Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Konsisten Sekali
Suara hantaman batu di atas atap seng memotong sunyinya malam Malang Selatan.
Saskia tersentak dari tidurnya. Tiga hari sejak ia keluar dari vila Daniel, dan ini malam keempat berturut-turut ia dibangunkan oleh hal yang sama. Batu. Atap. Dan sekarang, suara langkah kaki yang berlari menjauh di jalan tanah.
Ia tidak mengejar. Tidak berteriak. Tidak membuka pintu.
Ia hanya duduk di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang remang-remang, dan menghitung.
"Empat malam," bisiknya. "Konsisten sekali."
Dulu, sebelum ia mati dan terbangun di tubuh ini, Saskia Mahendra pernah menangani kasus psikologi hewan. Stres kronis pada sapi perah yang dipindahkan ke kandang baru. Gejalanya selalu sama di malam pertama: gelisah, tidak mau tidur, mudah kaget. Tapi di malam keempat, mereka mulai terbiasa. Suara yang tadinya menakutkan jadi latar belakang. Langkah kaki yang tadinya mengancam jadi rutinitas.
Sama seperti dirinya sekarang.
Ia bangkit dari tempat tidur. Mengenakan sandal jepit. Berjalan ke dapur, menuang air putih dari teko tanah liat. Dari jendela dapur, ia bisa melihat bayangan samar di pagar depan. Tidak bergerak. Hanya berdiri. Mengawasi.
"Siapa disitu?" tanyanya keras.
Bayangan itu bergerak mundur, lalu menghilang di kegelapan.
Saskia tidak mengejar. Ia menghabiskan air putihnya, mencuci gelas, dan kembali ke tempat tidur. Besok masih ada empat sapi Wagyu yang harus diurus.
Pagi harinya, bangkai ayam hitam tergeletak di depan pintu kandang.
Saskia menemukannya saat ia keluar untuk memberi pakan. Seekor ayam cemani, bulunya hitam semua, lehernya dipotong tidak rapi. Darahnya sudah mengering di tanah, membentuk genangan kecil berwarna coklat kehitaman. Lalat mulai mengerubutinya.
"Tumbal," gumam Saskia.
Ia tidak kaget. Ia sudah mendengar gosipnya. Tiga hari di vila Daniel, dan ketika ia kembali, seluruh desa sudah berbisik-bisik. Bibi Laras telah bekerja dengan efisien.
"Sapi impor tiba-tiba bisa hidup di kandang reyot? Tidak mungkin. Pasti pakai pesugihan."
"Itu sapi yang mati pasti tumbalnya. Tumbal pertama. Nanti nyusul tumbal manusia."
"Aku dengar dia kepergok simpan tuyul di belakang kandang. Makanya CCTV-nya banyak. Buat ngawasi tuyulnya."
Saskia mendengar semuanya. Di warung. Di jalan. Di pasar. Bisikan-bisikan yang sengaja dikeraskan begitu ia lewat. Tatapan-tatapan yang berubah dari kagum menjadi curiga, dari penasaran menjadi takut.
Ia tidak membantah. Tidak menjelaskan. Tidak membela diri.
Karena membantah gosip sama seperti melawan angin. Buang-buang tenaga.
Ia mengambil sarung tangan karet dari gudang, memakainya, lalu mengangkat bangkai ayam itu. Darah kering menempel di sarung tangannya. Bulu-bulu hitam rontok ke tanah. Lalat beterbangan.
Ia berjalan ke belakang kandang, ke lubang yang sudah ia gali kemarin. Lubang yang sama yang ia gunakan untuk mengubur bangkai ayam hari sebelumnya. Dan sehari sebelumnya lagi. Tiga ayam dalam tiga hari. Semuanya cemani. Semuanya dipotong dengan cara yang sama.
"Hemat sekali Bibi Laras," gumamnya. "Masih pakai modus yang sama."
Ia memasukkan bangkai ayam ke lubang. Menimbunnya dengan tanah. Meratakan permukaannya dengan kaki.
Lalu ia berhenti.
Di balik semak-semak dekat pohon besar, sesuatu bergerak.
Saskia tidak menoleh langsung. Ia melanjutkan meratakan tanah, pura-pura tidak melihat. Tapi tangannya perlahan merogoh saku, mengeluarkan ponsel butut yang ia beli bekas minggu lalu.
Kamera.
Ia mengarahkan ponsel ke arah semak-semak, pura-pura memotret lubang kuburan. Klik. Satu foto. Dua foto. Tiga foto.
Foto ketiga: wajah.
Di balik rimbunnya daun semak, ada sepasang mata yang menatap ke arahnya. Wajah laki-laki. Kemeja kotak-kotak. Rambut rapi. Kacamata hitam.
Wajah yang sama. Laki-laki yang sama yang merekam dengan ponsel saat truk kontainer Wagyu datang. Laki-laki asing yang bukan warga desa.
Saskia menurunkan ponselnya perlahan. Matanya masih menatap ke arah lubang kuburan. "Aku tahu kau disitu," katanya, suaranya tenang. "Tiga hari berturut-turut kau lempar batu ke atapku. Tiga ayam kau taruh di depan kandangku. Sekarang kau sembunyi di semak-semak."
Tidak ada jawaban. Tapi suara langkah kaki. Menjauh. Cepat.
Saskia tidak mengejar. Ia hanya berdiri di samping lubang kuburan, ponsel di tangannya, dan tersenyum tipis.
"Aku punya fotomu sekarang."
Ia berjalan kembali ke kandang. Menyalakan monitor CCTV. Memutar rekaman dari kamera luar. Di panel tujuh, tepat sebelum ia keluar pagi tadi, terlihat jelas sesosok laki-laki dewasa keluar dari semak-semak. Berjalan jongkok. Meletakkan sesuatu di depan pintu kandang. Lalu kembali ke semak-semak.
Wajahnya terekam jelas.
Saskia memperbesar gambar. Mengambil screenshot. Menyimpannya di galeri ponselnya.
"Ini bukan orang suruhan Bibi Laras," gumamnya. "Bibi Laras tidak kenal orang pakai kemeja kotak-kotak dan kacamata hitam."
Bibi Laras kenal preman-preman pasar. Laki-laki berjaket jeans lusuh dan sepatu boot kotor. Yang dulu mengejarnya di jalan setapak. Yang sekarang sesekali masih terlihat nongkrong di warung dekat rumah Bibi Laras.
Tapi laki-laki ini berbeda.
Terlalu rapi. Terlalu terlatih. Terlalu profesional.
"Kau siapa?" bisik Saskia pada layar monitor. "Siapa yang nyuruh kau?"
Malam harinya, suara hantaman batu di atap seng terdengar lagi. Tapi kali ini Saskia tidak bangun.
Ia terlalu sibuk menatap layar ponselnya. Foto wajah asing di semak-semak itu masih terbuka di galeri. Jemarinya menggeser ke foto berikutnya. Lalu ke foto berikutnya lagi. Semua foto yang ia ambil pagi tadi. Semua sudut. Semua angle.
Lalu ia berhenti di satu foto.
Foto terakhir. Yang ia ambil sebelum laki-laki itu pergi. Di foto itu, laki-laki tersebut sedang berbalik. Setengah berlari. Tapi ada sesuatu di tangannya. Sesuatu yang tidak ia sadari waktu memotret.
Saskia memperbesar.
Sebuah buku kecil. Atau notes. Atau...
"Kartu identitas," bisiknya.
Gambar di layar terlalu buram untuk dibaca. Resolusi ponsel bututnya tidak cukup bagus. Tapi bentuknya jelas: persegi panjang, putih, dengan foto kecil di sudut. Kartu identitas. Kartu perusahaan. Kartu sesuatu.
Laki-laki itu bukan preman. Bukan wartawan. Bukan warga desa sebelah.
Dia seseorang yang bekerja untuk orang lain. Seseorang yang punya kartu identitas. Seseorang yang dikirim.
Jari-jarinya mengetuk layar monitor. Wajah asing di semak-semak itu terekam dengan sangat jelas.