NovelToon NovelToon
Kau Harus Rela Melepasnya

Kau Harus Rela Melepasnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anto Sabar

Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Awal yang Baru

Tiga tahun kemudian…

Waktu berjalan tanpa henti.

Ia tidak menunggu siapa pun.

Tidak peduli siapa yang tertinggal.

Dan dalam tiga tahun itu—

Ryan telah berubah.

Bukan hanya sebagai pria…

tapi sebagai seseorang yang mulai membangun dunianya sendiri.

Di sudut kota yang tidak terlalu ramai—

sebuah bengkel berdiri.

Tidak besar.

Namun tidak lagi bisa disebut kecil.

Plang sederhana bertuliskan:

“Bengkel Ryan Motor”

terpasang di depan.

Cat temboknya sudah diperbarui.

Peralatannya lebih lengkap.

Dan yang paling terasa—

ramainya aktivitas di dalam.

Beberapa motor berjajar menunggu giliran.

Suara mesin terdengar bersahut-sahutan.

Beberapa mekanik bekerja dengan serius.

Tempat itu hidup.

Berbeda jauh dari tiga tahun lalu yang sepi.

Di tengah semua itu—

Ryan berdiri.

Tangannya penuh oli.

Bajunya sederhana.

Namun gerakannya… penuh ketenangan.

Ia membongkar mesin dengan cepat.

Teliti.

Tanpa ragu.

“Bang Ryan, ini sudah saya pasang tapi masih bunyi,” kata salah satu anak buahnya.

Ryan mendekat.

Melihat sekilas.

Lalu berkata,

“Bongkar lagi. Kamu salah di bagian ini.”

Ia menunjuk bagian kecil pada mesin.

Mekanik itu terdiam.

“Wah… iya, Bang.”

Ryan tidak memarahi.

Namun jelas—

standarnya tinggi.

“Jangan asal selesai. Pastikan benar,” katanya.

“Iya, Bang.”

Semua orang di sana menghormatinya.

Bukan karena takut.

Tapi karena tahu—

Ryan benar-benar mengerti apa yang ia lakukan.

Sore hari—

matahari mulai turun.

Ryan duduk di kursi kayu di depan bengkel.

Tempat yang sama seperti dulu.

Namun dengan perasaan yang berbeda.

Di tangannya, secangkir kopi hitam.

Ia menatap jalan.

Kendaraan berlalu-lalang.

Orang-orang sibuk.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

Ryan tidak lagi menunggu siapa pun.

Tidak ada bayangan masa lalu.

Tidak ada harapan yang menggantung.

Semua sudah… selesai.

Ia menyesap kopinya pelan.

Pahit.

Namun tidak lagi mengganggu.

Karena hidup telah mengajarinya—

bahwa tidak semua hal harus manis.

“Bang Ryan!”

Suara itu membuyarkan lamunannya.

Ia menoleh.

Salah satu karyawannya berlari mendekat.

“Ada pelanggan, Bang. Katanya urgent.”

Ryan berdiri.

“Masalah apa?”

“Motor sih, tapi katanya mogok total. Orangnya kayak orang penting.”

Ryan menghela napas pelan.

“Ya sudah, bawa ke dalam.”

“Iya, Bang.”

Beberapa menit kemudian—

seorang pria datang.

Penampilannya rapi.

Berbeda dari pelanggan biasa.

Ia terlihat sedikit terburu-buru.

“Siapa yang bisa bantu saya?” tanyanya.

Ryan maju.

“Saya.”

Pria itu menatap Ryan dari atas ke bawah.

Seolah menilai.

“Kamu yang punya bengkel ini?”

Ryan mengangguk.

“Iya.”

Pria itu tampak ragu sejenak.

Namun akhirnya berkata,

“Motor saya tiba-tiba mati. Besok saya harus pakai. Penting.”

Ryan langsung menjawab,

“Saya cek dulu.”

Tanpa banyak bicara—

ia mulai memeriksa.

Mesin dibuka.

Beberapa bagian dicek.

Hening.

Semua orang memperhatikan.

Beberapa menit berlalu—

Ryan berdiri.

“Karburator rusak. Harus diganti.”

Pria itu terlihat kaget.

“Secepat itu kamu tahu?”

Ryan tidak menjawab.

Ia langsung mengambil alat.

Mulai bekerja.

Tangannya bergerak cepat.

Tanpa ragu.

Tanpa banyak bicara.

Dan dalam waktu yang tidak lama—

mesin kembali terpasang.

Ryan menyalakan motor itu.

“Coba.”

Pria itu mencoba.

Mesin menyala dengan halus.

Normal.

Ia terlihat terkejut.

“Cepat sekali…”

Ryan hanya berkata,

“Sudah biasa.”

Pria itu terdiam.

Menatap Ryan lebih serius sekarang.

Bukan lagi meremehkan.

“Namamu siapa?” tanyanya.

“Ryan.”

Pria itu mengangguk pelan.

Seolah mengingat nama itu.

“Kerjamu bagus.”

Ryan tidak menjawab.

Namun itu bukan hal baru baginya.

Pria itu melanjutkan,

“Saya mungkin akan kembali lagi. Atau… mungkin membawa sesuatu yang lebih besar.”

Ryan menatapnya sekilas.

Namun tidak terlalu menanggapi.

“Saya kerja saja, Pak.”

Jawaban sederhana.

Namun tegas.

Pria itu tersenyum tipis.

“Menarik.”

Ia membayar.

Lalu pergi.

Namun sebelum masuk mobil—

ia menoleh sekali lagi ke arah bengkel itu.

Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Sore berubah menjadi malam.

Bengkel mulai sepi.

Satu per satu karyawan pulang.

Ryan tetap tinggal.

Seperti biasa.

Ia duduk sendiri.

Di tempat yang sama.

Angin malam berhembus pelan.

Ia menatap langit.

Gelap.

Namun tenang.

Perlahan—

ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Selembar kertas.

Surat lama.

Ia membukanya.

Membaca sebentar.

Lalu tersenyum tipis.

Bukan karena bahagia.

Tapi karena… sudah menerima.

Beberapa detik kemudian—

ia melipat kembali surat itu.

Menyimpannya lagi.

Dan kali ini—

tanpa ragu.

Tanpa beban.

Ryan berdiri.

Menatap bengkel kecilnya.

Tempat di mana semuanya dimulai kembali.

“Ini baru awal,” gumamnya pelan.

Dan untuk pertama kalinya—

masa depan terasa lebih jelas

daripada masa lalu.

1
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
baru juga mau mulai belum apa² udah ada yang gak suka 🤦
Nur Wahyuni
seru
Nur Wahyuni
lanjut
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
O,oh .., tidak!!! jangan bikin aku nangis bawang kak .
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
ih ko sedih ya bayangin nya, jangan terlalu rumit lah kasian yang baca, next lanjut... semoga bagus ceritanya
Anto Sabar: insyaallah,makasih bnyk atas dukungannya senior.
total 1 replies
Nur Wahyuni
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!