NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Huo Ling'er

Gadis itu tidak langsung menjawab.

Api biru keputihan yang mengelilingi kedua tangannya perlahan menghilang. Gerakannya tenang dan terkendali, bukan karena ancaman telah berlalu, melainkan karena ia sendiri memutuskan bahwa kewaspadaannya sudah cukup untuk saat ini.

Setelah itu, ia merapikan rambut merah gelapnya yang sedikit berantakan akibat pertarungan.

Barulah ia menatap Lin Chen.

"Huo Ling'er."

Suaranya tetap tenang, tetapi masih menyimpan jarak yang jelas.

Lin Chen mengangguk pelan.

"Dari mana asalmu?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Bukan untuk berbasa-basi.

Ia memang ingin mengetahui lebih banyak tentang gadis di hadapannya.

Namun Huo Ling'er langsung menjawab tanpa ragu.

"Itu bukan urusanmu." Tatapannya menyipit sedikit. "Lagipula, aku yang lebih dulu bertanya."

Ia menunjuk bekas pohon yang masih mengeluarkan asap tipis.

"Api itu berasal dari mana?"

Lin Chen mengikuti arah pandangannya. "Dari gunung ini."

"Itu bukan jawaban."

"Tapi itu jawaban yang bisa kuberikan saat ini." timpal Lin Chen

Huo Ling'er mendecakkan lidah pelan.

Jelas ia tidak puas.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, Lin Chen mengalihkan pandangannya ke arah timur, tempat tiga anggota Sekte Tengkorak Perak tadi melarikan diri.

"Mereka akan kembali."

Nada suaranya datar.

Seolah sedang menyampaikan fakta yang sudah pasti terjadi.

"Mungkin bersama orang yang lebih kuat."

Huo Ling'er mengikuti arah pandangannya.

Kemudian berkata, "Aku bisa menghadapi mereka."

Lin Chen mengangguk. "Aku tahu."

Jawaban itu membuat Huo Ling'er sedikit terdiam.

Ia tidak mendengar nada meremehkan ataupun keraguan di sana.

Lin Chen memang mengatakannya dengan tulus.

"Tapi mampu menghadapi mereka dan harus menghadapi mereka adalah dua hal yang berbeda."

Lin Chen kembali menatapnya. "Kondisimu tidak sebaik yang kau tunjukkan."

Tatapan Huo Ling'er berubah.

Tidak marah.

Tidak tersinggung.

Melainkan ekspresi seseorang yang baru saja mendengar kenyataan yang sebenarnya sudah ia ketahui, tetapi enggan mengakuinya.

Ia memang kelelahan.

Cadangan energinya hampir habis setelah pertarungan tadi.

Jika tiga orang itu kembali dengan bala bantuan, situasinya akan jauh lebih sulit.

"Kau banyak bicara." Nada suaranya terdengar dingin.

Namun tidak lagi setajam sebelumnya.

Lin Chen hanya mengangkat bahu. "Mungkin."

Huo Ling'er mengamati wajahnya beberapa saat.

Semakin lama, semakin aneh perasaannya.

Pemuda di hadapannya jelas tidak terlalu kuat.

Tingkat kultivasinya bahkan lebih rendah darinya.

Tetapi sikapnya tenang.

Terlalu tenang.

Seolah tidak ada sesuatu yang benar-benar mampu mengguncangnya.

"Kau bicara seperti seseorang yang sudah lama hidup sendirian." Akhirnya Huo Ling'er berkata. "Seseorang yang terbiasa menghitung risiko sebelum bertindak."

Lin Chen tersenyum tipis. "Mungkin karena memang begitu."

Jawaban itu sederhana.

Namun entah mengapa, Huo Ling'er merasa ada banyak cerita di baliknya.

Ia tidak bertanya lebih lanjut.

Sebaliknya, pandangannya kembali tertuju pada pohon yang hangus terbakar oleh Api Phoenix milik Lin Chen.

Beberapa saat kemudian, ia kembali berbicara.

Kali ini nada suaranya jauh lebih pelan.

"Api itu..."

Tatapannya sedikit berubah.

Tidak lagi penuh kewaspadaan.

Melainkan kebingungan.

"Aku pernah merasakan sesuatu yang mirip sebelumnya."

Lin Chen tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mendengarkan.

"Tapi bukan dari luar." Huo Ling'er tanpa sadar menyentuh bagian tengah dadanya.

Tempat jantungnya berada. "Rasanya berasal dari dalam diriku."

Setelah mengatakan itu, ia sendiri terlihat sedikit terkejut.

Seolah baru menyadari apa yang sebenarnya ia rasakan selama ini.

Lin Chen menarik napas pelan.

Api Phoenix di dalam tubuhnya berdenyut lembut.

Resonansi.

Semakin dekat dengan Huo Ling'er, semakin jelas ia merasakan hubungan itu.

Tidak ada keraguan lagi.

Gadis di hadapannya memang salah satu Phoenix yang bereinkarnasi.

Untuk sesaat, Lin Chen terdiam.

Ia mempertimbangkan apa yang harus dilakukan.

Secara logika, lebih aman jika ia membangun kepercayaan terlebih dahulu.

Mengenal Huo Ling'er lebih dalam.

Menunggu waktu yang tepat sebelum menceritakan kebenarannya.

Itulah pilihan yang paling bijaksana.

Namun Lin Chen bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan sesuatu terlalu lama.

Apalagi jika hal itu berkaitan dengan tujuan yang harus ia capai.

Akhirnya ia mengangkat pandangan.

"Ada sesuatu yang perlu kau ketahui." Nada suaranya lebih serius dari sebelumnya.

Huo Ling'er mengangkat alis.

"Oh?"

"Tapi sebelum aku menjelaskan, kau harus mendengarkan sampai selesai."

Tatapan gadis itu langsung berubah curiga. "Kenapa terdengar seperti awal dari masalah besar?"

"Mungkin karena memang begitu." Lin Chen menjawab dengan jujur.

Huo Ling'er memandangnya beberapa detik.

Kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

"Jangan bilang kau sedang mencoba merekrutku ke sekte sesat atau semacamnya."

Lin Chen berkedip.

"Itu cukup spesifik."

"Aku pernah mengalaminya."

"Tidak mengejutkan."

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibir Huo Ling'er sedikit terangkat.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk mengubah suasana yang tadinya tegang.

"Kau tahu?" Katanya sambil menatap Lin Chen. "Kau terdengar seperti orang yang akan membuat masalah ke mana pun pergi."

Lin Chen berpikir sejenak. Kemudian menjawab dengan tenang. "Masalah biasanya datang lebih dulu kepadaku."

Kali ini Huo Ling'er benar-benar hampir tersenyum. Meski hanya sesaat.

Ia kemudian menghela napas pelan. "Baiklah." Tatapannya kembali serius. "Aku akan mendengarkan."

Hutan kembali sunyi.

Angin berembus perlahan di antara pepohonan.

Sementara di dalam dada kedua orang itu, api yang berasal dari sumber yang sama mulai berdenyut semakin kuat.

Takdir yang telah terpisah selama ribuan tahun akhirnya mulai mempertemukan mereka kembali.

Dan untuk pertama kalinya, Lin Chen bersiap mengungkap rahasia yang dapat mengubah hidup mereka berdua selamanya.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!