🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Beracun Di Balik Topeng
Langkah kaki bergema berirama di sepanjang lorong utama kediaman Xiao yang luas dan megah. Di bawah langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran awan dan naga, Xiao Chen berjalan tegak dan berwibawa, jubah hitam bersulam benang emasnya berkibar lembut mengikuti gerakannya. Di sebelah kanannya, berjalan Shen Yue dengan tenang dan anggun, gaun putih bersihnya kontras namun menyatu sempurna dengan aura dingin tuannya.
Setiap pelayan dan pengawal yang mereka lewati langsung menundukkan kepala rendah-rendah, tidak berani mengangkat pandangan sedikit pun. Namun, dari sudut mata mereka, rasa takut, kagum, dan rasa heran bercampur menjadi satu. Belum pernah ada seseorang, apalagi seorang wanita, yang berani berjalan di sisi kanan Tuan Muda. Posisi itu selalu kosong, selalu dilarang. Kini, gadis asing itu berjalan di sana seolah tempat itu memang diciptakan khusus untuknya.
Sesampainya di depan pintu besar ruang tamu utama, A-Ming yang berjalan di depan berhenti dan berbalik, menunduk hormat.
"Tuan Muda, Pangeran Keempat sudah menunggu di dalam," lapor A-Ming dengan suara rendah namun tegas. Matanya berkilat waspada. "Ia datang dengan dua pengawal pribadi dan seorang penasihat. Sikapnya... sangat santai, seolah ini adalah kediamannya sendiri."
Xiao Yi tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya. Ia menoleh sekilas ke arah Shen Yue, tangannya bergerak pelan menyentuh lengan gadis itu sejenak—sebuah isyarat tenang dan perlindungan.
"Biarkan dia bersantai sepuasnya. Sebentar lagi dia akan tahu bahwa dia tidak sedang berada di istana emasnya," ucap Xiao Yi dingin. Ia mengangkat dagunya sedikit. "Buka pintunya."
Dua pelayan di sisi pintu langsung mendorong daun pintu besar itu terbuka lebar. Suara deritan halus terdengar, dan seketika itu juga, aroma manis dari dupa mahal bercampur dengan udara sejuk ruangan menyapa hidung.
Ruangan itu sangat luas, dengan lantai marmer hitam berkilauan. Di tengah ruangan terdapat karpet tebal berwarna merah tua dengan motif naga emas. Di ujung ruangan, di atas panggung kecil, terdapat dua kursi utama yang terbuat dari kayu mahoni dan berlapis bantalan sutra. Di sisi kiri ruangan, seorang pria duduk santai di kursi tamu, satu kakinya disilangkan di atas kaki lainnya, sambil memegang secangkir teh yang belum disentuh.
Saat pintu terbuka, pria itu mengangkat wajahnya. Sebuah senyum lebar, cerah, dan sangat menawan langsung terukir di bibirnya. Wajahnya tampan, kulitnya halus, matanya berbinar cerdas namun samar menyimpan kilatan tajam yang sulit dibaca. Ia mengenakan jubah berwarna biru langit dengan sulaman awan putih, penampilan yang sangat rapi, bersih, dan memancarkan wibawa bangsawan sejati.
Ini adalah Mu Ran, Pangeran Keempat kekaisaran. Pria yang dianggap sebagai kebanggaan istana karena kecerdasan dan kebijaksanaannya, namun di balik layar dikenal sebagai sosok yang paling ambisius dan kejam dalam mempertahankan kekuasaannya.
"Ah... akhirnya Tuan Xiao muncul juga!" seru Mu Ran dengan suara lantang dan ramah, ia langsung berdiri dan melangkah maju beberapa langkah, tangan terbuka seolah menyambut sahabat lama. "Aku mulai berpikir apakah kau sengaja membuatku menunggu agar aku paham betapa rendahnya posisiku dibandingkan tuan rumah yang hebat ini."
Xiao Yi berjalan masuk perlahan, tidak terburu-buru, tidak juga terlihat terganggu. Ia berhenti beberapa langkah di depan Mu Ran, menatap pria itu dengan tatapan datar dan dingin, tanpa sedikit pun senyum balasan.
"Pangeran Mu terlalu memuji. Aku hanya sibuk mengurus urusan dalam rumah tangga. Aku tidak menyangka Pangeran akan berkunjung sepagi ini tanpa kabar sebelumnya," jawab Xiao Yi datar, nada bicaranya sopan namun penuh jarak. Ia mengangkat tangan sedikit. "Silakan duduk. Di kediaman sederhana ini, mungkin tidak senyaman di istana, tapi aku harap Pangeran bisa betah."
Mu Ran tertawa renyah, tertawa yang terdengar tulus namun bagi Xiao Yi terdengar seperti suara ular yang bergesekan di rumput. Ia mengembalikan tangannya ke belakang punggung, lalu pandangannya perlahan beralih, jatuh tepat pada sosok Shen Yue yang berdiri tenang di samping Xiao Yi.
Senyum di bibir Mu Ran tetap terukir, namun kilatan di matanya berubah drastis. Ia meneliti Shen Yue dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang begitu tajam, begitu mendetail, seolah sedang membedah setiap inci dari gadis itu. Rasa heran, rasa penasaran, dan rasa tak percaya bercampur di matanya.
Selama bertahun-tahun, ia sudah hafal betul kebiasaan Xiao Chen. Pria itu benci wanita, benci gangguan, benci siapa pun yang mendekat ke ruang pribadinya. Dan sekarang, tidak saja ada wanita yang berdiri di sana, wanita itu berdiri di posisi paling terhormat, mengenakan gaun seputih salju yang membuatnya tampak bersinar, dan yang paling penting... aura damai yang memancar dari gadis itu mampu menyeimbangkan aura mengerikan Xiao Chen.
Mu Ran sudah mendengar desas-desus bahwa ada perubahan di kediaman ini. Ada cahaya baru. Ada kekuatan baru. Tapi ia tidak menyangka perubahannya akan sebesar ini.
"Dan siapakah wanita cantik ini?" tanya Mu Ran lembut, suaranya sedikit merendah, penuh pesona, namun matanya tetap menatap tajam. Ia melangkah maju selangkah, berniat mendekat. "Aku yakin aku hafal semua wanita terkemuka di ibu kota. Tapi wajah ini... sungguh baru dan menakjubkan. Tuan Xiao, kau benar-benar pandai menyembunyikan harta berhargamu, ya?"
Namun, sebelum Mu Ran bisa melangkah selangkah lagi, Xiao Yi bergerak sedikit ke samping, menghalangi pandangan dan jalan Pangeran itu dengan tubuh tegapnya. Aura dinginnya meledak seketika, menekan udara di ruangan itu hingga menjadi berat dan menyesakkan. Senyum di wajah Xiao Yi lenyap total, digantikan oleh tatapan tajam yang mengancam akan membunuh.
"Berhati-hatilah dengan kata-katamu, Pangeran," ucap Xiao Yi pelan namun menggelegar, suaranya rendah namun berbahaya. "Ini bukan sekadar 'wanita cantik' atau 'harta'. Ini adalah Nona Su Shen Yue. Dan dia bukan barang yang bisa kau bahas seenaknya atau kau tatap dengan pandangan kotor itu. Di wilayahku, di rumahku... dia adalah nyawaku. Dan siapa pun yang berani tidak sopan padanya, sama saja berani mengacungkan pedang ke leherku sendiri."
Ancaman itu diucapkan secara terbuka, langsung, tanpa tedeng aling-aling, tepat di hadapan seorang Pangeran Kekaisaran.
Wajah Mu Ran sedikit berubah pucat, namun ia cepat menguasai diri kembali. Ia mundur selangkah, mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, sambil tertawa kecil untuk menutupi rasa terkejutnya yang nyata.
"Wah, wah... maafkan aku. Aku tidak bermaksud tidak sopan. Aku hanya terlalu terkejut. Tuan Xiao yang dingin dan tertutup ternyata bisa berbicara dengan nada begitu... bergairah saat menyangkut wanita ini. Sungguh pemandangan langka," ucap Mu Ran santai, lalu ia menoleh ke arah Shen Yue, membungkuk sedikit dengan sopan namun tetap mempertahankan tatapan penasaran. "Maafkan kelancanganku, Nona Su. Aku Mu Ran, Pangeran Keempat. Senang sekali bisa bertemu dengan wanita yang mampu menjinakkan iblis paling mengerikan di kota ini."
Shen Yue yang sejak tadi diam, kini melangkah maju selangkah. Ia tidak terlihat takut, tidak terlihat rendah diri. Ia mengangguk sedikit sebagai balasan sopan, wajahnya tenang, damai, dan penuh wibawa yang setara dengan siapa pun di ruangan itu.
"Senang bertemu dengan Anda, Pangeran Mu," jawab Shen Yue lembut namun jelas, suaranya jernih dan menenangkan, memotong ketegangan di udara seolah sihir. "Saya hanyalah seorang gadis biasa yang menyukai bunga dan ketenangan. Dan Tuan Xiao... dia bukan iblis. Dia hanyalah pria yang kurang mendapatkan kehangatan. Di mata saya, dia adalah manusia paling jujur dan setia yang pernah saya kenal."
Jawaban itu sederhana, namun sangat tajam. Ia tidak merendahkan diri, namun juga tidak menantang. Ia mendefinisikan ulang siapa Xiao Chen di hadapan musuh bebuyutannya, dengan cara yang begitu tenang namun begitu kuat.
Mata Mu Ran menyipit sedikit. Ia menatap Shen Yue lebih dalam lagi. Jawaban itu... pandangan itu... ketenangan itu... gadis ini bukan orang biasa. Dia bukan sekadar pelayan, bukan sekadar kekasih biasa. Dia memiliki kecerdasan dan ketenangan jiwa yang jauh melampaui usianya.
Ini bukan harta, ini adalah senjata, batin Mu Ran dalam-dalam, rasa waspada mulai tumbuh di hatinya. Dan Xiao Chen baru saja mendapatkan senjata paling mematikan dari semuanya.
"Kata-kata yang indah," gumam Mu Ran pelan, lalu berbalik berjalan menuju kursi utama tamu, duduk dengan santai seolah tidak ada ketegangan sama sekali. "Baiklah, kalau begitu mari kita lupakan salam-salaman ini. Aku datang ke sini membawa pesan langsung dari Kaisar Ayahanda."
Mu Ran memberi isyarat pada penasihat tua di belakangnya. Pria tua itu maju membawa gulungan surat bersegel naga emas, lalu menyerahkannya pada Xiao Yi dengan penuh hormat.
Xiao Yi menerima surat itu, namun tidak membukanya segera. Ia hanya memegangnya di tangan, menatap Mu Ran dengan tatapan tajam.
"Apa isi pesan Kaisar?" tanya Xiao Yi dingin.
Mu Ran tersenyum, menyesap teh di cangkirnya pelan-pelan sebelum menjawab.
"Ayahanda mendengar bahwa kondisi kesehatanmu memburuk belakangan ini. Dia sangat khawatir. Dia juga mendengar bahwa ada perubahan aneh di kediaman ini... energi yang dulunya gelap dan kacau kini mulai teratur dan bersinar. Ayahanda percaya kau menemukan sesuatu yang berharga. Sesuatu yang bisa menyembuhkanmu, mungkin?" Mu Ran melirik sekilas ke arah Shen Yue dengan senyum miring yang penuh makna tersirat. "Kaisar memanggilmu untuk datang ke istana dalam tujuh hari ke depan. Dia ingin melihatmu, ingin tahu rahasia pemulihanmu... dan tentu saja, dia ingin bertemu dengan Nona Su. Konon, bunga yang tumbuh di tangan Nona Su memiliki khasiat ajaib, bukan? Ayahanda yang sedang sakit-sakitan sangat tertarik untuk mencobanya."
Suasana ruangan seketika menjadi hening dan dingin.
Itulah inti masalahnya. Kaisar tua yang mulai lemah dan takut mati mendengar kabar bahwa ada wanita ajaib yang bisa mengubah Xiao Chen, yang bisa membuat tanaman mati hidup kembali. Ia menginginkan kekuatan itu untuk dirinya sendiri. Dan ia mengirim Mu Ran, serigala berbulu domba ini, untuk mengambilnya, dengan alasan panggilan kekaisaran.
Xiao Yi meremas gulungan surat itu di tangannya hingga kertasnya berkerut. Aura membunuhnya melonjak naik, membuat suhu ruangan turun drastis.
"Jadi begitu..." desis Xiao Yi pelan, suaranya penuh kebencian tertahan. "Kaisar tua itu tidak pernah berubah. Dia selalu menginginkan apa yang bukan miliknya. Dia mengira Yue adalah obat? Mengira dia adalah jimat? Dia salah besar."
Xiao Yi melangkah maju mendekati meja tamu, menatap lurus ke mata Mu Ran yang tersenyum tenang itu.
"Katakan pada Kaisarmu... aku akan datang. Tujuh hari lagi. Aku akan datang ke istana," ucap Xiao Yi tegas dan dingin. "Tapi ingat baik-baik, Pangeran. Aku datang bukan untuk menyerahkan apa pun. Aku datang bukan untuk menjadi obat atau hiburan bagi Kaisar. Aku datang hanya untuk menunjukkan padanya... bahwa apa yang dia inginkan... dia tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Bahwa apa yang dia takuti... akan menjadi kenyataan. Dan satu hal lagi..."
Xiao Yi berhenti tepat di depan meja Mu Ran, menunduk menatap pria itu dengan pandangan mengerikan seolah sedang menatap mayat hidup.
"Jangan pernah berpikir untuk menyusun rencana kotor di belakangku. Jangan pernah berpikir kau bisa memisahkan Yue dariku. Karena jika kau mencoba... aku tidak peduli kau ini Pangeran, tidak peduli Kaisar ada di belakangmu... aku akan merobek seluruh istana itu menjadi debu, dan aku akan memastikan nama Mu Ran dihapus dari sejarah kekaisaran selamanya. Kau mengerti aku?"
Ancaman itu begitu nyata, begitu berat, hingga penasihat tua di belakang Mu Ran gemetar ketakutan dan mundur selangkah. Bahkan Mu Ran sendiri, yang biasa berhadapan dengan intrik berdarah istana, merasakan dingin yang menjalar dari tulang belakangnya. Ia tahu Xiao Chen bukan sekadar mengancam. Pria ini benar-benar gila dan cukup kuat untuk melakukannya.
Namun, Mu Ran tetap Mu Ran. Ia perlahan meletakkan cangkir tehnya kembali ke meja dengan bunyi 'tak' yang halus. Senyumnya masih ada, meski kini terlihat lebih kaku dan berbahaya.
"Aku mengerti, Tuan Xiao. Aku mengerti sekali," jawab Mu Ran lembut, matanya berkilat tajam. "Kita akan bertemu di istana nanti. Aku harap kau membawa penampilan terbaikmu. Dan tentu saja... bawa Nona Su. Aku sangat berharap bisa mengobrol panjang lebar dengan wanita yang luar biasa itu."
Mu Ran berdiri, merapikan jubahnya perlahan. Ia melirik sekilas ke arah Shen Yue yang diam tenang di belakang bahu Xiao Yi.
"Nanti aku pamit dulu. Kabar ini sudah aku sampaikan. Aku harus kembali melapor. Sampai jumpa... dalam tujuh hari."
Mu Ran berbalik berjalan keluar ruangan, diikuti oleh pengawal dan penasihatnya. Namun, tepat sebelum melewati ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh, dan berbicara dengan suara yang hanya cukup terdengar oleh Xiao Yi.
"Hati-hati, Xiao Chen... harta yang terlalu berharga seringkali mengundang banyak peminat. Dan di istana... ada banyak sekali mata yang lapar..."
Lalu ia pergi, menghilang di balik tirai pintu, meninggalkan suasana ruangan yang masih penuh ketegangan dan bau ancaman.
Setelah langkah kaki mereka menghilang sepenuhnya, Xiao Yi langsung berbalik badan, menatap Shen Yue dengan cepat, memeriksa apakah gadis itu terluka atau ketakutan sedikit pun.
"Kau baik-baik saja? Dia tidak mengatakan atau melakukan apa pun yang membuatmu tidak nyaman, kan?" tanya Xiao Yi cepat, tangannya kembali menggenggam kedua bahu Shen Yue dengan cemas. Matanya penuh kekhawatiran yang nyata.
Shen Yue mengangguk pelan, mengusap dada bidang Xiao Yi untuk menenangkan amarah yang masih bergolak itu.
"Aku baik-baik saja, Xiao Yi. Dia hanya berbicara. Senyumnya memang beracun, dan matanya penuh perhitungan... tapi aku tidak takut," jawab Shen Yue tenang. Ia menatap lurus ke mata pria itu. "Panggilan ke istana... itu bahaya besar, tapi juga kesempatan besar. Kaisar tua menginginkanku karena dia mengira aku punya kekuatan ajaib. Mu Ran menginginkanku karena dia ingin melemahkanmu. Tapi mereka salah satu hal penting."
Shen Yue tersenyum tipis, senyum yang sama tajam dan cerdasnya dengan senyum Mu Ran tadi.
"Aku bukan benda yang bisa diambil. Dan aku bukan kekuatan yang bisa dipakai. Aku adalah pasanganmu. Dan saat kita masuk ke istana itu nanti... kita tidak akan masuk sebagai tamu yang tunduk. Kita akan masuk sebagai penguasa yang akan mengubah segalanya."
Xiao Yi menatap gadis itu lama sekali. Rasa marah dan ancaman tadi perlahan hilang digantikan oleh rasa bangga dan rasa cinta yang begitu besar hingga nyaris meledak. Ia menarik Shen Yue ke dalam pelukannya, memeluknya erat seolah ingin menyatukan raga dan jiwa mereka.
"Kau benar..." bisik Xiao Yi di telinganya, suaranya penuh tekad baja. "Tujuh hari lagi. Kita akan pergi ke sarang harimau itu. Dan aku berjanji... apa pun yang terjadi... aku akan melindungimu. Bahkan jika aku harus melawan seluruh kekaisaran sendirian."
Di sudut ruangan, A-Ming yang berdiri diam menghela napas lega namun penuh kewaspadaan. Ia tahu, perang sesungguhnya baru saja diumumkan. Dan dalam tujuh hari ke depan, kediaman ini akan menjadi tempat persiapan paling sibuk dan paling rahasia, sebelum mereka berangkat menghadapi bahaya terbesar yang pernah mereka hadapi.
Dan di taman belakang sana, di bawah sinar matahari pagi, bunga-bunga yang baru saja tumbuh itu bergoyang lebih kuat tertiup angin, seolah merasakan bahwa badai besar akan segera datang... namun mereka siap untuk tumbuh lebih kuat di tengah badai itu.