NovelToon NovelToon
TIRAKAT 3

TIRAKAT 3

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.

Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 "LOH... KOK?"

Ayu langsung pergi meninggalkanku bersama Gendis setelah ia memperingatkan agar lebih berhati-hati saat menuntun Gendis. Mungkin Ayu hendak menyiapkan makan malam untuk para santriwati yang sedang belajar di masjid.

"Bu, ada area apalagi habis ini?" tanya Gendis sambil meraba tanganku.

"Em, masih ada area dapur, area kamar mandi, halaman belakang masjid, dan area kamar pengurus pondok." jawabku.

"Jadi, kemana lagi kita sekarang?"

"Emm... Kemana ya?"

Aku berpikir sebentar. Mencoba membantu Gendis lebih mudah untuk "memetakan" dengan rapi seluruh area pondok ini.

Aku menoleh kembali ke arah gerbang depan di ujung sana. Kemudian melihat area masjid yang barusan sudah kami datangi. Kemudian melihat selasar kamar yang cukup panjang ini.

Akhirnya kuputuskan untuk menemani Gendis ke area halaman belakang masjid, yang sekaligus menjadi area depan dari bangunan kamar pengurus pondok yang berlantai dua. Dimana kamarku, kamar Ayu, dan kamar Bunga berada.

"Kita jalan lagi ke area halaman belakang masjid aja yuk Gendis."

"Iya Bu..." jawab Gendis.

Dan kami berdua kembali berjalan, meninggalkan selasar kamar-kamar itu.

Langkah kaki ku perlahan-lahan, mengikuti irama langkah kaki Gendis. Sambil dirinya terus meraba setiap bagian dan setiap sudut jalan yang ia pijak.

"Bu, kalau ke sini, kemana?" tanya Gendis saat merasakan jalanan bercabang tiga.

"Nah, kalau ke kiri, itu ke area gedung kamar pengurus pondok. Ada tiga kamar di lantai bawah, paling ujung kiri kamarnya Bu Ayu." jelasku.

"Oh... Bu Ayu itu yang barusan samperin kita ya Bu?" tanya Gendis.

"Iya, bener..."

Aku lanjut menjelaskan, "Di sebelah kamar Bu Ayu, ada dua kamar yang masih kosong. Dan di ujungnya ada tangga buat naik ke lantai atas. Nah, kamar Ibu dan Bu Bunga ada di lantai atas itu. Terus, di ujung lantai dua ada balkonnya Gendis."

"Oh... Begitu ya Bu..." respon Gendis.

"Kamu mau coba jalan ke area kamar pengurus?" tanyaku.

Alih-alih Gendis menjawab ingin, justru ia langsung menarik tanganku, sambil berkata, "Enggak Bu, kita lanjut ke area lain aja Bu, ayok Bu..."

"Loh, kenapa? Katanya kamu mau hafal semua area pondok?"

"Emm... Kita lanjut saja Bu ke area lain. Ayok Bu..." jawabnya sambil sedikit menarik-narik tangan kananku.

"Ya udah, ayok... Kita ke area dapur sekarang ya..."

"Iya Bu, ayok..."

.....

.....

Aku kembali bertanya-tanya dalam batin sendiri sambil terheran dibuatnya...

"Padahal dia tadi pas di area kamar santriwati, justru kelihatan detail menghafal semua areanya..."

"Tapi kenapa Gendis gak mau aku ajak ke area kamar pengurus? Kenapa dia kelihatan seperti enggan buat ke sana?"

.....

.....

Akhirnya kami berdua sampai di area dapur, dan ada Ayu yang ternyata hampir selesai membuatkan makan malam sederhana untuk para santriwati.

Dan Gendis tampak seperti saat di area kamar santriwati tadi. Dia meminta untuk tak dituntun. Tampak menghafal setiap detail bentuk jalan, area, bahkan menyentuh beberapa perabotan yang ada.

Aku bertatapan dengan Ayu, sambil sedikit tersenyum saat melihat Gendis yang terus berjalan, hampir menyentuh tubuh Ayu.

Dan ketika tangan Gendis berhasil menyentuh baju gamis Ayu, dirinya tampak terkejut sedikit, lalu bertanya padaku, "Eh, Bu Nisa? Ini baju siapa?"

Ayu langsung merespon Gendis, sambil mengusap kepalanya, "Ini... Bu Ayu..."

"Eh, Oh... Maaf Bu Ayu... Maaf... Aku gak tau kalo ada Bu Ayu di depan."

"Hehehe... Enggak apa-apa kok." jawab Ayu sambil tersenyum riang.

Ayu berjongkok depan Gendis, lalu bertanya, "Siapa nih nama gadis cantik ini?"

"Aku Gendis Bu... Salam kenal..."

"Salam kenal juga ya Gendis... Dari mana kamu?" tanya Ayu lagi.

"Aku dari Cirebon Bu."

"Eh, jauhnyaaa... Kok kamu bisa mondok disini Gendis?"

"Emm... Anuu..." Gendis malah tampak ragu untuk menjawab.

Ayu tetap menatap wajah Gendis. Sedangkan aku yang melihatnya, merasakan kejanggalan lain. Kenapa Gendis seolah ragu untuk menjawab pertanyaan Ayu?

"Kenapa Gendis? Kok diem? Jangan canggung gitu dong sama Ibu... Hehehe..." kata Ayu sambil mencubit pelan hidung Gendis.

"Anuu... Orang tua saya memang suruh aku buat mondok yang jauh Bu..." jawab Gendis, sambil tampak sedikit tertahan senyumannya.

Aku tak tahu, apakah Ayu merasakan kejanggalan dari Gendis atau tidak. Tapi, tampaknya Ayu memang sepolos itu.

Ayu tetap tersenyum riang, dan berkata lagi pada Gendis, "Oooh... Begitu ya... Semoga kamu betah dan nyaman ya mondok di sini. Apalagi kamu jauh banget dari orang tuamu. Tapi tenang aja, di sini ada Bu Ayu, Bu Bunga, sama Bu Nisa. Kami akan rawat dan jaga kamu sebaik mungkin... Hehehe..."

"Iya Bu Ayu, terima kasih..."

"Sama-sama Gendis cantiiik..." jawab Ayu sambil menyentuh dagu Gendis.

Aku pun langsung meminta izin pada Ayu, "Aku lanjutin dulu ya nemenin Gendis, kamu siapin dulu makan malem buat santriwatinya."

"Oke Nis..." jawab Ayu.

.....

.....

Ketika semua area pondok dan jalan di sekeliling sudah dilewati oleh Gendis, aku bertanya padanya, "Emm, kamu mau langsung makan malem dulu, atau langsung ke kamar?"

"Kayaknya aku mau langsung ke kamar Bu, gak apa-apa kan?"

"Bener langsung ke kamar? Kamu gak laper?"

"Enggak Bu, aku masih kenyang. Selama di jalan aku udah makan sama ngemil kok..."

"Oh gitu... Ya udah, ayok kita ke kamarmu."

"Iya Bu."

.....

.....

Sebelumnya aku sudah tahu bahwa kamar Gendis ada di sebelah kamar Laras. Karena saat awal tadi kami berdua melewati selasar area kamar, terlihat kamar di sebelah kamar Laras itu sudah dinyalakan lampunya. Dan juga dua tas besar milik Gendis pun ada di dalamnya, terlihat dari jendela.

Akan tetapi, saat aku hendak mengajak Gendis masuk ke kamar tersebut, Gendis berkata padaku, "Bu Nisa, aku mau kamarku yang paling ujung sana aja."

Sontak, aku terheran untuk kesekian kalinya. Dan bertanya pada Gendis, "Loh, emang kenapa kalau kamarmu di sini? Kan jadi enak, deket sama temen-temenmu."

"Aku mau di kamar ujung sana aja Bu. Boleh ya Bu?"

"Tunggu dulu..." kataku, karena sudah semakin heran aku dibuatnya.

Aku jadi berjongkok di hadapan Gendis. Sambil ku pegang dua lengannya, aku beranikan diri untuk bertanya, "Kalo kamarmu di sana, berarti kamu sendirian. Soalnya ada jeda tiga kamar yang kosong antara kamarmu dan kamar temen-temenmu. Kenapa kamu malah pilih kamar paling ujung sana Gendis?"

Namun, kali ini Gendis memberikan jawaban yang sangat logis, membuatku seperti tak jadi untuk semakin jauh merasa heran.

Gendis menjawab, "Soalnya aku paling nyaman kalo tidur sendirian Bu. Rumahku yang di Cirebon, kamarku ada di lantai atas, dan cuma ada satu kamar aja, yaitu kamarku. Aku udah biasa kok Bu kamarnya sendirian."

"O-oh... Begitu ya..." responku dengan ekspresi yang sedikit tenang mendengarnya.

"Iya Bu Nisa... Aku juga udah biasa kok naik turun tangga sendiri..." tambahnya. Seolah-olah Gendis ingin meyakinkan diriku, meskipun secara fisik memiliki kekurangan di ke dua matanya, ia bukanlah gadis yang manja dan selalu berpangku tangan dengan orang lain.

"Bu Nisa gak usah khawatir. Aku bisa kok tidur sendirian..." tambahnya lagi.

"Emm... Ya udah, kalo memang begitu. Sebentar ya, Ibu ambilkan dulu tasmu di dalam, terus Ibu bawakan ke dalam kamarmu di ujung sana. Tunggu Ibu sebentar ya, soalnya kamar ujung sana masih di kunci." kataku.

Gendis mengangguk pelan sambil tersenyum. Dan aku langsung membuka kamar di sebelah kamar Laras ini. Aku langsung masuk dan mengambil dua tas cukup besar milik Gendis.

.....

.....

Ketika aku kembali dari dalam kamar dengan membawa dua tas miliknya itu...

Kembali aku dibuat terpaku dengan keheranan yang semakin menjadi-jadi dalam batinku...

.....

.....

Aku melihat Gendis...

Bukan sedang berdiri di depan pintu ini, dimana aku sedang berdiri sekarang...

Melainkan...

Gendis sudah berdiri di depan kamar...

Kamar di ujung sana...

.....

.....

"Hah? Kok...?" gumamku dalam hati.

Langsung bertubi-tubi pertanyaan dalam kepalaku hadir...

"Sejak kapan Gendis berjalan?"

"Kenapa... Tiba-tiba dia udah di depan kamar ujung sana?"

"Gak mungkin, gak mungkin dia bisa jalan secepat itu..."

"Dia kan... Gak bisa lihat... Kenapa bisa jalan secepat itu?"

"Jaraknya sejauh tiga kamar kosong loh... Kok bisa?"

.....

.....

Lalu... Bunga yang sudah selesai mengisi pelajaran di masjid pun datang. Tapi ia berjalan melewatiku sambil menatapku sedikit keheranan. Dan Bunga langsung saja menghampiri Gendis di depan ujung kamar sana.

Aku seperti tersadar dari lamunan, saat Bunga memanggilku dari ujung sana, "Mbak Nisa! Kok malah diam saja di sana? Perlu bantuan bawakan tasnya?"

"E-Eh... I-Iya..." terbata-bata sahutanku.

Aku dengan segudang pertanyaan di dalam kepala, bercampur rasa heran yang semakin besar, akhirnya berusaha untuk biasa saja. Aku tak ingin Bunga menjadi berpikir yang aneh-aneh karena melihatku seperti ini.

Dan langsung ku bawakan dua tas Gendis menuju kamar paling ujung...

Kali ini, Bunga inisiatif untuk membantu Gendis juga...

.....

.....

Bunga tampak biasa saja, bahkan terlihat sangat tenang membantu Gendis merapikan semua barang-barangnya ke dalam lemari. Gendis pun tampak riang sambil menyiapkan kasurnya untuk tidur malam ini.

Sedangkan aku...

Aku membantu Gendis merapikan dan menata barang-barangnya di atas meja, tapi dengan perasaan dan pikiran yang tak bisa tenang sekarang...

1
SecretS
Aku pikir kak Nisa udah nikah beneran 😅😅, ternyata 😂😂 lanjut baca tirakat 4👍😆😆
Yeni Yeni
ok pindah ke tirakat 4,kayak sinetron tersanjung..
Yeni Yeni
sebenarnya itu bukan bapak nya, tp iblisnya tahu kelemahan nisa
My.mitsubishi.triton Adventure X
Cerita yang menarik
Deni Komarullah: Terima kasih Kak atas dukungannya... 😍😍😍
total 1 replies
SecretS
Sekar Mayang terlalu centil kak😄 nggak seperti Dayang Putri. Pantes Zaki naik darah pas Sekar Mayang mau jahilin Nisa😂😂. Lanjut kak 😆👍
Yeni Yeni
pantas saja, datang putri yg bisa melihat masa depan, menyuruh anisa untuk berhati-hati, dan menyuruh menguatkan iman dan hatinya
My.mitsubishi.triton Adventure X
Turakat 3 ini apa sudah selesai atau msh ada lanjutannya krn sdh ada tirakat 4 nya
My.mitsubishi.triton Adventure X: Baik terima kasih ats konfirmasinya
total 2 replies
Yeni Yeni
cerita nya sangat sedih
Yeni Yeni
satu fakta terkuak☺
Yeni Yeni
hedewww... kirain😄
Yeni Yeni
syukurlah selamat
Yeni Yeni
jiah.... hhhhhhjijik aku...
Yeni Yeni
makin seru, gimana duo kodam itu bisa menyelamatkan Annisa?
Yeni Yeni
up yang banyak
Yeni Yeni
makin penasaran
Yeni Yeni
sudah di mantra-mantra sama jlnnya Gendis
Yeni Yeni
wah sesuatu, jangan jangan gendis tahu nisa punya pagar gaib, lalu dia mencari cara untuk memisahkan mereka secara halus
Yeni Yeni
penasaran aku mbak🤭
SecretS
Lanjut kak👍👍👍😊😊
SecretS
👍👍👍lanjut kak, berarti sekar mayang bisa liat masa depan kayak Dayang Putri ah, menurut ku sekar mayang terlalu jahil ngak seperti Dayang Putri 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!