Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Oli dan Strategi
Istirahat pertama selesai.
Kami masuk kelas masing-masing.
Di kelas terasa ramai, sampai akhirnya guru masuk lalu memulai pelajaran selanjutnya.
Sampai bel istirahat kedua berbunyi.
Saat istirahat kedua, Andi ngajak ke bengkel nanti setelah pulang sekolah.
Di sela-sela obrolan dengan yang lain—
kebetulan banget, pikirku.
Emang aku juga ingin terlibat dalam pembentukan baru si 73 biru.
Beberapa menit berlalu terasa cepat.
Bel masuk pun berbunyi saat lagi seru-serunya.
Kami semua masuk kelas.
Menghadapi beberapa mata pelajaran yang terasa membosankan, sampai bel pulang sekolah berbunyi.
Kelas kami pulang sedikit lebih awal dari kelas lain.
Saat pulang—
aku menunggu sebentar di depan kelas Cila.
Andi dan yang lain duluan.
“Ndra, gue nunggu di parkiran ya,” ucap Andi.
“Iya, sip,” ucapku sambil mengangguk.
Aku menunggu sambil bersandar dan melihat halaman sekolah di bawah.
Tak lama, Cila keluar dan menghampiri.
Aku menoleh ke arahnya.
“Lama ya…” ucapnya.
“Ya udah, yuk,” lanjutnya.
Dalam perjalanan—
aku bilang,
“Kamu pulang sendiri ya…” ucapku sambil melihatnya yang sedang memperhatikan langkah.
“Aku mau ke bengkel bareng Miko,” lanjutku, karena aku mau numpang di motor Miko.
“Oh, ya udah,” jawab Cila, menatap dengan senyuman.
Kami pun lanjut sampai parkiran.
Aku ambil helm di motor Cila.
Lalu kunyalakan motornya Cila, takut ngadat lagi.
Tapi kali ini aman.
Cila pun siap di atas motor.
“Aku duluan ya,” ucapku sambil sedikit melambai tangan.
“Iya, hati-hati ya,” ucap Cila.
Yang tadinya mau berbalik, jadi tertahan.
Saat itu aku nggak tahu apa maksudnya.
Dan nggak tahu kenapa—
aku nggak bisa menahan perasaan, sampai-sampai tawa kecilku keluar.
“Kamu kenapa?” ucap Cila heran.
“Nggak, kamu juga hati-hati,” ucapku, senyum sampai gigiku terlihat karena menahan tawa.
Aku pun melangkah menghampiri yang lain yang sedang menunggu.
Kami pun berangkat menuju bengkel.
—
Sesampainya di bengkel—
Andi ngajak kami ke dalam suatu ruangan.
Tempatnya nyaman untuk santai.
“Santai di sini dulu kita,” ucap Andi sambil nyengir dan mengangkat alis ke arahku.
“Lah, baru tau ada ruangan ini,” ucap Miko sambil langsung duduk di sofa.
“Iya, ini ruangan abang gue buat santai,” ucap Andi.
“Emang gapapa…” ucapku.
“Udah santai aja,” ucap Bara yang sudah rebahan di sofa yang lebih panjang.
“Ngapa lu yang kayak jadi tuan rumahnya,” ucap Andi yang seolah kesal, padahal bercanda.
“Udah sono, bikinin minum,” ucap Bara santai, maksudnya bercanda.
“Anjir, malah ngelunjak lu ye,” ucap Andi sambil tertawa dan melempar bantal ke arah Bara.
Lalu Andi pun menyalakan TV dan PlayStation.
“Nah gitu dong, tinggal beli cemilannya nih…” ucap Bara.
“Makanan mulu pikiran lu,” ucap Andi.
Aku hanya tertawa kecil.
“Nih, ceban pertama,” ucap Bara dengan mengeluarkan uang gocengnya dengan nyengir tanpa dosa.
Kami pun tertawa.
“Anjir si bangsat, yang paling kecil yang pergi beli cemilan,” ucap Andi.
Aku dan yang lain pun mengeluarkan nominal yang lebih besar.
“Kayaknya gua yang paling miskin di sini,” ucap Bara sambil menggaruk kepala.
“Lu itu bukan miskin, tapi boros,” ucap Andi.
Bara pun hanya nyengir.
Lalu berangkat pergi beli cemilan.
—
Hening sejenak.
Miko sedang menyandarkan badan di sofa sambil santai.
Andi sedang memegang stik, menunggu game dimulai.
Di pikiranku hanya motor.
“Ayo, siapa yang mau lawan gue?” ucap Andi.
“Lu aja, Mik. Gue nggak begitu paham,” ucapku.
Miko pun mengiyakan.
Setelah beberapa saat—
mereka terlihat seru dan serius.
Kulihat Miko mendominasi permainan.
Malah dia terlihat lebih menguasai.
“Lu sering main ginian ya…” tanya Andi.
“Hm…” Miko hanya mengangguk dengan pandangan tetap fokus ke layar.
Dan—
“Goool!”
“Anjir, gue kira lu cuma kutu buku,” ucap Andi.
Miko hanya ketawa pendek, sok keren.
—
Di rasa bosan juga liat yang lagi seru main game.
Aku pun memutuskan melihat-lihat motor yang sedang mulai dikerjakan.
“Bro, gue keluar ya,” ucapku.
“Ya…” jawab mereka barengan sambil tetap fokus.
Aku pun membuka seragam sekolah agar tidak kotor.
Lanjut ke ruangan bengkel, melihat pengerjaan.
Awal-awal hanya melihat pembongkaran yang hampir selesai.
Pikirku gemas ingin membantu, tapi takut malah mengganggu.
Sampai beberapa saat—
ketika teman Bang Andra sedikit kesulitan dan aku paham.
“Bang, boleh bantu nggak?” ucapku.
Ia pun melirik.
“Nah gitu dong, harusnya dari tadi,” ucapnya.
Aku hanya nyengir sambil menggaruk kepala.
“Nama lu Rendra, kan…” tanyanya.
“Gue Zainal, panggil aja Bang Zen,” lanjutnya.
“Oh iya, Bang Zen,” ucapku.
Lalu ia menjelaskan tentang apa yang harus aku lakukan.
Aku pun mulai membantu yang ringan-ringan.
Dalam proses, Bang Zen kadang menjelaskan tentang mesin.
Ada yang sudah kupahami, dan ada yang belum.
Mulai saat inilah aku menambah pengetahuan soal mesin dan filosofisnya.
—
Tak terasa waktu berjalan cepat.
Hari sudah sore.
Miko ngajak pulang.
“Ndra, pulang yuk. Sore nih,” ucap Miko dari belakang.
Aku pun menoleh.
“Oh iya, Mik,” jawabku.
Lalu membersihkan tangan karena kotor.
Pikirku, besok-besok aku akan bersiap untuk ini.
—
Setelah beberapa menit—
ketika selesai bersiap, aku mendekat ke yang lain.
“Buset, yang lain main, lu malah kerja,” ucap Andi.
“Daripada gue bosen kan…” ucapku.
“Ndra, sorry, cemilan jatah lu abis gua makan,” ucap Bara.
“Iya, gapapa,” jawabku santai.
“Ya udah, gue balik ya,” lanjutku.
“Gue balik, besok lagi,” ucap Miko.
“Kita belum selesai, Miko,” ucap Andi.
“Udah, kalian nggak bakalan menang lawan gue,” ucap Miko sambil menyalakan motor.
“Anjir, sombong banget nih anak,” ucap Bara.
Aku hanya tertawa kecil.
“Ya udah, kita balik ya,” ucapku.
Mereka hanya mengangkat tangan.
—
Aku pulang bareng Miko karena kami satu arah, meskipun Miko harus ambil jalur yang sedikit lebih jauh untuk mengantarku.
Aku minta turun di dekat pintu komplek.
Walau harus jalan sampai rumah, aku nggak mau ngerepotin Miko.
“Thanks ya, Mik,” ucapku.
“Emang rumah lu di mana?” tanya Miko.
“Di dalem,” jawabku.
“Masih harus jalan? Ya udah, gue anterin,” ucap Miko.
“Udah, nggak usah. Santai aja, deket kok,” jawabku.
Miko mikir sebentar, memastikan.
“Ya udah, gue balik ya,” ucapnya.
“Thanks ya,” ucapku.
“Iya,” jawabnya sambil menjauh setelah menarik gas.
—
Aku mulai berjalan, melewati portal.
Penjaga menyapaku.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Singkat cerita—
aku sampai di rumah.
—
Ibu berada di ruang tengah, entah sedang apa. TV menyala, tapi tak dilihat.
Menoleh saat aku masuk.
“Dari mana?” tanyanya.
“Dari bengkel,” jawabku singkat.
Ibu mengangguk.
“Motor kamu ke mana?”
“Lagi dibenerin.”
“Mm…” responnya pelan.
Lalu ibu menambahkan,
“Kenapa nggak pakai motor kakak di garasi?”
Aku sedikit mengernyit.
“Emang ada?”
“Ada. Udah jarang dipakai,” jawabnya santai.
Aku diam sebentar.
Dalam pikiranku—
sebenarnya bisa saja.
Tapi…
aku lebih memilih tetap seperti ini.
Biar bisa berangkat bareng Cila.
Dan pulangnya sekalian ke bengkel.
“Iya deh… nanti aku pertimbangkan,” jawabku akhirnya.
Ibu hanya mengangguk.
“Ya udah, aku masuk kamar ya, Bu.”
“Iya.”
—
Aku langsung masuk kamar.
Menaruh barang.
Belum mandi.
Seperti biasa—
latihan ringan dulu.
Sekitar tiga puluh menit.
Cukup untuk bikin badan terasa hidup lagi.
—
Setelah itu—
aku mandi.
Ganti baju.
Lalu rebahan.
—
Beberapa detik hening.
—
Getar.
HP-ku bergetar.
Aku melirik.
Cila.
Pikirku—
tumben.
“Udah pulang?” pesannya.
“Udah,” jawabku singkat.
“Pulang sama siapa?”
“Sama Miko.”
—
Beberapa saat—
tidak ada balasan.
Di layar—
terlihat dia sempat mengetik.
Lalu hilang.
Ngetik lagi.
Hilang lagi.
Aku hanya memperhatikan.
Sedikit bingung.
—
Akhirnya aku yang kirim duluan.
“Papah kamu ada…?”
Tidak lama—
balasan masuk.
“Ada… kenapa?”
Aku tersenyum kecil.
“Main catur.”
Beberapa detik—
lalu muncul balasan.
“Hahaha… ya udah kesini aja.”
—
Beberapa menit kemudian—
aku bangkit dari tempat tidur.
Mengambil jaket tipis.
Lalu beranjak.
Berjalan ke halaman belakang rumah.
—
Angin terasa ringan.
Sejuk.
Cukup nyaman.
—
Aku masuk ke halaman belakang rumah Cila melalui pintu belakang yang tidak tertutup rapat.
Aku mendorongnya pelan.
Masuk.
Suasananya tenang.
Lebih tenang dari yang kuduga.
Di belakang—
ada kolam.
Airnya tidak terlalu besar.
Tapi cukup untuk memantulkan cahaya sore yang samar.
Di sampingnya—
ada meja bulat kecil.
Dengan dua kursi.
Dan sebuah payung besar di atasnya.
Di salah satu kursi—
Cila sudah duduk di sana.
Sendirian.
Dia sedikit menunduk.
Seperti sedang memperhatikan sesuatu di atas meja.
Atau mungkin…
hanya diam.
Aku melangkah mendekat.
Pelan.
“Udah lama?” tanyaku.
Cila menoleh.
Sedikit kaget.
Lalu menggeleng.
“Baru kok.”
Aku berdiri sebentar.
Melihat sekeliling.
Lalu menarik kursi di depannya.
Duduk.
“Papah kamu mana?” tanyaku.
“Katanya sedikit ada urusan,” jawabnya santai.
“Di dalam.”
Aku mengangguk.
“Berarti ga jadi main catur dong.”
Cila tersenyum kecil.
“Ya udah, sama aku aja.”
Aku sedikit mengangkat alis.
“Emang kamu bisa?”
Dia tidak langsung jawab.
Hanya menarik papan catur yang sudah ada di atas meja.
Merapikannya.
“Coba aja dulu,” ucapnya ringan.
Aku tersenyum tipis.
Lalu mencondongkan badan.
Mulai menyusun bidak.
Angin sore lewat pelan.
Permukaan air kolam sedikit bergerak.
Memantulkan cahaya yang mulai berubah.
Permainan dimulai.
Awalnya santai.
Tidak terlalu serius.
Aku melangkah biasa.
Tidak terlalu mikir.
Cila mengikuti.
Tenang.
Tanpa banyak komentar.
Beberapa langkah berlalu.
Aku masih santai.
Sampai akhirnya—
aku mulai memperhatikan.
Langkahnya tidak asal.
Aku sedikit berhenti.
Melihat papan lebih lama.
Dia tetap diam.
Menunggu.
Aku melanjutkan.
Beberapa menit kemudian—
posisiku mulai tertekan.
Aku mengernyit kecil.
“Lah…”
Cila menahan senyum.
Aku kembali fokus.
Mulai berpikir.
Tapi semakin lama—
semakin terasa.
“Serius ini?” ucapku pelan.
Cila tertawa kecil.
Tidak menjawab.
Dan saat itu—
aku baru sadar.
Aku tidak sedang main santai.
Aku menarik napas kecil.
Lalu kembali melihat papan.
Berusaha mencari celah.
Langkahku berikutnya lebih hati-hati.
Tidak lagi asal.
Cila tetap sama.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
Sesekali dia menyandarkan punggung.
Menunggu aku selesai berpikir.
Suasana di sekitar mulai berubah.
Cahaya sore tidak seterang tadi.
Pantulan di air kolam mulai redup.
Aku memajukan satu bidak.
Yakin.
Beberapa detik—
Cila langsung membalas.
Cepat.
Aku berhenti.
Menatap papan.
“Wah, bukan kaleng-kaleng…” gumamku pelan.
Cila tersenyum tipis.
Masih tanpa komentar.
Aku mulai fokus penuh.
Alisku sedikit mengernyit.
Beberapa langkah lagi—
posisiku makin sempit.
Aku mencoba bertahan.
Memutar arah.
Mencari cara keluar.
Tapi—
setiap jalan yang kupilih—
seperti sudah dia tunggu.
Aku diam lebih lama.
Menatap papan.
Sampai akhirnya—
aku menghembuskan napas.
Pendek.
“Udah… susah ini,” ucapku.
Cila tidak langsung bergerak.
Menunggu.
Aku mengangkat tangan sedikit.
Memberi isyarat menyerah.
Cila baru memindahkan satu bidak terakhir.
Pelan.
Selesai.
Aku bersandar.
Menatap papan sebentar.
Lalu menoleh ke arahnya.
“Sejak kapan kamu bisa beginian?” tanyaku.
Cila mengangkat bahu kecil.
“Dari dulu.”
“Pasti Papah kamu yang ajarin?” tanyaku lagi.
Dia mengangguk.
“Kadang.”
Aku tersenyum kecil.
Menggeleng pelan.
“Kirain…”
“Kirain apa?” tanya Cila.
Aku menatapnya sebentar.
Lalu nyengir tipis.
“Nggak nyangka aja.”
Diam sejenak.
“Berarti jelas aku ga bisa lawan Papah kamu kalo belum ngalahin kamu,” ucapku.
Cila tertawa kecil.
Pelan.
—
Angin sore kembali lewat.
Lebih dingin dari tadi.
Beberapa detik—
tidak ada yang bicara.
Aku melihat ke arah kolam.
Permukaannya sudah lebih gelap.
Dari dalam rumah—
lampu mulai menyala.
Cahayanya keluar sampai ke halaman.
Cila ikut menoleh ke arah yang sama.
Lalu kembali melihat papan.
Tangannya merapikan bidak satu per satu.
“Ayo lagi?” ucapnya.
Aku melirik.
Lalu tersenyum.
“Balas dendam?” lanjutnya.
Cila hanya nyengir kecil.
Aku tertawa pelan.
“Boleh.”
Aku kembali mencondongkan badan.
Menyusun ulang bidak.
Kali ini—
aku tidak akan santai lagi.
Tapi entah kenapa—
rasanya bukan cuma soal menang.