NovelToon NovelToon
YOU (Obsessive Love Disorder)

YOU (Obsessive Love Disorder)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.

Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Menit yang Menyesatkan

Sore itu, hujan rintik-rintik mulai membasahi London, menciptakan suasana yang hangat di dalam perpustakaan pribadi Edward. Eleanor sedang duduk membaca beberapa dokumen kantornya saat Edward masuk dengan langkah yang sedikit diseret, wajahnya tampak kembali "meringis".

"Eleanor..." panggil Edward dengan suara rendah yang terdengar agak lelah.

Eleanor menghela napas, meletakkan dokumennya. "Ada apa lagi, Edward? Bahumu lagi?"

"Sepertinya udara dingin ini membuat bekas seranganmu semalam jadi makin nyeri," dusta Edward sambil duduk di sofa samping Eleanor. "Aku butuh imbalan karena sudah membuat bahuku jadi tambah sakit?"

Eleanor memutar bola matanya. "Lalu Anda mau apa? Uang? Saham?"

"Bukan hal yang merepotkan. Hanya pelukan. Lima menit saja. Dokter bilang sentuhan manusia bisa melepaskan hormon yang mengurangi rasa sakit," ucap Edward dengan wajah serius, seolah-olah dia sedang membacakan jurnal medis.

Eleanor terdiam. Rasa bersalahnya kembali muncul melihat wajah Edward yang tampak kuyu. "Hanya lima menit? Tidak lebih?"

"Hanya lima menit."

Dengan ragu-ragu dan wajah yang sudah memerah, Eleanor mendekat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Edward dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Edward segera melingkarkan tangannya di bahu Eleanor, menariknya lebih rapat hingga tidak ada jarak di antara mereka.

Awalnya, Edward ingin tertawa dalam hati karena berhasil membohongi Eleanor lagi. Namun, begitu aroma rambut Eleanor yang harum menyentuh indra penciumannya, dan ia merasakan detak jantung Eleanor yang berdegup kencang namun seirama dengan detaknya, sesuatu yang aneh terjadi.

Edward tertegun.

Tubuhnya yang biasanya selalu tegang dan waspada, tiba-tiba merasa sangat relaks. Rasa hangat menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh. Ini bukan sekadar nafsu atau obsesi untuk menang; ini adalah rasa nyaman yang belum pernah ia rasakan, bahkan saat bersama Lyodra dulu.

'Perasaan apa ini?' Batin Edward. Jantungnya yang biasanya dingin seperti mesin bisnis, mendadak bergetar hebat. Ia merasa seolah-olah ingin waktu berhenti di detik itu juga. Pelukan yang awalnya hanya taktik licik, kini berubah menjadi kebutuhan yang tulus.

Eleanor sendiri merasa aneh. Dada Edward terasa begitu kokoh namun sangat nyaman untuk dijadikan sandaran. Ia bisa mendengar detak jantung Edward yang tenang.

"Edward... sudah lima menit," bisik Eleanor pelan, suaranya teredam di dada Edward.

Edward tidak menjawab. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di puncak kepala Eleanor, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam. "Satu menit lagi... bahuku benar-benar merasa lebih baik sekarang."

Eleanor tidak protes. Ia membiarkan Edward memeluknya sedikit lebih lama. Di dalam perpustakaan yang sunyi itu, dua orang yang awalnya saling membenci dan menjebak, kini mulai tersesat dalam rasa nyaman yang tidak seharusnya ada.

Edward tersadar, ia sudah terjebak dalam permainannya sendiri. Ia ingin menaklukkan Eleanor, namun sepertinya, justru dialah yang mulai bertekuk lutut pada perasaan yang ia sebut "nyaman" itu.

Pelukan itu seharusnya menjadi kemenangan bagi Edward, sebuah pembuktian bahwa ia berhasil memanipulasi rasa bersalah Eleanor. Namun, saat detik demi detik berlalu, Edward justru merasa dialah yang sedang kalah.

Keheningan di perpustakaan itu terasa begitu intens. Eleanor bisa merasakan napas Edward yang berhembus pelan di rambutnya, sementara Edward seolah tersihir oleh kehangatan tubuh Eleanor yang mungil di dalam dekapannya.

"Edward... ini sudah lebih dari lima menit," bisik Eleanor lagi, kali ini dengan sedikit dorongan lembut di dada Edward.

Edward perlahan melonggarkan pelukannya, namun tangannya tetap berada di pinggang Eleanor, seolah enggan melepaskan sumber kenyamanan yang baru saja ia temukan. Ia menatap mata Eleanor dengan pandangan yang sulit diartikan—bukan lagi tatapan predator yang ingin menerkam, melainkan tatapan pria yang sedang bingung dengan isi hatinya sendiri.

"Maaf," ucap Edward singkat, suaranya sedikit serak. "Sepertinya obatnya... bekerja terlalu baik."

Eleanor segera menjauh, merapikan blazernya dengan gugup. "Kalau begitu, saya harus kembali ke kamar. Masih banyak laporan perusahaan yang harus saya periksa."

"Eleanor," panggil Edward saat Eleanor sudah sampai di ambang pintu.

Eleanor berbalik. "Ya?"

"Besok... kita akan pergi ke tempat yang berbeda. Bukan butik, bukan kantor. Hanya kita berdua. Anggap saja itu bagian dari proses pertanggungjawabanmu padaku," ucap Edward, kembali mencoba memasang topeng datarnya meskipun hatinya masih bergemuruh.

Eleanor terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan sebelum menghilang di balik pintu.

Malam Harinya – Kamar Edward. Edward berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Pintu penghubung ke kamar Eleanor tertutup rapat, namun ia tahu wanita itu ada di sana. Biasanya, Edward akan langsung tertidur setelah memikirkan strategi bisnis, namun malam ini otaknya terus memutar ulang kejadian di perpustakaan tadi.

Ia menyentuh dadanya sendiri. "Kenapa rasanya masih tertinggal?" Gumamnya. Edward Zollern, pria yang menganggap wanita adalah investasi atau gangguan, kini merasa takut. Takut karena ia menyadari bahwa Eleanor bukan lagi sekadar misi.

Jika Lyodra adalah luka yang membuatnya berhenti percaya, maka Eleanor adalah badai yang meruntuhkan rumah yang ia bangun untuk bersembunyi. Ia tidak suka perasaan ini—perasaan di mana ia tidak memegang kendali penuh.

Sedangkan di kamar sebelah. Eleanor sedang meringkuk di balik selimutnya, menatap pintu penghubung yang "rusak" itu. Pikirannya tidak kalah kacau. Ia menyentuh pinggangnya yang tadi didekap erat oleh Edward.

"Kenapa dia tidak menyebalkan saat memelukku?" Batin Eleanor kesal pada dirinya sendiri. "Dia itu licik, dia menyebalkan, dan dia mempermainkanmu, Eleanor! Ingat itu!"

Namun, setiap kali ia mencoba menanamkan rasa benci, bayangan wajah Edward yang tampak "rapuh" saat meminta pelukan tadi membuatnya luluh lagi. Eleanor merasa seperti seekor domba yang dengan sukarela masuk ke dalam pelukan serigala, hanya karena serigala itu pura-pura terluka.

Ia tidak tahu bahwa besok, Edward berencana membawanya ke sebuah tempat rahasia yang tidak pernah dikunjungi pria itu bersama wanita mana pun, bahkan Lyodra sekalipun. Sebuah tempat yang akan menunjukkan sisi lain dari kaisar Zollern yang angkuh itu.

1
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🙈🙈🙈🙈
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
nahhh
Hana Nisa Nisa
suka tata bahasanya bagus
Hana Nisa Nisa
😄😄😄😄
Hana Nisa Nisa
baper euyy
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🥰🥰🥰🥰🥰
Xiao Bae•: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Hana Nisa Nisa
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!