"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Langkah kaki Vexana terasa begitu berat saat ia keluar dari pintu ganda berbahan baja anti-karat milik Laboratorium Robotika Utama.
Suara desis hidrolik pintu yang menutup di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang mengesahkan akhir dari sebuah konfrontasi yang brutal.
Koridor lantai empat Gedung Teknik Elektro terasa begitu panjang dan asing. Udara di luar ruangan tidak sedingin di dalam laboratorium, namun Vexana justru merasa sekujur tubuhnya membeku.
Map kulit yang ia dekap di depan dadanya terasa seolah beratnya berlipat ganda, menekan rongga parunya hingga ia kesulitan untuk menarik napas dengan benar.
Ia berjalan dengan pandangan lurus ke depan, mengabaikan beberapa mahasiswa teknik yang memandangnya dengan tatapan heran. Wajah pucatnya, mata bulatnya yang sembap dan memerah, serta sisa-sisa ketegangan yang memancar dari bahasa tubuhnya jelas menunjukkan bahwa baru saja terjadi sebuah badai besar di balik pintu laboratorium Landon Desmon.
Di ujung lorong, dekat dengan deretan lift, Aurelie dan Katia berdiri dengan cemas. Di tangan mereka terdapat beberapa lembar dokumen fisik laporan audit yang tadi diperintahkan Landon untuk diambil.
Begitu melihat sosok Vexana muncul, Aurelie langsung melangkah lebar menghampirinya, sementara Katia mengekor di belakang dengan raut wajah penuh tanya.
"Vexa! Astaga, kau tidak apa-apa?" tanya Aurelie, suaranya berbisik namun penuh desakan. Matanya meneliti wajah Vexana dari dekat.
"Tadi kami melihat Kimberly—anak Dekan Seni itu—lari keluar dari lab sambil menangis histeris. Wajahnya merah padam dan dia bahkan hampir menabrak pot bunga di dekat lift. Apa yang terjadi di dalam? Apa Dosen Landon memarahi kalian berdua?"
Katia ikut menimpali dengan nada polosnya yang khas. "Iya, Vexa. Tadi suasananya terasa menyeramkan sekali sebelum kami keluar. Apakah draf proposal kita ditolak total oleh Sir Landon? Kenapa sampai ada tangisan begitu?"
Vexana menghentikan langkahnya tepat di depan kedua temannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa topeng keangkuhan Valerio yang sempat hancur berantakan di dalam laboratorium tadi. Ia tidak boleh membiarkan Aurelie dan Katia mencium bau skandal masa lalu kelam yang baru saja ditelanjangi di dalam sana.
"Proposal kita tidak ditolak," jawab Vexana, suaranya terdengar datar dan stabil, meskipun tenggorokannya terasa sangat kering.
"Dosen Desmon hanya... memiliki standar yang sangat tinggi untuk analisis portofolionya. Pihak ketiga yang masuk tadi hanya salah paham dengan diskusi internal kami."
"Salah paham?" Aurelie menyipitkan matanya, merasa jawaban Vexana terlalu diplomatis untuk ukuran seseorang yang baru saja menyaksikan pacar seorang dosen muda lari sambil menangis.
Namun, melihat sorot mata Vexana yang begitu dingin dan mengintimidasi, Aurelie memilih untuk menahan diri dari pertanyaan lebih lanjut.
"Lalu, bagaimana dengan kelanjutan proyek kita? Apa kita harus kembali menemuinya?"
"Tidak untuk hari ini," ucap Vexana final. "Dia meminta kita mengumpulkan revisi dokumen fisik ini hari Senin depan. Biar aku yang memegang dokumen ini untuk sementara waktu. Aku lelah dan ingin pulang sekarang."
Tanpa menunggu jawaban dari Aurelie maupun Katia, Vexana langsung menekan tombol lift yang kebetulan terbuka.
Ia melangkah masuk, membalikkan badannya, dan menatap kedua temannya di luar saat pintu lift perlahan bergeser menutup.
Begitu ia sendirian di dalam kubus logam yang bergerak turun itu, bahunya seketika merosot.
Vexana bersandar pada dinding lift, memejamkan matanya rapat-rapat sembari memegangi pelipisnya yang kembali berdenyut sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di dalam Laboratorium Robotika Utama yang kini kembali sunyi, Landon Desmon masih berada dalam posisi yang sama. Kedua tangan kokohnya mencengkeram pinggiran meja kerja logam begitu kuat hingga urat-urat di lengan bawahnya menonjol tegang. Napasnya perlahan mulai teratur, namun badai di dalam pikirannya justru semakin berkecamuk.
Kata-kata Vexana terus berputar di otaknya laksana rekaman pita magnetik yang rusak.
“Kau yang merobek beberapa kali pengaman kita malam itu! Kau yang tidak berhati-hati, brengsek!”
“Kau yang terlalu bergairah sejak kau berusia tujuh belas tahun, Landon! Kau terlalu mesum!”
Landon menegakkan tubuhnya perlahan, menyeka sisa air mata di sudut matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan.
Sebuah tawa getir yang sangat pelan lolos dari bibirnya yang mengeras. Vexa benar. Dia memang bajingan mesum yang selalu kehilangan kendali atas logikanya jika sudah menyangkut wanita itu.
Sejak usia remaja, di saat otaknya dielu-elukan sebagai aset genius oleh keluarganya, di depan Vexana, dia hanyalah seorang pria biasa yang dikuasai gairah dan kepemilikan purba.
Namun, rasa bersalah yang kini menghantamnya jauh lebih besar daripada rasa malu atas konfrontasi vulgar di depan Kimberly tadi.
Landon memutar tubuhnya, menatap ke arah pintu laboratorium yang terbuka lebar. Kimberly sudah pergi, dan hubungan formalitas yang ia bangun dengan anak Dekan itu jelas sudah berakhir hari ini.
Tapi Landon tidak peduli. Fokus hidupnya telah terenggut sepenuhnya oleh fakta baru yang mengerikan.
Dia hamil malam itu... dan anak itu tiada karena kesalahpahaman kami, batin Landon, mengepalkan tinjunya hingga persendian jarinya memutih.
Rasa sakit karena mengira darah dagingnya sendiri telah lenyap di tengah-tengah kebencian mereka membuat Landon merasa seperti dieksekusi hidup-hidup.
Dia merasa gagal sebagai seorang pria. Pilihan kariernya untuk menjadi dosen di kampus ini—yang semula ia ambil sebagai bentuk pelarian dan monumen duka atas hilangnya Vexana—kini terasa seperti sebuah ironi yang mengolok-olok kebodohannya.
Landon melangkah menuju kursinya, menjatuhkan tubuh tegapnya di sana dengan perasaan hampa yang luar biasa.
Matanya tertuju pada ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja. Di layar kunci, notifikasi grup proyek mereka masih terlihat bersih dari obrolan baru setelah keributan tadi.
Pria itu meraih ponselnya, membuka profil kontak Vexana Valerio. Jari telunjuknya menggantung di atas tombol panggilan.
Ada keinginan yang begitu kuat untuk menghubungi wanita itu, untuk memintanya bertemu di luar kampus, di tempat di mana mereka tidak perlu mengenakan topeng dosen dan mahasiswa.
Dia ingin menuntut rincian tentang dua tahun kehilangan itu. Dia ingin tahu di mana Vexana menyembunyikan rasa sakitnya sendirian saat menggugurkan kandungan itu—setidaknya, itulah yang masih diyakini oleh otak genius Landon yang belum mencium keberadaan AJ.
Namun, sebelum jarinya sempat menyentuh layar, pintu laboratorium kembali diketuk dengan ragu.
Tok... Tok...
Asisten laboratorium Landon, seorang mahasiswa pascasarjana bernama Marcus, melongokkan kepalanya dari balik pintu dengan wajah cemas.
"Sir... maaf mengganggu. Dekan Fakultas Seni baru saja menghubungi meja administrasi bawah. Beliau meminta Anda untuk datang ke ruangannya di Gedung Rektorat sekarang juga."
Landon tidak terkejut. Kimberly pasti sudah mengadu pada ayahnya tentang skandal Pengaman bocor dan perdebatan intim yang terjadi di dalam ruangan ini.
Berita ini berpotensi menjadi bola salju yang bisa menghancurkan karier akademis Landon yang sedang cemerlang, atau bahkan memicu ketegangan diplomatik antara Desmon Group dan pihak universitas.
"Baik, Marcus. Katakan pada Dekan saya akan ke sana dalam sepuluh menit," jawab Landon dengan suara datar tanpa ekspresi, kembali mengenakan topeng dinginnya seolah keributan gila beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
...****************...
Di sisi lain kota, mobil sedan hitam yang membawa Vexana akhirnya kembali memasuki kawasan Bel-Air.
Sepanjang perjalanan, Vexana tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Josh, sang sopir, sesekali melirik dari spion tengah dengan pandangan khawatir, namun pria paruh baya itu cukup bijaksana untuk tidak mencampuri urusan pribadi nona mudanya yang tampak sangat rapuh namun menyimpan ledakan amarah yang besar.
Begitu mobil berhenti di depan selasar mansion, Vexana langsung turun tanpa menunggu Josh membukakan pintu. Ia melangkah tergesa-gesa memasuki rumah, berniat langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan memeluk AJ—satu-satunya obat penenang bagi jiwanya yang sedang terkoyak.
Namun, langkah kaki Vexana mendadak terkunci di ambang pintu ruang tengah.
Di atas sofa kulit berdesain klasik, duduk Maximilian Valerio—sang Daddy.
Pria paruh baya yang masih tampak bugar dan berwibawa itu sedang membaca beberapa berkas bisnis di pangkuannya. Di sampingnya, duduk Amieyara sang Mommy yang sedang menyajikan secangkir kopi hangat.
Kehadiran Maximilian di rumah pada jam kerja seperti ini adalah hal yang sangat tidak biasa. Biasanya, sang ayah baru akan kembali dari kantor pusat Valerio Corporation menjelang malam hari.
Maximilian mendongak begitu mendengar suara ketukan sepatu hak tinggi Vexana. Sepasang matanya yang tajam dan berpengalaman langsung menangkap kondisi emosional putrinya yang berantakan.
"Vexana," suara berat Maximilian menggema di ruang tengah yang luas.
Pria itu meletakkan berkasnya ke atas meja kaca dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan. "Kemari. Ada hal penting yang harus Daddy bicarakan denganmu mengenai kampusmu."
Jantung Vexana mendadak mencelos. Rasa panik yang baru saja mereda di dalam lift kampus kini kembali naik dengan kecepatan penuh.
Apakah Daddy sudah tahu? Apakah pihak kampus sudah menghubungi Daddy tentang keributan di lab Landon?
Vexana membetulkan posisi map kulitnya, mencoba berdiri setegak mungkin sebelum melangkah mendekati sofa tempat ayahnya duduk.
"Ada apa, Dad? Kenapa Daddy sudah ada di mansion?"
Maximilian tidak langsung menjawab. Pria itu menatap Vexana lekat-lekat, seolah sedang membaca setiap kebohongan yang tersimpan di balik mata sembap putrinya.
Atmosfer di ruang tengah itu mendadak berubah menjadi sangat tegang, mengawali sebuah babak baru di mana rahasia besar yang sebenarnya siap diuji oleh kekuasaan sang ayah.