Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Balik Layar
Udara malam di Beverly Hills terasa sejuk, berhembus pelan melewati pagar besi tinggi dan pepohonan yang rapi. Namun ketenangan itu hanya permukaan semata. Di dalam vila yang dijaga ketat itu, suasana justru penuh dengan ketegangan yang terpendam. Setelah insiden penyerangan siang tadi, Alex tidak membiarkan satu celah pun terbuka. Ia telah memerintahkan Javier dan Rio untuk menyelidiki siapa yang berada di balik serangan itu apakah benar peringatan dari kartel, atau manuver kotor Victor Hale untuk menguji seberapa kuat tamunya.
Aulia duduk di meja kerjanya di ruang lantai dua, membolak-balik sketsa desain kostum dan set film yang ia buat selama perjalanan. Namun pikirannya tidak sepenuhnya tertuju pada garis-garis kertas itu. Di ujung meja, segelas teh yang disajikan masih mengepul perlahan, dibiarkan tak tersentuh. Ia masih teringat tatapan Victor Hale yang berubah dari meremehkan menjadi takut, serta kilatan mata penyerang yang seolah hanya menjalankan perintah semata.
Pintu ruangan terbuka pelan. Alex masuk, masih mengenakan kemeja hitam yang sedikit terbuka di bagian leher, tatapannya tajam namun melunak begitu jatuh pada sosok wanita itu. Ia membawa dua piring berisi makanan ringan dan duduk di seberang Aulia.
“Belum tidur?” tanyanya pelan.
Aulia mengangkat wajah, tersenyum tipis. “Masih memikirkan apa yang terjadi hari ini. Menurutmu, apakah Victor yang mengirim mereka?”
Alex menggeleng perlahan, matanya menatap lurus seolah melihat sesuatu yang tak terlihat di ruangan itu. “Tidak. Victor licik, tapi ia terlalu pengecut untuk melakukannya secara terang-terangan seperti itu. Ia masih butuh uang kita. Kemungkinan besar itu perintah dari kelompok lain mungkin kartel yang Rio sebutkan. Mereka ingin melihat apakah kita hanya berbicara besar, atau benar-benar memiliki taring yang tajam.”
Ia berhenti sejenak, lalu meraih tangan Aulia di atas meja. Kulitnya yang kasar dari pegangan senjata bertemu dengan tangan wanita itu yang halus namun kini semakin kuat genggamannya.
“Tapi aku sudah memberi peringatan tegas. Besok, kita akan bertemu lagi dengan tim Victor, dan kali ini kita akan memastikan posisi kita tidak bisa diganggu gugat. Kau yakin ingin tetap ikut?”
Aulia menegakkan punggungnya, sorot matanya mantap bukan lagi keraguan mahasiswa yang dulu, melainkan keyakinan seseorang yang memilih jalan ini sepenuh hati. “Tentu saja. Ini proyekku juga. Aku tidak akan membiarkan siapa pun meremehkan desainku, apalagi mengancam orang-orang yang berdiri di sampingku.”
Alex tersenyum tipis, senyum yang jarang ditampakkan pada orang lain senyum bangga. “Bagus. Itulah semangat yang aku butuhkan.”
Keesokan paginya, mereka kembali ke gedung studio yang megah. Namun kali ini, pengawalan Alex dua kali lipat lebih banyak. Victor Hale sudah menunggu di ruang pertemuan, sikapnya kini jauh lebih sopan dan waspada, tidak lagi menyembunyikan rasa hormat yang terpaksa namun nyata.
“Selamat pagi, Tuan Alex, Nona Aulia,” sapa Victor ramah, meski nadanya masih berhati-hati. “Kami telah meninjau kembali draf perjanjian yang Anda kirim kemarin. Ada beberapa poin yang bisa kita bahas lebih lanjut.”
Pertemuan berlangsung selama berjam-jam. Di meja itu, Alex memainkan perannya sebagai pebisnis yang cerdas dan tidak bisa ditawar mengatur pembagian keuntungan, kendali produksi, dan keamanan seluruh aset yang terlibat. Namun di sisi lain, Aulia mengambil alih bagian kreatif dengan pengetahuan yang mendalam. Ia tidak hanya mengajukan desain, tapi juga menjelaskan bagaimana visi desainnya akan membuka pasar baru di Asia, sesuatu yang belum pernah dicapai studio itu sebelumnya.
“Kostum dan latar bukan sekadar hiasan,” jelas Aulia sambil menyebarkan sketsa di atas meja. “Mereka menceritakan jiwa cerita. Jika kita hanya mengikuti pola lama, kita akan ketinggalan. Dengan sentuhan yang memadukan budaya Timur dan Barat, film ini bisa menembus batas benua.”
Beberapa eksekutif yang awalnya ragu kini mulai mengangguk setuju. Bahkan Victor tampak mulai melihat nilai lebih dari sekadar modal yang dibawa Alex.
Namun, tepat saat kesepakatan hampir tercapai, telepon genggam Alex bergetar keras. Ia melirik layar, dan sorot matanya langsung berubah dingin. Ia meminta maaf sebentar dan melangkah ke sudut ruangan untuk berbicara dengan nada rendah namun tegas. Saat ia kembali, raut wajahnya kembali datar namun berbahaya.
“Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan,” ucap Alex, memandang Victor sekilas. “Kita lanjutkan penandatanganan besok pagi. Pastikan tidak ada perubahan syarat di belakang.”
Di luar gedung, Rio sudah menunggu dengan wajah tegang. “Bos, ada kabar dari Javier. Penyerang yang ditangkap kemarin berhasil dibebaskan oleh pihak berwenang dengan cara yang tidak wajar. Dan yang lebih parah, mereka terlihat menuju gudang penyimpanan peralatan studio di pinggir kota tempat yang juga kita gunakan untuk memindahkan barang-barang penting sementara.”
Alex mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Mereka berani memancing kita di tempat terbuka. Baiklah, kita beri mereka pelajaran.”
Aulia yang mendengar percakapan itu segera melangkah mendekat. “Aku ikut.”
“Tidak aman,” tolak Alex tegas.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan aku bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik operasi studio ini,” balas Aulia tidak kalah tegas. “Aku tidak akan menunggu di belakang sambil tidak tahu apa yang kau hadapi.”
Alex menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk singkat. “Baiklah. Tapi kau tetap di sampingku, jangan berpisah sedikit pun.”
Gudang di pinggir kota itu luas dan sunyi, dikelilingi semak-semak lebat. Begitu mobil mereka berhenti, suasana terasa mencekam. Lampu di dalam gudang menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding.
“Mereka di dalam,” bisik Javier melalui alat komunikasi. “Sekitar sepuluh orang, bersenjata lengkap. Tampaknya mereka ingin membakar gudang ini untuk memutus kerja sama kita.”
Alex memberi isyarat dengan tangan. Sebagian pengawal mengelilingi gedung, sementara ia, Aulia, Rio, dan dua orang lainnya masuk perlahan. Begitu mereka melangkah masuk, suara tawa kasar terdengar. Seorang pria bertubuh besar dengan tato di leher berdiri di tengah, diikuti orang-orangnya. Di belakangnya, terlihat kaleng-kaleng bensin sudah disusun rapi.
“Ternyata bos besar itu datang sendiri,” ejek pria itu, yang ternyata adalah wakil dari kelompok kartel setempat. “Kau pikir bisa masuk ke wilayah kami begitu saja? Pergilah sebelum kami membakar segalanya termasuk dirimu dan wanita cantikmu itu.”
Alex tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah maju, tatapannya sedingin es. “Kau membuat kesalahan besar mengancam aset dan orang yang aku lindungi.”
Saat ketegangan memuncak, salah satu anak buah kartel tidak sabar dan langsung menembakkan senjatanya. Namun Alex sudah bergerak lebih cepat ia menarik Aulia ke balik tumpukan kotak kayu, sementara peluru meleset menembus udara.
Pertarungan pun pecah. Suara tembakan bergema di seluruh gudang, disertai benturan tubuh. Alex bergerak lincah dan mematikan, setiap gerakannya penuh pengalaman bertahun-tahun. Ia tidak ragu melumpuhkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Sementara itu, Aulia tetap berada di dekatnya, bukan hanya sebagai penonton ia mengamati situasi, sesekali melempar benda berat untuk mengalihkan perhatian musuh yang berusaha mendekat dari arah samping, persis seperti yang ia latih berbulan-bulan lamanya.
Dalam waktu singkat, sebagian besar penyerang sudah terkapar. Hanya pemimpin mereka yang tersisa, kini mundur ketakutan sambil mengarahkan senjata. Namun sebelum ia sempat menembak, sebuah suara keras terdengar dari pintu masuk diikuti oleh kedatangan pasukan polisi yang dipanggil Alex sebelumnya, bukan untuk menyerah, tapi untuk memastikan bukti pelanggaran kelompok itu terungkap.
Pemimpin kartel ditangkap, wajahnya pucat pasi. Alex berjalan mendekat, menatapnya dengan tatapan yang membuat pria itu gemetar ketakutan.
“Katakan pada atasanmu,” bisik Alex dengan suara rendah yang hanya terdengar mereka berdua. “Los Angeles terbuka untuk siapa saja yang mau bermain adil. Tapi jika mereka mencoba main kotor… Surya Corp tidak akan ragu untuk menghapus nama mereka dari peta ini selamanya.”
Malam itu, saat mereka kembali ke vila dan duduk di teras sambil memandang kota yang berkilau, Alex menarik Aulia masuk ke dalam pelukannya. Jantungnya masih berdebar bukan karena takut, tapi karena setiap kali ia melihat wanita itu berani berdiri berdampingan dalam bahaya, perasaannya semakin dalam.
“Kau tidak pernah menyerah, ya?” gumam Alex, mencium puncak kepalanya.
Aulia tersenyum, memeluk pinggangnya erat. “Kita sudah sepakat, kan? Bersama. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian.”
Alex menatap matanya, lalu mencium keningnya dengan lembut namun penuh makna. “Terima kasih. Di dunia yang penuh tipu daya ini, kau adalah satu-satunya hal yang nyata yang aku miliki.”