Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Awal Badai yang Mendekat
Malam turun perlahan di pegunungan yang sunyi. Cahaya bulan menggantung tinggi di langit, menerangi hutan dengan sinar pucat yang lembut. Angin malam berhembus pelan, membawa suara dedaunan yang bergesekan satu sama lain.
Di depan gua latihan, Goo Yoon masih berdiri dengan pedangnya di tangan.
Kata-kata para utusan dunia persilatan tadi sore terus terngiang di kepalanya.
Bayangan Hitam.
Kelompok misterius yang sedang mencari teknik Pedang Langit.
Ia tidak tahu siapa mereka sebenarnya, namun dari sikap gurunya, Goo Yoon bisa merasakan bahwa mereka bukan musuh biasa.
Han Seol keluar dari dalam gua dengan langkah perlahan.
Tatapannya terlihat lebih serius dari biasanya.
“Goo Yoon.”
“Ya, Guru.”
Han Seol berdiri di depannya.
“Mulai malam ini, latihanmu akan memasuki tahap baru.”
Goo Yoon langsung berdiri lebih tegap.
“Aku siap.”
Han Seol menunjuk ke arah hutan gelap di depan mereka.
“Dunia persilatan tidak seperti tempat ini.”
“Di luar sana, pendekar tidak selalu bertarung secara jujur.”
Goo Yoon mengangguk pelan.
Han Seol melanjutkan,
“Musuh bisa menyerang kapan saja… bahkan saat kau tidak siap.”
Tiba-tiba Han Seol menghilang dari tempatnya berdiri.
WHOOSH!
Goo Yoon terkejut.
Ia langsung merasakan aura kuat bergerak dari sampingnya.
Namun sebelum ia sempat bereaksi—
BAM!
Sebuah dorongan kuat mengenai bahunya dan membuatnya mundur beberapa langkah.
Goo Yoon hampir jatuh, namun ia segera menahan tubuhnya.
Han Seol sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Reaksimu terlalu lambat,” kata Han Seol.
Goo Yoon menggenggam pedangnya lebih erat.
“Maaf, Guru.”
Han Seol berkata dengan tenang,
“Sekarang serang aku.”
Goo Yoon tidak ragu lagi.
Ia segera melangkah maju dan mengayunkan pedangnya.
SWOOSH!
Ayunan pedang itu cepat dan kuat.
Namun Han Seol dengan mudah menghindarinya hanya dengan sedikit memiringkan tubuh.
Goo Yoon menyerang lagi.
WHOOSH!
Pedangnya bergerak dari arah bawah.
Namun lagi-lagi Han Seol menghindar dengan mudah.
“Seranganmu masih terlalu mudah dibaca,” kata Han Seol.
Goo Yoon menarik napas panjang.
Ia mengingat latihan membaca aura yang ia pelajari sebelumnya.
Perlahan ia menutup matanya.
Ia mencoba merasakan aura gurunya.
Energi Han Seol terasa sangat kuat.
Namun juga sangat tenang.
Seperti lautan yang dalam.
Goo Yoon membuka matanya kembali.
Kali ini gerakannya berubah.
Ia melangkah maju dengan lebih hati-hati.
Pedangnya bergerak perlahan… namun penuh kendali.
WHOOSH!
Serangannya kali ini lebih sulit diprediksi.
Han Seol sedikit tersenyum.
CLANG!
Pedang mereka akhirnya bertabrakan untuk pertama kalinya malam itu.
Percikan kecil muncul di udara.
Goo Yoon segera memutar tubuhnya dan menyerang lagi.
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Suara benturan pedang bergema di antara pepohonan.
Setiap serangan Goo Yoon menjadi semakin cepat.
Energi dalam yang ia latih mulai mengalir melalui pedangnya.
Han Seol masih bertahan dengan tenang.
Namun kali ini ia tidak hanya menghindar.
Ia mulai menangkis beberapa serangan Goo Yoon.
“Lebih baik,” katanya.
Pertarungan latihan itu berlangsung semakin intens.
Goo Yoon mulai berkeringat.
Tubuhnya terasa berat.
Namun tekadnya tidak goyah.
Ia terus menyerang.
WHOOSH!
Satu ayunan pedang datang dengan kekuatan penuh.
Han Seol menangkisnya.
CLANG!
Benturan itu membuat Goo Yoon terdorong mundur.
Ia terengah-engah.
Han Seol menurunkan pedangnya.
“Cukup.”
Goo Yoon menundukkan kepala.
“Maaf… aku masih terlalu lemah.”
Namun Han Seol menggeleng.
“Kau sudah berkembang jauh lebih cepat dari yang kuperkirakan.”
Goo Yoon sedikit terkejut.
Han Seol melanjutkan,
“Dalam waktu singkat kau sudah menguasai dasar pengendalian energi dan membaca aura.”
Ia menatap Goo Yoon dengan serius.
“Namun perjalananmu baru saja dimulai.”
Angin malam berhembus lebih kencang.
Pepohonan bergoyang pelan.
Han Seol menatap ke arah hutan gelap di kejauhan.
“Segera… kau tidak hanya akan berlatih melawanku.”
Goo Yoon mengikuti arah pandangan gurunya.
“Hah?”
Han Seol berkata pelan,
“Kau akan menghadapi musuh yang sebenarnya.”
Goo Yoon menggenggam pedangnya lebih erat.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Bukan karena takut.
Melainkan karena tekad.
Han Seol kembali menatap muridnya.
“Besok kita akan turun gunung.”
Goo Yoon terkejut.
“Turun gunung?”
Han Seol mengangguk.
“Sudah waktunya kau melihat dunia persilatan yang sebenarnya.”
Goo Yoon menatap langit malam.
Bintang-bintang bersinar terang.
Selama ini ia hanya berlatih di pegunungan yang sunyi.
Namun mulai besok…
Perjalanannya yang sesungguhnya akan dimulai.
Han Seol berkata dengan suara dalam,
“Dunia persilatan sedang bergerak.”
“Dan badai besar sedang mendekat.”
Angin malam berhembus semakin kuat.
Di kejauhan, suara burung malam terdengar samar.
Sementara itu, jauh dari pegunungan tempat mereka berlatih—
Sekelompok orang berpakaian hitam berdiri di atas tebing tinggi.
Pemimpin mereka menatap peta tua di tangannya.
“Jadi… pewaris Pedang Langit berada di pegunungan ini.”
Ia tersenyum dingin.
“Persiapkan diri kalian.”
“Perburuan akan segera dimulai.”
Langit malam tetap tenang.
Namun tanpa disadari oleh Goo Yoon—
Badai besar benar-benar sedang menuju ke arahnya.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/