"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"Selamat datang kembali di titik paling rapuh dalam perjalanan Bima. Terkadang, hukuman terberat bukanlah jeruji besi, melainkan kesempatan untuk melihat kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikmu, namun kini kau hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan. Di episode ini, ego Bima mulai retak oleh kenyataan, meski ia masih terlalu pengecut untuk mengakui penyesalan itu. Mari kita saksikan bagaimana Bima menjadi orang asing yang paling dekat."
.
.
Jalanan kota kecil itu masih basah oleh sisa hujan semalam, meninggalkan aroma tanah yang segar dan genangan air yang memantulkan langit kelabu.
Sebuah mobil sedan hitam mewah merayap pelan, sangat kontras dengan hiruk pikuk pasar yang didominasi oleh motor-motor tua dan pejalan kaki yang membawa keranjang sayur.
Di kursi belakang, Bima Erlangga duduk bersedekap, napasnya berat, matanya yang memerah karena kurang tidur terus menyisir deretan ruko.
Pikirannya kalut. Minggu lalu, Clarissa mengamuk di rumah, saat menemukan catatan tagihan detektif Heru.
Wanita itu mengancam akan membatalkan pernikahan dan melaporkan manipulasi keuangan perusahaan Bima ke dewan komisaris jika Bima masih berani mencari Hana.
Ancaman itu membuat Bima terpaksa menghentikan kontrak Heru secara resmi. Namun, rasa penasaran yang berpadu dengan rasa tidak terima terus menggerogoti jiwanya.
Tanpa detektif, tanpa pengawal, Bima memutuskan datang sendiri hanya ditemani sopir setianya. Ia tidak bermaksud melabrak, setidaknya belum.
Ia hanya ingin melihat sendiri kebenaran dari foto-foto yang ia terima. Ia ingin membuktikan bahwa senyum Hana di foto itu hanyalah sebuah sandiwara kemiskinan.
"Itu rukonya, Pak," ucap sopirnya pelan, menunjuk sebuah bangunan putih bersih dengan aksen kayu minimalis yang tampak sangat terawat.
Jantung Bima berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya. Ia menarik napas dalam, namun dadanya terasa sesak saat melihat papan nama yang tergantung anggun. '**Saka's Kitchen**.'
Bima menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya, membiarkan celah sempit baginya untuk mengintip. Di teras ruko itu, ia melihatnya.
Hana sedang berdiri di sana. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna cokelat susu dengan rambut yang di ikat sederhana.
Di sampingnya, dr. Adrian berdiri sambil memegang kotak kue besar. Mereka tampak sedang berbincang dengan sangat akrab.
Tiba-tiba, Adrian mengatakan sesuatu, mungkin sebuah lelucon kecil yang membuat Hana tertawa lepas. Itu bukan tawa yang sopan atau dibuat-buat.
Itu adalah tawa yang tulus, tawa yang membuat matanya menyipit hingga membentuk garis bulan sabit yang indah.
Tawa yang dulu merupakan rumah bagi Bima, yang selalu menyambutnya sepulang kerja sebelum Bima sendiri memilih untuk membakarnya habis dengan keegoisan.
Bima merasakan panas menjalar di sekujur tubuhnya. Bukan hanya karena cemburu melihat kedekatan Hana dengan pria lain, tapi karena ia menyadari satu hal yang menyakitkan.
*Hana terlihat jauh lebih cantik sekarang daripada saat ia masih memakai perhiasan miliaran rupiah di Jakarta*.
Ada cahaya di wajah Hana yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ada aura kemandirian yang membuat Hana tampak begitu berwibawa meski ia hanya seorang penjual kue di kota kecil.
"Berhenti di sini," perintah Bima dengan suara parau yang hampir tak terdengar.
Bima mencengkeram erat robekan foto Aditya Saka yang sudah ia isolasi kembali dengan kasar di pangkuannya.
Ia ingin sekali membuka pintu mobil, melangkah turun, dan berteriak pada pria desa itu bahwa wanita tersebut adalah miliknya. Ia ingin mengklaim haknya.
Namun, tangannya tertahan di gagang pintu.
Ada guratan rasa sesal yang sangat dalam di matanya, sebuah pengakuan yang tertahan di tenggorokan. Ia melihat betapa ringannya Hana bergerak.
Ia melihat bagaimana Hana menyeka keringat di keningnya dengan sapu tangan, lalu kembali tersenyum pada pelanggannya. Di mata Bima, Hana tidak terlihat seperti wanita yang hancur.
Hana terlihat seperti wanita yang baru saja terlahir kembali dari abu pembakaran.
*Kenapa dia tidak merana* ? batin Bima pahit. *Kenapa dia bisa tersenyum seolah aku tidak pernah memberinya luka* ?
Bima menatap tajam ke arah Adrian. Pria itu tampak sangat memuja Hana. Cara Adrian menjaga jarak namun tetap perhatian, cara Adrian memegang kotak kue itu seolah itu adalah harta karun, itu adalah segala hal yang Bima gagal lakukan sebagai suami.
"Dia bukan siapa-siapa, Pak," bisik sopirnya, mungkin mencoba menenangkan majikannya yang tampak gemetar.
"Diam," desis Bima. Ia tak mau mengakui bahwa hatinya baru saja hancur berkeping-keping melihat mantan istrinya diperlakukan seperti ratu oleh pria lain di tempat yang ia anggap hina ini.
Hana, yang sedang tertawa, mendadak terhenti. Instingnya sebagai wanita yang pernah hidup bertahun-tahun dalam ketakutan di bawah bayang-bayang Bima tiba-tiba berteriak.
Ia merasakan kehadiran sesuatu yang gelap, sebuah aura yang sangat ia kenali.
Hana memalingkan wajahnya ke arah jalan raya. Matanya tertuju pada mobil sedan hitam yang terparkir sekitar sepuluh meter dari rukonya. Meskipun kacanya gelap, Hana tahu ada mata yang sedang mengawasinya dari dalam sana.
Dulu, kehadiran mobil itu akan membuat Hana gemetar, berlari menjemput ke depan pintu dengan rasa cemas, takut suaminya pulang dengan suasana hati yang buruk.
Namun sekarang, Hana merasakan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada ketakutan. Kebencian yang dibalut dengan kebekuan hati.
Hana menatap lurus ke arah kaca mobil yang gelap itu. Ia seolah menantang siapa pun yang ada di dalam sana. Tidak ada air mata kerinduan.
Hanya ada kehampaan yang mengerikan, seolah Bima hanyalah seonggok debu masa lalu yang mencemari pemandangannya.
"Hana? Ada apa?" tanya Adrian, menyadari perubahan raut wajah Hana.
Hana tidak menjawab. Ia terus menatap mobil itu. Di dalam mobil, Bima terpaku. Ia merasa tatapan Hana menembus kaca gelap itu dan langsung menusuk jantungnya.
Ia ingin turun, ia benar-benar ingin memeluk wanita itu dan menanyakan kabarnya, tapi egonya yang besar menahannya. Ia merasa kalah.
Hana tidak membiarkan Bima mengambil langkah apa pun. Dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh ketegasan, ia berbalik. Ia tidak berlari masuk, ia melangkah dengan martabat yang utuh.
"Hana?" Adrian mengikuti langkahnya dengan bingung.
Hana memegang gagang pintu kayu rukonya yang estetik. Sebelum ia benar-benar masuk, ia melirik sekilas lagi ke arah mobil Bima, sebuah tatapan pemutusan yang sangat telak.
**Brak** ...!
Pintu itu tertutup.
Bima, yang tangannya masih memegang gagang pintu mobil dari dalam, hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana tangan Hana meraih papan kayu yang tergantung di jendela kaca.
Dengan gerakan perlahan namun pasti, Hana membalikkan tulisan 'BUKA' menjadi 'TUTUP'.
Bima bisa melihat bayangan Hana di balik kaca transparan itu sedang mengunci pintu dari dalam.
Sebuah tembok tak terlihat, namun jauh lebih kuat dari beton mana pun, baru saja ditegakkan di depan wajah Bima.
"Jalan," ucap Bima dingin, namun suaranya pecah di ujung kalimat.
"Kita pulang sekarang, Pak?" tanya sopirnya ragu.
"Jalan! Kembali ke Jakarta!" raung Bima.
Sepanjang perjalanan meninggalkan Sukamaju, Bima hanya menatap keluar jendela. Ia melihat robekan foto Saka di pangkuannya. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang jauh lebih besar daripada saat ia kehilangan proyek miliaran rupiah.
Ia baru saja menyadari bahwa uangnya, kekuasaannya, dan nama besarnya tidak bisa membeli jalan masuk kembali ke dalam hidup wanita yang pernah ia buang dalam keadaan hamil.
Hana telah membangun kebahagiaannya sendiri. Hana tidak butuh dia. Dan yang paling menyakitkan, Hana tidak lagi takut padanya.
Di matanya kini ada guratan penyesalan yang sangat nyata, sebuah duka bagi masa lalu yang ia hancurkan sendiri.
Namun, saat ponselnya bergetar dan nama '**Clarissa**' muncul di layar, Bima segera memasang topeng angkuhnya kembali. Ia tidak akan pernah mengakui bahwa hari ini, ia kalah telak.
"Halo, Clar? Iya, aku sudah di jalan pulang. Tidak akan lama. Aku hanya menghadiri rapat kecil yang membosankan," ucap Bima dengan nada datar, sementara air matanya hampir jatuh menatap ruko Hana yang semakin menjauh di spion mobilnya.
Bima telah melihat kenyataan, namun ego dan ancaman Clarissa masih membelenggunya. Akankah Bima tetap diam, melihat Hana bahagia?
Jangan lewatkan episode selanjutnya yaaa ....
...----------------...
**To Be Continue** ....