Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dia mandi dengan cepat untuk membersihkan tubuhnya dari bau lumpur danau yang menempel.
Setelah segar, Arga duduk di pinggir kasur dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Haris Kusuma.
Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menagih utang budi dari konglomerat properti tersebut.
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya panggilan itu dijawab dari seberang.
"Halo Arga, tumben kamu menelepon saya selarut ini," sapa Haris Kusuma dengan suara yang terdengar cukup rileks.
"Maaf mengganggu waktu istirahatnya Pak Haris, saya cuma mau ngobrol bisnis sebentar aja," jawab Arga dengan nada santai.
"Tidak masalah Arga, kebetulan saya juga masih membaca beberapa laporan keuangan di ruang kerja," balas Haris.
"Jadi bantuan seperti apa yang bisa saya berikan untuk membalas kebaikan kamu kemarin?" tanya Haris langsung ke inti.
"Saya baru aja selesai ngurus izin perusahaan buat buka toko barang antik dan seni di Jakarta," jelas Arga membuka topik.
"Saya butuh rekomendasi lokasi ruko strategis dari perusahaan Bapak yang cocok buat target pasar orang kaya."
Haris terdiam sejenak seperti sedang memikirkan portofolio properti kosong yang dimiliki oleh perusahaannya.
"Kebetulan perusahaan saya baru selesai merenovasi sebuah kompleks ruko premium di kawasan Menteng," tawar Haris dengan antusias.
"Kawasan itu sangat eksklusif dan mayoritas penghuninya adalah kolektor seni serta pejabat tinggi negara."
"Berapa harga sewa tahunannya buat satu unit ruko di sana Pak Haris?" tanya Arga mulai menghitung anggaran.
"Untuk kamu Arga, saya akan memberikan satu unit ruko tiga lantai secara gratis sebagai tanda terima kasih saya," jawab Haris tegas.
"Sertifikat hak miliknya akan langsung saya balik nama ke atas nama kamu besok pagi."
Arga sangat terkejut mendengar tawaran tidak masuk akal dari pengusaha besar tersebut.
Harga satu unit ruko tiga lantai di kawasan Menteng pasti menyentuh angka puluhan miliar rupiah.
"Tunggu dulu Pak, Saya gak minta diberi ruko gratis loh, saya cuma minta dicarikan lokasi sewa," tolak Arga merasa tawaran itu terlalu berlebihan.
"Saya punya modal buat bayar sewa tahunannya kok."
Haris tertawa pelan mendengar kepanikan di nada suara Arga.
"Arga, nilai koper dokumen yang kamu selamatkan itu mencapai triliunan rupiah dan menyangkut nasib ribuan karyawan saya," jelas Haris serius.
"Memberikan satu ruko seharga dua puluh miliar itu sama sekali tidak ada artinya dibandingkan jasa kamu."
"Anggap saja ini sebagai bentuk investasi saya kepada pemuda berbakat seperti kamu," tambah Haris meyakinkan.
Arga menghela napas panjang karena dia tahu menolak niat baik orang kaya kadang justru bisa menyinggung perasaan mereka.
Apalagi kepemilikan ruko ini akan sangat membantu stabilitas keuangan perusahaannya di masa depan.
"Kalau Bapak memang maksa, saya terima tawarannya Pak Haris," ucap Arga akhirnya mengalah.
"Terima kasih banyak atas bantuan besarnya hari ini."
"Sama-sama Arga, besok jam sepuluh pagi asisten saya akan menjemput kamu untuk melihat lokasi ruko dan tanda tangan serah terima," tutup Haris.
Panggilan telepon itu berakhir dan Arga menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk.
Dalam waktu kurang dari seminggu dia berubah dari nelayan miskin menjadi pemilik perusahaan dan ruko puluhan miliar di Menteng.
Semua ini terjadi berkat keajaiban Sistem Mancing Mania Mantap yang bersarang di tubuhnya.
Arga membuka kembali layar sistem untuk mengecek status poin dan kemampuannya saat ini.
Poin Sistemnya kini menyentuh angka seribu lima ratus empat puluh poin berkat hadiah misi tadi.
Dia membuka Toko Sistem Gaib dan mulai mencari barang keamanan untuk melindungi ruko barunya nanti.
Matanya tertuju pada sebuah barang bernama Jimat Pelindung Ruangan Tingkat Menengah.
Barang gaib itu dibanderol dengan harga delapan ratus poin sistem.
Deskripsi barang itu menyebutkan bahwa jimat tersebut bisa mencegah niat jahat pencuri dan meredam aura negatif dari barang antik kutukan.
"Sistem, gue beli Jimat Pelindung Ruangan ini satu," perintah Arga setelah membaca rinciannya.
"Transaksi berhasil, delapan ratus poin telah dipotong dan barang masuk ke dalam inventaris," konfirmasi sistem.
Arga merasa jauh lebih tenang sekarang karena dia sudah punya persiapan lengkap untuk merintis kerajaan bisnisnya.
Dia mematikan lampu kamarnya dan merebahkan diri di atas kasur dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
Besok akan menjadi hari yang sangat sibuk karena dia harus meninjau ruko barunya dan mulai merencanakan dekorasi toko.
Dia juga harus mencari balai lelang terpercaya untuk mengubah Guci Dinasti Song Utara itu menjadi uang tunai segar.
Masa lalunya yang kelam dan menyedihkan di Muara Angke kini benar-benar sudah terkubur dalam-dalam.