NovelToon NovelToon
Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:190.4k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Grandmaster Fana

Pagi di Kota Yunzhou selalu berbau tanah basah dan asap tungku.

Di sudut jalanan sempit dekat gerbang barat, sebuah kios kecil berdiri sederhana di antara deretan pedagang lain. Papan kayunya sudah agak kusam, tulisan di atasnya memudar dimakan hujan dan angin — Toko Buku Lin. Di balik meja yang dipenuhi tumpukan buku bergambar, seorang pemuda duduk santai sambil menyesap teh yang sudah setengah dingin.

Wajahnya biasa saja. Bukan tampan yang mencuri perhatian, bukan pula buruk yang mengundang pandang. Hanya tenang — tenang seperti kolam tua yang tak pernah terguncang angin.

Namanya Lin Qian.

Sebelum membuka kios setiap pagi, ia selalu meluangkan waktu di halaman sempit di belakang tokonya. Gerakan Tai Chi yang ia lakukan mengalir tanpa celah — setiap perpindahan bobot, setiap putaran pergelangan, sempurna hingga ke rincian terakhir. Bagi siapa pun yang mengerti seni bela diri murni, mereka akan menahan napas menyaksikannya. Keindahan yang nyaris seperti tarian langit.

Sayang, dunia ini tidak peduli dengan keindahan tanpa Qi.

Dua puluh tahun, batinnya datar, menatap langit pagi yang mulai ramai oleh titik-titik cahaya. Dan aku masih berjualan buku.

Cahaya-cahaya itu adalah para kultivator — murid sekte, pengembara pedang, atau sekadar orang berbakat yang bahkan lalat pun bisa mereka bunuh dari jarak seratus tombak. Mereka melesat seperti meteor di siang bolong, tak peduli dengan kerumunan manusia biasa di bawah mereka.

Yunzhou mendadak ramai bukan karena panen bagus atau festival musiman. Kabar sudah tersebar ke seluruh penjuru: Sekte Lingxue dan Sekte Xuanwu akan bertanding. Bukan latihan, bukan ujian — pertarungan hidup mati. Para pedagang menggelar lapak lebih pagi, pendekar jalanan menjajakan jimat dan ramuan murahan, semua orang sibuk mengais keuntungan dari hiruk-pikuk para orang kuat.

Lin Qian merapikan tumpukan bukunya dengan jempol.

Bukan urusanku.

Namun belum sempat ia menyesap tehnya lagi, dua sosok perempuan muncul dari kerumunan.

Yang pertama adalah gadis kecil berambut kepang dua, berlari setengah melompat dengan mata berbinar ke segala arah. Jubahnya putih bersih bergaris biru muda — seragam murid Sekte Lingxue yang mudah dikenali. Yang kedua berjalan beberapa langkah di belakangnya, dan orang-orang di sekitar tanpa sadar membuka jalan.

Wajar saja.

Wanita itu berjalan seperti salju turun — sunyi, dingin, dan terasa berat meski tak bersuara. Jubah putihnya tak berdebu walau jalanan penuh pasir. Rambutnya terikat rapi, wajahnya sempurna dengan ekspresi yang tampaknya sudah lama lupa cara tersenyum. Aura seorang kultivator berderajat tinggi memancar darinya seperti dinginnya lereng puncak gunung di musim salju.

Mei Lian. Salah satu murid terbaik Sekte Lingxue.

Adiknya, Xiao Rui, sudah lebih dulu berhenti tepat di depan kios Lin Qian. Mata beningnya menyapu tumpukan buku bergambar, lalu langsung bersinar.

"Kak, lihat! Gambarnya bagus sekali!" serunya, tangan kecilnya sudah hampir menyentuh salah satu buku.

"Xiao Rui."

Suara Mei Lian jatuh seperti es. Gadis kecil itu langsung menarik tangannya kembali.

Pandangan Mei Lian melintas sekilas ke arah Lin Qian — singkat, datar, mengandung sesuatu yang lebih menyakitkan daripada penghinaan langsung. Tatapan yang sama yang orang gunakan saat melihat batu di tepi jalan. Ia menilai, lalu mengabaikan.

"Kita ada urusan penting," ucapnya dingin. "Jangan buang waktu pada barang tak berguna buatan manusia biasa."

Manusia biasa.

Lin Qian menyesap tehnya. Tidak ada yang berubah di wajahnya.

Namun jauh di dalam dadanya, sesuatu terasa seperti bara yang diinjak pelan-pelan. Sudah dua puluh tahun ia hidup di dunia ini. Sudah dua puluh tahun ia menelan kata-kata seperti itu. Saluran tenaganya tersumbat sejak lahir — tak secuil pun bakat kultivasi mengalir dalam dirinya. Di mata para kultivator, ia memang tidak lebih dari semut.

Seandainya aku kuat, pikirnya pahit, sudah kuberi pelajaran wanita sombong itu.

Tapi ia tidak kuat. Jadi ia diam.

Xiao Rui menguncupkan bibir, matanya mulai mengembun. Mei Lian meliriknya sebentar, menghela napas panjang penuh ketidakrelaan, lalu melempar satu keping emas ke atas meja dengan gerakan setengah jijik — seperti melempar tulang untuk anjing jalanan. Tanpa bertanya harga, tanpa menunggu kembalian, ia mengambil satu buku sembarangan dan berbalik pergi.

"Ayo."

Xiao Rui mengikutinya, sempat berbalik melempar senyum kecil ke arah Lin Qian seolah meminta maaf atas kelakuan kakaknya.

Lin Qian menatap keping emas itu. Nilainya dua kali lipat harga buku mana pun di mejanya.

Ia mendengus pelan, lalu menyimpannya.

 

Beberapa saat kemudian, di lorong sepi di balik kedai teh tak jauh dari kios Lin Qian, Xiao Rui membuka buku itu dengan penuh semangat. Halaman demi halaman ia balik, sesekali bergumam kagum melihat gambar-gambar jurus yang digoreskan dengan tinta hitam tebal namun mengalir indah.

"Kak Mei, yang ini keren! Lihat caranya berdiri—"

"Simpan saja."

Tapi Xiao Rui sudah terlanjur menunjukkan halaman itu. Mei Lian hendak berpaling, namun sudut matanya menangkap sesuatu.

Sebuah pola.

Bukan gambar jurus biasa. Di sudut halaman terakhir, tersembunyi di balik goresan tinta yang tampak seperti hiasan belaka, terdapat susunan garis yang membentuk sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada di tangan pedagang jalanan.

Niat Bela Diri.

Bukan tiruan. Bukan sketsa. Tapi niat sesungguhnya — jiwa seorang yang telah menembus batas tertinggi ilmu bela diri, tertuang dalam satu gambar seperti petir yang membeku di atas kertas.

Tubuh Mei Lian seketika menegang.

Benturan tak kasat mata menghantam kesadarannya seperti puncak gunung runtuh. Ia tidak sempat membela diri, tidak sempat mengalihkan Qi-nya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya sebelum ia menyadari dirinya sudah mundur dua langkah, lutut hampir bertekuk.

Tangannya gemetar memegang buku itu.

"Niat Bela Diri…" bisiknya, suaranya pecah tak percaya.

Di kejauhan, di balik meja kios kayu tuanya, Lin Qian masih menyesap teh yang sudah benar-benar dingin.

Tanpa tahu sama sekali apa yang baru saja terjadi.

-----bersambung bab 2 -------

1
Man Mann
TIBA² ADA SI TUKANG DAGING,,,MAKA MC SORANG JE SITU TADI😪😪😪
brajamusti
ayoo berkumpulll.... perangggg💪💪💪💪💪
nanonano
salah paham semua
nanonano
bener2 aneh ini guru sama murid
Man Mann
OHHH,, NI CERITA SEBELUM LI NIANFAN(TERNYATA AKU SEORANG KULTIVIATOR HEBAT)😪😪😪
nanonano
bener bener konyol..dao kotoran 😅
Man Mann
KENAPA PULA NAMA ANJING TU TIBA² JADI YUN LAN,,,BUKAN KE YUN LAN TU NAMA WANITA YANG MC JUMPA DEKAT PERGUNUNGAN TU😪😪😪
Azkiya Faiha: Maaf bro...sudah di perbaiki,terima kasih🙏🙏🙏
total 1 replies
Man Mann
HAN YU TIBA² MUNCUL PULA DAH,,,MENCARUT KAU THOR😪😪😪
Be a favorite
lelet.
Be a favorite
lelet
Man Mann
SHEN YI SIAPA PULA!! BANYAK MENCARUT KAU THOR😪😪😪
Man Mann
JING WUFENG MATI KE TIDAK,, KENAPA TERGANTUNG MACAM TU CERITANYA,,,SEPATUTNYA KAU JELASKAN LAH THOR,,BUKANNYA KAU BUAT CERITA YANG TIDAK ADA KEPASTIANNYA,,,,😪😪😪
Be a favorite
orang berilmu tinggi mudah di obatinya, satu orang muridnya masih pemula, blom kelar2 di obati masih terbaring lemah..dengan segampang itu mengatakan itu mudah di obati.. banyak bual yg GK guna.
Be a favorite
lucu ni alur cerita, sebagian orang menganggap dia dewa, namun MC sendiri menganggap dirinya manusia biasa, GK ada yg istimewa, namun semua lukisan, dan barang barang seperti pisau ,lap bahkan tangga pijakannya adalah barang sakti, namun satu orang muridnya, bisa bisanya digebuki orang sampai hampir mati, karena sebelumnya juga muridnya baru sembuh dari penyakit. muridnya cuma satu, namun bisa hampir mati di gebukin orang, jadi kemampuan MC, dan sistem yg dimilikinya buat apa, apalagi mcnya menganggap sistem yg dimilikinya GK penting. berarti setelah ini alur ceritanya semakin GK jelas kemana arahnya/ artinya yg penting ada tulisan dan menjadi novel walaupun banyak orang GK paham alurnya. ckckck..
Sulaiman Alias
Bagus novelnya
Yeye Khairil
👍👍
Dafa Bin Andik
🤣🤣🤣😄😄😄😄🤣 hhhhhhhh yg baca juga ketawa
Dafa Bin Andik
bagus
Dafa Bin Andik
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 wussss
Dafa Bin Andik
awas mati jantungan kedengaran wussss 🤣🤣🤣🤣🤣🤣😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!