Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part II
Dika melepaskan rangkulannya, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jaketnya. Buku yang sama berisi catatan kekayaan dan rencana masa depan. Dia membuka halaman yang sudah tertulis rapi dengan tinta biru.
"Aku sudah hitung semuanya, Rio. Semuanya adil, sama rata, sama rasa, tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih. Malam ini, di sini, sekarang juga, kita akan pisahkan aset kita. Yang dulunya satu dompet gabungan, sekarang kita bagi dua menjadi milik pribadi masing-masing. Kamu punya milikmu, aku punya milikku. Bebas kamu atur mau diapakan nanti, simpan terus atau dijual, itu hak sepenuhnya kamu. Aku juga sama, urusanku sendiri. Jadi nggak ada lagi urusan campur-campur."
Dika menunjuk angka-angka yang tertulis di kertas itu di bawah sinar remang lampu jalan.
"Pembagiannya begini: Dulu modal awal kita sama-sama lima puluh persen, kan? Kamu sumbang separuh, aku sumbang separuh. Jadi hasilnya juga harus sama rata. Dari total 112,5 Bitcoin hasil patungan kita dulu... aku bagi dua pas persis. 56,25 Bitcoin menjadi milikmu, Rio. Dan 56,25 Bitcoin menjadi milikku. Pas, sama persis, sampai angka desimalnya."
Rio menatap angka itu dengan takjub. "Pas banget ya... tapi Dik, tunggu dulu. Bukankah setelah itu kamu juga beli banyak lagi pakai uang YouTube-mu? Yang jumlahnya ribuan koin itu? Itu gimana?"
Dika tersenyum, menggeleng tegas.
"Itu beda lagi, Rio. Itu murni hasil kerja keras aku sendiri, hasil nyanyi, hasil video-video yang aku buat diam-diam. Itu aset pribadiku sepenuhnya, nggak ada campur tangan uangmu sedikit pun. Tapi untuk uang patungan kita yang awal, yang jadi benih segalanya... itu milik kita berdua. Dan malam ini kita akhiri sistem patungan itu. Aku sudah siapkan dua alamat dompet digital baru. Satu untuk aku, satu lagi khusus untuk kamu."
Dika kemudian mengeluarkan secarik kertas lipat kecil yang rapi. Di atasnya tertulis alamat dompet, kata sandi, dan kode pemulihan yang sangat rumit dan panjang.
"Ini punya kamu, Rio. Simpan baik-baik. Jangan sampai hilang, jangan sampai lupa. Mulai detik ini, koin sebanyak 56,25 itu sudah pindah dari dompet gabungan ke dompet baru ini. Sudah selesai aku proses transfernya tadi sore di warnet. Sekarang itu uangmu mutlak. Kamu bebas mau kasih tahu orang tua atau nggak, mau kamu simpan di mana, itu urusanmu. Aku sama sekali nggak akan ikut campur lagi."
Rio menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Berat rasanya kertas kecil itu, padahal isinya cuma deretan huruf dan angka. Tapi Rio tahu, di balik kertas itu tersimpan kekayaan yang bisa mengubah hidup keluarganya selamanya. Namun yang lebih menyentuh hatinya adalah ketulusan Dika. Dika tidak mengambil sepeser pun lebih, Dika tidak menipu, Dika memisahkan ini justru untuk menjaga persahabatan mereka.
"Kamu... kamu yakin banget mau begini, Dik? Kita kan baik-baik aja. Aku nggak pernah mikir jelek sama kamu," kata Rio dengan suara serak tertahan haru.
"Aku yakin seribu persen, Rio. Justru karena kita baik-baik aja, justru karena aku sangat sayang sama kamu, aku lakukan ini. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Aku nggak mau nanti ada kata 'seharusnya' atau 'sebaiknya' di antara kita. Sekarang semuanya jelas. Kamu kaya, aku juga kaya. Kita sama-sama punya masa depan aman. Dan yang paling penting: kita tetap sahabat, tanpa ada embel-embel urusan uang di tengah-tengah kita. Kita main bola bareng, kita latihan bareng, kita kejar mimpi ke Eropa bareng, tapi urusan dompet masing-masing. Itu cara terbaik biar persahabatan kita abadi sampai kapan pun."
Rio mengangguk kuat, air mata haru menetes di pipinya. Dia melipat kertas itu sangat rapi, memasukkannya ke saku paling dalam bajunya, lalu menepuk saku itu berkali-kali seolah memastikan harta itu aman.
"Makasih, Dik... makasih banget. Kamu bukan cuma sahabat, kamu saudara bagiku. Aku janji, apa pun yang terjadi nanti, berapa pun banyaknya uang yang ada di dompet ini, aku nggak bakal berubah. Aku tetap Rio yang sama, anak yang sering kamu ajak lari pagi, anak yang sering kamu marahin kalau lari pelan."
Dika tertawa lega, menepuk bahu Rio keras-keras. "Nah, gitu dong! Itu Rio yang aku kenal. Uang itu cuma alat, Rio. Alat buat bikin hidup lebih enak, buat bahagiakan orang tua, buat bantu orang lain. Jangan sampai uang itu mengubah jati dirimu. Tetaplah sederhana, tetaplah rendah hati. Nanti kalau harganya sudah melambung tinggi, nanti kalau kita sudah sukses besar, kita bakal ketawa bareng ingat malam ini. Ingat saat kita bagi harta di bawah lampu jalan yang agak redup ini."
Malam itu, percakapan mereka berlanjut sampai larut malam. Mereka membicarakan masa depan, rencana kejuaraan selanjutnya, mimpi ke Eropa, dan rencana belajar bahasa asing. Beban berat yang selama ini ada di pundak Dika akhirnya terangkat sepenuhnya. Dia sudah menutup celah yang paling berbahaya. Dia sudah memastikan bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa memisahkannya dari Rio.
Sekarang, struktur kekayaan mereka menjadi sangat jelas dan aman:
1. Aset Rio: 56,25 Bitcoin (Hasil pembagian patungan awal). Nilai saat ini sekitar Rp 7 Miliar Rupiah, dan akan terus naik berkali-kali lipat. Ini jaminan masa depan Rio dan keluarganya.
2. Aset Dika:
- 56,25 Bitcoin (Bagian pembagian patungan awal).
- 5.500+ Bitcoin lainnya (Hasil murni dari penghasilan YouTube, hasil kerja keras dan strategi pribadinya, dikumpulkan diam-diam tanpa campur tangan orang lain).
- Total kepemilikan Dika sekarang: Lebih dari 5.500 Bitcoin, yang nilainya di masa depan akan mencapai angka triliunan rupiah. Sepenuhnya miliknya sendiri, tercatat rapi, aman, dan terpisah dari siapa pun.
Dika tersenyum puas saat berjalan pulang menembus gelapnya jalan setapak menuju rumahnya. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan. Dia telah belajar dari sejarah, dia telah mencegah masalah sebelum masalah itu ada. Dia melindungi harta bendanya, tapi yang paling utama, dia melindungi harta yang jauh lebih berharga: Persahabatannya.
Besok paginya, saat matahari terbit, Dika kembali berlari mengelilingi desa seperti biasa. Rio ada di sebelahnya, bernapas terengah-engah sambil bercanda seperti sedia kala. Tidak ada perubahan sedikit pun di sikap mereka. Rio tetap Rio, Dika tetap Dika. Tidak ada kecanggungan, tidak ada rasa curiga. Justru ikatan persahabatan mereka terasa makin kuat, makin kokoh, makin murni.
Di sela-sela napasnya yang teratur, Dika menatap ke depan, ke arah jalan panjang yang masih berkelok-kelok menuju kejayaan. Dia kini memiliki segalanya dalam kondisi paling rapi dan aman:
- Bakat sepak bola yang makin diasah tajam.
- Kepemimpinan yang diakui semua orang.
- Kemampuan bahasa asing yang makin lancar membuka pintu dunia.
- Karier musik yang menjamin aliran uang tak henti.
- Kekayaan rahasia yang terbagi rapi, aman, dan siap meledak nilainya.
- Dan sahabat sejati yang terjaga murni persahabatannya, terbebas dari bayang-bayang masalah uang.
Semua potongan teka-teki hidupnya kini tersusun sempurna. Tidak ada lagi celah. Tidak ada lagi kelemahan. Dika Pratama sudah lengkap, sudah matang, dan siap sepenuhnya menaklukkan dunia. Langkah selanjutnya: menjuarai Kejuaraan Provinsi, menarik perhatian pemandu bakat besar, dan membuka gerbang menuju kancah sepak bola nasional yang sesungguhnya.
Perjalanan menuju Piala Dunia terus berlanjut, semakin cepat, semakin megah, dan semakin tak terhentikan.