Aldi dan Sendy bergantian.

Sendy langsung melotot kecil, menatap jam dinding digital di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 01.15. "Aduh, iya jancok! Gue lupa besok pagi ada kelasnya Pak Bambang yang hobi absen di menit pertama! Bisa mampus kalau kesiangan!"

Kenan mengangguk, lalu menunjuk ke arah jalan rumahnya. "Sip. Bareng kek biasa yak di rumah gue. Besok jam tujuh kurang seperempat kalian berdua udah harus stand by di depan pagar rumah gue. Jangan ada yang telat, terutama lu, Dul!"

Aldi yang masih agak melamun—pikirannya sekilas masih melayang mengingat debaran saat bahunya diremas lembut oleh Jasmine beberapa jam lalu—langsung tersentak. "Hah? Oh, iya, aman. Besok gue yang bangunin si Sendy lewat telepon kalau dia kebo. Gue balik duluan ya, udah lengket banget nih badan."

"Yoi, tiup lilinnya, Dul! Jangan mimpiin Bu RT lagi!" seloroh Sendy yang langsung dihadiahi tendangan angin dari Aldi sebelum mereka benar-benar berpisah ke arah rumah masing-masing.

Aldi berjalan pelan memasuki halaman rumahnya yang beralamat di komplek tersebut. Suasana di sekitar rumah sudah sangat sepi. Pagar besi sengaja tidak dikunci rapat oleh ayahnya, karena tahu anak sulungnya sedang memimpin kegiatan Karang Taruna di luar. Aldi membuka pintu depan dengan sangat hati-hati, memutar kunci selotnya perlahan agar tidak menimbulkan suara klik yang keras.

Begitu melangkah masuk, kondisi dalam rumahnya sudah gelap gulita. Hanya ada cahaya tipis dari lampu dapur dan lampu hias kecil di sudut ruang tengah. Di sofa ruang tamu, tampak sebuah selimut lipat yang sengaja disiapkan oleh bundanya. Aldi tersenyum tipis, tahu betul bahwa keluarganya selalu memberikan dukungan penuh pada kegiatannya, meskipun kadang lewat perhatian-perhatian kecil tanpa kata seperti ini.

Aldi melangkah mengendap-endap melewati kamar tidur orang tuanya yang tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara dengkur halus sang ayah yang tampaknya sudah kelelahan setelah seharian bekerja. Di sebelah kamar orang tuanya, pintu kamar adiknya, Mikha tampak sedikit terbuka. Aldi mengintip sebentar ke dalam. Bocah perempuan itu sudah tertidur pulas rupanya.

"Dasar bocah, tidurnya berantakan banget," bisik Aldi pelan dalam hati, lalu merapatkan kembali pintu kamar adiknya agar hawa dingin malam tidak menusuk ke dalam.

Aldi segera masuk ke kamarnya sendiri, meletakkan ponsel dan dompetnya di atas meja belajar yang penuh dengan tumpukan buku kuliah komunikasi studies. Bau minyak tanah dan cat aspal yang menempel di baju kaos hitamnya benar-benar membuatnya tidak nyaman. Tanpa membuang waktu, ia mengambil handuk dan langsung menyelinap ke kamar mandi belakang.

Begitu guyuran air dingin dari gayung menyentuh kepalanya, Aldi reflek menahan napas. Rasa kantuk dan lelah yang sempat menggelayuti matanya seketika menguap begitu saja digantikan oleh kesegaran yang menusuk tulang. Sambil menggosok badannya dengan sabun, pikiran Aldi kembali berputar pada kejadian di ruang tamu rumah Jasmine tadi. Semburat merah kembali muncul di pipinya saat ia mengingat dengan jelas bagaimana kaos putih ketat itu mencetak lekuk tubuh montok sang Bu RT dari jarak dekat.

"Aduh, astagfirullah, Aldi... fokus, besok kuliah pagi," gumamnya sambil mengguyur wajahnya berulang kali dengan air bersih, berusaha menghapus bayangan sensual yang terus menari-nari di kepalanya.

Selesai mandi, Aldi kembali ke kamar dengan hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaos dalam putih. Ia merebahkan tubuh bongsornya di atas kasur busa yang terasa sangat empuk malam ini. Sebelum memejamkan mata, ia meraih ponselnya dan menyetel alarm bervolume keras pada pukul 05.30 pagi, memastikan dirinya memiliki cukup waktu untuk bersiap-siap sebelum berkumpul di rumah Kenan sesuai janji mereka tadi.

Hanya dalam hitungan menit, desau napas Aldi mulai teratur. Ketua Karang Taruna yang baru saja melewati hari penuh lika-liku—mulai dari rapat yang alot, godaan janda muda di ruang tamu, hingga mengecat jalanan sampai dini hari—akhirnya terlelap dengan nyenyak, siap menghadapi rutinitas baru sebagai mahasiswa di esok pagi.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!