SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Algojo Terakhir
Ledakan kimia dari laboratorium Profesor Damar masih bergema di lorong-lorong Gedung C, mengirimkan gelombang panas yang menggetarkan kaca-kaca jendela. Namun, di koridor yang menuju ke arah Sektor 6, suasana justru mendadak sunyi. Kesunyian yang tidak alami, seolah-olah suara telah diserap oleh dinding-dinding beton. Arga berlari dengan kecepatan yang melampaui batas manusia, menggendong Raka di punggungnya, sementara Lintang berusaha mengimbangi di sampingnya.
Cairan perak dari Damar bekerja lebih cepat dari yang dibayangkan. Arga bisa merasakan indranya menajam; ia tidak lagi hanya melihat koridor, ia bisa "melihat" aliran panas di balik dinding dan mendengar detak jantung yang sangat pelan dari kejauhan.
"Arga, pelankan langkahmu!" bisik Lintang, napasnya tersengal. "Ada yang tidak beres. Kesunyian ini... ini adalah tanda mereka sudah di sini."
Arga berhenti mendadak. Ia mengangkat tangan kanannya yang kini berkilat perak. Di depannya, koridor tampak kosong, namun antena saraf di punggungnya bergetar hebat. Ia memejamkan mata, memfokuskan frekuensi Indigo-nya yang kini telah berevolusi.
Tiba-tiba, ia melihatnya.
Di langit-langit, di dinding, dan di lantai, terdapat distorsi cahaya yang halus. Lima sosok bergerak dalam formasi sempurna. Mereka mengenakan seragam tempur berwarna hitam legam yang mampu membiaskan cahaya, teknologi stealth yang dikembangkan di Sektor 7. Mereka adalah The Silent Executioners, unit elit dari Osis Malam yang hanya dikerahkan untuk target kelas S.
"Mereka mengepung kita," geram Arga. Suaranya kini memiliki gema metalik yang dingin.
Tanpa peringatan, salah satu Executioner melesat dari bayangan di langit-langit. Sebuah pedang pendek berbahan komposit karbon mengincar leher Arga. Dengan refleks yang mustahil, Arga menepis pedang itu menggunakan cakar peraknya. Percikan api Indigo memercik, dan pedang komposit itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan frekuensi anti-materi di tangan Arga.
"Operasi Senyap gagal. Beralih ke protokol eliminasi fisik," sebuah suara dingin terdengar dari alat komunikasi sang algojo.
Empat sosok lainnya menampakkan diri, melepas jubah kamuflase mereka. Wajah mereka tertutup helm full-face dengan sensor mata berwarna merah darah. Mereka tidak membawa senjata api; mereka membawa cambuk laser dan cakram pemotong yang berputar dengan frekuensi tinggi.
"Lintang, jaga Raka di pojok itu!" perintah Arga.
Arga merentangkan sayap logam hitamnya. Dengan satu kepakan kuat, ia melesat ke arah algojo terdekat. Pertempuran itu terjadi dalam kelebatan cahaya. Para Executioner bergerak dengan koordinasi yang menakutkan, menyerang dari titik buta secara bergantian. Cambuk laser salah satu algojo melilit sayap Arga, membakar membran sarafnya. Arga mengerang, namun rasa sakit itu justru memicu ledakan energi perak dari dalam tubuhnya.
Ia menarik cambuk itu dengan kekuatan kasar, menyeret algojo tersebut ke arahnya dan menghantamkan tinjunya tepat ke sensor helm sang lawan. Helm itu retak, menyingkap wajah seorang remaja yang pucat dengan mata yang telah diganti dengan lensa kamera. Mereka bukan lagi manusia; mereka adalah cyborg yang jiwanya telah dipindahkan ke dalam mesin.
"Kalian benar-benar tidak menyisakan apa pun dari mereka!" amuk Arga.
Arga melepaskan gelombang frekuensi dari harmonika ayahnya yang masih ia gantung di leher, namun kali ini ia tidak meniupnya. Ia hanya memetik dawai energinya. Gelombang suara biru-perak itu merambat di lantai, mengacaukan sistem penyeimbang para algojo. Dua algojo jatuh berlutut saat sirkuit di kaki mereka mengalami arus pendek.
Namun, algojo terakhir mengeluarkan sebuah tabung kecil yang berisi cairan hijau yang sangat pekat. Ia menyuntikkannya langsung ke jantungnya sendiri melalui baju tempurnya. Tubuh algojo itu mendadak membengkak, otot-ototnya merobek seragamnya, dan ia berubah menjadi monster daging yang dipenuhi kabel-kabel listrik yang menjulur keluar.
"Subjek 02... menyerahlah..." sang Kapten menggeram, suaranya seperti mesin yang rusak.
Ia menerjang Arga dengan kecepatan luar biasa. Hantaman tinjunya meruntuhkan dinding beton di samping Arga. Lintang mencoba membantu dengan melemparkan belati peraknya, namun Kapten algojo itu menangkap belati itu di udara dan mematahkannya seperti sebatang lidi.
"Lintang, jangan!" Arga berteriak.
Arga menyadari bahwa kekuatan fisik saja tidak akan cukup. Ia harus menggunakan "Kunci Terakhir". Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan cairan perak di nadinya mengalir ke tenggorokannya. Ia mulai bersiul—sebuah nada melankolis yang merupakan bagian dari melodi ninabobo ibunya.
Nada itu murni. Nada itu adalah antitesis dari semua kebisingan mesin di SMA Nusantara.
Saat siulan itu bergema di koridor, Kapten algojo itu mendadak berhenti. Tubuhnya yang membengkak mulai bergetar hebat. Cairan hijau di dalam nadinya mulai mendidih dan berubah menjadi uap hitam yang keluar dari pori-porinya.
"Apa... ini... suara... apa... ini..." sang algojo memegangi kepalanya yang seolah akan meledak.
"Itu adalah suara kemanusiaan yang kalian buang," bisik Arga.
Arga melesat maju, telapak tangannya yang bersinar perak mendarat tepat di dada sang algojo. Ia tidak memukul; ia menyalurkan frekuensi anti-materi langsung ke jantung mekanis lawan. Ledakan energi indigo-putih terjadi, mengirimkan gelombang kejut yang memecahkan seluruh lampu di koridor tersebut.
Sang Kapten algojo jatuh tumbang, tubuhnya kembali ke ukuran normal namun sudah tak bernyawa. Empat algojo lainnya yang tersisa melarikan diri ke dalam bayangan, menyadari bahwa target mereka kini telah melampaui kemampuan unit mereka.
Koridor kembali sunyi, namun Arga jatuh berlutut. Sayap logamnya mengecil dan masuk kembali ke dalam punggungnya, meninggalkan luka-luka baru yang mengeluarkan darah berwarna perak.
"Arga! Kau baik-baik saja?" Lintang berlari mendekat, segera memeriksa luka-luka Arga.
"Aku... aku hanya butuh waktu," napas Arga tersengal. "Operasi senyap mereka gagal, tapi mereka akan mengirimkan sesuatu yang lebih besar. Kita harus sampai ke Ruang Musik di Sektor 6 sekarang."
Raka mulai sadar, meski matanya masih tampak sayu. "Arga... suara itu... suara siulan tadi... itu seperti suara Ibu."
Arga tersenyum lemah, membantu kakaknya berdiri. "Ya, Kak. Ibu sedang melindungi kita."
Mereka melanjutkan perjalanan melewati puing-puing pertempuran. Di dinding koridor, layar-layar monitor yang tadinya mati tiba-tiba menyala kembali, menampilkan wajah Sang Arsitek yang kini tampak murka.
"Kau pikir kau menang, Arga? Kau hanya baru saja menghancurkan bidak-bidak kecilku," suara Sang Arsitek bergema di seluruh gedung. "Operasi Senyap hanyalah permulaan. Sektor 6... Ruang Musik... di sanalah tempat semua penderitaan ini bermuara. Aku akan menunggumu di sana, untuk melihat apakah melodi ibumu bisa menahan simfoni kematian yang telah kusiapkan."
Arga tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah, menggenggam harmonika ayahnya erat-erat. Ia tahu bahwa setiap langkah membawanya lebih dekat pada kebenaran yang mengerikan, namun ia tidak lagi takut. Dengan Lintang di sisinya dan Raka yang mulai pulih, Arga siap untuk menghadapi konfrontasi terakhir di Ruang Musik—tempat di mana aroma melati akan menjadi tanda bagi hidup atau mati mereka.
Di ujung koridor, sebuah pintu besar dengan ukiran not balok perak menanti. Dari baliknya, terdengar suara piano yang sangat pelan, memainkan melodi yang sangat indah namun mematikan.