Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 [Singgasana Tanpa Cahaya]
Tidak ada cahaya.
Tidak ada suara.
Tidak ada kehidupan.
Di tempat itu…
Bahkan konsep “arah” terasa samar.
Sebuah ruang luas terbentang tanpa batas, namun terasa sempit. Dindingnya tidak terlihat jelas seolah terbentuk dari sesuatu yang bukan materi.
Di sana…
Sesuatu ada.
Dan sesuatu itu… sedang menunggu.
Di tengah kegelapan itu, berdiri sebuah singgasana.
Bukan emas.
Bukan batu.
Namun sesuatu yang tidak memiliki bentuk pasti.
Seperti bayangan yang dipaksa menjadi nyata.
Di atasnya
Duduk sebuah sosok.
Tenang.
Diam.
Tidak bergerak.
Namun kehadirannya…
Menekan seluruh ruang.
Dia adalah
Argiel Lucifer.
Raja Iblis yang dianggap legenda.
Namun di sini…
Ia bukan sekadar legenda.
Ia adalah pusat dari sesuatu yang lebih besar.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
Langkah pelan terdengar.
Namun anehnya…
Suara itu tidak bergema.
Seolah ruang itu menolak suara.
Dari kegelapan, muncul seorang wanita.
Anggun.
Tenang.
Namun matanya…
Tidak memantulkan cahaya apa pun.
Dia adalah
Railer Zernaldha.
Ia berjalan mendekat.
Berhenti beberapa langkah dari singgasana.
Menunduk sedikit.
Bukan karena takut.
Namun karena… memahami.
“Pergerakan sudah dimulai.”
Suaranya lembut.
Namun jelas.
Argiel tidak langsung menjawab.
Namun
Udara di sekitarnya berubah.
Seolah merespon keberadaannya.
“…aku tahu.”
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun setiap kata terasa berat.
Bukan karena volume.
Namun karena maknanya.
Railer mengangkat pandangannya.
“Makhluk-makhluk itu… sudah bergerak sesuai arah.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Seperti yang kau inginkan.”
Hening.
Beberapa detik.
Argiel tetap tidak bergerak.
Namun jari-jarinya sedikit bergeser di sandaran singgasana.
Gerakan kecil.
Namun cukup untuk membuat ruang di sekitarnya bergetar halus.
“…timur.”
Satu kata.
Namun cukup.
Railer tersenyum tipis.
“Ya.”
Ia menoleh ke arah kegelapan.
Seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat.
“Di sana… ia berada.”
Argiel akhirnya sedikit mengangkat kepalanya.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk memperlihatkan
Sepasang mata.
Gelap.
Dalam.
Tanpa emosi.
“…menarik.”
Railer melanjutkan.
“Dan… ada manusia yang menjaganya.”
Kalimat itu membuat keheningan berubah.
Bukan menjadi tegang.
Namun…
Lebih dalam.
Argiel tidak menunjukkan reaksi.
Namun
Tekanan di ruangan meningkat.
Perlahan.
Seperti sesuatu yang mulai bangun.
“Manusia…”
Ia mengulang pelan.
Seolah kata itu memiliki makna khusus.
“…yang sama seperti dulu?”
Railer terdiam sesaat.
Lalu mengangguk.
“Mungkin.”
Ia tersenyum kecil.
“Namun kali ini… berbeda.”
Argiel tidak bertanya.
Namun ia mengerti.
Dan itu cukup.
Railer mengangkat tangannya perlahan.
Kegelapan di sekitar mereka mulai bergerak.
Berputar.
Mengumpul.
Seperti kabut hitam yang memiliki kehendak.
“Sudah waktunya.”
Suaranya berubah sedikit.
Lebih dingin.
Lebih serius.
“Untuk membangunkan mereka.”
Argiel tidak menjawab.
Namun
Itu berarti izin.
Kegelapan di lantai retak.
Tujuh retakan muncul.
Membentuk lingkaran.
Dari setiap retakan…
Muncul sesuatu.
Bayangan.
Namun berbeda.
Lebih padat.
Lebih nyata.
Dan
Lebih berbahaya.
Tujuh sosok.
Tidak sepenuhnya terlihat.
Namun cukup untuk memberikan tekanan luar biasa.
Salah satunya tertawa pelan.
Suara yang tidak stabil.
Seperti retakan pada logam.
“Heh… akhirnya…”
Yang lain diam.
Namun matanya menyala.
Merah.
Kuning.
Hitam.
Beragam.
Namun semuanya sama.
Kosong.
Tanpa mana.
Tanpa jiwa.
Namun…
Penuh kehendak.
Railer memandang mereka satu per satu.
“Sudah lama kalian tertidur.”
Tidak ada jawaban.
Namun aura mereka berubah.
Seperti makhluk yang baru bangun dari mimpi panjang.
Argiel akhirnya berbicara.
“…bangkitlah.”
Satu perintah.
Namun
Cukup untuk membuat ruang bergetar.
Salah satu dari mereka melangkah maju.
“…tujuan?”
Suaranya berat.
Seperti ditarik dari dalam jurang.
Argiel tidak langsung menjawab.
Namun
Ia berdiri.
Perlahan.
Gerakan itu sederhana.
Namun efeknya…
Menghancurkan keheningan.
Kegelapan di sekitar bergetar.
Seolah dunia itu sendiri menolak gerakan itu.
Ia menatap ke depan.
Melewati mereka semua.
Menuju sesuatu yang jauh.
Sangat jauh.
“…timur.”
Satu kata.
Namun semua mengerti.
Railer melanjutkan.
“Hancurkan desa itu.”
Nada suaranya datar.
Namun tidak bisa ditolak.
“…dan ambil kembali apa yang menjadi milik kita.”
Hening.
Namun bukan hening kosong.
Hening yang penuh arti.
Salah satu bayangan tersenyum.
Lebar.
Menyeramkan.
“Heh… menarik.”
Yang lain
Langsung menghilang.
Tanpa suara.
Tanpa jejak.
Seolah tidak pernah ada.
Kembali ke Hinomura.
Malam masih menyelimuti desa kecil itu.
Tenang.
Sunyi.
Namun
Tidak lagi damai.
Di dalam rumah kecil…
Shiranui Akihara berdiri diam.
Matanya terbuka.
Tidak tidur.
Di sampingnya,
Liora Raizen juga terjaga.
Tidak ada yang berbicara.
Namun keduanya merasakan hal yang sama.
Sesuatu…
Telah berubah.
Angin malam masuk melalui jendela.
Lebih dingin dari biasanya.
Lampu minyak bergetar.
Api kecilnya hampir padam.
Akihara mengangkat tangannya.
Api kecil muncul di telapak tangannya.
Namun
Tidak stabil.
Ia mengerutkan kening.
“…ini…”
Liora menoleh.
“Aku juga merasakannya.”
Suaranya pelan.
Namun tegang.
“…ini bukan sekadar energi.”
Akihara menatap ke arah luar.
Gelap.
Namun terasa… penuh.
“…ini niat.”
Kalimat itu membuat suasana semakin berat.
Di sudut ruangan
Noa tertidur.
Tenang.
Tidak bergerak.
Seolah semua itu tidak ada hubungannya dengannya.
Namun
Untuk sesaat…
Matanya terbuka.
Merah.
Dalam.
Dan kali ini
Lebih lama.
Ia tidak menangis.
Tidak bersuara.
Hanya… melihat.
Ke arah jendela.
Ke arah kegelapan.
Seolah mengenali sesuatu.
Liora melihat itu.
Tubuhnya membeku.
Namun ia tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Hanya… mengamati.
Beberapa detik.
Lalu
Mata itu tertutup kembali.
Noa kembali menjadi bayi biasa.
Liora menarik napas pelan.
Namun tidak berkata apa-apa.
Akihara masih menatap ke luar.
Ia tidak melihat Noa.
Namun
Instingnya berteriak.
Ia menggenggam tangannya.
Api muncul lagi.
Kali ini lebih besar.
Lebih stabil.
Matanya berubah.
Lebih tajam.
Lebih dingin.
“…mereka sudah datang.”
Jauh di tempat yang tidak terlihat.
Di antara kegelapan.
Sosok itu berdiri.
Argiel Lucifer.
Menatap ke arah yang sama.
Seolah melihat sesuatu yang jauh.
Namun jelas.
Di sampingnya,
Railer Zernaldha tersenyum tipis.
“…ini baru permulaan.”
Argiel tidak menjawab.
Namun
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Gerakan kecil.
Namun cukup untuk mengubah segalanya.
“…ya.”
Satu kata.
Dingin.
Tenang.
Namun pasti.
“Permainan ini… akhirnya dimulai.”
Di langit malam.
Awan bergerak lebih cepat.
Angin berubah arah.
Dan di bawahnya
Dunia tidak menyadari…
Bahwa sesuatu yang lebih besar dari perang…
Telah dimulai.