NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10.

Di dalam foto itu, terlihat seorang anak laki-laki kecil, usianya sekitar empat tahun, duduk diam sambil menatap ke arah laut.

Di kejauhan, dari permukaan laut yang tenang, tampak sebuah perahu kecil perlahan menuju di kejauhan, dari permukaan laut yang tenang, tampak sebuah perahu kecil perlahan menuju ke daratan. Di dalam perahu itu, ada seorang laki-laki berusia sekitar 27 tahun.

Zee mengernyit, Dia segera mengangkat pandangannya dari foto itu dan menatap langsung ke arah laut di depannya.

Namun... tidak ada apa-apa. Hanya hamparan air laut biru yang luas dan sunyi. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.

Ingatan itu muncul lagi, ini terasa sama seperti pertama kali Dia melihat pintu transparan yang muncul di dalam sumur... saat Dia menggunakan kamera analog tuanya.

"Apakah... akan muncul lagi seperti sebelumnya?"

Kruk...

Perutnya tiba-tiba berbunyi, memecahkan ketegangan.

Zee menghela nafas dan menghembuskannya pelan, lalu mencoba mengalihkan pikirannya. Dia kembali duduk dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.

"Akhirnya kenyang juga..." gumamnya pelan, (sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit karena kekenyangan).

Beberapa saat berlalu, namun rasa penasaran itu tidak juga hilang. Justru semakin kuat, Zee kembali menoleh ke arah laut, menatap lekat seolah berharap sesuatu akan muncul seperti yang ada di dalam foto itu.

Tetapi tetap saja, tidak ada apa pun selain lautan biru yang tenang.

Dengan nafas yang sedikit tertahan, Zee kembali mengangkat kamera analog nya dan membidik ke arah laut sekali lagi.

Beberapa detik kemudian, foto itu tercetak dan kali ini, gambar di dalam foto telah berubah, seakan ada kehidupan di dalam sana.

Terlihat dua orang laki-laki dengan perbedaan usia yang jelas, berdiri di samping sebuah perahu kecil yang sudah terparkir di daratan.

Di tangan pria yang lebih dewasa, terdapat sebuah jaringan dan dua ekor ikan segar.

Mata Zee membesar, menatap foto itu tanpa berkedip. Seolah apa yang Dia lihat bukan hanya sekedar gambar.

Zee menggenggam foto itu lebih erat. Pandangan matanya perlahan berubah, bukan lagi sekedar melihat, tapi seperti ikut masuk ke dalamnya.

Suara ombak terdengar lebih jelas, angin terasa lebih nyata.

Di Desa Pesisir, masyarakat di sana hidup dengan mempunyai mata pencaharian utamanya ikan.

Rumah masyarakat disana mengunakan tembok dari batang pohon kelapa dan atap dari daunnya.

Mungkin kurangnya pengetahuan, pohon kelapa yang begitu berlimpah buahnya saja tidak mereka makan, semuanya berserakan di pesisir pantai begitu saja.

Banyak sayuran dan buah-buahan berlimpah, yang bisa mereka makan dan mudah di dapatkan pun tidak mereka ambil atau makan.

Ikan juga berlimpah, tapi tidak semua ikan mereka makan, karena takut keracunan. Udang, kerang, cumi, gurita dan siput juga tidak mereka makan.

Debur ombak menjadi alarm alami bagi para warga, termasuk Pak Sam.

Pria yang Zee melihat di dalam foto yang Dia ambil itu.

Pak Sam sudah bangun sejak fajar, duduk di depan rumahnya yang sederhana, terbuat dari batang pohon kelapa yang disusun rapi.

Dindingnya berwarna kecoklatan, kasar namun kokoh, sementara atapnya terbuat dari daun kelapa kering yang dianyam dengan teliti.

Pak Sam berdiri, mengambil jaring yang di gantung di samping rumah. Tangannya yang kasar dengan cetakan memeriksa simpul-simpulnya.

Di belakangnya, Doni anak kecil yang Zee lihat juga di dalam foto itu. Doni kecil berlari keluar rumah.

"Ayah mau ke laut lagi?" tanyanya dengan mata berbinar.

Pak Sam tersenyum tipis, mengangguk. "Iya Nak, nanti kita makan ikan lagi, ya."

Doni mengangguk semangat, meskipun Dia tau, menu mereka hampir selalu ikan.

Di dalam rumah, ibu Yati sudah menyiapkan sarapan sederhana. Ikan dan ubi ungu rebus seadanya.

Bu Yati melirik ke luar, melihat suami dan anak semata wayang mereka. Ada kehangatan, tapi juga kekhawatiran yang tak pernah hilang.

"Jangan terlalu jauh melaut Pak," ucapnya pelan saat Pak Sam masuk sebentar untuk mengambil bekal.

Pak Sam hanya tersenyum. "Tenang saja Bu."

Mereka semua tau, laut tidak pernah benar-benar bisa di prediksi.

Hari demi hari berjalan hampir sama. Para lelaki pergi melaut, para perempuan mengurus rumah, memperbaiki anyaman daun kelapa, atau menjemur ikan.

Anak-anak bermain di pasir, berlari tanpa alas kaki, sesekali memanjat pohon kelapa yang tinggi.

Buah kelapa sering jatuh begitu saja, tapi tak ada yang mau mengambilnya. Sebagian hanya memindahkannya ke pinggir, menganggapnya tidak berguna.

Mungkin karena kulitnya yang keras dan sulit di buka. Di sana tak seorang pun yang tau bahwa di dalamnya ada sesuatu yang bisa dimakan.

Bagi mereka, kelapa hanyalah pohonnya. Batangnya untuk dinding rumah, daunnya untuk atap atau anyaman dan semua itu sudah cukup.

Sore hari, perahu-perahu mulai kembali. Doni berdiri di tepi pantai, matanya menatap jauh ke laut.

Angin laut menerpa tubuh kecilnya, tapi Dia tidak bergeming. Akhirnya sebuah perahu kecil muncul dari kejauhan.

Wajahnya langsung bersinar. "Itu Ayah!" Dia berlari kecil menyambut Ayahnya.

Pak Sam turun dari perahu dengan senyum lelah, membawa jaring dan beberapa ekor ikan. Tidak banyak, tapi cukup untuk beberapa hari kedepannya.

Doni membantu sebisanya, memegang ujung jaring dengan bangga. Seolah itu adalah tugas besar yang bisa Dia lakukan.

Mereka berjalan pulang bersama, rumah sederhana dari batang kepala berdiri sederhana.

Langit mulai berubah jingga, dan di kejauhan beberapa buah kelapa kembali jauh ke tanah begitu saja. Seolah menyimpan rahasia yang belum pernah di sadari siapa pun.

Sedangkan jauh di tempat lain, Zee masih berdiri di balkon dengan foto di tangannya. Angin laut kembali berhembus pelan.

Saat Zee kembali menatap ke arah laut... Ada sesuatu yang muncul.

Srek...

Sebuah suara halus terdengar. Zee mengernyit, matanya bergerak perlahan ke bawah, tepat di depan balkonnya.

Muncul sebuah tangga di luar balkon kamarnya memanjang ke bawah pasir. Pada hal sebelumnya tangga itu tidak ada.

Tangga besi seperti tangga Zee di dalam sumur tua, dan di ujungnya terdapat sebuah pintu transparan, sama persis seperti yang Dia lihat di dalam sumur tua.

Jantung Zee langsung berdegup kencang. Tangannya tanpa sadar menggenggam lebih erat foto itu.

"Pintu ini... muncul lagi" bisiknya pelan.

Langkahnya terhenti sejenak di ambang balkon. Logikanya mencoba menahan, namun penasarannya jauh lebih kuat.

Zee perlahan melangkahkan kakinya ke anak tangga pertama, dan sensasinya nyata.

Satu langkah

Dua langkah

Semakin Dia turun, udara di sekitarnya terasa berubah. Angin laut yang tadi hangat kini terasa lebih dingin.

Seolah Dia sedang menjauh dari dunianya sendiri. Tatapannya tidak lepas dari pintu di ujung tangga itu.

Pintu transparan itu terbuka, seakan sedang menunggu dirinya datang.

Langkah Zee tidak berhenti, langkah demi langkah Dia turuni, hingga akhirnya Dia berdiri tepat di depan pintu itu.

Refleksinya terlihat samar di permukaan transparannya. Namun anehnya, bayangan itu terasa berbeda. Seperti bukan hanya dirinya yang berdiri di sana.

Zee mengangkat tangannya perlahan, dan ragu. Tapi rasa penasarannya kembali menang.

Ujung jarinya menyentuh permukaan pintu itu, terasa dingin namun lembut. Dan dalam sekejap permukaan itu bergetar perlahan seperti air yang tersentuh.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!