NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Rahasia

Lampu di atas pintu ruang gawat darurat masih menyala merah, berkedip perlahan seolah mengikuti irama detak jantung Citra yang tidak tenang. Sudah hampir empat jam berlalu sejak Putra dibawa masuk ke dalam sana, namun belum ada kabar pasti dari tim medis. Citra duduk di bangku tunggu, tubuhnya masih mengenakan pakaian yang sama basah dan kotornya dengan kejadian tadi malam. Matanya bengkak dan merah, menatap lurus ke pintu tertutup itu dengan rasa takut yang luar biasa.

Sebagai seorang dokter, ia sangat paham betapa berbahayanya racun yang mengenai kulit dan masuk ke dalam aliran darah. Ia tahu betapa cepatnya zat beracun itu merusak sel-sel tubuh, menyerang saraf, hingga bisa menghentikan fungsi organ vital jika penanganan terlambat. Dan yang membuatnya semakin hancur, semua ini terjadi karena dirinya. Putra terluka karena melindunginya, lagi-lagi mengorbankan diri demi keselamatan wanita yang dicintainya.

"Ya Tuhan... tolong selamatkan dia," bisik Citra berulang kali, tangannya saling bertaut erat di depan dada. "Ambil nyawaku saja sebagai gantinya, tapi biarkan dia tetap hidup."

Di ujung lorong, Kolonel Bayu berdiri diam dengan wajah serius, ditemani beberapa rekan militer Putra yang baru tiba. Ia tidak mendekat, memberi ruang pada Citra, namun matanya terus mengawasi keadaan. Di tangannya, ia memegang berkas-berkas hasil penyelidikan lanjutan tentang Rania Adhisti. Semakin dalam mereka menggali, semakin banyak fakta kelam yang terungkap, dan kata-kata terakhir Rania sebelum ditangkap terus berputar di kepalanya: "Ada satu rahasia terakhir yang akan membuatmu menyesal seumur hidup."

Kolonel Bayu mengerutkan kening. Ia tahu Rania bukan tipe wanita yang berteriak kosong saat kalah. Wanita itu licik, terlatih, dan selalu memiliki rencana cadangan. Jika dia mengatakan ada rahasia besar, kemungkinan besar itu benar-benar ada, dan rahasia itu mungkin menjadi kunci dari seluruh masalah yang menimpa keluarga Putra dan keluarga Lestari selama belasan tahun ini.

Suara derit pintu ruang gawat darurat terbuka memecah keheningan. Seorang dokter spesialis keluar dengan wajah lelah namun lega. Citra langsung bangkit berdiri dengan kaki gemetar, bergegas menghampiri.

"Dok... bagaimana suami saya? Apakah dia selamat?" tanya Citra cemas, suaranya nyaris tak terdengar.

Dokter itu tersenyum tipis, menepuk bahu Citra pelan. "Kabar baik, Dokter. Kami berhasil membersihkan zat racun dari tubuhnya. Untung saja zat itu bukan racun mematikan instan, melainkan semacam senyawa kimia korosif yang lebih banyak merusak jaringan kulit dan saraf tepi. Kalau saja penanganan terlambat lima belas menit lagi, mungkin kondisinya akan jauh lebih kritis. Sekarang kondisinya sudah stabil, dia sudah sadar, tapi masih butuh istirahat total dan perawatan intensif. Luka di lengannya cukup parah dan akan meninggalkan bekas, tapi fungsi anggota tubuhnya masih bisa diselamatkan."

Napak Citra terhela lega yang luar biasa. Rasa beban berat seolah terangkat dari pundaknya, digantikan oleh air mata bahagia yang kembali mengalir. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Dokter. Bolehkah saya menemuinya?"

"Boleh, tapi jangan lama-lama. Dia masih lemah dan butuh ketenangan."

Citra masuk perlahan ke dalam ruangan rawat inap khusus itu. Suasana di dalamnya dingin karena penyejuk ruangan, namun hatinya terasa hangat saat melihat sosok pria yang dicintainya terbaring di tempat tidur. Lengan kiri Putra dibalut perban tebal, selang infus menancap di punggung tangannya, dan wajah gagah itu terlihat pucat serta lelah. Namun saat mendengar langkah kaki Citra, mata Putra perlahan terbuka, dan senyum lembut terukir di bibirnya.

"Citra..." panggilnya lirih, suara parau namun penuh kasih sayang.

Citra langsung berlutut di samping tempat tidur, memegang tangan kanan suaminya erat-erat, menempelkan pipinya ke punggung tangan kasar itu. "Bodoh... Kau bodoh sekali, Mas! Kenapa kau harus melompat di depanku? Kau tahu betapa takutnya aku? Kau tahu betapa hancurnya aku jika sesuatu terjadi padamu?" tangisnya meledak, menumpahkan segala kekhawatiran yang ditahannya sejak tadi malam.

Putra menghela napas pelan, berusaha mengangkat tangannya untuk mengusap kepala istrinya. "Maaf... Aku tidak tega melihatmu terluka, Citra. Bagiku, rasa sakit di tubuh ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit jika harus melihatmu menderita. Ingat janjiku? Aku akan melindungimu sampai napas terakhirku. Dan itu bukan sekadar kata-kata."

"Dan aku juga berjanji," potong Citra sambil mengangkat wajahnya, menatap mata suaminya lekat-lekat. "Selama kau sakit, selama kau butuh aku, aku akan merawatmu sendiri. Aku doktermu sekarang, Mas. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi rahasia, dan tidak ada lagi masa lalu yang akan memisahkan kita. Kita sudah melewati terlalu banyak badai, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kita lagi."

Putra tersenyum bahagia, menarik tangan Citra mendekat dan mencium punggung tangan wanita itu. "Terima kasih... Terima kasih sudah bertahan denganku meski aku pernah menjadi suami yang buruk dan penuh dosa. Terima kasih sudah mencintaiku saat aku tidak layak dicintai."

Namun momen haru itu terputus saat Kolonel Bayu masuk perlahan, mengetuk pintu pelan. Wajahnya tidak lagi santai, melainkan serius dan penuh beban. Ia menatap mereka berdua, lalu menghela napas panjang.

"Maaf mengganggu momen kalian, tapi ada hal penting yang harus dibicarakan sekarang juga. Sebelum ingatan itu hilang atau sebelum ada pihak lain yang berusaha menutupi semuanya." Kolonel Bayu mendekat, meletakkan berkas-berkas dokumen di meja samping tempat tidur.

Putra mengerutkan kening, merasakan ada sesuatu yang besar sedang menanti mereka. "Ada apa, Paman? Apakah ada masalah lagi dengan Rania atau sisa anak buah Adi?"

Kolonel Bayu menggeleng pelan, lalu mengambil satu dokumen yang paling tebal dan tua, berwarna kekuningan dengan segel resmi yang sudah mulai pudar. "Bukan hanya itu. Selama kau dalam penanganan medis, aku memerintahkan timku menggeledah kediaman Rania dan kantor ayahnya. Kami menemukan ruang rahasia, tempat mereka menyimpan semua catatan, surat, rekaman, dan jurnal pribadi yang tersembunyi selama dua puluh tahun terakhir. Dan di sini... di sinilah letak kebenaran yang sebenarnya."

Kolonel Bayu membuka halaman demi halaman, matanya menatap tajam ke arah Putra dan Citra bergantian.

"Selama ini kita berpikir bahwa Jenderal Adi adalah dalang utama, dan Rania hanyalah alatnya. Itu benar, tapi hanya sebagian kecil. Ada lapisan kebenaran lain yang jauh lebih dalam, lebih gelap, dan melibatkan kedua keluarga kalian keluarga Setiawan dan keluarga Lestari jauh sebelum ayah kalian meninggal dunia."

Citra menegakkan tubuhnya, rasa penasaran dan kekhawatiran kembali muncul. "Maksud Paman apa? Apa hubungannya ayahku dengan semua ini selain menjadi korban fitnah?"

"Dulu, dua puluh dua tahun lalu, saat ayahmu, Pak Haris Lestari, dan ayahmu, Pak Brawijaya Setiawan, masih menjadi sahabat karib dan rekan bisnis militer yang sangat kuat... mereka berdua menemukan sesuatu. Sesuatu yang sangat berharga, tapi juga sangat berbahaya. Sebuah lokasi tambang strategis yang kaya akan bahan baku penting untuk pertahanan negara, namun juga bernilai miliaran jika dijual ke pihak asing secara gelap." Kolonel Bayu berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.

"Jenderal Adi saat itu sudah mulai mengincar kekayaan itu. Dia ingin menguasai lokasi itu sepenuhnya. Namun dia tahu dia tidak bisa melakukannya sendirian selama Brawijaya dan Haris bersatu. Maka dia menyusun rencana besar: memisahkan persahabatan itu, menjadikan mereka musuh, lalu menghancurkan keduanya satu per satu."

"Tapi... ayahku tidak pernah bercerita soal tambang itu," gumam Putra kaget.

"Karena mereka merahasiakannya demi keamanan negara. Tapi lihatlah catatan ini..." Kolonel Bayu menunjuk sebuah surat yang ditulis tangan, tulisan ayah Putra sangat dikenalnya. "Jika terjadi sesuatu padaku atau Haris, ingatlah bahwa musuh kita bukan hanya orang luar, tapi ada ular yang bersembunyi di dekat kita. Dan satu-satunya cara menjaga harta ini agar tidak jatuh ke tangan yang salah... adalah menyatukan kembali darah dan nama kedua keluarga ini lewat ikatan pernikahan."

Jantung Citra berdegup kencang. Ia menatap Putra, lalu kembali ke Kolonel Bayu.

"Paman... apakah ini berarti... perjodohan kami yang dulu dianggap terpaksa, yang dianggap sebagai hukuman atau jebakan... sebenarnya..."

"Sebuah rencana yang sudah disusun oleh ayah kalian sendiri sebelum mereka meninggal," potong Kolonel Bayu dengan suara berat namun tegas. "Jenderal Adi dan Rania memanfaatkan rencana ini untuk kejahatan mereka, memutarbalikkan fakta, menjadikannya alat balas dendam. Tapi kenyataannya... pertemuan dan pernikahan kalian bukanlah kebetulan buruk, bukan jebakan, dan bukan hukuman. Itu adalah janji yang dititipkan, ikatan yang direncanakan untuk melindungi warisan keluarga dan menjaga keamanan negara. Kalian berdua adalah penjaga warisan itu."

Dunia Putra berputar perlahan. Segala rasa sakit, kebencian, paksaan, dan penderitaan di awal pernikahan mereka ternyata didasari oleh sebuah niat suci orang tua mereka yang ingin melindungi masa depan anak-anak mereka serta tanah air. Kebencian yang ia bangun bertahun-tahun, ternyata berdiri di atas pemahaman yang terbalik total.

"Lalu... apa maksud kata-kata terakhir Rania itu?" tanya Putra pelan, matanya menatap tajam ke arah Kolonel Bayu. "Dia bilang ada rahasia terakhir yang akan membuatku menyesal seumur hidup."

Kolonel Bayu diam sejenak, napasnya tersendat seolah berat sekali untuk mengucapkannya. Ia mengambil satu amplop tertutup yang terselip di bagian paling bawah tumpukan dokumen itu. Amplop itu tertulis nama Rania, namun ditujukan khusus untuk Putra dan Citra.

"Di ruang rahasia itu juga, kami menemukan surat ini. Ditulis tangan oleh Rania, seolah dia sudah tahu dia akan tertangkap atau kalah. Dia menyimpannya dengan rapi, seolah ini adalah senjata pamungkasnya yang terakhir, yang akan dia gunakan untuk menghancurkan kebahagiaan kalian jika dia gagal merebutmu atau membunuh Citra."

Kolonel Bayu menyerahkan amplop itu pada Putra. Tangan Putra gemetar saat menerimanya. Citra mendekat, ikut menahan napas.

Putra membuka amplop itu perlahan. Isinya hanya satu lembar kertas, namun tulisan di sana membuat darah keduanya serasa berhenti mengalir. Tulisan itu tajam, penuh kemenangan, dan sangat jelas.

"Kalian pikir kalian sudah tahu semuanya? Kalian pikir menangkapku dan Adi membuat kalian pemenang? Dengarkan baik-baik. Selama ini kalian berjuang melindungi warisan keluarga, melindungi kebenaran, dan melindungi satu sama lain. Tapi ada satu fakta kecil yang sengaja aku sembunyikan, fakta yang membuat segala pengorbananmu sia-sia, Putra.

Aku tidak hanya menjadi mata-mata. Dua tahun sebelum kau menikahi Citra... saat kita masih bersama, saat kau masih percaya padaku, aku mengambil sesuatu yang sangat berharga darimu. Bukan hanya cintamu, tapi sesuatu yang jauh lebih nyata.

Dan sekarang... aku sudah memiliki anakmu, Putra. Seorang anak laki-laki yang sudah berusia empat tahun, tinggal jauh di luar negeri, aman dari jangkauanmu. Kau pikir cinta kalian suci dan murni? Selama ini kau hidup bahagia membangun rumah tangga dengan Citra, kau tidak tahu kau sudah memiliki darah dagingmu sendiri yang tumbuh membenci ayahnya karena aku mendidiknya dengan kebencian padamu.

Kau tidak bisa memilikiku, kau tidak bisa membahagiakan Citra... karena selamanya, ada anakku-anakmu yang akan menjadi bayang-bayang di antara kalian. Selamanya ada ikatan darah antara kita yang tidak akan pernah putus. Dan suatu hari nanti... aku akan membiarkan anak itu datang kepadamu, melihatmu, dan membencimu sepenuh hati. Itu adalah balas dendamku yang paling sempurna.

Nikmati kebahagiaan palsu kalian. Rahasia ini adalah neraka yang akan kalian bawa selamanya."

Surat itu jatuh dari tangan Putra. Matanya membelalak tak percaya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Citra menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan kaget yang hampir lolos.

Anak? Putra punya anak dari hubungan masa lalu dengan Rania? Seorang anak yang sudah besar, yang tumbuh dengan kebencian?

Ini bukan lagi soal masa lalu atau kebohongan semata. Ini adalah nyawa lain, darah daging suaminya, yang kini menjadi senjata paling mematikan di tangan musuh yang sudah dikalahkan. Dan ini adalah rahasia yang jauh lebih besar, jauh lebih menyakitkan, dan bisa merobohkan seluruh kebahagiaan yang baru saja mereka raih.

Putra menatap Citra, matanya penuh keputusasaan dan rasa bersalah yang baru. "Citra... aku... aku tidak tahu. Aku bersumpah aku tidak tahu sama sekali..."

Citra membalas tatapan itu, hatinya hancur berkeping-keping.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!