NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Pulang Yang Terlalu Ramai

Udara malam terasa lebih dingin setelah kejadian kecil di depan air mancur mall. Lampu-lampu kota memantul di genangan air yang masih tersisa di lantai marmer, sementara beberapa orang yang tadi sempat memperhatikan Alya mulai kembali pada urusan mereka masing-masing.

Alya berdiri di sana dengan jas Adrian yang kini menutupi bahunya, kain hangat itu jatuh cukup panjang hingga hampir menutup bagian depan dress Hijau Neon yang basah. Ia menunduk sebentar melihat pakaiannya sendiri, lalu melirik ke arah Adrian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Ini salah air mancurnya,” gumamnya pelan seolah sedang menyalahkan benda mati.

Adrian hanya menatapnya singkat sebelum berkata, “Kamu terpeleset.”

Alya langsung mengangkat satu jari seperti seorang pengacara yang baru saja menemukan celah penting dalam argumen lawan. “Iya, tapi kalau airnya tidak ada di situ, Alya juga tidak akan terpeleset. Jadi tetap saja salah airnya.”

Beberapa detik hening menggantung di antara mereka. Adrian tidak berdebat. Ia hanya menghela napas pelan, lalu memberi isyarat agar Alya mengikutinya berjalan menuju pintu keluar mall. Alya menuruti langkah itu sambil memegang jas yang melilit bahunya, sesekali melirik pria di sampingnya dengan ekspresi penasaran yang semakin sulit ia sembunyikan.

Di dalam mall yang masih cukup ramai, mereka berjalan melewati deretan toko pakaian. Lampu-lampu etalase memantulkan warna hangat ke lantai, sementara musik pop lembut terdengar dari beberapa toko yang masih buka. Alya sebenarnya mengira mereka akan langsung keluar menuju parkiran, tetapi Adrian tiba-tiba berhenti di depan sebuah butik pakaian wanita.

Alya mengerjap.

“Kita… mau belanja?”

Adrian membuka pintu toko itu dengan tenang.

“Masuk.”

Alya menatapnya curiga. “Kenapa?”

“Kamu basah.”

“Alya masih hidup kok,” balasnya santai.

Namun Adrian tetap masuk ke dalam toko. Alya berdiri beberapa detik di depan pintu sebelum akhirnya mengikutinya dengan langkah ragu. Di dalam toko, seorang pegawai wanita langsung menyambut mereka dengan senyum profesional. Alya hampir tertawa melihat ekspresi pegawai itu yang jelas-jelas sedikit bingung melihat seorang pria dingin datang bersama perempuan dengan rambut setengah dicatok dan mata panda dramatis.

Adrian menunjuk beberapa pakaian di rak dengan gerakan singkat. “Yang itu.”

Pegawai toko dengan cepat mengambil sebuah dress sederhana berwarna krem yang terlihat nyaman dan tidak terlalu mencolok. Adrian kemudian meletakkannya di tangan Alya seolah itu hal paling biasa di dunia.

“Ganti,” katanya.

Alya menatap dress itu lalu menatap Adrian. “Kamu serius?”

“Iya.”

“Alya cuma sedikit basah.”

“Kamu bisa kedinginan.”

Alya membuka mulut hendak protes, namun kata-katanya berhenti di tenggorokan. Ia menatap Adrian lagi, kali ini sedikit lebih lama. Ekspresi pria itu tetap sama ..., tenang, datar, dan tidak terlihat berusaha bersikap romantis sama sekali. Justru itulah yang membuat tindakan kecil itu terasa aneh bagi Alya.

Ia akhirnya mendengus kecil. “Ya sudah.”

Beberapa menit kemudian Alya keluar dari ruang ganti dengan dress baru yang lebih sederhana. Rambutnya masih setengah lurus setengah bergelombang, sementara makeup panda-nya tetap setia menghiasi wajah. Ia berdiri di depan Adrian sambil memutar badan satu kali.

“Gimana? Alya masih kelihatan menyedihkan?”

Adrian menatapnya sebentar sebelum berkata, “Lebih baik.”

Itu saja.

Tidak ada komentar tambahan.

Alya memutar mata.

Mereka kemudian keluar dari mall menuju parkiran. Mobil Adrian menunggu di tempat yang sama seperti tadi, hitam, bersih, dan terlalu rapi untuk seseorang yang harus berurusan dengan Alya setiap hari nanti. Begitu mereka duduk di dalam mobil, Alya langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang dengan ekspresi santai.

Perjalanan pulang dimulai dengan cukup tenang selama beberapa menit pertama. Lampu-lampu jalan melintas di kaca mobil seperti garis cahaya yang bergerak perlahan. Alya menatap keluar jendela sambil menggoyangkan kakinya pelan, lalu tiba-tiba menoleh ke arah Adrian.

“Boleh tanya sesuatu?”

Adrian masih fokus pada jalan. “Tanya saja.”

“Kamu kalau tidur… ngorok gak?”

Adrian mengerjap sebentar. “Tidak.”

Alya mengangguk serius seolah sedang mencatat informasi penting. “Berarti rumah kita nanti harus punya kamar terpisah.”

“Kamu serius?”

“Tentu saja. Alya kan sudah bilang, Alya ngorok. Keras banget katanya.”

Adrian tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian Alya kembali membuka mulut.

“Kalau misalnya kita nikah nanti, kamu tipe orang yang bangun pagi atau siang?”

“Pagi.”

“Jam berapa?”

“Enam.”

Alya langsung menoleh dengan wajah kaget. “Jam enam itu masih subuh.”

“Itu pagi.”

“Alya biasanya baru tidur jam dua.”

Adrian hanya berkata pendek, “Kebiasaan bisa diubah.”

Alya menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

“Kamu ini direktur atau pelatih militer sih?”

Adrian tidak menjawab.

Mobil terus melaju melewati jalan yang semakin sepi. Alya yang awalnya hanya bersandar santai tiba-tiba duduk tegak seolah mendapat ide baru.

“Kamu suka musik gak?”

“Suka.”

“Genre apa?”

“Biasa saja.”

Alya mengangkat alis. “Biasa itu apa?”

“Semua.”

Alya mengangguk perlahan lalu tiba-tiba menarik napas panjang.

“Kalau begitu Alya nyanyi ya.”

Adrian tidak bereaksi.

Dan itulah yang membuat Alya semakin bersemangat.

Ia memulai dengan suara yang sebenarnya sangat merdu. Nada awalnya stabil dan jernih, cukup mengejutkan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Suara Alya mengisi kabin mobil dengan lembut ketika ia mulai menyanyikan lagu lama yang cukup terkenal.

“Pulangkan saja aku pada ibuku…, atau Ayahku huuuu~”

Beberapa detik pertama, suaranya terdengar benar-benar bagus. Bahkan Adrian sempat meliriknya sebentar karena tidak menyangka gadis yang sepanjang hari bertingkah aneh itu memiliki suara yang cukup indah.

Namun kemudian, Alya tiba-tiba menaikkan nada terlalu tinggi.

“PULANGKAN SAJA AKU PADA IBUKUUUU!”

Nada itu langsung melenceng jauh dari jalurnya.

Ia bahkan menambahkan sedikit vibrato dramatis yang sama sekali tidak perlu.

“Aku tak sanggup hidup bersamamu lagi— lagi— lagiiiiii!”

Suara terakhir hampir berubah menjadi teriakan.

Adrian kembali menatap jalan dengan ekspresi datar.

Alya berhenti bernyanyi beberapa detik lalu menoleh cepat. “Gimana?”

Adrian menjawab tanpa ragu. “Fals.”

Alya terkikik puas.

Ia tidak menyerah. Beberapa detik kemudian ia mulai lagi dengan lagu lain, kali ini dengan gaya lebih dramatis. Ia bahkan mengangkat satu tangan seolah sedang tampil di atas panggung konser besar.

“Karmilaaaaaaa… siapa yang punyaaaaa…”

Nada awalnya masih bisa diterima, tetapi kemudian Alya sengaja membuat suaranya melenceng lagi.

“Karmilaaaaa… kau buat aku jatuh cintaaaaaaa!”

Ia menutup lagu itu dengan nada tinggi yang sangat tidak stabil.

Mobil kembali sunyi.

Alya menoleh dengan mata berbinar. “Kamu suka?”

Adrian menjawab singkat, “Menarik.”

Alya menyipitkan mata curiga. “Itu pujian atau kritik?”

“Observasi.”

Alya tertawa kecil.

Mobil akhirnya masuk ke area perumahan Alya sekitar dua puluh menit kemudian. Lampu-lampu rumah mulai terlihat di kejauhan, dan udara malam terasa semakin sejuk. Alya bersandar lagi ke kursinya sambil menatap langit melalui kaca mobil.

Beberapa detik kemudian ia berkata pelan, “Kamu sabar banget ya.”

Adrian tidak langsung menjawab.

“Kenapa?” lanjut Alya.

“Kamu banyak bicara.”

Alya tertawa kecil. “Itu bukan jawaban.”

Adrian memarkir mobil di depan rumah Alya sebelum akhirnya menoleh ke arahnya. Tatapannya tetap tenang seperti biasa, tetapi kali ini ada sedikit sesuatu yang berbeda di sana ..., sesuatu yang tidak bisa Alya jelaskan dengan mudah.

“Kamu lucu,” kata Adrian akhirnya.

Alya terdiam beberapa detik.

Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Alya tidak langsung membalas dengan candaan.

Ia hanya menatap Adrian dengan ekspresi bingung.

Di dalam kepalanya, sebuah pikiran kecil mulai muncul tanpa diundang.

Kenapa pria ini tidak pernah terlihat terganggu?

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!