Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Akhir Ritual
"Mas, Mbak, gak apa - apa?" Tanya Dipta saat sampai di Pondokan.
"Petirnya ngeri banget. Kita semua di rumah khawatir." Imbuh Mifta yang datang bersama Dipta saat itu.
"Aku sama Meshwa baik - baik aja, Alhamdulillah. Nanti aku ceritain semuanya di rumah. Sekarang aku ganti baju dan sholat magrib dulu." Kata Arjuna.
"Iya, Mas." Jawab Dipta.
Arjuna pun segera masuk ke dalam pondokan. Ia dan Meshwa terburu - buru mengganti pakaian, kemudian segera berwudhu dan menjalankan sholat magrib. Sementara Dipta dan Mifta menunggu di teras pondokan.
"Ya Allah, bukan main emang peliharaan Arjuna." Kata Mifta yang langsung mengangkat kakinya ke atas lincak bambu. Tak hanya Mifta, Dipta pun melakukan hal yang sama dengan Mifta.
"Kok yo ndadak marani mbarang to iki? Ealah, jiaan. (Kok ya pakai datang segala to ini? Ealah, jiaan.)" Gerutu Dipta.
Bulu kuduk keduanya sama - sama merinding saat melihat ular kobra besar yang kini justru bersantai di depan pintu pondokan.
"Ini kalo matuk, selesai urusan kita, Dip." Kata Mifta.
"Makanya, jangan gerak - gerak. Ular itu sensitif sama pergerakan tiba - tiba." Sahut Dipta.
"Mas... Mas Juna... Belum selesai to, sholatnya?" Tanya Dipta.
"Kenapa, Dip? Ini baru selesai." Jawab Arjuna.
"Ini lho, ada yang nyariin kamu, Jun." Kata Mifta.
"Siapa?" Tanya Arjuna.
"Ya lihat sendiri aja lah. Susah di ungkapkan." Jawab Mifta.
Setelah membereskan pakaian dan barang - barangnya, Arjuna pun keluar bersama Meshwa yang berjalan di belakangnya.
"Muaasyaa Allah!" Seru Arjuna yang kaget melihat ular kobra yang sudah dalam posisi siaga di depan pintu.
"Mas! Ya Allah, Mas. Kok bisa sampe sini sih? Itu yang di hutan bukan?" Cicit Meshwa yang kini memeluk pinggang Arjuna karena takut.
"Bukan, Dek, beda ini. Kalo ini memang tinggalnya di Grojogan Lengkung." Jawab Arjuna.
"Mbok ya di suruh pergi apa gimana gitu lho, Mas. Ngeri banget kalo kepatuk." Kata Dipta.
Arjuna pun tertawa melihat Dipta dan Mifta yang sudah nyempil di pojok kursi, karena takut pada ular kobra besar itu. Arjuna akhirnya menyuruh ular besar itu pergi setelah mengusap kepala ular yang tampak tenang.
Setelah mengunci pondokan, mereka berempat pun kemudian segera turun dan kembali ke mobil. Berbekal lampu senter, keempatnya berjalan perlahan menuruni jalan setapak dan undakan batu yang licin karena hujan.
Meshwa yang memang kondisi tubuhnya belum stabil, tampak beberapa kali limbung dan hampir tergelincir.
"Mas, gendong aja ya, Sayang." Tawar arjuna.
"Agak usah, Mas. Aku gak apa - apa, kok." Jawab Meshwa.ia tentu taak tega membiarkan Arjuna menggendongnya karena perjalanan mereka masih cukup jauh.
"Udah, di gendong aja, Mbak. Tadi aja beberapa kali hampir jatuh gitu." Kata Dipta.
"Iya, Wa. Tenang aja, Arjuna kan kuat." Imbuh Mifta.
"Apa mau di buatin tandu, Mbak? Biar kita beriga gantian nandunya, gak apa - apa. Aku pinter kok, bikin tandu darurat." Kata Dipta.
"Jangan aneh - aneh ya, Dip. Pinter bikin tandu apanya? Mengko nak bojoku ceblok, kowe tak jongkrokne neng jurang. (Nanti kalau istriku jatuh, kamu tak dorong ke jurang.)" Kata Arjuna yang memecah tawa mereka.
Pada akhirya, Meshwa pun mau di gendong Arjuna setelah ketiga pria yang bersamanya itu memaksa dan berakhir dengan adu mulut.
"Heran deh, tiap kumpul bertiga kok ya pasti berantem. Wajar aja kalo orang tua di rumah itu pada sawan kalo kalian udah ngumpul." Omel Meshwa yang berada di gendongan Arjuna.
"kalo gak gini, gak rame kan, Mbak?" Sahut Dipta.
"Justru hal - hal yang kayak gini yang di kangenin sama orang tua - orang tua itu kalo kita lagi gak ada." Imbuh Mifta.
"Mana ada? Orang tua - orang tua itu gak ada kangennya denger suara udur - uduran. Orang tiap hari juga denger suara udur - uduran antara Mas Juna, Cima juga Bopo." Sergah meshwa yang membuat mereka bertiga tertawa.
Waktu sudah lewat isya saat mereka berempat sampai di rumah. Mereka semua langsung menuju ke kediaman Arjuna, dimana Keluarga sudah berkumpul di sana.
"Ya Allah, sampe pada gluprut gini." Kata Runi saat melihat cucu - cucunya yang kotor karena tanah becek.
"Makanya, jalan ke Grojogan itu besok di cor dong, Po. Masak udah puluhan tahun jalannya gitu - gitu aja." Komentar Dipta.
"Haha, masak di cor sih, Le. Orang besok mau di pasang marmer kok, sama Bopomu." Sahut Arsha.
"Lambene Mas Arsha. Sukur mengo wae. (mulutnya Mas Arsha. Asal mangap saja.)" Kata Aksa.
"Yo gak papa aku yang masang. Mas Arsha yang nyiapin semua materialnya. Nanti tak kerahin semua pasukanku. Tenang aja, kalo Mas Arsha udah siapin semua materialnya, ini bakal jadi proyek Roro Jonggrang Jilid Dua." Imbuh Aksa sambil menaik turunkan alisnya.
"Orang kamu Kepala Desanya kok, minta bantuan dari warganya." Sergah Arsha.
"Udah... Udah... Nanti ujung - ujungnya Sekdesnya ikut kebawa juga ini." Ujar Arjuna yang menengahi.
"Sudah, kamu gek bilas di kamar mandi belakang, nang. Meshwa bilas di kamar mandi dalam kamar. Airnya sudah di siapin itu." Titah Raina yang langsung di kerjakan oleh Anak dan Menantunya.
Setelah selesai membilas badan dan berganti pakaian, mereka semua berkumpul di ruang keluarga rumah Arjuna.
"Waktu ada petir tadi, kalian berdua dimana, Nang, Nduk? Kalian gak apa - apa, kan?" Tanya Abimanyu.
"Alhamdulillah gak apa - apa, Kung. Kami berdua ya masih berendam, wong masih waktunya." jawab Arjuna.
"Justru waktu ada petir berkali - kali itu, ada sesuatu yang di rasakan Meshwa dan aku lihat." Imbuh Arjuna yang langsung menarik atensi dari semua keluarganya.
Arjuna dan Meshwa pun menceritakan apa yang mereka alami saat sedang melakukan ritual Bopo dan Biyung di Gerojogan Lengkung. Cerita di mulai dari apa yang di rasakan Mehwa dan berakhir pada apa yang di lihat oleh Arjuna.
"Ya Allah, lihat deh, sampe merinding Buna." Kata Saira sambil menunjukkan bulu tangannya yang berdiri karena mendengar cerita dari Arjuna dan Meshwa.
"Apa ada kemungkinan alam sedang membersihkan badan Meshwa, ya?" Tanya Runi.
"Romo juga berpikirnya seperti itu, Bun." Jawab Abimanyu.
Semua anggota keluarga yang lain pun turut berpikiran demikian. Mengingat dengan kondisi Meshwa yang bisa di katakan sulit untuk memiliki keturunan.
"Ya mudah - mudahan, apa yang kalian alami hari ini akan menjadi sebuah pertanda baik kedepannya." Doa dari Abimanyu yang di amnikan oleh seluruh anggota keluarganya.
"Yasudah, sekarang kita istirahat. Besok kita harus bersiap untuk acara Akad ulang dan tasyakuran." Kata Arsha.
"Maharnya sudah di siapkan kan, Nang? Sesuai dengan yang akan di tulis di Buku Nikah." Tanya Aksa.
"Sudah dong, Po. Aman." Jawab Arjuna.
"Yasudah, kita istirahat. as Juna dan Mbak Meshwa istirahat juga, ya." Kata Saira sambil tersenyum penuh makna.
"Jangan sampe lupa waktu kalo nggarap, Jun. Gak lucu kalo besok pengantinnya kuyu." Imbuh Sashi.
"Harusnya Cima suruh tidur sama mereka sih, biar lebih aman." Timpal Gama.
"Kak Gama, gak usah aneh - aneh ya. Nanti tak sirep lho semuanya." Ancam Arjuna yang membuat mereka tertawa.