Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anda Tidak Perlu Khawatir
Setelah menyelesaikan urusannya, Hazel berjalan kembali ke baraknya dengan langkah yang terasa sangat berat, langkah kakinya sengaja diperlambat saat ia melewati koridor luar yang menghadap langsung ke arah barak utama dan ruangan komandan kompi.
Di sana, dari balik jendela kaca yang buram, ia bisa melihat siluet tubuh tegap Gavin yang sedang duduk di balik meja.
Hazel meremas jemarinya sendiri yang masih terbungkus plester, dilema besar kini menggelayuti pikirannya. Haruskah ia mengesampingkan egonya demi kelancaran tugas tim medis atau tetap bertahan pada harga dirinya dan menghindari pria yang telah menghancurkan hatinya siang tadi.
Malam semakin larut dan jam dinding di dalam barak wanita telah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah menimbang-nimbang dengan segala risiko yang dikatakan Dokter Tyas dan Suster Kinan, Hazel akhirnya memutuskan untuk mengalah.
Hazel tidak boleh egois, keberadaannya di sini membawa nama baik rumah sakit Ganendra dan ia tidak ingin rekan-rekannya ikut menanggung akibat dari ketegangan emosinya dengan Gavin.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Hazel melangkah membelah kegelapan pos komando menuju tempat Gavin berada. Sesampainya di depan pintu, Hazel menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup begitu kencang seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya, ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," terdengar jawaban berupa suara bariton yang berat dan dingin dari dalam ruangan.
Hazel memutar knop pintu secara perlahan dan mendorongnya terbuka, hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok Gavin yang sudah tidak mengenakan baretnya. Rambut hitamnya yang dipotong rapi khas militer terlihat sedikit berantakan, kancing teratas kemeja seragam lapangannya sudah terbuka dan menampilkan kesan yang sedikit lebih santai namun tetap memancarkan aura intimidasi yang kuat.
Gavin tidak langsung mendongak, jemarinya masih sibuk dengan beberapa lembar surat tugas patroli.
"Ada keperluan apa, Sersan?" tanya Gavin tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas.
"Maaf, Kapten. Ini saya, Dokter Hazel," ujar Hazel dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meskipun ada perasaan gugup yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Mendengar suara itu, gerakan pulpen di tangan Gavin mendadak terhenti. Pria itu perlahan mengangkat kepalanya, sepasang mata elangnya yang tajam langsung mengunci tatapan mata Hazel. Suasana di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu seketika berubah menjadi sangat tegang dan sunyi, hanya menyisakan suara detak jarum jam dinding dan desis halus kipas angin kecil di sudut meja.
Gavin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, melipat kedua tangannya di depan dada lalu menatap Hazel dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Dokter Hazel, ada urusan apa malam-malam begini menemui saya? Apa ada masalah darurat?" tanya Gavin datar, dengan nadanya yang sedingin es.
Hazel melangkah dua kali lebih dekat ke arah meja kerja Gavin, dengan tangan kanannya yang mencengkeram erat ujung bajunya
"Tidak, Kapten. Tidak ada masalah darurat," jawab Hazel jujur dan memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata pria yang pernah sangat ia cintai itu.
"Saya ke sini untuk membicarakan kejadian tadi siang di kantin," tambah Hazel.
Gavin menaikkan sebelah alisnya, ekspresi wajahnya tetap kaku tanpa riak emosi sedikit pun. "Kejadian di kantin? Seingat saya, semuanya sudah cukup jelas," tanya Gavin.
"Saya tahu dan untuk itu... saya ingin meminta maaf, Kapten Gavin. Tindakan saya tadi siang yang menjawab perkataan anda dengan nada tinggi di depan umum adalah hal yang tidak sopan dan tidak pantas dilakukan oleh seorang tenaga medis terhadap komandan tertinggi di pos ini," ucap Hazel.
Hazel menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk penghormatan dan keseriusan permohonan maafnya, "Saya tidak memiliki maksud untuk membangkang atau meremehkan aturan militer di sini, saya harap kejadian tadi siang tidak memengaruhi penilaian anda terhadap kinerja tim medis kami selama enam bulan ke depan," lanjut Hazel.
Keheningan kembali menyergap setelah Hazel menyelesaikan kalimatnya. Gavin tidak langsung menjawab, pria itu bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan membuat tubuh tingginya yang tegap kini berdiri menjulang di hadapan Hazel, hanya terpisahkan oleh meja kayu selebar satu meter.
Gavin berjalan perlahan memutari meja, melangkah mendekati posisi berdiri Hazel. Setiap ketukan langkah sepatu larasnya di atas lantai semen terdengar begitu mengerikan di telinga Hazel, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Gavin berhenti tepat di samping tubuh Hazel, jarak mereka begitu dekat hingga Hazel bisa merasakan embusan napas hangat dan mendengarkan detak jantung pria itu.
"Anda tidak perlu khawatir, saya bukan orang seperti itu. Saya akan berusaha untuk tidak mencampuradukkan masalah pribadi dan masalah pekerjaan, jika sudah tidak ada lagi urusan maka silakan keluar dari sini," ucap Gavin.
Mendengar jawaban super dingin dari Gavin, Hazel merasa seolah seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu tersedot habis. Perkataan Gavin barusan secara tidak langsung menjadi bukti nyata, ia memang ingat siapa Hazel, hanya saja pria itu memilih untuk memasang dinding pembatas yang begitu tebal dan tinggi di antara mereka.
"Baik, Kapten. Terima kasih atas pengertian anda, saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu anda. Saya permisi," ucap Hazel dengan suara yang nyaris berbisik.
Hazel membalikkan badan dan secepat mungkin keluar dari ruangan yang mendadak terasa sangat pengap itu.
.
Keesokan harinya, rutinitas pengabdian kembali berjalan, hari ini jadwal tim medis adalah melakukan penyuluhan kesehatan di Balai Desa seperti beberapa hari yang lalu.
Pagi ini cukup cerah, lumpur merah yang kemarin seperti bubur kini mulai mengering dan sedikit lebih padat, meskipun medannya tetap saja menanjak. Hazel sudah mengantisipasi hal ini dengan memakai sepatu boots karet yang ia pinjam dari inventaris dapur umum, persetan dengan penampilan, yang penting tumitnya tidak semakin hancur.
"Semuanya sudah siap? Kotak obat jangan sampai ada yang tertinggal," seru Dokter Edo memastikan.
"Aman, Dok! Semua sudah masuk tas," sahut Suster Nayla.
Saat mereka berjalan menuju gerbang depan pos, Hazel melihat dua orang prajurit berseragam lengkap dengan senjata laras panjang sudah bersiap di dekat mobil gardan ganda, salah satunya adalah Sersan Baim. Namun, yang membuat jantung Hazel tiba-tiba berdegup kencang adalah sosok pria tegap yang berdiri di samping Sersan Baim. Dia adalah Gavin, hari ini dia turun langsung untuk mengawal tim medis.
Gavin menoleh sekilas saat rombongan tenaga medis mendekat, pandangannya sempat tertuju pada kaki Hazel yang kini terbungkus boots karet kebesaran, lalu beralih ke wajah Hazel yang masih pucat.
"Hari ini rute kita melewati jalur rawan longsor, tetap dalam barisan dan jangan ada yang memisahkan diri," perintah Gavin tegas.
Perjalanan dimulai, Gavin berjalan di paling depan sebagai pembuka jalur, diikuti oleh Dokter Tyas dan Dokter Edo, sementara Hazel sengaja mengambil posisi paling belakang, tepat di depan Sersan Baim yang menjaga ekor barisan.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak