Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya Tidak Pas
Jeff menyetir agak sedikit menjauh dari dua mobil Range Rover yang membawa Brayden dan Arlette serta pengawal pangeran Inggris dan Belgia itu. Sungguh dirinya penasaran dimana rumah atau apartemen Arletta di Belgravia.
"Ya ampun, rumahnya daerah sini ternyata," gumam Jeff. "Aku kan sering jogging area sini kalau akhir pekan."
Jeff berhenti saat melihat mobil hitam itu berhenti. Tampak Arletta turun dengan didampingi Brayden dan keduanya berjalan ke pintu depan gedung apartemen. Seorang penjaga langsung membungkuk hormat ke Brayden. Mereka berbincang sejenak lalu Brayden bersalaman dengan penjaga itu. Setelahnya Brayden memeluk Arletta sambil mencium keningnya.
Arletta berdiri menunggu Brayden masuk ke dalam mobilnya lalu melambaikan tangannya saat dua mobil hitam itu berjalan meninggalkan gedung apartemen. Arletta pun masuk ke dalam gedung apartemen sementara Jeff mengingat-ingat lokasinya.
"Oke. Aku tahu sekarang dimana rumah kamu, Chef Arletta."
Jeff pun melanjutkan perjalanannya dan kembali ke gedung apartemennya.
***
"Bagaimana anda bisa bersama dengan Prince Brayden, Lady Peterson?" tanya Howard sambil mengunci pintu depan gedung apartemen.
"Kebetulan ketemu saat aku hendak pesan Uber. Tahu sendiri kan aku kadang malas bawa mobilku." Arletta tersenyum ke Howard. "Aku bawakan ini." Gadis itu memberikan kotak aluminium foil ke Howard.
"Wah, My Lady. Terima kasih. Tahu saja aku merasa lapar," kekeh Howard sambil menerima kotak itu.
"Tahu lah!" Arletta mengedipkan sebelah matanya.
"Temanya apa ini My Lady?" Howard meletakkan kotak itu di mejanya.
"Mediterania. Aku masuk dulu ya. Mau istirahat."
"Silahkan My Lady." Howard memencet tombol lift dan mempersilahkan Arletta masuk.
"Goodnight, Howard," senyum Arletta.
"Goodnight Lady Peterson."
Arletta pun masuk ke dalam lift dan menuju lantai unitnya. Setibanya di unitnya, Arletta membukanya dan wajahnya tampak lega.
"Ah rumahkuuuuu! Home Sweet Home, Hogar Dulce Hogar ...." Arletta mengangkat kedua tangannya. "Mandi ... Apa berendam ya ... Ah pokoknya itu lah!"
Gadis itu lalu masuk ke dalam kamarnya dan bersiap untuk mandi. Arletta bersyukur hari ini tidak banyak insiden dan tidak ada kerugian di dapur.
***
Mayfair Central London, Apartemen Jeff
Jeff tiba di gedung apartemennya dan langsung naik ke unitnya. Paul yang melihat salah satu pemilik apartemen masuk ke dalam lift, mengurungkan niatnya untuk mengucapkan selamat malam.
"Sepertinya Dokter Clarke ada lembur operasi lagi," gumam Paul, si penjaga pintu apartemen.
Pria itu akhirnya mengunci pintu basement apartment secara otomatis setelah penghuni terakhir pulang dari posnya. Terlepas area tempatnya termasuk aman, tapi tetap saja, Paul tidak berani ambill resiko. Ditambah penghuni apartemen di gedungnya adalah orang-orang berduit semua.
Paul memeriksa semua CCTV yang terpasang secara teliti. Dirasa aman, dia mulai memasang alarm. Paul tetap berjaga seperti biasanya dan mungkin ini keuntungannya untuk orang insomnia. Insomnia Paul memang dipakai untuk bekerja.
***
Jeff memeluk Snowy yang langsung menyambutnya senang meskipun tadi sudah tidur. Anjing berbulu putih itu tampak heboh saat digendong Jeff.
"Kamu tidak nakal kan?" tanya Jeff sambil melihat underpad nya. "Duh pee dan pupnya banyak juga ya."
Jeff meletakkan Snowy di lantai dan mulai membersihkan underpad nya dan memasang yang baru. Pria itu juga memeriksa semuanya. Setelah nyaman, Snowy kembali ke kasurnya dan Jeff ke dapur. Dirinya mengambil sebotol bir dingin dari dalam kulkas dan berjalan ke kamarnya. Jeff membuka laptopnya dan mulai melihat jadwal harus melakukan operasi.
"Ya ampun, jadwal aku padat. Bagaimana bisa ke rumah Arletta?" gumamnya sambil meminum birnya langsung dari botolnya. "Selama ada niat, pasti ada jalan."
Jeff tersenyum simpul. "Tenang saja Chef Arletta Peterson, kita akan bertemu lagi."
***
Seminggu usai Jeff datang ke restaurannya, Arletta kedatangan dua orang yang sangat dikenalnya. Sebenarnya satu sih yang dia kenal. Orang itu langsung datang ke dapur dengan cueknya.
"Mbak Lettaaaaa!" panggilnya membuat Arletta menoleh.
"Ya Ampun! Mahreen! Kamu ngapain ke dapur? Bagaimana kamu bisa lolos pintu depan?" seru Arletta sambil mencuci tangan setelah memegang bahan makanan yang hendak diolah. Gadis itu menghampiri Mahreen Al Khalifa yang tersenyum manis. Pengawalnya, Collin, berdiri di belakangnya dengan wajah dingin seperti biasanya.
Arletta lalu memeluk Mahreen. "Jangan bilang kamu pakai kartu Princess Bahrain kamu!"
"Tentu saja! Rugi kalau tidak dipakai!" kekeh Mahreen sambil memeluk Arletta.
"Hank, kamu pegang dulu ya!" perintah Arletta ke Sous Chef nya.
"Yes Chef." Hank dan Tara adalah andalan Arletta kalau di dapur. Hari ini Tara mendapatkan libur, jadi Hank yang in charge.
"Ayo keluar! Meskipun kamu princess, tetap saja tidak boleh!" Arletta menarik tangan adik sepupunya. "Kamu juga Collin! Jangan sekali-kali mau ambil apel disana!"
Collin menaikkan sebelah alisnya namun dia tidak berkomentar apapun. Ketiganya pun keluar dari dapur dan mengambil tempat VIP yang dikhususkan untuk anggota keluarga Pratomo dan Kerajaan Inggris.
"Jadi, apa yang membuat kamu kemari? Kamu tidak kuliah?" tanya Arletta.
"Hei, aku sudah tugas akhir jadi aku bebas dong!" balas Mahreen cuek. ( Settingnya ini satu setengah tahun setelah Ariella ).
"Lupa. Kapan maju sidang?" tanya Arletta sambil duduk. "Kalian mau minum apa?"
"Ada whisky?" tanya Mahreen yang duduk di sebelah Arletta, membuat Collin langsung mendelik. "Bercanda Collin! Jeez!"
Arletta tertawa. "Lemon squash saja ya? Sama aku minta dibawakan makanan kemari. Tahu kamu belum makan."
"Kok tahu? Apa begitu kelihatan?" tanya Mahreen.
"Kelihatan!" jawab Arletta dan Collin bersamaan dengan wajah malas.
"Ya Allah ... Kompaknya," gumam Mahreen sambil memegang dadanya.
***
Royal Hospital London
Lampu di ruang Emergency Room ( ER ) Royal Hospital menyala terang. Suara monitor jantung berdetak cepat, bercampur dengan langkah kaki para perawat yang bergerak tergesa.
Pintu ruang gawat darurat terbuka keras.
“Dokter Clarke!” teriak seorang perawat. “Pasien laki-laki, 35 tahun. Kecelakaan mobil. Tekanan darah turun!”
Dr. Jeff Clarke segera berbalik dari meja pemeriksaan. Wajahnya tenang, tapi mata birunya langsung fokus.
“Bawa ke bed tiga. Sekarang!” katanya tegas.
Brankar didorong masuk. Tubuh pasien penuh luka, napasnya pendek dan berat. Jeff langsung mengenakan sarung tangan.
“Statusnya?” tanya Jeff cepat.
Perawat menjawab sambil membaca catatan.
“Tekanan darah 80 per 50. Denyut nadi 130. Kemungkinan perdarahan internal.”
Jeff memeriksa pupil pasien dengan senter kecil.
“Dia masih responsif?” tanya Jeff.
“Kadang sadar, kadang tidak.”
Jeff menekan perut pasien dengan hati-hati. Pasien mengerang pelan.
“Perutnya kaku,” gumam Jeff. “Kemungkinan ruptur limpa.”
Ia menoleh pada timnya. “Siapkan dua kantong darah O negatif. Pasang IV besar. Kita perlu CT scan segera, tapi stabilkan dulu.”
Perawat lain bertanya, “Perlu panggil tim bedah?”
Jeff mengangguk tanpa ragu.
“Ya. Hubungi Dr. Ramirez. Katakan kemungkinan operasi darurat.”
Monitor jantung tiba-tiba berbunyi lebih cepat.
Bip … bip … bip …
Jeff menatap layar. Damn! Ini tidak bagus!
“Tekanan turun lagi,” kata perawat.
Jeff mengambil napas singkat lalu berkata tegas,
“Oke, dengarkan. Kita tidak kehilangan dia siang ini. Tambah cairan. Siapkan transfusi sekarang!”
Ia menepuk ringan bahu pasien. “Hei, tetap bersama kami,” kata Jeff dengan suara tenang. “Anda di rumah sakit. Kami akan menolong Anda.”
Tim medis bergerak cepat mengikuti instruksinya, sementara Jeff tetap berdiri di sisi pasien, memimpin setiap langkah dengan ketenangan seorang dokter yang sudah terlalu sering menghadapi detik-detik antara hidup dan mati.
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
letta mulai nyaman dg jeff ya😁😁😁
chef Letta tampaknya mulai ada rasa penasaran 🤫
Jeff kaga usahh ke GR an yaa gegara di kirim makan sama Letta
menyebalkannya tapi ngangenin lho😅😅🤭