Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKENALKAN
Eugene menatap Mikha. "Mommy..."
"Dad...Is she my mom?". Kata-kata polos itu keluar dari bibir Eugene.
Mengagetkan semua orang, termasuk Mikhaela yang mengerti perkataan anak itu karena ia lulusan sarjana sastra Inggris.
Terdengar helaan nafas Dante mendengar penuturan anaknya. Laki-laki itu menggendong Eugene. Sekilas ia menatap Mikhaela yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Sayang kamu harus di periksa di rumah sakit. Daddy tidak mau ada apa-apa dengan mu sayang".
"Tapi mommy ikut kan dad?".
"Dia bukan–"
"No daddy. Aku mau mommy ikut dengan ku", rengek Eugene ketika melewati Mikha yang masih berdiri di tempatnya.
Dante menghentikan langkahnya. Menoleh menatap tajam Mikhaela. "Kau ikut dengan kami ke rumah sakit!".
"Maaf tuan, saya minta waktu sebentar. Saya harus mengantar laundry hotel ini di lantai bawah. Tidak akan lama kok. Katakan saja anak anda akan di bawa ke rumah sakit mana, nanti saya menyusul. Kalau anda tidak percaya, ini kartu nama saya. Saya yang akan menanggung semua pengobatan anak anda–"
"Kau pikir aku butuh uang mu? Ikut aku!!", bentak Dante membuat tubuh Mikhaela tersentak.
Tanpa menghiraukan Mikha, Dante melanjutkan langkahnya. Mikha menatap punggung lebar laki-laki itu sambil memijat keningnya. "Bagaimana ini?", batinnya.
"Nona ikuti saja tuan Dante, dia pemilik hotel ini. Bukankah nona hendak mengantar laundry hotel? Saya Luthfi, asisten tuan Dante. Berikan saja kunci mobil nona, nanti saya perintahkan petugas Housekeeping yang mengambil laundry nya di mobil nona..?".
"Oh..."
Mendengar penjelasan Luthfi sungguh Mikhaela terkejut. Ternyata laki-laki itu pemilik hotel Emerald. Yang Mikha cemaskan pasti urusannya akan panjang. Lihat saja sekarang laki-laki itu mengintimidasi Mikhaela, walau Mikha sudah memastikan akan bertanggung jawab penuh pada anaknya.
"Mikhaela. Panggil saja Mikha", jawab Mikhaela.
"Nona Mikhaela", balas Luthfi tersenyum. "Mari ikut saya".
"Tapi sebaiknya aku bawa mobil saja jadi bisa langsung pulang setelah memastikan kondisi Eugene–"
"Drt...
"Sebentar. Tuan Dante menelpon ku", potong Luthfi.
Mikhaela menganggukkan kepalanya.
"Baik tuan. Nona Mikhaela sudah menitipkan kunci mobilnya. Saya perintahkan petugas Housekeeping yang mengambil laundry di mobil nona Mikhaela", ujar Luthfi.
"Eugene mau bersama nona. Ia nggak mau ke rumah sakit kalau nona tidak ikut bersamanya", ucap Luthfi memberi tahu Mikhaela.
"Iya tidak apa-apa. Ia mengalami kecelakaan melibatkan aku. Tapi kalian harus melihat CCTV, anak bos mu lah yang berlari kearah mobil ku. Untung saja mobil melaju pelan, bisa di bayangkan kalau ia berlari seperti tadi di jalan raya".
Luthfi menganggukkan kepala. "Iya nanti saya melihat rekaman CCTV hotel. Saya percaya pada nona Mikhaela", ucapnya.
Dari kejauhan nampak pak Rahmat berdiri di belakang mobil sedan Mercedes Benz e-class berwarna hitam metalik. Tidak seperti beberapa waktu lalu, kali ini laki-laki paruh baya itu tersenyum ramah pada Mikhaela. Ia membuka pintu mobil bagian belakang.
"Terimakasih", ucap Mikha pelan.
Rahmat menganggukkan kepalanya.
"Mommy..."
Eugene menghambur memeluk leher Mikhaela yang terdiam tak membalasnya. Sungguh tingkah anak itu membuat Mikhaela terkejut. Saat di klinik ketika Eugene memanggilnya mommy, Mikha pikir karena pengaruh tidak sadarkan diri sebelumnya. Tapi sekarang Eugene masih memanggilnya mommy. Bahkan Mikha bisa mendengar deru nafas anak itu karena menangis, mengira Mikha tidak ikut ia ke rumah sakit.
Mikha menatap Dante yang duduk di bangku depan memijat keningnya.
"Mommy...Aku tidak mau jauh dari mommy lagi. Aku ingin bersamamu–"
“Eugene stop it!!”
Dante membentak anak itu dengan keras.
"Mengertilah. Dia bukan mo–"
Spontan Mikha menyentuh pundak Dante. Detik itu juga Dante melihatnya, keduanya bertatapan. Mikha menggelengkan kepala. Memberi isyarat pada Dante agar tidak melanjutkan ucapannya yang akan menambah tangisan Eugene.
Mikha memang menyukai anak kecil, ia tahu yang Eugene inginkan saat ini yaitu pelukan seorang ibu. Walau Mikha sendiri tidak tahu kenapa anak itu memanggilnya mommy.
Dante mengerti dan menuruti Mikhaela.
"Apa rumah sakitnya masih jauh?", tanya Mikha pelan.
"Tidak terlalu jauh, tapi lihatlah kondisi jalan macet begini", jawab Dante menolehkan sedikit wajahnya pada Mikha yang memeluk Eugene. Entah ada apa pada Eugene, tidak biasanya ia mudah berdekatan dengan orang asing. Hal berbeda yang ia lakukan pada Mikhaela. Wanita yang baru saja mereka temui.
"Sayang...sebaiknya sekarang tidur. Aunty Mikhaela akan menemani Eugene ke rumah sakit", ucap Mikha terdengar begitu lembut.
Eugene menganggukkan kepalanya. "Tapi bolehkah aku memanggil mu mommy?", ucapnya polos.
Mikhaela tersenyum sambil mengusap lembut kepala anak itu. "Tentu saja".
Dari depan Dante mendengar semua percakapan antara Eugene dan Mikha. Iapun tidak ada niat untuk menyangga. Karena bagi Dante kebaikan Eugene yang paling utama.
Mobil yang di kendarai Rahmat berhenti di depan ruangan bertuliskan IGD. Petugas dengan sigap membantu Eugene, karena sudah tahu kedatangan pasien.
*
Mikhaela duduk sendirian di kursi tunggu tempat Eugene melakukan pemeriksaan di temani ayahnya.
Tak lama berselang Dante keluar ruangan. Tatapannya tertuju pada Mikhaela yang nampak lelah karena hari sudah malam, terlebih kondisi Mikha sedang hamil besar.
Dante menghampirinya. Duduk di samping Mikha. Menghembuskan nafas seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maafkan aku memaksa ikut ke rumah sakit. Asisten ku membawa mobil mu kemari, kamu bisa pulang", ujar Dante menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Tidak apa-apa. Saya yang menyebabkan anak tuan seperti ini–"
"Dante. Panggil aku Dante saja. Nama mu Mikhaela kan?", potong Dante tanpa merubah posisi duduknya menoleh pada Mikha yang tersenyum mengangguk. "Aku sudah melihat rekaman CCTV hotel. Kamu benar, Eugene berlari tiba-tiba kearah mobil mu".
"Aku sangat kuatir jika sesuatu hal tidak baik terjadi pada putra ku. Eugene tidak memiliki ibu lagi, istri ku meninggal dunia ketika melahirkan Eugene", ucap Dante.
"Owh. Aku turut berdukacita", ujar Mikha prihatin mendengar cerita Dante tentang keluarga kecilnya. Eugene yang malang, wajar saja anak itu berbeda, ternyata ia merindukan ibunya.
"Luthfi sudah datang. Sebaiknya kamu pulang, sekarang sudah malam. Suami mu pasti kuatir istrinya belum pulang".
Mikha tidak bereaksi mendengar perkataan Dante. Ia melihat ke arah pintu, tempat Eugene berada. Terlihat kekuatiran di wajah Mikhaela. "Tapi–"
"Tidak usah kuatir dengan anakku, ia akan melupakan semuanya setelah kami pulang ke London. Aku ke Jakarta hanya melakukan kunjungan berkala saja memantau pekerjaan, sekalian mengajak anak ku jalan-jalan", ujar Dante menatap Mikhaela.
Keduanya telah berdiri. Dante mengulurkan tangannya, Mikha langsung menyambutnya.
"Terima kasih bantuan mu menenangkan anak ku, Mikhaela. Semoga kita bisa bertemu lagi. Mungkin kau dan suami mu merencanakan liburan ke London, dengan senang hati aku menerima kalian berkunjung ketempat kami. Eugene pasti sangat senang. Apalagi ketika kau mengajak anak-anak mu", ujar Dante hangat.
Mikhaela mengusap perutnya. "Aku menantikan anak pertama", jawabnya membalas senyuman hangat Dante.
...***...
To be continue
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂