NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Malam Pertama yang Canggung

Tepuk tangan para tamu masih terdengar memenuhi aula resepsi ketika Luna dan Alex berdiri berdampingan di atas panggung.

Senyum terus terpasang di wajah mereka.

Setidaknya di depan para tamu.

Namun di balik senyum itu, keduanya sama-sama merasa asing.

Mereka baru resmi menjadi suami istri beberapa jam yang lalu.

Dan hingga sekarang, Luna masih sulit mempercayai kenyataan tersebut.

"Sedikit ke kiri, Pak Alex."

Suara fotografer terdengar.

Alex mengikuti arahan tanpa protes.

Luna ikut menyesuaikan posisinya.

Kilatan kamera terus menyala silih berganti.

Para tamu bergantian naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat.

"Selamat ya."

"Semoga langgeng."

"Semoga cepat punya anak."

Luna hanya tersenyum mendengar berbagai ucapan itu.

Jika saja mereka tahu bagaimana pernikahan ini sebenarnya terjadi.

---

Di salah satu meja VIP, Ryan, Yesa, dan Raka sedang memperhatikan pasangan pengantin tersebut.

"Aku masih belum terbiasa melihat Alex menikah."

Ryan menyeruput minumannya.

Yesa mengangguk setuju.

"Apalagi dengan wanita yang baru dikenalnya hari ini."

Raka tertawa kecil.

"Kalian kira Alex senang?"

"Tidak."

"Makanya aku heran dia mau lanjut."

Ryan mengalihkan pandangannya ke arah Alex.

Selama bertahun-tahun mereka berteman, Alex selalu menjadi orang yang paling sulit ditebak.

Pria itu jarang menunjukkan emosi.

Jarang mengeluh.

Dan hampir tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya.

Namun Ryan tahu satu hal.

Alex tidak pernah menyukai sesuatu yang dipaksakan.

Karena itulah ia cukup terkejut ketika sahabatnya itu akhirnya menerima keputusan sang kakek.

"Mungkin dia memikirkan keluarganya."

Yesa mengangguk pelan.

"Mungkin juga dia melihat sesuatu dari Luna."

Raka langsung tertawa.

"Baru beberapa jam."

"Siapa tahu."

Ketiganya kembali memperhatikan pasangan pengantin di atas panggung.

Sementara itu, Luna sedang berusaha bertahan menghadapi rasa lelah yang mulai menyerang.

Hari ini terlalu panjang.

Terlalu melelahkan.

Dan terlalu mengejutkan.

---

Menjelang malam, acara resepsi akhirnya selesai.

Para tamu mulai pulang satu per satu.

Luna mengembuskan napas lega.

Kakinya terasa pegal karena berdiri berjam-jam.

Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama.

Karena ia baru teringat satu hal.

Malam ini.

Ia harus pulang bersama Alex.

Ke rumah keluarga Dimitri.

Sebagai istrinya.

Perutnya langsung terasa tidak nyaman.

"Lelah?"

Suara Alex tiba-tiba terdengar di sampingnya.

Luna menoleh.

Sedari tadi mereka hampir tidak berbicara.

"Sedikit."

"Hanya sedikit?"

Luna tersenyum tipis.

"Sangat lelah."

Untuk pertama kalinya hari itu, Alex terlihat sedikit lebih santai.

"Bagus."

Luna mengernyit.

"Bagus?"

"Kalau lelah biasanya lebih mudah tidur."

Luna langsung memahami maksudnya.

Wajahnya memanas seketika.

Alex tampaknya menyadari kesalahpahaman itu.

"Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Kalau begitu maksudnya apa?"

"Kita sama-sama lelah. Tidak perlu memikirkan hal lain malam ini."

Luna tidak tahu kenapa, tetapi kalimat itu justru membuatnya sedikit tenang.

---

Perjalanan menuju kediaman keluarga Dimitri berlangsung hampir empat puluh menit.

Sepanjang jalan suasana mobil sangat sunyi.

Luna duduk di dekat jendela.

Sedangkan Alex sibuk membaca sesuatu di tabletnya.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada usaha untuk mencairkan suasana.

Sampai akhirnya mobil memasuki gerbang besar sebuah mansion megah.

Mata Luna langsung membesar.

Rumah itu lebih mirip hotel mewah daripada rumah pribadi.

Lampu-lampu taman menyala indah.

Air mancur besar berdiri di tengah halaman.

Dan bangunan tiga lantai itu terlihat begitu megah.

"Ini rumahmu?"

Alex mengangguk.

"Rumah kita."

Entah kenapa kalimat itu membuat Luna terdiam.

Rumah kita.

Kata-kata yang sederhana.

Namun terasa begitu asing.

---

Sesampainya di dalam rumah, beberapa pelayan langsung menyambut mereka.

"Selamat datang, Tuan Muda."

"Selamat datang, Nyonya Muda."

Luna hampir tersedak mendengar panggilan itu.

Nyonya muda?

Ia bahkan belum terbiasa dipanggil istri.

Alex seolah sudah terbiasa dengan semuanya.

"Makan malam sudah disiapkan?" tanyanya.

"Sudah, Tuan."

Alex menoleh ke arah Luna.

"Mau makan dulu?"

Sebenarnya Luna tidak lapar.

Namun ia tahu jika menolak akan terasa canggung.

"Baik."

Mereka akhirnya menuju ruang makan.

Meja panjang sudah dipenuhi berbagai hidangan.

Namun suasananya tetap terasa sepi.

Luna mengambil sedikit makanan.

Sedangkan Alex makan dengan tenang.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Sampai akhirnya Luna memberanikan diri.

"Terima kasih."

Alex mengangkat kepala.

"Untuk apa?"

"Karena tidak membuat semuanya semakin sulit."

Alex terdiam sesaat.

Kemudian meletakkan sendoknya.

"Aku juga bisa mengatakan hal yang sama."

Luna bingung.

"Maksudnya?"

"Kamu tidak harus menerima pernikahan ini."

Kalimat itu membuat Luna tersenyum pahit.

"Kamu juga tidak harus menerimanya."

Mereka saling memandang.

Untuk pertama kalinya.

Keduanya menyadari bahwa mereka memiliki perasaan yang sama.

Sama-sama dipaksa keadaan.

Sama-sama kehilangan pilihan.

Dan sama-sama sedang mencoba bertahan.

---

Malam semakin larut.

Seorang pelayan mengantar Luna menuju kamar utama.

Begitu pintu terbuka, Luna kembali terkejut.

Kamar itu sangat luas.

Dengan balkon pribadi dan pemandangan kota yang indah.

Namun yang paling membuatnya gugup adalah kenyataan bahwa kamar ini akan ditempatinya bersama Alex.

Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka.

Alex masuk.

Masih mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.

Luna langsung berdiri gugup.

Alex memperhatikan reaksinya.

Lalu menghela napas pelan.

"Kamu tidak perlu tegang."

"Aku tidak tegang."

"Kamu berbohong."

Luna langsung memalingkan wajah.

Alex berjalan menuju sofa besar yang berada di dekat jendela.

"Aku akan tidur di sini."

Luna terkejut.

"Hah?"

"Aku tidak akan memaksamu berbagi tempat tidur denganku."

Luna membeku.

Ia tidak menyangka Alex akan mengatakan itu.

"Aku tahu pernikahan ini mendadak."

Suara Alex terdengar tenang.

"Jadi kita lakukan semuanya perlahan."

Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak hari yang kacau itu dimulai, Luna merasa sedikit lega.

Mungkin Alex memang dingin.

Mungkin Alex sulit didekati.

Namun setidaknya pria itu masih menghargai perasaannya.

Luna memandang pria yang kini sedang membuka jasnya itu.

Dan tanpa disadari, untuk pertama kalinya ia merasa bahwa kehidupan barunya mungkin tidak seburuk yang ia bayangkan.

Sementara di luar jendela, lampu-lampu kota terus bersinar.

Menjadi saksi dimulainya kehidupan baru dua orang asing yang kini terikat dalam sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka rencanakan.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!