NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Pesan Teror dari Nomor Asing

****

Langkah kakiku terasa sangat berat dan goyah saat keluar dari toilet perempuan bersama Risa. Setiap jengkal koridor panjang menuju ruang kelas XII MIPA 2 rasanya dipenuhi oleh pasang mata murid-murid lain yang mengamatiku dengan penuh kecurigaan. Kabar tentang eksistensi foto di lapangan basket yang kini berada di genggaman Devan benar-benar membuat lambungku terasa diaduk-aduk oleh rasa mual yang hebat akibat kepanikan yang luar biasa. Pikiran mengenai bagaimana Devan mengontrol seluruh informan di sekolah ini membuat bulu kudukku tidak henti-hentinya meremang sepanjang jalan.

Begitu aku mendorong pintu kayu kelas yang bercat putih itu, suasana di dalam ruangan tampak begitu normal, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Devan sudah kembali duduk tenang di kursinya yang berada di barisan paling depan, tepat di bawah papan tulis. Dia sedang fokus membaca sebuah buku paket matematika tebal dengan ekspresi wajah yang sangat damai dan teduh. Penampilannya begitu sempurna, seolah-olah obrolan menegangkan dengan anak-anak keamanan OSIS kelas IPS tadi pagi sama sekali tidak pernah terjadi di dalam kamus hidupnya.

"Kamu dari mana saja, sayang? Kok lama sekali di toiletnya?" tanya Devan begitu aku menduduki kursi kosong di sebelahnya. Suaranya mengalun sangat lembut, lengkap dengan senyuman manis khasnya yang biasa dia tunjukkan di depan umum. Namun, setelah mendengar penuturan detail dari Risa beberapa menit yang lalu, senyuman manis itu kini terlihat seperti sebuah topeng tebal yang menyembunyikan belati tajam yang siap menusukku kapan saja.

"T-tadi gue nemenin Risa ke koperasi sebentar setelah dari toilet, Dev. Nyari beberapa perlengkapan tulis yang habis," bohongku lagi untuk kesekian kalinya, mencoba sekuat tenaga mengalihkan pandangan mataku dengan membuka lembar buku catatan di atas meja agar tidak perlu menatap matanya.

Devan tidak membalas penjelasanku dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk pelan dengan gerakan yang sangat konstan, lalu tangan kanannya yang dingin tiba-tiba terulur untuk merapikan ujung kerah jaket rajut tebal yang kupakai. Gerakannya terasa begitu lambat namun memiliki penekanan halus yang sangat terasa di kulit leherku.

"Ya sudah, lain kali kalau kamu mau ke mana-mana setelah bel masuk, bilang ke aku dulu ya, sayang. Aku gak suka menebak-nebak di mana pacar aku berada saat aku gak ada di sampingnya," bisik Devan dengan intonasi yang sedikit ditekan pada kalimat akhir, membuat dadaku seketika terasa semakin sesak. Dia tahu aku sedang berbohong, tapi dia memilih untuk menyimpannya sendiri, membiarkan aku tersiksa dalam ketakutan teka-teki yang dia ciptakan.

Siksaan psikologis yang tak kasat mata itu terus berlanjut hingga jam pulang sekolah akhirnya tiba. Sore itu, hujan gerimis kembali mengguyur kota, menciptakan suasana kelam yang seolah mendukung rasa cemas yang kian menumpuk di dalam dadaku. Devan mengantarku pulang sampai ke depan pagar rumah menggunakan mobil sedan mewah hitam milik keluarganya. Sepanjang perjalanan membelah jalanan kota yang basah, dia tetap bersikap sangat manis, bahkan sempat membelikanku sekotak susu cokelat kesukaanku di toko waralaba dekat komplek. Tidak ada konfrontasi, tidak ada amarah yang meledak. Semuanya berjalan terlalu sempurna, dan ketenangan yang tidak wajar itu justru membuatku semakin dirundung ketakutan yang hebat.

Begitu aku sampai di dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, aku langsung melempar tas ranselku ke atas kasur tanpa memedulikan isinya yang berantakan. Aku merosot duduk di balik pintu kayu kamar yang dingin, menyembunyikan wajahku di antara kedua lututku yang bergetar. Aku lelah. Aku benar-benar berada di titik nadir dan lelah dengan seluruh sandiwara beracun yang menguras sisa-sisa kewarasanku ini.

*Bzzzt... Bzzzt...*

Ponsel yang terletak di dalam kantong luar tas ranselku mendadak bergetar panjang, memecah kesunyian kamar. Jantungku seketika berdegup kencang seperti genderang perang. Dengan telapak tangan yang gemetar hebat dan dingin, aku membuka ritsleting tas dan merogoh benda pipih tersebut keluar.

Layar ponsel menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor asing yang sama sekali tidak kukenal. Ketika aku menggeser layar dan membuka isi pesan teks tersebut, seluruh duniaku rasanya runtuh dan membeku seketika itu juga.

> **Unknown:** *Gue tahu lo terpaksa jadi boneka pemeras emosinya si Ketos bangsat demi menyelamatkan masa depan Saka dari pemecatan sekolah. Tapi tebak apa yang gue pegang di tangan gue sekarang? Foto lo berduaan dan bermesraan sama Saka di lapangan basket kemarin sore sudah ada di tangan gue. Kalau lo gak mau foto ini tersebar luas di akun menfess sekolah malam ini juga—yang otomatis bakal bikin Saka bener-bener didepak secara tidak hormat—temui gue di kafe tua ujung jalan komplek rumah lo sekarang. Datang sendirian, jangan coba-coba bawa Devan atau siapa pun.*

>

Gue membelalakkan mata, menatap barisan teks di layar ponsel dengan napas yang memburu naik turun. Teror. Ini adalah sebuah teror yang nyata. Namun, naluri pemikiranku mengatakan bahwa ini bukan pesan dari Devan. Gaya bahasa yang digunakan di dalam teks terlalu kasar dan ugal-ugalan untuk ukuran seorang Devan Dirgantara yang selalu menggunakan bahasa formal, tertata rapi, dan kalkulatif dalam situasi apa pun. Apakah ini ulah salah satu anak buah keamanan OSIS yang ingin memeras gue secara sepihak untuk keuntungan pribadi? Ataukah ada pihak ketiga, musuh dalam selimut yang sengaja memanfaatkan situasi keretakan hubungan kami bertiga untuk menghancurkan segalanya sekaligus?

Air mataku kembali mengalir deras tanpa bisa kubendung, membasahi permukaan layar ponsel yang masih menyala. Ancaman yang dikirimkan oleh nomor asing itu benar-benar sangat matang dan mematikan. Jika foto kebersamaanku dengan Saka di lapangan basket kemarin sampai tersebar luas di akun menfess sekolah dengan narasi perselingkuhan atau keributan baru, pihak sekolah yang sudah memegang draf pelanggaran Saka tidak akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan surat pemecatan resmi besok Pagi. Masa depan Saka Aditya kini benar-benar berada di ujung tanduk yang rapuh, dan itu semua terjadi karena kecerobohanku sendiri yang tidak bisa menahan diri kemarin sore.

Aku melihat ke arah jam dinding kamarku dengan pandangan kabur. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore lewat lima belas menit. Di luar jendela kamar, hujan gerimis masih setia turun membasahi jalanan aspal komplek yang perlahan-lahan mulai diselimuti kegelapan malam.

Tanpa berpikir panjang lagi tentang keselamatan diriku sendiri, atau bahaya apa yang mungkin menungguku di luar sana, aku langsung menyambar jaket rajut tebal berwarna hitam milikku dari gantungan baju. Aku membuka dompet kecil di bagian kompartemen bawah tas, memastikan gelang perak dengan bandul bintang kecil pemberian Saka masih tersimpan aman di sana, lalu mengantonginya dengan erat di dalam saku jaket bagian dalam. Aku harus menemui orang ini, siapa pun dia. Aku harus menghentikan teror foto ini sebelum segalanya terlambat dan menjadi konsumsi publik satu sekolah.

Dengan langkah kaki yang mengendap-endap dan sangat pelan agar tidak memancing kecurigaan orang tuaku di lantai bawah, aku membuka pintu kaca yang mengarah ke balkon kamar. Aku turun dengan hati-hati melalui tangga besi darurat yang berada di samping rumah. Begitu kakiku menapak tanah, aku langsung berlari kencang menerobos rintik gerimis sore yang terasa sangat dingin menusuk tulang, menyisir trotoar jalanan komplek yang sepi menuju ke arah kafe tua yang dimaksud di ujung jalan.

Gue tidak pernah menyadari, bahwa langkah kaki nekat yang kuambil sore itu bukan membawa gue menuju jalan keluar dari lingkaran beracun ini, melainkan melangkah masuk ke dalam jebakan baru yang jauh lebih gelap dan berbahaya, yang sengaja dipasang di tengah-tengah medan perang dingin antara dua cowok *red flag* ini. Sumbu ledak baru yang jauh lebih besar telah resmi dinyalakan melalui pesan teror dari nomor asing tersebut, dan aku tidak memiliki pilihan lain selain berlari mendekatinya sebelum bom itu meledak menghancurkan hidup kami semua.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> **Aduh, ampun deh! Makin rumit, makin tegang, dan bener-bener bikin senam jantung alur cerita RED FLAG di Bab 14 ini!** Tekanan mental yang dialami oleh Mika bener-bener dinaikkan oleh penulis ke level yang jauh lebih ekstrem dan berbahaya. Gak cuma harus menghadapi sikap Devan yang luar biasa tenang tapi mematikan di dalam kelas, Mika sekarang malah mendapatkan teror dari nomor asing misterius yang memegang bukti foto dirinya bersama Saka di lapangan basket kemarin sore!

> Keberanian dan kenekatan Mika buat datang sendirian ke kafe tua di ujung jalan komplek di tengah hujan gerimis, demi melindungi masa depan dan sekolah Saka, bener-bener membuktikan betapa tulus dan dalamnya rasa setianya sebagai seorang sahabat masa kecil. Tapi jujur, gue sebagai penulis yang merancang cerita ini aja ikutan cemas dan merinding, kira-kira siapa ya sosok asli di balik nomor asing yang mengirimkan pesan teror mengerikan itu? Apakah benar salah satu anak buah keamanan OSIS suruhan Devan yang berkhianat, atau justru ada karakter baru musuh dalam selimut yang mau menghancurkan mereka?

> semangat, jaga kesehatan, dan *stay alert, guys!*

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!