Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tiga Penjaga Perbatasan
Setelah tugasnya selesai, Zhao Fei dan Liu Xue keluar dari balik air terjun raksasa itu sambil membawa sabit panjang milik penyihir Miao Yu di tangan Zhao Fei. Sementara itu, tangan kiri Liu Xue memegang sisa-sisa jubah hitam yang tertinggal dari pertempuran sengit di dalam gua. Mereka berjalan menuju desa untuk memastikan jika penyebab tercemarnya sungai telah ditumpas.
Para warga desa yang sejak tadi setia menunggu di desa sekitar aliran sungai pun langsung bergerak maju, mengerubungi kedua utusan sekte dengan penuh antusiasme.
"Lihatlah ukuran sabit yang sangat besar itu!"
"Jadi, seluruh cerita mengenai keberadaan penyihir jahat di balik dinding air terjun itu benar adanya?"
"Tindakan yang kalian lakukan sungguh luar biasa!"
Liu Xue segera mengambil alih kedua benda berbahaya milik musuh itu, sementara tangan kanannya merasuk ke dalam saku jubah, mengeluarkan selembar segel kertas berwarna emas yang memancarkan cahaya spiritual.
"Kedua objek berbahaya ini akan kami bawa kembali menuju pusat sekte sebagai barang bukti resmi," jelas Liu Xue kepada perwakilan warga desa. "Ini merupakan sebuah prosedur standar yang wajib dijalankan untuk mengamankan benda-benda magis peninggalan dari pihak musuh."
Zhao Fei berbicara dalam hati saat menyaksikan proses pengamanan itu. Bagaimana di dimensi Alam Dewa tempat dirinya berkuasa dahulu, prosedur semacam ini juga sering kali diterapkan setelah memenangkan sebuah pertempuran besar. Namun, mekanisme eksekusinya tentu tidak menggunakan selembar kertas segel sederhana ini, melainkan memanfaatkan sebuah formasi penyegelan spasial yang teramat rumit dan berlapis. Meskipun metodenya memiliki perbedaan, dia menyadari bahwa esensi tujuannya tetaplah sama, yakni mencegah agar benda-benda berbahaya itu tidak kembali disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pria yang bertindak sebagai perwakilan desa, yang sejak awal memandu perjalanan mereka, kini melangkah maju ke depan. Garis wajahnya masih memperlihatkan sedikit kelelahan fisik, tetapi sepasang matanya tampak berbinar dengan sangat cerah.
Dia membungkuk hormat yang teramat dalam di hadapan kedua utusan Sekte Garuda Putih itu. "Terima kasih yang sebesar-besarnya, Tuan dan Nona Utusan Agung. Sungguh, kami dari kalangan rakyat fana tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membalas seluruh kebaikan dan perlindungan yang telah kalian berikan."
Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah Liu Xue dengan penuh rasa hormat. "Tolong sampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya dari seluruh warga desa ini kepada Tetua Utama Sekte Garuda Putih. Beliau telah berbaik hati mengirimkan para ksatria hebat untuk menyelamatkan pemukiman kami dari petaka maut."
Liu Xue menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah, memberikan isyarat bahwa dia menerima pesan itu. "Akan kupastikan seluruh amanat dan ucapan terima kasih kalian tersampaikan dengan baik kepada Kakek."
Pria perwakilan desa itu kembali melontarkan sebuah pertanyaan untuk memastikan agenda selanjutnya. "Apakah setelah urusan ini selesai, kalian berdua akan langsung melakukan perjalanan pulang menuju pusat sekte? Aliran air sungai ini telah berubah menjadi sangat jernih kembali tepat setelah wujud penyihir itu lenyap. Bahkan beberapa warga telah mencoba mengonsumsinya tanpa merasakan adanya efek samping."
Liu Xue memberikan pembenaran atas pertanyaan itu. "Benar, kami memiliki kewajiban untuk segera kembali ke area sekte untuk melayangkan laporan resmi mengenai pergerakan Sekte Ular Berbisa. Tapi, sebelum kami benar-benar pergi..."
Kalimat penjelasan dari gadis itu mendadak terpotong setelah tiga buah objek misterius tampak meluncur turun dari arah langit dengan tingkat kecepatan yang luar biasa ekstrem. Mereka mendarat dengan sangat sempurna di atas permukaan tanah, menciptakan sebuah getaran kecil tepat di area yang tidak terlalu jauh dari posisi berdiri Zhao Fei.
Serpihan tanah bersama kerikil sempat berhamburan ke udara selama beberapa saat, sebelum akhirnya menghilang tersapu oleh embusan angin.
Tiga orang pria kini berdiri gagah di hadapan mereka, menampilkan aura kekuatan yang terpancar terang.
Pria pertama yang berada di sisi kanan tampak memegang sebilah kipas lipat di tangan kanannya dengan sepasang mata yang memancarkan aura kebijaksanaan yang tinggi. Jubah kultivasi yang dikenakannya terlihat sangat rapi, tanpa ada setitik pun noda kotoran yang menempel pada kainnya.
Adapun pria kedua memiliki perawakan tubuh yang teramat tinggi serta kekar bagaikan dinding batu. Gaya rambutnya dipotong pendek dengan model cepak yang rapi, menampilkan garis wajah yang kalem tanpa memperlihatkan banyak ekspresi emosi. Dia hanya berdiri membeku, memberikan kesan kokoh laksana sebuah gunung raksasa yang tidak tergoyahkan. Meski semua orang bisa melihat bagaimana senyumannya itu membuat orang-orang tidak takut dengan penampilannya.
Sedangkan pria ketiga justru memperlihatkan karakteristik yang paling nyentrik di antara mereka semua. Dia tampak sibuk melempar-lempar tiga bilah belati ke udara secara bergantian, menangkap gagangnya dengan sangat lincah, lalu melemparkannya kembali ke atas dengan ritme yang teratur. Gerakannya yang dinamis itu terlihat mirip dengan aksi seorang pemain sirkus profesional yang sedang melakukan pertunjukan di atas panggung.
Zhao Fei menyipitkan matanya, mengingat kembali beberapa informasi yang pernah dia dengar secara sekilas saat berada di lingkungan sekte. Ketiga orang ini tidak lain merupakan anggota resmi dari divisi khusus yang berada di bawah komando kepemimpinan Liu Xue. Tingkat kapasitas kultivasi murni yang mereka miliki setidaknya telah mencapai ranah tingkat enam atau lebih, sebuah pencapaian yang teramat tinggi mengingat dunia bawah ini hanya memiliki total sepuluh tingkatan kekuatan. Mereka adalah salah satu barisan elite terbaik yang menjadi pilar kekuatan sekte.
Liu Xue mengembuskan napas panjang, sama sekali tidak memperlihatkan keterkejutan atas kedatangan mendadak itu. Tampaknya dia memang telah mengetahui perihal agenda pengiriman bantuan ini sejak awal perjalanan.
"Zhao Fei, posisikan dirimu untuk mengenal mereka secara baik. Mereka semua adalah rekan satu tim kita di dalam divisi khusus," ujar Liu Xue sembari mengarahkan telunjuknya ke arah ketiga pria itu satu per satu.
"Pria yang memegang kipas lipat itu bernama Chen Yuan."
"Pria bertubuh tinggi di tengah itu bernama Wu Gang."
"Dan pria yang gemar memainkan belati tajam itu... namanya adalah Li Xun."
Gadis itu menambahkan beberapa detail mengenai fungsi kedatangan mereka dengan malas. "Mereka bertiga sengaja diutus oleh pihak dewan sekte ke tempat ini untuk menggantikan posisi kita dalam menjaga keamanan di sepanjang garis perbatasan."
Zhao Fei memberikan sebuah gerakan penghormatan singkat dengan menangkupkan kedua belah tangannya. "Namaku Zhao Fei. Sebuah kehormatan bagiku untuk bisa berkenalan dengan kalian semua."
Chen Yuan, sang pria bijak, membalas penghormatan itu dengan seulas senyuman tipis di wajahnya. "Kami telah mendengar banyak informasi menarik mengenai sepak terjangmu belakangan ini. Seorang murid baru yang secara luar biasa langsung mendapatkan legalitas untuk bergabung dengan divisi khusus."
Li Xun, sang pria nyentrik, mendadak menghentikan aktivitas melempar belati tajamnya ke udara. Fokus pandangan matanya kini tertuju lurus ke arah gagang pedang di area pinggang Zhao Fei.
"Wah, wah, wah, pedang yang kau bawa itu terlihat memiliki kualitas estetika yang sangat mengagumkan!" seru Li Xun dengan penuh antusiasme. "Apa kau bersedia memberikan izin kepadaku untuk memeriksa kondisinya?"
Tanpa menunggu adanya jawaban persetujuan dari sang pemilik, dia langsung melangkah lebar mendekati posisi berdiri Zhao Fei. Zhao Fei sendiri memilih untuk membiarkan tindakan itu tanpa melakukan gerakan pencegahan, karena dia tahu pedang Pemutus Awan tidak akan merespons orang asing.
Li Xun menjulurkan tangan kanannya untuk memegang permukaan sarung pedang Pemutus Awan, lalu merabanya beberapa kali dengan dahi berkerut. "Bobot senjata ini terasa teramat ringan saat disentuh. Apakah benda ini sebenarnya merupakan pedang mainan yang tidak memiliki mata pisau?"
Wu Gang segera bergerak maju, menepuk bagian bahu Li Xun dengan pelan untuk menegur tindakan kurang sopan rekannya. "Jaga sikap dan bicaramu, Li Xun. Jangan bersikap sembarangan terhadap barang milik orang lain. Senjata itu jelas merupakan pedang pusaka yang memiliki nilai tinggi."
"Namun bobot logam ini benar-benar terasa teramat ringan, Wu Gang. Jika kau tidak mempercayai ucapanku, cobalah kau sendiri yang memegang permukaannya," protes Li Xun, mencoba membela analisis pribadinya. “Ahh... lagian kalau kau yang pegang juga sama saja sih. Semua juga akan terasa ringan bagimu.”
Wu Gang memilih untuk tidak menggubris celotehan tidak berdasar dari rekannya itu selain tersenyum tipis dan menyapa beberapa warga di sana.
Sementara Liu Xue maju ke tengah, memotong kegaduhan kecil yang mulai terbangun di antara anggota divisinya.
"Kami harus segera memantapkan langkah kaki untuk kembali menuju pusat sekte untuk melayangkan laporan misi. Kalian bertiga memiliki kewajiban untuk menjalankan tugas penjagaan perbatasan ini secara bergantian dengan tingkat disiplin tinggi. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun yang terjadi selama masa dinas kalian," perintah Liu Xue dengan tegas.
Li Xun langsung meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. "Mengapa kita selalu diberikan beban tugas penjagaan yang sangat menjemukan seperti ini? Aku benar-benar mulai merasa bosan dengan rutinitas ini, Chen Yuan."
Chen Yuan perlahan membuka lipatan kipasnya dengan gerakan yang sangat anggun. "Berdasarkan Pasal 7 yang tercantum di dalam Anggaran Dasar Sekte Garuda Putih, seorang pendekar kultivasi sejati memiliki kewajiban mutlak untuk selalu mengutamakan kepentingan tugas di atas segala bentuk keinginan pribadi."
"Rangkaian kalimat yang kau ucapkan itu terdengar sangat mirip dengan tulisan kaku yang tertera di atas papan pengumuman aula sekte," cibir Li Xun.
"Memang dari sanalah aku mengambil kutipan kalimat barusan," balas Chen Yuan dengan wajah datar.
Li Xun kembali menggeser posisi berdirinya untuk mendekati Zhao Fei, dengan wajah yang mendadak kembali berseri-seri penuh kelicikan.
"Hei, bagaimana jika Zhao Fei diposisikan untuk tetap tinggal di tempat ini bersama dengan diriku? Dia tidak perlu terburu-buru ikut melakukan perjalanan pulang ke sekte. Kita bisa memanfaatkan durasi waktu ini untuk membangun kedekatan emosional tanpa perlu disibukkan oleh beban pekerjaan pertahanan yang sulit, bukan?"
Liu Xue langsung melayangkan sebuah tatapan mata yang sangat tajam mengarah lurus ke arah Li Xun. "Tidak boleh. Dia memiliki keharusan untuk ikut berjalan kembali ke sekte bersamaku sekarang juga."
Zhao Fei pun akhirnya mengangkat tangan kanannya ke udara untuk menenangkan ketegangan kecil itu. "Aku sama sekali tidak keberatan untuk menetap di wilayah desa ini selama beberapa hari ke depan untuk menemani mereka."
Gadis itu memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah sepasang mata Zhao Fei dengan sebersit gurat keraguan yang terpancar jelas dari ekspresi wajahnya. Namun, karena pemuda itu sendiri yang telah melontarkan keputusan, dia tidak memiliki alasan kuat untuk memaksakan kehendak pribadinya.
"Baiklah kalau memang itu maumu," ucap Liu Xue, mengendurkan ketegasannya. "Chen Yuan akan ikut bersamaku kembali menuju pusat sekte, sementara Wu Gang dan Li Xun akan tetap menetap di tempat ini bersama dengan Zhao Fei."
Kedua kelompok itu akhirnya memutuskan untuk saling memisahkan diri. Chen Yuan melangkah dengan tenang di samping Liu Xue, memulai perjalanan panjang mereka dengan berkuda kembali ke area sekte.
Tepat setelah kepergian dua orang rekan mereka, Li Xun langsung bergerak lincah merangkul bagian bahu kanan Zhao Fei dengan sikap yang teramat akrab layaknya seorang sahabat lama.
"Mari kita segera mengayunkan kaki menuju ke arah warung makan yang terletak di ujung sana! Sejak tadi aku melihat ada orang yang sedang berjualan di depan etalase kayu pemukiman. Kedai sederhana seperti itu pasti memiliki persediaan minuman arak yang berkualitas baik," seru Li Xun sembari mengarahkan telunjuknya ke sebuah bangunan di tepi desa.
Seorang pria tambun yang berdiri di balik etalase warung sederhana itu, menunggu kedatangan para pembeli dengan sabar.
"Zhao Fei, apa kau suka arak?" tanya Li Xun sembari terus berjalan merangkul bahunya. “Biar aku yang traktir hari ini.”
"Aku sama sekali tidak meminum minuman semacam itu," jawab Zhao Fei dengan tenang.
“Lah—“ Li Xun memalingkan kepalanya ke arah belakang, menatap Wu Gang yang berjalan mengekor di belakang. "Bagaimana denganmu, Wu Gang? Apa kau mau menemaniku untuk minum malam ini?"
Wu Gang tidak memberikan jawaban berupa untaian kata-kata. Pria bertubuh kekar itu hanya menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, memberikan sebuah gelengan tegas dalam diam tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi wajah.
"Kalian berdua benar-benar merupakan sepasang rekan yang payah!" Li Xun tertawa cukup keras, menertawakan kekakuan dari kedua temannya. "Tapi hal itu sama sekali tidak menjadi sebuah masalah besar. Aku memiliki kemampuan penuh untuk menikmati seluruh persediaan minuman itu seorang diri malam ini."
Dia tetap mempertahankan posisi lengan kanannya yang merangkul erat pundak Zhao Fei, menarik paksa tubuh pemuda itu untuk terus berjalan bersamanya menuju ke arah warung desa.