Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Bersama
...୨ৎ──── C H E R R Y ────જ⁀➴...
Butuh waktu seharian penuh buat aku membereskan semua barang di suite. Saat aku masuk ke ruang makan untuk makan malam, Nyonya Rose dan Nyonya Persie sudah duduk di meja.
"Kamu sembunyi di mana aja hari ini?" tanya Nyonya Persie.
"Aku lagi bongkar barang," jawabku sambil duduk. aku memberi senyum canggung pada Riffe saat dia ikut duduk bersama kami.
Livinia datang membawa makanan. Saat dia meletakkan sepiring spaghetti dan bakso di depanku, aku berbisik, "Terima kasih."
"Tadi aku cari kamu di kamar dan aku sudah meninggalkan kata sandi WiFi di meja samping tempat tidur kamu," kata Riffe.
"Terima kasih."
Bagus. Sekarang aku bisa mengecek halaman media sosialku.
Sial, aku juga bakal butuh alamat untuk kiriman produk promosi.
Aku menoleh ke Riffe lalu bertanya, "Alamat apa yang bisa aku pakai untuk menerima paket?"
Kerutan muncul di dahinya saat dia menusuk bakso dengan garpu. "Paket seperti apa?"
"Kadang aku nerima produk makeup dan skincare untuk dipromosikan di media sosial."
Dia berpikir sejenak lalu berkata, "Aku akan atur kotak pos supaya barang bisa dikirim ke sana. Jangan pernah memberikan alamat mansion."
Itu gak akan terjadi karena aku bahkan gak tahu alamat mansion ini.
"Oke." Aku mengangguk cepat. "Terima kasih."
Nyonya Persie memotong bakso Nyonya Rose menjadi potongan kecil sebelum kembali fokus pada makanannya sendiri.
Aku menggulung spaghetti di garpu lalu menggigitnya. Sambil mengunyah, aku melihat orang-orang di meja dan menyadari suasana di sini terasa jauh lebih tenang dibanding rumah orang tuaku.
Kami gak pernah makan bersama sebagai keluarga. Ada hari-hari ketika aku gak makan sama sekali.
Tanganku tiba-tiba berhenti saat ingatan tentang masa lalu muncul. Tentang saat Mama mengunciku di kamar karena aku gak patuh.
Suatu kali dia bahkan lupa sama aku selama empat hari. Untungnya aku masih bisa minum air dari kamar mandi.
"Ada yang salah dengan makanannya?" tanya Nyonya Persie, menarikku kembali ke kenyataan.
Aku cepat menggeleng dan memaksa tersenyum. "Gak sama sekali. Enak sekali."
Aku kembali makan sambil menyingkirkan pikiran gelap dari kepalaku.
"Kamu bisa masak, Cherry?" tanya Nyonya Rose.
"Bisa. Aku diajari semua keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi istri yang baik," jawabku.
Dia menatap ke arahku. "Keterampilan seperti apa?"
"Memasak. Menjahit. Membersihkan rumah. Cara bersikap di acara sosial." Aku ragu sebentar sebelum melanjutkan dengan kata-kata yang aku benci. "Dan bagaimana menjadi istri yang patuh."
Kerutan muncul di antara alis Nyonya Rose. Dia menggeleng sedikit sebelum mengambil makanan.
Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?
"Apa yang biasa kamu masak?" tanya Nyonya Persie.
"Kebanyakan masakan Langkawi."
"Ada makanan favorit?"
"Char Kway Teow ," jawabku pelan. "Aku juga suka sup buntut."
Terakhir kali aku menambahkan terlalu banyak sayuran dan Mama memukul jariku dengan sendok kayu sampai kulitku memar.
Aku menggelengkan kepala untuk mengusir ingatan itu. Aku mengangkat dagu lalu minum air.
"Kamu harus masak itu untuk kami suatu hari nanti," kata Nyonya Rose. "Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku makan Kway Teow."
Dengan senyum sopan aku menjawab, "Dengan senang hati."
Setelah kami selesai makan dan Riffe pergi bersama Nyonya Persie dan Nyonya Rose, aku tetap tinggal untuk mengumpulkan piring dan peralatan makan.
"Oh, kamu gak perlu melakukan itu," kata Livinia sambil cepat mendekat.
"Aku sudah merepotkan kamu seharian. Ini hal kecil."
Dia mengambil piring dari tanganku dan menggeleng. "Kamu tamu di sini, Nona. Tuan Rose akan marah kalau tahu."
Gak ingin membuatnya kesulitan, aku mengangguk lalu keluar dari ruang makan.