NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rania yang berbeda

"Gini nih kalau lo kurang info. Kita jadi bonyok begini. Bukannya dapat duit, malah kita buntung," keluh Azran dengan nada kesal pada Adrian.

Saat ini mereka bertiga berada di rumah sakit. Wajah mereka dipenuhi memar, beberapa bagian tubuh bahkan dibalut perban setelah menjalani pengobatan. Bau obat-obatan memenuhi ruangan kecil tempat mereka duduk menunggu giliran untuk pemeriksaan lanjutan.

"Gue gak tahu Rania jago bela diri," ucap Adrian dengan wajah masam. Selama ini yang ia tahu, Rania adalah gadis yang terlihat lembut dan tenang—seperti yang sering ia lihat selama mereka berpacaran.

Namun kejadian tadi benar-benar di luar bayangannya. Hari ini Rania terlihat berbeda. Tegas, berani, dan sama sekali tidak menunjukkan sisi lemah seperti yang ia kira selama ini.

"Gue gak mau lagi ikut saran lo. Bisa bonyok muka gue," sahut Roni sambil meringis, memegangi pipinya yang masih terasa nyeri.

Adrian tidak menanggapi ucapan Roni. Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, terus memikirkan Rania yang hari ini benar-benar tidak sesuai dengan bayangannya selama ini.

~~

“Dari mana aja lo?” ucap Darren, sahabat Revano, saat melihat Revano baru saja datang.

Revano berjalan santai lalu duduk di salah satu sofa kosong di ruang itu. “Gue dari nyelamatin Rania,” jawabnya singkat.

“Rania? Siapa dia?” tanya Darren dengan wajah bingung.

“Gadis yang bikin Revano tertarik,” sahut Reyhan santai.

“Hah? Lo tertarik sama cewek? Akhirnya sahabat gue ini tertarik sama cewek,” ucap Darren heboh, lalu langsung memeluk Revano dari samping.

“Gak usah peluk segala,” kesal Revano sambil melepaskan pelukan Darren dengan wajah tidak nyaman.

Darren malah tertawa melihat reaksi sahabatnya itu. “Gue pikir lo belok,” ucapnya sambil terus tertawa.

“Kurang ajar lo, Darren,” geram Revano sambil melemparkan bantal sofa ke arah Darren.

“Rania emangnya kenapa?” tanya Reyhan penasaran.

“Gue gak sengaja dengar rencana licik mantannya Rania. Dia mau culik Rania,” jawab Revano dengan nada serius.

“Hah? Culik?” ucap Reyhan terkejut. “Motif apa dia nyulik Rania?”

Revano lalu menjelaskan secara singkat apa yang ia dengar saat berada di toilet sekolah—tentang rencana Adrian dan teman-temannya yang ingin menculik Rania untuk meminta tebusan dari keluarganya.

“Terus lo berhasil nyelamatinnya?” tanya Darren penasaran.

“Iya, tapi sedikit telat,” jawab Revano.

“Terus bagaimana keadaan Rania? Aman kan?” tanya Reyhan lagi.

“Rania aman. Yang gak aman mantannya itu sama temannya,” jawab Revano dengan senyum meremehkan. “Mereka bonyok di tangan Rania.”

“Rania jago bela diri?” tanya Reyhan.

“Sepertinya, iya. Kalau tidak, mereka tidak mungkin babak belur begitu,” jawab Revano sambil mengingat kembali kejadian tadi, saat Rania bergerak begitu lincah melawan para penyerangnya.

“Jadi Rania dikeroyok nih? Satu lawan tiga?” ucap Darren.

Revano hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Dasar banci. Beraninya lawan cewek,” gerutu Darren kesal. “Untung aja Rania jago bela diri.”

Reyhan lalu menatap Revano dengan tatapan penuh arti.

“Perasaan lo sekarang gimana sama Rania?” tanyanya.

Revano terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, mengingat kembali wajah Rania saat melawan tiga orang sekaligus tanpa terlihat panik sedikit pun.

Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya.

“Sepertinya…” gumamnya pelan.

Reyhan dan Darren langsung menatapnya penasaran.

Revano menoleh sekilas pada mereka, lalu berkata santai, “Gue udah mulai suka sama dia.”

“Hah?!” Darren hampir melonjak dari duduknya. “Serius lo, Van?”

Reyhan justru tersenyum lebar. “Akhirnya… Revano jatuh juga.”

Revano hanya mengangkat bahu, tapi senyum tipis itu masih bertahan di wajahnya.

“Cewek lo udah dapat sosial media Rania?” tanya Revano pada Reyhan sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.

“Gue belum tanya Clara. Dia tadi lagi sibuk, jadi gak enak ganggu,” jawab Reyhan santai.

Revano menatapnya sekilas, lalu berkata, “Sekarang tanya cewek lo. Gimana Rania di kelas?”

Reyhan mengangguk pelan. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon Clara. Beberapa detik kemudian panggilannya tersambung.

“Halo.”

“Kamu di mana, sayang?” tanya Reyhan.

“Di rumah. Kamu?”

“Di beskem.”

Revano yang duduk tak jauh dari Reyhan menatapnya dengan wajah malas. “Gak usah banyak basa-basi lo,” ucapnya datar.

Reyhan hanya tercengir mendengar itu.

“Sayang, aku mau nanya sesuatu tentang Rania. Tapi lebih tepatnya Revano sih yang nyuruh,” ucap Reyhan santai.

Revano menatap Reyhan dengan ekspresi malas, seolah tak peduli meskipun sebenarnya ia sedang menunggu jawaban itu.

“Oh gitu. Tanya apa memang?” tanya Clara di seberang telepon.

“Bagaimana sifat Rania di kelas kamu?”

“Menurutku Rania itu orang baik. Hanya saja wajahnya sering datar, dan kalau ngomong nadanya dingin. Tapi kalau kita sudah dekat sama dia, dia mulai hangat kok. Itu saja sih yang aku tahu. Aku kurang akrab soalnya. Tadi saja itu pertama kalinya aku ngomong sama dia,” jelas Clara.

Revano yang mendengar dari samping langsung ikut menyela.

“Lo tahu sosmed Rania?”

“RaniaAlunaKV_,” jawab Clara.

Revano langsung memperhatikannya dengan serius, mengingat nama akun itu.

“Lo tahu tentang mantan Rania?” tanya Revano lagi.

“Yang gue tahu kakak kelas kita. Maksud lo itu?”

“Hm…”

“Gue gak tahu lebih jauh sih, hehe,” jawab Clara sedikit canggung.

“Oh.”

Reyhan kemudian kembali berbicara pada Clara.

“Kamu serius, sayang? Tadi itu pertama kalinya kamu ngomong sama Rania?” tanya Reyhan dengan nada tak percaya.

“Iya, Rey.”

Beberapa saat kemudian Reyhan mengakhiri panggilan itu karena Clara terdengar cukup sibuk di rumah.

Ia menurunkan ponselnya lalu menatap Revano.

“Udah puas kan lo?” ucap Reyhan.

Revano hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia kemudian langsung membuka ponselnya dan mulai mencari akun sosial media milik Rania yang baru saja disebutkan Clara.

Di sisi lain, Darren meregangkan tubuhnya di sofa dengan santai.

“Malam ini gue bakal nginap di sini,” ucap Darren sambil menatap kedua sahabatnya.

“Gue juga. Suntuk gue di rumah,” sahut Reyhan.

Kemudian Darren menoleh pada Revano.

“Lo?”

Revano masih fokus pada layar ponselnya beberapa detik, lalu akhirnya menjawab singkat.

“Gue ikut.”

~~

Ting tong! Ting tong!

Suara bel rumah terdengar nyaring di seluruh mansion.

Ceklek!

Pintu pun terbuka.

“Selamat malam, Bi,” sapa sahabat-sahabat Rania dengan ramah.

“Malam, kalian,” ucap Bibi Maya—asisten rumah tangga keluarga Rania—sambil tersenyum hangat menyambut mereka.

“Rania ada, Bi?” tanya Balqis.

“Ada, Non. Ayo masuk,” jawab Bibi Maya sambil mempersilakan mereka masuk ke dalam mansion yang luas dan megah itu.

Kelima sahabat Rania pun melangkah masuk dengan santai, seolah rumah itu sudah seperti rumah mereka sendiri.

“Selamat malam,” sapa mereka bersamaan saat melihat keluarga Rania yang sedang makan malam di ruang makan besar.

Semua orang yang berada di meja makan langsung menoleh ke arah mereka.

“Eh, kalian. Mau nginap ya?” tebak Raisa dengan senyum ramah.

“Iya, Tante. Biasa anak muda, mau malam minggu di rumah bestie,” jawab Bunga sambil tercengir lebar.

“Aduh, jadi ramai nih kalau kalian datang,” ucap Raisa dengan antusias.

“Kalian makan malam? Sini,” ajak Radit.

“Rezeki anak saleh, langsung diajak makan malam,” ucap Bunga dengan wajah sumringah.

“Jangan malu-maluin lo, Bun,” tegur Freya sambil menyenggol bahu temannya itu.

“Kalian ini masih saja malu-malu. Sini duduk, kita makan malam bareng,” ucap Raisa dengan hangat.

Sahabat-sahabat Rania langsung mengangguk tanpa ragu, lalu mengambil tempat duduk masing-masing di meja makan yang panjang.

Memang sengaja mereka tidak makan malam di rumah, karena sejak awal sudah berencana makan di rumah Rania.

Sementara itu, Rania sendiri hanya menatap mereka dengan ekspresi datar. Ia sudah sangat terbiasa dengan kelakuan sahabat-sahabatnya yang selalu seperti ini setiap kali datang ke rumahnya.

“Kalian bawa apaan tuh?” tanya Rhea pada paper bag yang dibawa sahabat adiknya.

“Cemilan, Kak,” jawab Balqis.

“Kalian ngapain bawa segala? Di sini juga banyak cemilan kok,” sahut Raisa sambil tersenyum.

“Kalian ini ada-ada saja, deh,” ucap Rhea heran melihat tingkah sahabat-sahabat adiknya yang selalu penuh kejutan.

“Kalian makan dulu, lalu lanjut ngobrol,” ucap Radit, membuat mereka akhirnya menghentikan obrolan dan mulai fokus menikmati makan malam bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!