NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERTAS NIKAH YANG TERKOYAK.

“Apa yang harus aku lakukan, Diah?”

Suara itu pecah di tengah keheningan ruang tamu yang pengap. Ferdi tidak menatap mata Ardiah. Pandangannya tertuju pada lantai keramik dingin, seolah-olah di sana terdapat jawaban atas semua kekacauan yang telah menghancurkan rumah tangga mereka selama lima tahun terakhir.

Ardiah duduk tegak di sofa tunggal, kedua tangannya saling mencengkeram erat di atas pangkuan. Kuku-kukunya yang pendek menekan kulit telapak tangan hingga meninggalkan bekas putih pucat. Ia bisa merasakan detak jantungnya berpacu kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa sakit yang sudah terlalu lama dipendam kini akhirnya menuntut untuk dilepaskan.

Di seberang sana, Ferdi terlihat hancur. Kemeja kerjanya kusut, rambutnya acak-acakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan betapa sedikitnya ia tidur dalam seminggu terakhir. Ibunya baru saja menelepon, lagi-lagi. Suara wanita tua itu masih bergema di kepala Ardiah, tajam dan menusuk seperti jarum. Mandul. Aib. Penghalang keturunan. Kata-kata itu sudah menjadi mantra harian yang mengikis harga diri Ardiah sedikit demi sedikit.

“Kamu tahu jawabannya, Mas,” ucap Ardiah. Suaranya datar, namun getar halus di ujung kalimatnya betray ketegangan yang ia tahan.

Ferdi mengangkat wajah. Matanya merah. Ada air mata yang menahan jatuh, membuat pria itu terlihat jauh lebih muda dari usianya yang tiga puluh dua tahun. “Aku tidak bisa. Aku masih mencintaimu, Diah. Kamu tahu itu.”

“Cinta tidak cukup untuk membungkam ibumu,” balas Ardiah cepat. Ia berdiri, berjalan mendekati meja kopi tempat secangkir teh dingin yang tidak tersentuh berada. “Lima tahun, Mas. Lima tahun kita diperiksa dokter spesialis. Lima tahun kita minum obat tradisional yang rasanya seperti lumpur. Lima tahun kita berharap setiap bulan, dan lima tahun kita kecewa setiap bulan. Apakah itu belum cukup bukti bagi mereka bahwa aku tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan?”

Ferdi menggeleng kuat-kuat. Tangannya gemetar saat ia meraih gelas air di depannya, namun ia tidak jadi meminumnya. “Aku sudah mencoba membelamu. Aku sudah bilang pada Ayah dan Ibu bahwa ini bukan kesalahan satu pihak. Kita sudah cek bersama. Hasilnya normal. Tapi mereka... mereka tidak mau mendengar fakta medis. Mereka hanya ingin cucu.”

“Dan kamu lelah,” potong Ardiah. Kalimat itu keluar begitu saja, tegas dan final.

Ferdi terdiam. Bahunya merosot. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu suara isak tangis yang tertahan lolos dari sela-sela jarinya. Itu adalah suara yang paling menyakitkan bagi Ardiah. Bukan karena Ferdi menangis, tapi karena Ardiah tahu bahwa air mata suaminya bukan hanya tentang kesedihan, melainkan tentang kekalahan. Ferdi telah kalah melawan ekspektasi keluarganya. Dan sebagai istri, Ardiah merasa telah gagal melindungi kebahagiaan suaminya.

Ardiah menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa berat. Ia ingat janji pernikahannya. Sakit dan senang, miskin dan kaya. Namun tidak ada janji yang menyebutkan tentang harus bertahan saat cinta dihancurkan oleh tuntutan darah dan tradisi. Ia mencintai Ferdi. Sangat. Tapi cinta yang disertai rasa bersalah setiap hari adalah racun yang perlahan membunuh jiwa.

“Diah...” Ferdi menurunkan tangannya. Wajahnya basah. “Jangan minta aku memilih. Tolong.”

“Aku tidak meminta kamu memilih antara aku dan mereka,” kata Ardiah lembut, meski hatinya remuk redam. Ia melangkah mendekati Ferdi, berjongkok di hadapan suaminya agar mereka sejajar. Ia mengusap pipi Ferdi dengan ibu jarinya, menghapus air mata yang masih mengalir. Sentuhan itu akrab, hangat, dan penuh kenangan. “Aku meminta kamu memilih kebahagiaanmu. Jika menikah lagi dengan wanita lain adalah syarat ibumu agar kamu bisa hidup tenang, maka lakukanlah.”

Wajah Ferdi memucat. “Apa... apa maksudmu?”

“Cerai aku, Fer,” bisik Ardiah. Kata-kata itu terasa seperti kaca yang pecah di tenggorokannya. Tajam. Berdarah. “Berikan aku kebebasan. Biarkan aku pergi sehingga kamu bisa memenuhi keinginan orang tuamu tanpa harus merasa bersalah padaku setiap detik. Biarkan aku pergi sehingga kamu bisa berhenti terjepit di tengah-tengah.”

“Tidak!” Ferdi menggenggam bahu Ardiah kuat-kuat. “Aku tidak akan menceraikanmu! Aku tidak mau kehilangan kamu!”

“Kamu sudah kehilangan aku, Ferdi,” sahut Ardiah, suaranya mulai retak. Air mata akhirnya tumpah juga, membasahi pipinya yang pucat. “Kamu kehilangan aku sejak hari pertama ibumu menyebutku mandul di depan keluarga besar. Kamu kehilangan aku setiap kali kamu diam saat mereka menghina Aku. Sekarang, sisa yang kamu miliki hanyalah kertas nikah yang tidak berarti apa-apa jika hatimu sudah terkoyak.”

Ferdi melepaskan genggamannya, seolah-olah tangan Ardiah tiba-tiba menjadi panas membakar. Ia mundur, menabrak sandaran sofa. Napasnya tersengal-sengal. Ia melihat Ardiah dengan tatapan kosong, seolah-olah baru pertama kali melihat wanita yang telah menjadi istrinya selama lima tahun itu.

“Kamu serius?” tanya Ferdi pelan. Suaranya serak.

Ardiah mengangguk. Satu kali. Tegas. “Saya serius. Saya ingin kamu bahagia, Ferdi. Bahkan jika kebahagiaannya tidak termasuk saya di dalamnya.”

Ruangan itu kembali hening. Hanya suara jam dinding yang berdetak keras, menghitung mundur sisa-sisa pernikahan mereka. Detik. Demi detik. Waktu seolah berhenti, namun keputusan itu sudah menggantung di udara, tak terhindarkan.

Ferdi menunduk lagi. Bahunya berguncang hebat. Ia menangis, bukan lagi dengan isak tertahan, melainkan dengan raungan putus asa yang memilukan. Suara itu memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding yang pernah menyaksikan tawa mereka, kini menjadi saksi perpisahan mereka.

Ardiah tidak bergerak. Ia membiarkan Ferdi mengeluarkan semua sakitnya. Ia sendiri merasa hampa. Rasanya seperti ada lubang besar di dada, tempat di mana hati seharusnya berada. Ia ingin berlari, ingin meneriakkan ketidakadilan dunia, namun kakinya terpaku. Ia tahu ini adalah jalan satu-satunya. Jalan keluar dari neraka yang disebut "rumah tangga sempurna" di mata orang lain, namun neraka bagi mereka berdua.

Setelah beberapa menit, tangisan Ferdi mereda menjadi sedu sedan. Ia mengangkat wajah, matanya bengkak dan merah padam. Ia melihat Ardiah dengan pandangan yang berbeda. Bukan lagi sebagai suami yang melindungi, melainkan sebagai pria yang pasrah.

“Jika... jika ini memang keinginanmu,” kata Ferdi lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Aku akan menghormatinya. Tapi ketahuilah, Diah, aku melakukan ini bukan karena aku berhenti mencintaimu. Aku melakukan ini karena aku tidak punya kekuatan lain.”

Ardiah tersenyum tipis, senyuman yang paling pahit dalam hidupnya. “Aku tahu, Fer. Aku tahu.”

Ia berbalik, berjalan menuju kamar tidur mereka untuk mengambil dokumen-dokumen penting. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah gravitasi bumi meningkat sepuluh kali lipat. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, tidak menoleh ke belakang. Ia tidak sanggup melihat Ferdi lagi. Jika ia menoleh, ia mungkin akan berubah pikiran. Dan itu akan menjadi bencana yang lebih besar.

“Besok pagi,” kata Ardiah tanpa menoleh. “Kita urus administrasinya.”

Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik pelan. Di ruang tamu, Ferdi duduk sendirian dalam kegelapan yang mulai menyelimuti sore itu. Ia memegang kepala, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan separuh jiwanya, demi kedamaian semu yang ditawarkan oleh darah dagingnya sendiri.

Di balik pintu kamar, Ardiah bersandar pada kayu pintu, meluncur turun hingga duduk di lantai. Ia memeluk lututnya, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia membiarkan dirinya hancur sepenuhnya. Tidak ada lagi topeng istri sabar. Tidak ada lagi usaha untuk menyenangkan mertua. Hanya ada Ardiah, seorang wanita yang patah, namun di dalam kegelapan itu, benih kecil untuk bangkit mulai tumbuh.

1
Pujiastuti
semangat Haikal semoga kamu bisa meluluhkan hati Ardiah dan kalian cepat bersama lagi
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!