Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Dua Hati (2)
Malam kembali merayap di atas langit Jakarta, membawa udara dingin yang menusuk setelah sisa-sisa hujan sore tadi. Di dalam ruang kerja pribadinya di rumah utama Menteng, Adrian Dirgantara duduk dalam kegelapan. Ia sengaja tidak menyalakan lampu; hanya cahaya temaram dari lampu jalanan yang menembus kaca jendela besar, merefleksikan wajahnya yang tampak lelah namun tetap menyiratkan ketegasan seorang pemimpin tertinggi Dirgantara Group.
Di atas meja kerjanya, sebuah laptop menampilkan grafik pergerakan saham perusahaan yang mulai merangkak stabil setelah aksi *buyback* besar-besaran yang ia perintahkan siang tadi. Secara finansial, ia berhasil menahan serangan pertama Danuar Baskoro. Namun, di dalam dadanya, ada kehampaan yang tak bisa diisi oleh angka-angka keuntungan triliunan rupiah.
*“Di mana kamu sekarang, Kirana?”* batin Adrian, jemarinya memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.
Ponsel Kirana masih tidak aktif. Rendra dan tim keamanannya telah menyebar ke seluruh hotel dan apartemen di Jakarta, namun keberadaan wanita itu seolah lenyap ditelan bumi setelah keluar dari gedung SCBD siang tadi. Adrian tahu, dalam kondisi emosi yang hancur karena kesalahpahaman masa lalu, Kirana sangat rentan menjadi sasaran empuk bagi manipulasi Danuar berikutnya.
*TOK! TOK! TOK!*
Suara ketukan pintu yang tergesa-gesa memecah keheningan. Pintu terbuka, dan Rendra melangkah masuk tanpa sempat merapikan jasnya. Wajahnya tidak lagi memancarkan kecemasan, melainkan ekspresi terkejut yang tertahan.
"Adrian, dia ada di bawah," ucap Rendra, napasnya sedikit memburu.
Adrian langsung bangkit berdiri, kursi kerjanya terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara gesekan keras. "Kirana? Dia kembali ke sini?"
"Bukan cuma Kirana," Rendra bergeser dari ambang pintu. "Dia datang bersama Hendra Wijaya. Pengacara senior mantan kepala divisi hukum Larasati Tekstil belasan tahun lalu. Kamu harus turun sekarang, Adrian. Ada sesuatu yang akan merubah seluruh peta permainan ini."
---
Di ruang tamu utama yang megah, Kirana berdiri mematung di samping Hendra Wijaya. Tangannya tidak lagi gemetar, dan gaun kusutnya siang tadi telah berganti dengan pakaian kasual yang rapi. Matanya menatap sekeliling ruangan—rumah yang dulu pernah menjadi penjaranya di masa pernikahan pertama mereka, namun kini tempat ini terasa berbeda. Di bawah lampu kristal yang benderang, ia melihat Adrian melangkah turun dari tangga besar dengan langkah tegap dan ekspresi yang tak terbaca.
Begitu kaki Adrian menapak di lantai dasar, langkah pria itu terhenti sekitar tiga meter di depan Kirana. Mata elangnya mengunci pandangan Kirana, mencari sisa-sisa kebencian yang siang tadi sempat meremukkan hatinya.
"Kirana..." suara bariton Adrian terdengar sangat rendah dan sarat akan kerinduan yang tertahan.
Sebelum Adrian sempat mendekat, Hendra Wijaya melangkah maju satu langkah, membungkuk hormat dengan profesionalisme yang tinggi. "Selamat malam, Tuan Adrian Dirgantara. Saya Hendra Wijaya, kuasa hukum Nona Kirana Larasati yang baru."
Adrian menyipitkan matanya, melirik kartu nama yang dipegang Rendra. "Saya tahu siapa Anda, Tuan Hendra. Mantan tangan kanan almarhum ayah mertua saya. Apakah Anda ke sini untuk membawa surat gugatan atau tuntutan waris atas nama istri saya?"
"Bukan, Tuan Adrian," Hendra tersenyum tipis, lalu membuka sebuah tas kerja kulit buatan Italia dan mengeluarkan sebundel dokumen asli yang memiliki segel pita merah resmi dari notaris negara tahun 2011. "Kami ke sini untuk menyerahkan dokumen asli pembebasan utang obligasi dan dana talangan (*bailout*) Larasati Tekstil. Dokumen yang membuktikan bahwa mendiang ayah Anda, Baskoro Dirgantara, adalah seorang pahlawan yang dikhianati, bukan seorang penjahat seperti yang diklaim oleh Danuar Baskoro."
Adrian tertegun. Ia menerima dokumen tersebut dari tangan Hendra, lalu membacanya dengan cepat. Matanya membelalak saat melihat klausul asli di lembar ketiga: *Dana talangan senilai lima ratus miliar rupiah dikirimkan sebagai bentuk kepemilikan saham pasif pelindung untuk mencegah likuidasi paksa oleh pihak Baskoro Senior.*
"Ini... dokumen asli?" bisik Adrian, suaranya tercekat.
"Asli dan sah secara hukum internasional, Tuan," sahut Hendra tegas. "Danuar Baskoro hanya memegang salinan dokumen yang sudah direkayasa oleh ayahnya untuk memfitnah keluarga Anda di mata almarhum ayah Nona Kirana. Danuar mengira dokumen asli ini sudah dihancurkan, tanpa tahu bahwa ayah Nona Kirana menyembunyikannya di dalam brankas firma hukum saya sebelum beliau wafat."
Adrian perlahan menurunkan dokumen itu, matanya kembali menatap Kirana.
Kirana melangkah maju, melewati Hendra Wijaya. Air matanya kembali menggenang di pelupuk mata, namun kali ini adalah air mata penyesalan. Ia menatap wajah tegap Adrian, pria yang beberapa jam lalu ia caci maki dengan tuduhan kejam, padahal pria itu dan keluarganya telah menanggung beban fitnah ini selama belasan tahun demi melindunginya.
"Mas..." bisik Kirana, suaranya bergetar hebat. "Maafkan aku... Maaf karena siang tadi aku meragukanmu. Maaf karena aku begitu bodoh sampai mempercayai kata-kata Danuar dan Arissa..."
Sebelum Kirana sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian melangkah lebar, memotong jarak di antara mereka. Lengan kokohnya langsung menarik tubuh Kirana ke dalam dekapannya yang hangat dan posesif. Adrian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kirana, menghirup aroma familier yang sempat ia takuti akan hilang selamanya.
"Sudah, Kirana... Jangan katakan apa-apa lagi," bisik Adrian lembut di telinga Kirana, mempererat pelukannya seolah tidak ingin melepaskan wanita itu lagi. "Kamu tidak salah. Trauma masa lalumu yang dimanfaatkan oleh mereka. Yang penting sekarang kamu sudah kembali di sisiku."
Kirana membalas pelukan Adrian dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, merasakan detak jantung Adrian yang konstan dan memberikan rasa aman yang mutlak. Di dalam dekapan itu, seluruh sisa-sisa paranoia dan ketakutannya menguap sepenuhnya. Sangkar emas itu tidak akan pernah bisa kembali, karena kini mereka berdiri bersama sebagai satu kekuatan.
Hendra Wijaya dan Rendra yang menyaksikan momen itu saling berpandangan dan mengangguk pelan.
"Tuan Adrian, Nona Kirana," sela Hendra Wijaya dengan nada taktis setelah mereka melepaskan pelukan perlahan. "Dengan bersatunya Anda berdua dan keberadaan dokumen asli ini, kita memiliki kekuatan hukum penuh untuk melakukan serangan balik mutlak. Besok pagi adalah jadwal sidang perdana yang diajukan Danuar di Pengadilan Niaga. Ini saatnya kita meruntuhkan dinasti Baskoro untuk selamanya."
Adrian mengusap sisa air mata di pipi Kirana dengan ibu jarinya, lalu berbalik menatap Hendra dan Rendra dengan mata elangnya yang kini berkilat mematikan, memancarkan aura kegelapan yang siap memangsa musuh-musuhnya.
"Rendra, siapkan konferensi pers besar-besaran tepat di depan gedung pengadilan besok pagi," perintah Adrian, suaranya terdengar sedingin es dan sarat akan otoritas yang tak terbantahkan. "Tuan Hendra, pastikan semua pasal berlapis tentang pemalsuan dokumen dan penipuan korporat internasional sudah siap menjerat Danuar. Mereka ingin bermain menggunakan hukum dan opini publik... maka besok, aku sendiri yang akan mengubur mereka di dalam permainan mereka sendiri."
---
Bersambung