NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Aroma manis dari teh pesanan mereka perlahan menguap di udara, namun kehangatan itu sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer membeku di meja sudut tersebut. Di ujung meja, Liam baru saja kembali dari area dapur belakang setelah memastikan Donald si bebek besar dikunci rapat di kandangnya. Pria itu berjalan santai mendekat, kedua tangannya membawa nampan kayu kecil berisi dua cangkir terakhir satu gelas tinggi Black Orchid Coffee yang hitam pekat dan mengepulkan uap pahit, serta secangkir porselen putih berisi Chamomile Milkyway hangat dengan taburan kuncup bunga manis di atas busa susunya.

"Ini menu khusus untuk Mas Kapten, kopi hitam dengan ekstraksi kelopak anggrek hitam terlarang," ucap Liam dengan nada suara yang sengaja dibuat dramatis namun tetap terdengar sangat halus dan kasual. Dia meletakkan gelas kopi tersebut tepat di hadapan Axel dengan ketukan perlahan. Liam kemudian bergeser setengah langkah, membungkuk sedikit untuk menyodorkan cangkir porselen putih dekat tangan Jasmine. "Kalau yang ini, ramuan penenang jiwa khusus untuk Jasmine. Diminum selagi hangat, ya."

Jasmine mematung, meremas ujung kardigan rajut kremnya dengan canggung saat merasakan tatapan lembut dari Liam. "Makasih, Kak Liam," cicit Jasmine pelan, buru-buru meraih gagang cangkir untuk menyembunyikan wajahnya yang kembali merona merah.

Axel tidak langsung menyentuh gelas kopinya. Matanya yang tajam dan sedingin es kutub utara bergerak lambat dari cangkir Jasmine, lalu naik menatap lurus ke dalam netra mata Liam yang berdiri tegak di samping meja. Sebagai kapten yang terbiasa membaca pergerakan musuh di dalam game taktis PC, Axel memiliki insting yang luar biasa sensitif terhadap ancaman, dan siang ini semua sensor di kepalanya berteriak keras bahwa pria jangkung berkemeja putih di depannya ini bukan sekadar tetangga ramah biasa. Ada motif lain di balik sikap super perhatian dan tatapan peka yang terus-menerus diarahkan Liam kepada penembak andalannya tersebut.

"Mas ini sepertinya punya banyak waktu luang untuk mengurusi satu pelanggan di hari pembukaan kafe yang sibuk ini yah" cetus Axel dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan penuh dengan sindiran tajam. Kalimat yang diucapkannya sama sekali tidak terdengar seperti rasa hormat, melainkan sebuah garis pembatas tegas untuk mengingatkan jarak usia di antara mereka.

Liam tidak kelihatan terusik sedikit pun oleh sindiran ketus dari cowok itu. Dia justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku apron kanvas hitamnya, membalas tatapan mengintimidasi Axel dengan seulas senyuman miring yang luar biasa tenang dan santai. Kematangan emosionalnya sebagai seorang lulusan psikologi membuat Liam tahu persis kalau Axel sedang mengaktifkan mode protektif akibat rasa cemburu yang membakar egonya.

"Ah, bagi saya, semua pelanggan itu penting, Mas Kapten. Tapi tentu saja, tetangga terdekat yang rumahnya tepat berhadapan di seberang aspal jalan danau seperti Jasmine punya tempat sedikit lebih istimewa. Saya harus memastikan dia merasa nyaman di lingkungan baru ini," balasnya dengan intonasi suara yang sangat stabil, halus, namun mengandung penekanan kata 'tetangga terdekat' yang seolah sengaja membalas serangan Axel.

Mendengar kalimat tantangan yang implisit itu, rahang Axel tampak mengetat dengan keras. Dia meraih gelas Black Orchid Coffeenya, lalu meminum cairan hitam pekat itu dalam sekali tegukan besar tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Liam. Rasa pahit yang membakar lidahnya seolah menjadi bahan bakar baru bagi emosinya yang mulai menyala.

Bryan yang melihat itu, yang dasarnya tidak memiliki sensor situasi canggung mendadak mencondongkan badannya ke depan dengan mata membelalak heboh. "Woi, Ilias, Kenzie! Lo berdua ngerasa gak sih? Ini hawanya mendadak kayak lagi nonton babak final grand championship dunia virtual!" bisik Bryan dengan volume suara yang sebenarnya masih sangat jelas menggema di sudut itu. "Gila, percikan apinya kelihatan nyata banget! Gue berasa lagi duduk di antara dua karakter bos besar yang mau ngeluarin skill ulti!"

"Bryan, bisa diam atau mulut lo gue sumpel pakai ampas teh sekarang?" desis Kenzie dengan nada tertahan, melotot tajam ke arah Bryan demi menjaga nama baik tim mereka sebagai sekumpulan gentleman terhormat di tempat umum. Sementara Ilias hanya bisa menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak pening melihat dinamika persaingan dua cowok tampan ini.

Liam hanya terkekeh renyah mendengar celetukan random Bryan, meruntuhkan ketegangan berat yang sempat dibangun Axel sebelumnya. Dia menegakkan tubuhnya, melirik sekilas ke arah Jasmine yang pura-pura sibuk mengaduk teh chamomilenya dengan sendok kecil sampai bunyinya berdentang berkali-kali. "Ya sudah, silakan dinikmati minumannya ya semuanya. Kalau butuh tambahan atau seblak mawar eksperimen, panggil saya aja," ucap Liam jenaka sebelum akhirnya berbalik menuju ke meja barista utama.

Begitu punggung Liam menjauh, Axel langsung menoleh ke arah Jasmine, menatap gadis itu dengan pandangan yang sangat intens dan menuntut penjelasan. "Jasmine, setelah acara ini selesai, kita langsung pulang ke rumah kamu. Ada beberapa taktik rotasi map untuk turnamen London yang harus kita evaluasi ulang bersama tim. Aku gak mau fokus kamu terbagi untuk hal-hal yang gak penting di luar game," ucap Axel mutlak, suaranya sedingin es yang mengunci pergerakan Jasmine seutuhnya.

Jasmine hanya bisa menunduk dalam-dalam, mengangguk pelan tanpa berani membantah, sementara sisa kehangatan dari cangkir teh di genggamannya mendadak terasa berganti dengan debaran kecemasan yang semakin memuncak di dalam dadanya.

---

Suasana di meja itu kembali hening selama beberapa saat. Axel menyesap sisa minuman hitamnya dengan gerakan yang kaku, sementara matanya sesekali masih melirik tajam ke arah konter barista di mana Liam sedang melayani pelanggan lain dengan senyum ramah. Di sisi lain Bryan tampaknya mulai menyadari bahwa candaannya tadi hampir saja memicu perang dunia ketiga. Dengan kikuk, ia berdehem pelan dan mencoba mengalihkan perhatian.

"Eh, tapi beneran deh, Jasmine," bisik Bryan, kali ini dengan nada yang jauh lebih pelan seolah takut memancing amarah Axel lagi. "Teh pilihan kamu ini aromanya enak banget. Wangi chamomilenya sampai ke seberang meja sini. Kayaknya kalo aku minum ini sebelum tanding, akurasi tembakan aku di game bisa naik seratus persen karena saking tenangnya."

"Kalo lo mau tenang, Bryan, kuncinya itu latihan konsistensi, bukan cuma mengandalkan teh bunga," sahut Kenzie sambil tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana yang kaku. "Tapi aku setuju sama Bryan, Jasmine. Aroma minuman kamu ini memang sangat menenangkan. Pilihan pemilik kafe ini gak salah."

"Iya, Kak. Ini memang enak," jawab Jasmine pendek. Ia mencoba memaksakan sebuah senyuman tipis agar para abangnya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ucapan Liam tentang 'tetangga terdekat yang istimewa' masih terus terngiang-ngiang. Ada bagian dari dirinya yang merasa sebal karena Liam begitu blak-blakan menjahilinya di depan anak-anak tim, tapi ada juga bagian lain yang merasa aneh karena perhatian kasual dari Liam terasa begitu tulus, seolah pria itu tahu bahwa Jasmine sedang memikul beban ekspektasi yang besar menjelang turnamen di London.

Ilias yang sejak tadi diam memperhatikan gerak-gerik Jasmine akhirnya meletakkan cangkir tehnya sendiri. Sebagai abang yang paling bijaksana, ia bisa melihat ada riak kebingungan di dalam mata adik bungsunya itu. Ia menatap Axel sebentar, lalu kembali menatap Jasmine dengan tatapan hangat yang menenangkan. "Ya udah, karena minuman kita semua udah habis, lebih baik kita segera kembali ke rumah Jasmine seperti kata Kak Axel tadi. Kita masih punya banyak PR taktik yang harus diselesaikan sebelum matahari tenggelam."

"Betul kata Ilias. Ayo kita beresin ini terus langsung siap-siap," tambah Kenzie sambil berdiri lebih dulu dengan sopan.

Axel ikut berdiri, lalu tangannya bergerak mengambil alih tas kecil milik Jasmine yang tergeletak di atas meja, membawakannya tanpa sepatah kata pun. Sikap protektif yang tegas namun penuh perhatian terselubung itu, membuat Jasmine hanya bisa menghela napas pasrah. Mereka berlima pun berjalan beriringan meninggalkan meja sudut tersebut, bersiap menghadapi sisa hari yang tampaknya akan dipenuhi oleh ketegangan taktik di dalam rumah asri Jasmine.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!