Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Setelah bekerja beberapa hari di kantor itu, Novita mulai benar-benar memahami pekerjaannya. Pada hari-hari pertama ia masih sering bertanya, memastikan setiap langkah yang ia lakukan sudah benar. Ia tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apa pun karena merasa dirinya masih baru di tempat itu.
Namun kini situasinya sudah berbeda.
Tangannya jauh lebih cepat bergerak di atas keyboard, dan matanya semakin teliti membaca angka-angka di layar. File laporan yang awalnya terlihat rumit kini bisa ia rapikan dengan tenang. Baris-baris angka disusun kembali, tabel diperjelas, dan semuanya tampak jauh lebih mudah dipahami.
Yanti yang duduk tidak jauh dari mejanya beberapa kali memperhatikan cara Novita bekerja. Sesekali ia memutar kursinya sedikit lalu melirik layar komputer Novita yang dipenuhi tabel-tabel rapi.
"Vi, kamu cepat sekali belajarnya," kata Yanti sambil memutar kursinya menghadap Novita.
Novita menoleh sambil tersenyum kecil.
"Masih belajar kok, Yan. Kadang masih takut salah juga."
Risa yang duduk di meja sebelah ikut menimpali sambil mencondongkan badannya.
"Takut salah katanya, tapi kerjaannya selalu selesai duluan. Lihat ini, Bu Dewi sampai muji kamu tadi."
Novita sedikit terkejut.
"Serius?"
"Iya," jawab Risa santai. "Tadi beliau bilang laporan yang kamu rapikan enak dibaca. Angkanya jelas, tabelnya juga rapi."
Novita tertawa kecil sambil menggaruk pelan kepalanya.
"Itu juga karena Yanti sama Risa sering bantuin aku."
Yanti langsung menggeleng.
"Eh, jangan bawa-bawa kami. Kamu memang cepat nangkapnya."
Beberapa karyawan lain di ruangan itu juga mulai memperhatikan kemampuan Novita. Terutama ketika ia mengolah angka dan merapikan laporan yang sebelumnya terlihat berantakan. Cara Novita menyusun tabel terlihat rapi dan sistematis sehingga laporan terlihat jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.
Hal itu perlahan menjadi bahan pembicaraan kecil di kantor.
"Anak baru itu pintar juga ya," bisik salah satu karyawan.
"Iya, yang di administrasi itu kan?" jawab yang lain.
"Yang namanya Novita."
Sementara itu Yanti masih memperhatikan Novita dengan rasa penasaran.
"Vi," panggil Yanti tiba-tiba.
"Iya?"
"Kamu sebenarnya pernah kerja administrasi sebelumnya ya?"
Novita menggeleng pelan.
"Enggak kok."
"Masa sih?" Yanti menaikkan alisnya. "Soalnya kamu kelihatan sudah biasa banget."
Risa juga ikut menoleh.
"Iya loh, kayak orang yang sudah lama kerja di kantor."
Novita tersenyum tipis.
"Dulu aku kerja seadanya saja."
"Seadanya gimana?" tanya Yanti penasaran.
Novita berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Macam-macam sih. Pernah di toko handphone, pernah juga di toko sepatu."
"Serius?" Yanti terlihat semakin tertarik.
"Iya," lanjut Novita santai. "Terus pernah juga jadi pelayan restoran."
Risa langsung bersandar di kursinya.
"Wah... banyak juga ya."
Yanti menatap Novita dengan kagum.
"Berarti kamu sudah kerja dari lama dong."
Novita hanya mengangkat bahu.
"Ya... hidup kan harus jalan."
Jawaban sederhana itu justru membuat Yanti semakin menghargainya.
"Hebat juga kamu," kata Yanti sambil tersenyum. "Aku saja dulu baru kerja langsung di kantor."
Suasana meja kerja mereka kemudian menjadi santai. Ketiganya kembali bekerja beberapa menit dalam diam sebelum Yanti tiba-tiba kembali membuka pembicaraan.
"Eh, Minggu ini aku mau jalan-jalan," kata Yanti.
Risa langsung menoleh.
"Kemana?"
"Belum tahu sih. Mungkin ke mall atau cari tempat makan."
Yanti kemudian menatap Novita dengan wajah penuh harap.
"Vi, ikut yuk."
Novita yang sedang mengetik berhenti sejenak.
"Minggu ini?"
"Iya."
Novita menggeleng pelan.
"Kayaknya enggak bisa deh."
"Kenapa?" tanya Yanti cepat.
"Ada urusan lain."
Yanti langsung menyipitkan matanya dengan ekspresi curiga.
"Jalan sama pacar ya?"
Mendengar itu Novita justru tertawa.
"Pacar?"
"Iya."
"Aku enggak punya pacar."
Risa yang sedari tadi mendengar percakapan itu langsung tertawa kecil.
"Kalau soal itu sih sebenarnya gampang," kata Risa santai.
Novita menoleh.
"Maksudnya?"
"Di bagian finance ada yang tertarik sama kamu."
Novita langsung menggeleng tanpa berpikir lama.
"Enggak, terima kasih."
Yanti terlihat kaget.
"Loh, belum kenal kok sudah ditolak?"
Novita kembali mengetik di komputernya sambil menjawab dengan tenang.
"Buat sekarang cinta itu enggak menarik."
Yanti langsung menatapnya tajam.
"Hah?"
Novita tersenyum kecil.
"Yang paling penting sekarang uang."
Yanti langsung menghela napas panjang.
"Ya ampun, Vi..."
"Kenapa?"
"Jawaban kamu itu menyebalkan."
Risa tertawa pelan di samping mereka.
"Kenapa memang?" tanya Novita polos.
Yanti langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Aku ini enggak punya pacar, tapi bukan karena aku enggak mau."
"Terus?"
"Karena enggak ada yang ngajak aku pacaran!"
Risa langsung tertawa lebih keras.
"Kasihan banget."
"Eh!" Yanti memprotes. "Kamu jangan ketawa."
"Tapi lucu," jawab Risa santai.
Yanti kemudian menoleh ke arah Risa.
"Kamu juga aneh."
"Kenapa lagi?"
"Kamu punya pacar, tapi malah setuju sama Novita."
Risa mengangkat bahu dengan ekspresi datar.
"Pacaran sekarang juga enggak ada gunanya."
"Loh?" Yanti semakin bingung.
Risa memutar kursinya sedikit sambil menghela napas.
"Pacarku sekarang sudah beda."
"Beda gimana?"
"Dulu seru," kata Risa. "Sekarang cuma ngajak jalan-jalan enggak jelas."
"Maksudnya?"
"Ya begitu. Muter-muter, makan, pulang. Ulang lagi minggu depan."
Novita tersenyum kecil mendengar itu.
"Kedengarannya membosankan."
"Iya kan?" kata Risa cepat.
Yanti menatap keduanya bergantian.
"Kalian ini aneh sekali."
"Kenapa?" tanya Novita.
"Satu enggak tertarik cinta," kata Yanti sambil menunjuk Novita.
"Yang satu punya pacar tapi bosan," lanjutnya sambil menunjuk Risa.
Risa dan Novita saling pandang sejenak.
Kemudian keduanya tertawa hampir bersamaan.
Yanti hanya bisa menggeleng sambil mendesah pelan.
"Aku benar-benar enggak mengerti kalian berdua."
Novita tiba-tiba menyeringai kecil.
"Kalau gitu kenapa Yanti enggak pacaran saja sama Pak Andra?"
Kalimat itu langsung membuat Yanti dan Risa membelalakkan mata.
"Kamu gila ya?!" seru Yanti.
Risa juga ikut menatap Novita tidak percaya.
"Itu bos kita, Vi!"
Novita malah tertawa kecil.
"Kenapa? Lumayan kan."
Yanti langsung mengibaskan tangannya dengan dramatis.
"Mending aku lompat dari gedung daripada pacaran sama Pak Andra!"
Risa menahan tawa.
"Segitunya?"
"Iya!" kata Yanti cepat.
Novita justru terlihat berpikir.
"Memangnya Pak Andra sudah punya pacar belum ya?"
Risa mengangkat bahu.
"Enggak tahu juga."
Novita menyandarkan punggungnya di kursi.
"Dengan wajah kayak gitu harusnya sih punya."
"Maksudnya?" tanya Risa.
Novita tersenyum nakal.
"Speknya kayak idol K‑Pop."
Risa langsung menutup mulutnya menahan tawa.
"Iya juga sih..."
"Hei! Jangan mulai ikut-ikutan," kata Yanti cepat.
Ketiganya kembali tertawa kecil sambil terus bercanda. Suasana kantor yang sebelumnya tenang kini terasa sedikit lebih hidup karena obrolan mereka.
Namun mereka tidak menyadari sesuatu.
Beberapa langkah di belakang mereka, seseorang ternyata sudah berdiri sejak beberapa saat yang lalu.
Pak Andra.
Ia berdiri dengan tenang, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya datar, tetapi matanya memperhatikan tiga karyawan yang sedang asyik mengobrol tentang dirinya.
Ia bahkan sudah mendengar cukup banyak.
Mulai dari pembicaraan tentang pacaran… sampai komentar Novita yang menyebutnya seperti idol K‑Pop.
Beberapa detik berlalu.
Ketiga wanita itu masih belum menyadari keberadaannya.
Akhirnya Andra menarik napas kecil.
"Ehem."
Suara batuk kecil itu terdengar jelas di belakang mereka.