Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Dibalik cermin yang retak
Aula utama telah senyap, menyisakan aroma tajam pembersih lantai yang gagal menutupi bau amis darah yang tadi sempat tumpah.
Aira melangkah dengan kaki telanjang di atas marmer dingin, menuju kamar mandinya yang luas—sebuah ruangan yang kini terasa lebih seperti altar ritual daripada tempat pembersihan diri.
Ia mengunci pintu perak itu rapat-rapat. Kesunyian di dalam sana begitu pekat, hanya dipecahkan oleh suara tetesan air dari kran emas yang berdetak seperti hitungan mundur menuju kegilaan.
Uap hangat masih menyelimuti ruangan, menciptakan kabut tipis yang membuat pantulan cahaya dari lampu kristal tampak remang-remang.
Aira berdiri di depan cermin raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Ia menatap wajahnya sendiri—wajah yang kini memiliki kilatan tajam yang asing.
Ia perlahan menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah smirk yang dingin dan merendahkan, persis seperti yang ia tunjukkan pada Dante dan yang lainnya di aula tadi.
"Kau puas sekarang?" bisik Aira. Suaranya bergema, memantul di dinding marmer yang sunyi.
Tiba-tiba, permukaan cermin itu bergetar halus. Cairan perak seolah meleleh di balik kaca, menciptakan riak yang tidak wajar.
Sosok di dalam cermin tidak lagi mengikuti gerakan Aira. Sosok itu—Isabella von Raven yang asli—perlahan melepaskan tangannya dari sisi tubuhnya.
Ia melangkah maju dengan keanggunan yang mengerikan hingga wajah mereka hanya terpisah oleh lapisan kaca tipis yang dingin.
Isabella tersenyum. Bukan senyum kemenangan yang kasar, melainkan senyum seorang pemangsa yang bangga melihat mangsanya akhirnya mulai menumbuhkan taring.
"Kau belajar dengan sangat cepat, Aira," suara Isabella merambat langsung ke dalam pusat saraf Aira, tanpa melalui telinga. Suaranya seperti gesekan sutra di atas luka yang masih basah.
"Smirk itu... sorot mata yang menghina itu... kau tampak sangat cantik saat kau membuang kemanusiaanmu yang membosankan ke dalam perapian bersama buku harian konyolmu."
Aira menatap langsung ke mata hijau zamrud Isabella yang berkilat haus akan penderitaan. Ia tidak lagi gemetar.
"Aku harus bertahan hidup di sini, Isabella. Jika itu berarti aku harus menjadi monster sepertimu agar mereka tidak mengulitiku hidup-hidup, maka biarlah. Aku akan mengikuti alur kehidupan ini dengan caraku sendiri."
Isabella tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu namun hampa, seperti denting gelas kristal yang retak. Ia menyentuh permukaan kaca tepat di depan bibir Aira.
"Caramu sendiri? Kau pikir kau punya kendali? Di rumah ini, kekejaman bukan sekadar akting atau topeng, Aira. Itu adalah oksigen. Dan kau baru saja menghirup napas pertamamu yang sesungguhnya."
Isabella memiringkan kepalanya, menatap Aira dengan rasa penasaran yang gelap.
"Katakan padaku, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya mencengkeram rambut Kael yang liar dan melihat serigala itu bertekuk lutut karena takut sekaligus bernafsu padamu? Bagaimana rasanya melihat Dante—sang penguasa bayangan—terdiam seribu bahasa karena kewibawaanmu yang tiba-tiba?"
Aira terdiam sejenak. Ingatan tentang bagaimana ia mendominasi keempat pria itu tadi menimbulkan sensasi panas yang asing di dadanya. Sebuah hasrat yang tertahan yang selama ini ia tekan di dunia aslinya yang penuh kepatuhan dan rasa takut.
"Rasanya... benar," jawab Aira dengan suara rendah yang serak.
"Rasanya seperti aku akhirnya memiliki tempat untuk berdiri di dunia yang gila ini."
Isabella mendekatkan wajahnya ke kaca, matanya berkilat jahat.
"Tentu saja terasa benar. Karena tubuh ini diciptakan untuk memerintah, bukan untuk memohon belas kasihan. Tapi ingatlah satu hal, Penipu... semakin banyak kau memerintah mereka dengan kekejamanmu, semakin dalam mereka akan jatuh cinta pada kehancuranmu. Dan cinta dari keempat pria itu adalah kutukan yang akan menyeretmu ke dasar neraka terdalam."
"Aku tahu rahasia mereka, Isabella," ujar Aira, mencoba menyerang balik harga diri sang pemilik asli.
"Zane, Julian, Dante, dan Kael... mereka terikat padamu bukan karena cinta yang tulus, tapi karena dosa masa lalu yang kau genggam erat di tanganmu. Aku akan menggunakan itu untuk membuat mereka tetap merangkak di bawah kakiku."
Isabella tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tajam.
"Kau pikir kau tahu segalanya hanya karena kau menonton sebuah film? Film itu hanyalah kulit luarnya yang mengilap, Aira. Kau belum tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan padaku... dan apa yang kulakukan pada mereka hingga mereka menjadi monster yang terobsesi seperti sekarang."
Isabella melangkah mundur sedikit, memberikan ruang bagi Aira untuk melihat pantulan seluruh tubuhnya yang kini tampak lebih dominan di balik kaca.
"Mulai detik ini, aliansi kita benar-benar dimulai. Aku akan membiarkanmu menggunakan ragaku, menggunakan suaraku yang beracun, dan menggunakan kekejamanku yang tak terbatas. Tapi sebagai gantinya... setiap kali kau mencium mereka dengan penuh nafsu, setiap kali kau menyiksa mereka dengan kata-katamu yang tajam, aku akan merasakan setiap detiknya melaluimu."
Aira mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menekan telapak tangannya sendiri.
"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau membiarkanku mengambil alih tanpa perlawanan?"
Isabella menatap Aira dengan tatapan yang hampir terlihat... melankolis, namun segera tertutup oleh kegelapan yang pekat.
"Karena aku sudah lelah, Aira. Aku lelah dibenci sekaligus dipuja oleh mereka dengan intensitas yang sama. Aku ingin melihat apakah jiwa 'suci' darimu akan bertahan saat kau menyadari bahwa satu-satunya cara untuk mencintai pria-pria itu adalah dengan menghancurkan martabat mereka."
Isabella asli mulai memudar, kembali menyatu dengan bayang-bayang di balik cermin yang beruap. Namun, sebelum ia benar-benar menghilang, ia memberikan satu peringatan terakhir yang membuat darah Aira seolah membeku.
"Berhati-hatilah dengan Dante malam ini, Aira. Dia adalah pria yang paling cerdas di antara mereka. Dia tidak tertipu oleh perubahan mendadakmu... dia hanya sedang 'menikmati' pertunjukanmu sebelum dia memutuskan untuk menelanmu bulat-bulat di dalam kamarmu."
Isabella asli tidak hanya memudar; ia seolah-olah mencair ke dalam kegelapan yang menyelimuti tepian kaca. Namun, sebelum wajahnya benar-benar hilang, ia menempelkan telapak tangannya ke kaca, tepat di posisi jantung Aira.
"Kau merasakan itu, Aira?" bisiknya, suaranya kini seperti desiran pasir di atas batu nisan.
"Detak jantung yang berpacu saat kau
memikirkan Dante yang berlutut di bawah kakimu? Itu bukan hanya rasa takut. Itu adalah adrenalin dari kekuasaan yang selama ini kau idamkan di duniamu yang membosankan. Kau mencintai rasa takut mereka, karena itu membuatmu merasa hidup."
Aira tertegun. Ia ingin menyangkalnya, namun tangannya yang menyentuh permukaan kaca yang dingin justru terasa berdenyut.
Ia melihat pantulannya sendiri—bibirnya yang memerah, matanya yang tajam, dan lehernya yang masih dihiasi tanda-tanda kepemilikan. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi jijik melihat tanda-tanda itu; ia justru merasa tertantang.
"Jika aku harus mencintai mereka dengan cara menghancurkan mereka, maka biarlah," desis Aira, menatap langsung ke bayangan Isabella yang kini hanya menyisakan sepasang mata hijau yang berpendar.
"Aku akan menjadi Ratu di neraka yang kau tinggalkan ini. Dan aku akan memastikan mereka tidak akan pernah merindukanmu lagi, karena aku jauh lebih berbahaya daripada dirimu."
Isabella tertawa untuk terakhir kalinya, sebuah tawa yang penuh dengan kepuasan sekaligus kutukan.
"Selamat datang di kegelapan, Nyonya Menor yang baru. Mari kita lihat seberapa lama kau bisa menahan lapar dari empat serigala yang kini mulai menyadari bahwa dagingmu terasa jauh lebih manis daripada sebelumnya."
Bayangan itu menghilang sepenuhnya. Aira berdiri sendirian, terengah-engah dalam kesunyian kamar mandi yang lembap.
Ia mengambil sehelai kain sutra, menyeka uap di cermin dengan satu sapuan kasar, lalu menatap dirinya sendiri dengan smirk yang kini permanen di wajahnya.
Ia memutar kunci pintu, membuka jalan menuju kamarnya di mana Dante sudah menunggu.
Permainan sesungguhnya baru saja dimulai.
Lanjuutt